Source: kfccinema.com
The wonderful Cleveland International Film Festival
is back celebrating its 32nd year. By popular demand, the fine folks who put the
fest together have decided to bring back last year's successful "Pacific Pearls"
which is set to bring 15 films from all over Asia to Cleveland. This year's tour
through Asia brings films from Japan, Hong Kong, China, Taiwan, Indonesia, and
the Philippines. While the festival brings some film festival giants such as the
latest from Takeshi Kitano and Hitoshi Matsumoto's directorial
debut, CIFF also introduces some lesser known films to a much wider
audience.
Here is a breakdown of what the festival has to
offer:
3 Days to Forever - Indonesia
Bing Ai -
China
Dai Nipponjin - Japan
Dead Time -
Indonesia
Flash Point - Hong Kong
Foster Child -
Philippines
Glory to the Filmmaker! - Japan
Island Etude -
Taiwan
Little Moth - China
Slingshot -
Philippines
Summer Heat - Philippines
The Teacher -
Philippines
The Teeth of Love - China
Also included in this
year's festivities is Taiwanese director Hou Hsiao-hsien's Flight of
the Red Balloon and a Canadian funded documentary entitled Up the
Yangtze by Chinese filmmaker Yung Chang.
Here is the 1st movie still from the live version of Blood: The Last Vampire's anime. It shows Jeon Ji-hyun (My Sassy Girl) as Saya. Well, she's look cool. I hope the movie is cool also!!!!
The stroy is about a vampire named Saya, who is part of covert government agency that hunts and destroys demons in a post-WWII Japan, is inserted in a military school to discover which one of her classmates is a demon is disguise.
"It is a movie about people in the searching for peace and “heaven” in life, here
on earth and after. In their quest, sometimes people have to go through the
worst experience. Using the October 2002 Bali Bombing tragedy as the setting,
the movie tells the stories from different point of views.
Hannah
Catrelle (Mirrah Foulkes), an American woman is living in Bali when the
explosion occurred. In the midst of the chaos she meets Hajj Ismail (Joshua
Pandelaki), a Balinese moslem. Through this encounter, Hannah learns more about
the real Islam and how prejudice can lead to terrible
misunderstandings.
Meanwhile, Liz Thompson (Raelee Hill), an Australian
reporter arrived in Bali seven months later. Accompanied by Wayan Diya (Alex
Komang); a Balinese who lost a relative in the tragedy; Liz went through a
journey where she finds a new understanding about the Balinese
philosophy.
The story itself is based on factual research which brought
us to a better perspective upon humanity. It is a lesson in life of how a
tragedy can create stronger bonds and better solidarity regardless people’s
nationality, race and religion. A real long journey for a true
understanding.
Furthermore, Long Road to Heaven is also simply answering
one of a big question in life: “Is there a short cut to heaven?”.
Film Indonesia sudah mulai bangkit. Ini diungkapkan Produser Film, Chand Parwez Servia, pada workshop wartawan film di Hotel Puncak Raya, Selasa (12/12).
Tapi, Parwez mengakui bangkitnya perfileman tidak diiringi perkembangan usaha jasa teknik perfileman nasional. "Karena enggak ada studio di sini, film Virgin terpaksa dibikin di Hong Kong," katanya.
Padahal, undang-undang nomor 8 tahun 1990 tentang perfileman, khususnya pasal 11, dan PP no.6 tahun 1994 tentang penyelenggaraan usaha perfilemen, menentukan bahwa dalam melakukan kegiatan, perusahaan perfileman wajib menggunakan kemampuan nasional yang telah tersedia.
Film harus diproduksi di dalam negeri karena mendorong gairah investasi baru, menambah pengalaman kerja dan meningkatkan kualitas, menyambung nyawa perusahaan jasa teknik perfileman nasional, yang merupakan penyedia jasa tenaga profesi dan peralatan yang diperlukan dalam proses pembuatan film.
Namun, ketentuan yang ada dalam UU Pajak No 8 tahun 1983 tentang PPN dan PpnBM--terakhir diubah dengan UU No 18 tahun 2000--dan telah melahirkan PP No 144 tahun 2000.
Perubahan ini merugikan perkembangan jasa teknik dalam negeri, karena semua barang dan jasa yang tidak terkena pajak disebutkan, sehingga yang tidak disebutkan --tanpa ampun--dianggap barang dan jasa kena pajak (bayar PPN). Dalam hal ini, produser film wajib membayar PPN atas jasa teknik film dalam negeri yang digunakan dari sejak produksi hingga paska produksi.
Sementara, film yang diproses di luar negeri, yang kena pajak hanya release copynya saja. Akibatnya, PPN yang dibayar produser film atau importir film yang memproses film di luar negeri adalah lebih kecil daripada yang memproses filmnya di dalam negeri. Demikian papar Sekjen Gabungan Studio Film Indonesia (GASFI), Rudy S Sanyoto, di Hotel Puncak Raya, Senin (11/12).
Rudy memberikan ilustrasi tabel perbandingan pajak yang harus dibayar oleh produser film untuk memproduksi film nasional dan pajak yang harus dibayar importir untuk impor satu judul film impor. "Setiap komponen jasa teknik ada kandungan pajak yang kalau dikumpulin, jumlah totalnya lebih besar daripada pajak film impor, dan ini memprihatinkan, " ujar Rudy.
Syuting dengan video dan proses dengan film di dalam negeri dikenai pajak bahan baku, peralatan, artis, dan karyawan. Total pajak berjumlah Rp 85 juta untuk beaya film seharga Rp 1, 925 miliar. Syuting dengan film proses dengan video dikenai pajak bahan baku, peralatan, artis, karyawan, telecine (proses film ke video), dan post production. Untuk beaya produksi film seharga Rp 4,51 miliar, pajaknya mencapai Rp 259 juta. Syuting dengan video, proses dengan video dikenakan pajak bahan baku, peralatan, artis, karyawan, post production, teledine (mengubah format film dari video ke negatif). Untuk produksi film senilai Rp 1,76 miliar, pajaknya Rp 99 juta.
Ini semua baru biaya untuk 18 kopi per-judul film. Sementara, pajak yang harus dibayar untuk impor satu judul film impor seharga Rp 40,5 juta. Bisa dihitung, bedanya sangat jauh.
"Berbagi Suami biaya produksinya lebih rendah 50 persen, karena diproduksi di Thailand. Jasa teknik luar negeri lebih maju karena sudah bebas pajak alat dan biaya bahan baku," kata Rudy. Film Harry Potter diproduksi di Thailand dicetak 200 kopi untuk jumlah bioskop tidak lebih dari 400 layar. Sedangkan, di Indonesia, filmnya dicetak 60 kopi untuk 600 layar.
Apa pajak impor film yang rendah dan pajak produksi film nasional yang tinggi tidak bisa diperjuangkan agar jasa teknik film nasional maju, dan film Indonesia lebih berkembang? "Perjuangan kita sudah lama. Tentatifnya: pajak impor naik, pajak film nasional turun, jadi selevel. Atau, pajak film nasional turun lebih rendah, atau pajak impor film naik lebih tinggi," tutur Rudy.
Masalahnya sekarang, ini terkait dengan pebisnis bioskop yang harus mempertahankan kehidupannya. "Awalnya, film impor hanya pelengkap saat film nasional mati suri, dan akhirnya malah kebablasan. Bioskop merasa tergantung dengan impor karena masyarakat kita telanjur suka dengan film impor. Tapi tetap saja, ini harus diperjuangkan, karena seyogyanya, film impor harus mendukung perekonomian nasional seperti juga film nasional," paparnya.
Rudy mencontohkan industri film Perancis yang sudah mempraktekan sebagian pajak impor film dialokasikan untuk perkembangan film nasional, dan karenanya, film nasional Prancis maju pesat. "Ini urusan dirjen pajak dan menteri keuangan. Tapi harus di pressure oleh BP2N (Badan Pertimbangan Perfileman Nasional) dan Gasfi lewat Debudpar (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata). Pernah ada pleno yang merumuskan agar usulan pajak ini masuk RUU Perfileman, tapi kuorumnya tidak memenuhi syarat pleno," kata Rudy.
Ketua BP2N,Djonny Syafruddin, mengakui di draft RUU Perfileman dari BP2N, pajak ini belum disinggung, tapi tetap akan diperjuangkan. Bagaimana tanggapan dirjen film Debudpar, Bakrie? "Bagaimana saya bisa menjawab sesuatu yang bukan wewenang saya," tangkis Bakri. Tapi, apa mau dikata, RUU Perfileman saja mandeg di meja Komisi X DPR-RI, bagaimana pajak ini mau diperjuangkan. (yus)
Sumber: Warta Kota
Ada beberapa film yang menjadi film yang paling saya tunggu-tunggu dan rasaya tidak sabar untuk mendapatkan kesempatan untuk dapat menikmatinya. Film-film tersebut adalah Babel dan Pan's Labyrinth.
BABEL
Dari Alejandro González Iñárritu, sutradara yang telah membawa Amores Perros (2000) dan 21 Grams (2003). Tak dapat dipungkiri kalau nama Alejandro González Iñárritu sendiri sudah menjadi jaminan akan mutu dan kualitas sebuah film. Bercerita dengan gaya narasi yang pararel, Babel bercerita tentang sekelompok orang yang berasal dari latar belakang dan budaya serta lokasi yang berbeda, akan tetapi disatukan oleh hanya sebutir peluru! Dibintangi oleh Brad Pitt, Cate Blancett, Gael García Bernal, Kôji Yakusho dan nominasi Golden Globe 2006 untuk Aktris Pendukung Terbaik, Rinko Kikuchi.
Official Site: KLIK DISINI
PAN'S LABYRINTH
Film yang aslinya berjudul El Laberinto del Fauno ini mendapat applaus sepanjang 22 menit setelah pemutaran film ini di Cannes Film Festival lalu. Merupakan karya terbaru dari Guillermo del Toro, yang sebelumnya mengarahkan Mimic (1997), Devil's Backbone (2001), Blade 2 (2002) dan Hellboy (2004). Setelah menggarap beberapa film komersil Hollywood, Guillermo del Toro kembali ke akarnya, yaitu thriller-horror dengan sentuhan artistik dan dramatisasi yang tinggi. Tidak heran, diajang Golden Globe 2006 ini, Pan's Labyrinth mendapatkan nominasi untuk Best Foreign Languange.
Official Site: KLIK DISINI
"Maya (Revalina S.Temat), adalah seorang yatim piatu yang bekerja sebagai asisten dosen di kampusnya. Ia hanya tinggal berdua dengan adiknya, Andin (Risty Tagor) yang masih sekolah di SMU. Dalam waktu dekat, Maya akan menikah dengan tunangannya, Adam (Ringgo Agus Rahman).
Maya sangat menyayangi adiknya. Semenjak ditinggal oleh kedua orang tuanya, Maya selalu berusaha memberi perhatian lebih ke Andin, karena Andin masih dirundung rasa kehilangan. Untuk membahagiakan Andin, Maya memutuskan untuk mencari tempat tinggal baru yang lebih baik, nyaman & lingkungan yang dapat mendukung segala kebutuhan Andin.
Ditemani Adam, Maya mencari tempat kost yang sesuai dengan kebutuhan Andin. Perhatian Maya tertuju pada sebuah iklan baris di koran yang memasang tarif murah untuk sebuah kamar apartemen. Setelah melihat-lihat kondisi apartemen itu, Maya langsung menyukainya.
Setelah mereka berdua pindah ke apartemen baru tersebut, kehidupan mereka mulai tidak tenang. Andin mulai menemukan hal-hal menakutkan di apartemen itu, Andin merasa ia selalu diganggu oleh Pocong. Awalnya, tak ada yang percaya kepada apa yang dikatakan Andin, sampai akhirnya Maya menemukan Andin dalam keadaan depresi berat dan sangat mengkhawatirkan.
Karena
rasa sayang yang begitu besar kepada Andin, Maya nekat melakukan hal
yang bahkan tidak pernah dia pikir sebelumnya. Maya mendatangi seorang
paranormal. Berkat bantuan paranormal itu, pandangan Maya mampu
menembus dunia lain, ia menjadi peka.Ketika
kembali ke apartemen, Maya pun mulai merasakan kehadiran
makhluk-makhluk dari dunia lain.
Tidak mudah bagi Maya untuk
beradaptasi dengan hal tersebut. Sekarang dia sudah mulai paham dengan
apa yang dialami Andin. Maya berusaha mencari tahu kenapa Andin menjadi
sasaran gangguan dari mahluk halus. Maya
harus berjuang keras. Karena ternyata, dia tidak hanya berhadapan
dengan arwah penasaran berupa Pocong. Ada sesuatu yang lebih dari itu,
sesuatu yang mengancam nyawa adiknya."
Untuk ketiga kalinya MTV Indonesia Movie Award (MIMA) diadakan. Tepatnya pada tanggal 15 September 2006 kemarin yang bertempat di Balai Kartini, Jakarta. Dalam acara yang kembali di-host oleh Sarah Sechan, Berbagi Suami yang merupakan film ketiga yang diarahkan oleh Nia DiNata mendapatkan banyak nominasi sekaligus menjadi penggondol piala Popcorn yang terbanyak.
Dari 11 nominasi yang ada Berbagi Suami mendapatkan 9 nominasi. Apalagi pada puncaknya Berbagi Suami dinobatkan sebagai Movie of the Year. Ini sangat mengagetkan Nia DiNata, karena menurutnya Berbagi Suami adalah bukan film yang sama sekali bukan MTV. Namun ia tetap mengucapkan rasa terima kasihnya karena walau menawarkan tema yang tidak remaja, namun tetap diberi penghargaan. Yang membedakan dari anugrah tahun lalu adalah, dimana nominee untuk pilihan juri hanya untuk Movie of the Year, dimana tahun lalu juga mencakup untuk Best Crying Scene, Best Movie, Best Director, dan Best Theme Song. Sementara untuk tahun ini keselruhan nomenee, terkecuali Movie of the Year adalah pilihan penonton melalui SMS. Berikut ini adalah daftar nominasi dan pemenangnya. Huruf berwarna merah mengindikasikan pemenangnya.
• DAFTAR NOMINEE •
Most Favorite Actor:
Ringgo Agus Rahman - Jomblo
Vino G Bastia - Realita Cinta dan Rock 'N Roll
Nicholas Saputra - Gie
Lukman Sardie - 9 Naga
Winky Wiryawan - Ruang
Most Favorite Actress:
Cornelia Agatha - Detik Terakhir
Dominique - Berbagi Suami
Titi Kamal - Mendadak Dangdut
Luna Maya - Ruang
Nirina Zubir - Heart
Most Favorite Supporting Actor:
Fauzi Baadilah - 9 Naga
Jonathan Mulya - Gie
Tio Pakusadewo - Berbagi Suami
Barry Prima - Realita Cinta dan Rock 'N Roll
Winky Wiryawan - Berbagi Suami
Most Favorite Supporting Actress:
Ria Irawan - Berbagi Suami
Indah Kalalo - Belahan Jiwa
Kinaryosih - Mendadak Dangdut
Ira Maya Sopha - Berbagi Suami
Sausan Machari - Detik Terakhir
Most Favorite Rising Star:
Ringgo Agus Rahman - Jomblo
Maudy Ayunda - Untuk Rena
Dominique - Berbagi Suami
Julie Estelle - Alexandria
Jonathan Mulya - Gie
Most Favorite Heart Melting Moment:
Ringgo Agus Rahman & Nadia Shapira - Jomblo
Vino G Bastia & Baron - Realita Cinta dan Rock 'N Roll
Herjunot Ali & Barry Prima - Realita Cinta dan Rock 'N Roll
Julie Estelle, Fachrie Albar & Marcel Chandrawinata - Alexandria
Nirina Zubir & Irwan Syah - Heart
Most Favorite Movie:
Alexandria
Apa Artinya Cinta
Berbagi Suami
Heart
Realita Cinta dan Rock 'N Roll
Best Crying Scene:
Marcel Anthony - 9 Naga
Titi Kamal-Kinaryosih - Mendadak Dangdut
Nadia Shapira - Jomblo
Sita Nursanti - Gie
Nirina Zubir - Mirror
Best Director:
Hanung Bramantyo - Jomblo
Nia Dinata - Berbagi Suami
Riri Reza - Gie
Rudi Soedjarwo - 9 Naga
Upi - Realita Cinta dan Rock 'N Roll
Best Song in Movie:
Dealova 'Once' (Dealova)
Hilang 'Garasi' (Garasi)
I'm Falling in Love 'Melly G-Anto Hoed' (Apa Artinya Cinta)
My Heart 'Irwan Syah-Acha' (Heart)
Tak Bisakah 'Peter Pan' (Alexandria)
Best Movie of the Year:
9 Naga
Berbagi Suami
Gie
Jomblo
Realita Cinta dan Rock 'n Roll
Sementara untuk Life Time Achievement Award, tahun ini diberikan kepada Warkop DKI untuk dedikasi mereka terhadap perfiman Indonesia selama ini. Anugrah dibacakan oleh mantan aktris panas Sally Marcellina dan Kiki Fatmala yang juga biasa bermakn di film-film Warkop. Penghargaan ini diterima oleh satu-satunya personil Warkop yang tersisa, Indro yang malam itu tampak terharu dan tidak menyangka akan mendapat penghargaan.
Deman remake film horror dari Jepang sepertinya belum usai. Setelah The Ring, The Grudge dan Dark Water, yang merupakan film-film horror dari Jepang, maka Hollywood juga mulai 'mengintip' produksi dari beberapa negara Asia lainnya, seperti Korea, Thailand dan Hong Kong. Berikut upcoming films yang diremake oleh Hollywood:
Berdasarkan Kairo (2001) yang merupakan karya dari Kiyoshi Kurosawa,yang merupakan master horror-surrealis Jepang, yang juga membuat Cure dan Charisma. Bercerita tentang sebuah website yang angker dan memakan korban dari orang-orang yang pernah login ke website tersebut.
Versi H'wood akan disutradarai oleh Jim Sonzero, seorang sutradara muda. Bintang-bintang yang akan bermain adalah Kristen Bell, Ian Somerhalder (Lost), Christina Milian (Be Cool) dan Jonathan Tucker (The Texas Chainsaw Massacre). Melihat deretan pemerannya, maka film ini akan lebih ke thriller remaja. Sementara distribusi film dilakukan oleh Dimension Film, yang juga telah mengedarkan film hit Scream (1996). Kabarnya si pakar horror Wes Craven sendiri yang tertarik untuk meremake film ini, namun perkembangannya malah diarahkan oleh seorang sutradara yang baru satu kali membuat feature film.
Sebuah film hit pada tahun 2002, yang merupaan kerjasama antara tiga negara, Thailand, Hong Kong dan Singapura, The Eye aka Jian Gui (2002), karya kakak beradik kembar Oxide Pang Chun dan Danny Pang. The Eye menceritakan tentang seorang gadis buta yang menerima transplantasi mata, yang anehnya kemudian mendapat penglihatan-penghilatan ganjil yang diketahuinya kemudian merupakan penampakan sosok hantu!
Uniknya, versi H'wood bukan disutradarai oleh Pang Bros, melainkan sutradara Jepang yang sebelumnya membuat Ringu, Dark Water dan juga The Ring Two, Hideo Nakata, karena Pang Bros sendiri telah duluan mendapatkan kontrak untuk menggarap sebuah film horror Amerika, The Messenger, yang sama sekali bukan remake! Aktris kaliber Oscar, Renée Zellweger, positif bermain sebagai bintang utama, sementara untuk pendukungntya masih belum diketahui. Menilik kualitas Nakata dan aktris sekelas Zellweger, maka dipastikan The Eye akan menjadi film yang berkelas. Apalagi yang tertarik untuk meremake film ini adalah Tom Cruise dan mitranya Paula Wagner. FIlm ini sendiri akan didistribusikan oleh Paramount Pictures.
Chakushin ari (2004) atau One Missed Call adalah horror Asia modern pertama karya Takashi Miike, seorang gore-meister yang sebelumnya telah mengejutkan dunia sinema dengan Auditionnya. Bercerita tentang sebuah panggilan tak terjawab dari nomor sipenerima itu sendiri yang uniknya datang dari tiga hari kedepan. Setelah tiga hari, sipenerima telepon akan menemui ajalnya dengan sangat mengerikan.
Chakusin ari segera menjadi hit di Jepang dan Asia, yang tentu saja membuat investor dari H'wood tertarik untuk meremakenya. Kali ini perusahaan Intermedia (Alexander) yang bekerjasama dengan Kudokawa Pictures yang akan meremakenya.
One Missed Call sendiri masih dalam status announced, jadi belum ada konfirmasi sutradara atau pemerannya.
Shutter (2004) adalah sebuah horror hit dari Thailand, karya duo sutradara Banjong Pisanthanakun & Parkpoom Wongpoom. Shutter menggunakan semua elemen yang diperlukan dalam pembuatan sebuah film horror Asia moderen, namun duo sutradaranya mampu membangun atmosfir yang diperlukan, sehingga film ini sukses. Bercerita tentang seorang fotografer yang diikuti oleh seorang hantu perempuan yang menampakkan diri melalui foto-fotonya.
Untuk versi Amerika, kita masih harus menunggu untuk tahun 2007, dimana Regency Enterprises sendiri belum mengkonfirmasi artis dan sutradaranya.
Film-film diatas hanya beberapa dari yang positif akan dan telah dibuat oleh Hollywood. Menurut kabar, masih akan ada beberapa film yang mengantri untuk di remake, seperti Loft dari Jepang, serta Phone dan Antartic Journal dari Korea.
Bollywood adalah salah satu pusat perfilman terbesar di dunia, namun entah mengapa mereka nyaris tidak pernah memenangkan Oscar (duh). Berikut ini adalah kutipan dari artikel yang dimuat di situs www.planetbollywood.com, mengenai calon2 kuat Bollywood untuk Oscar tahun depan:
The Oscar Controversy
By:
What's The Big Deal?
On Monday, September 26, 2005 a decision was made by the Film Federation of India jury that causes a controversy . . . what’s all the fuss about? Yes, it is official that India’s entry for consideration for an OSCAR will be Amol Palekar's Paheli (released in June 2005).
In India’s history, there have been 3 films that have had the privilege of going to the Oscars: Mehmood Khan’s Mother India, Mira Nair’s Salaam Bombay, and Ashutosh Gowarikar’s Lagaan. Unfortunately, India hasn’t won in the Foreign film category, the biggest acclaim probably came in 1982 when Richard Attenborough’s Gandhi won in some of the popular categories. I know that one day, India will win the Oscar in this category, but it won’t be for Paheli.
Aren’t all awards the same?
Does it really matter? Nobody is ever happy with any selection ever made for any awards show. Whether it is FILMFARE, SCREEN, ZEE CINE, STARDUST, etc. there is always somebody who will not be content. What’s the big deal about the Oscars? Its really an awards show to recognize excellence in filmmaking in the United States aka Hollywood. The FOREIGN FILM category gets about 60 seconds of exposure and then they move on to the rest of the evening. Mind you, how many people even watch the Oscars in India? Perhaps the last time, 2001, when Lagaan was part of the category, millions and millions of people were excited, but yet again, we lost.
Let’s look at some past controversies. For instance in 2004, so many categories and ridiculous winners and more controversies and rumours like: “The Chopras bought the awards” or “Shah Rukh Khan always wins”. Well, are these statements true? In my opinion, NO, because sometimes even the best of them don’t win. Yash Chopra made a fine Veer Zaaraonly to have Kunal Kohli win BEST DIRECTOR at the Filmfare Awards. AR Rahman produced the best soundtrack with Swades and Meenaxi (not even nominated), but Anu Malik walked away with the trophy for Main Hoon Na. Not only that, more recently we had the most preposterous announcement that Saif Ali Khan won a NATIONAL AWARD for Hum Tum. So let me ask this . . .doesn’t every award have its share of winners and nominees that don’t deserve the limelight?
What about 2003? As much as Hritik Roshan was good in Koi Mil Gaya, both actor and film swept most of the awards leaving Kal Ho Na Ho and Shah Rukh Khan biting the dust. There was a big deal made then as well.
Even in 2002, when Devdas was selected as India’s entry for the Oscars, there were people who wanted RGV’s Company to be chosen.
Whether you love him or hate him, Shah Rukh Khan is sellable as an actor and he is recognized in North America more and more. Not only that, even though Paheli opened to mixed reviews, it was a success in the overseas market playing for weeks. This could possibly be one of the reasons it was selected. This Khan is always part of media stories, so this controversy is only the beginning.
Don’t get me wrong readers, I am not defending Paheli as the perfect choice or supporting it, but what’s done is done.
What’s should’ve been chosen?
Hmm . . . the issue is deep. So many people have claimed that Black should’ve been selected. I believe that there were other selections that would’ve made fine representations for India. Yes, despite the fact Black was mostly in english, it was an Indian film. I believe it deserved recognition at the international level. However, I also find that Veer Zaara would’ve made a fine contender because with relations being better between Pakistan and India, the film showed a great love story. Parineeta would’ve been a good selection as it showed human relationships, secret relationships, and open relationships in a new light. Even Swades would’ve been a decent selection as it shows one man’s journey to return to his roots. The list can go on . . . everybody has their favourites.
The official list of films that were considered this year were:
Veer Zaara, Swades, Page 3, Black, Hazaaron Khwaishein Aisi, Iqbal, Sachein (Tamil), Anniyan (Telugu), Mangal Pandey, Achuvante Anna (Malayalam), Graham (Telugu), Uttarayan (Marathi), and Kadal (Tamil).
Paheli being chosen has made some people happy, and others shocked. So what’s the big deal now? Whether the film was selected by lobbying by the Rajasthan Tourism, or Palekar and Khan’s influence, what’s done is done!
Do you really care?
This
story will stay in the news for a few weeks, die down, then when
nominations are made, it’ll be in the limelight again. Does Paheli
have a chance of getting nominated? No. Why? Because it is a fantasy
film made to enjoy like you are in a slow dream and just enjoying the
cinematography, the costumes, the music, the performances . . . it
doesn’t reflect Indian culture, it just shows the plight that a human
being can go through, whether its natural or supernatural.
I personally liked Paheli, however, I would not select this film to represent India at the Oscars. Amol Palekar is a fine actor and proved to be a good director, but his film will unfortunately be mocked for months to come. The real test has begun for them now. . . yet they don’t care because they’ve won round 1. We’ll have to wait for the official Oscar nominations in 2006.
The remakes
Miracle worker . . . Duvidha . . . you get the picture? The main news item is Black was robbed and Paheli has won. Everyone talks about how Black is a remake . . . well . . . even Sanjay Leela Bhansali has claimed that Black has shades of Helen Keller’s story. But have people forgotten that Paheli is also a remake of a 70s film called Duvidha? This controversy has put everyone in a dilemma!
I don’t want people to begin hating Black because its now getting the recognition it deserved. Dropping the issue is probably best. I would rather Black gets INDIAN recognition at the regular awards than at the Oscars. Yes, because the Oscars are overrated!
Paheli . . . The Riddle
The riddle is this: How can one movie cause so much controversy? Well, the answer is simple . . . Bollywood has actually gotten bad recognition throughout the years for churning out hundreds of films with over 90% having no substance. However, since Diwali 2004, I can honestly say, that filmmakers have began working on making some quality products, entertaining and wholesome films. There were MUCH better films than Paheli that had the aesthetics that would’ve made India proud at the Oscars. The Hollywood Foreign Press, who ultimately has the final decision to nominate, will not like the frills and colours of Paheli because in the end, it’s a fairytale, a fantasy film. Hollywood wants films that show humans fighting or overcoming all odds (like Lagaan did). Unfortunately, it is clear that Paheli will not get us an Oscar nomination, but the final decision is done. We hold no power to appeal this ruling. So the final question is: what’s the big deal?
Kabar gembira untuk perfilman Indonesia, karena DVD Region 1 film Arisan! mulai tanggal 12 Juli sudah keluar untuk kawasan Amerika Utara.
Untuk Region 1, Arisan! diberi subtitel The Gathering (kok kaya film horrornya Christina Ricci ya?), dengan studio yang mendistribusikannya adalah Water Bearer. Water Bearer Films, Inc., adalah distributor Home Video VHS & DVD, yang mengkhususkan pada film-film Foreign, Gay dan Lesbian dari seluruh dunia.
Spesifikasi dari DVD Region 1 Arisan! adalah:
Dari situs amazon.com tidak dirinci special feature yang ada, tapi dari situs resmi Water Bearers sebagai distributor Region 1-nya, extra DVD ini adalah:
Sementara deskripsi di back-covernya adalah:
A satirical comedy set in Jakarta about friendship, homosexuality, adultery and the shallowness of the nouveau riche, “Arisan!” caused quite a stir in Indonesia when it presented the first openly gay kiss between the two male leads. Sakti is a handsome young architect living in Jakarta with his nagging mother. He is so deep in the closet that even he has not figured out he likes men. But those around him begin to suspect something is up when Sakti meets Nino, a good looking TV producer.Set around the traditional Arisan (gatherings) where women get together and gossip the afternoon away, this film is a wonderful look at Indonesian society and people’s ability to accept each other no matter what the circumstances.
Adanya DVD ini menunjukkan kalau perfilman kita cukup layak untuk Go International. Sebelum ini sudah beredar juga Kejar Amerika, yang sama halnya dengan di Indonesia adalah straight to video.
Sangat ditunggu untuk film2 selanjutnya. Bravo film Indonesia!!!!!!!!
Film Indonesia semakin menunjukan taringnya. Setelah di negeri sendiri menunjukkan progresi yang cukup signifikan, maka film Indonesia mulai 'bermain' di pasar luar negeri, walau saat ini baru di pasar Malaysia. tapi, setidaknya dengan kesuksesan beberapa film Indonesia disana, menunjukkan jika industri film kita harus terus meningkatkan mutu dan kualitasnya, jika ingin lebih diterima oleh diversifikasi pasar yang lebih internasional.
Minggu lalu Ungu Violet yang dirilis di Malaysia mendapat sambutan yang meriah, mengalahkan film lokal yang berjudul Gol dan Gincu. Berikut adalah kutipan dari Malay Mail berikut ini:
POOR START
Here's further bad news for the local film industry. Bernard Chauly's first feature film, Gol & Gincu,
produced by Red Films, made a slow start at the box office despite rave
reviews. The teen romance, starring Nor Fazura, Ashraf Sinclair and
Sazzy Falak, collected only RM250,000 in its first four days. That�s
not promising when compared to Sembilu 2005 and GK3 The Movie, which grossed RM600,000 in their first four days and ended up grossing less than RM2 million.
Gangster and Senario XX returned RM850,000 in their first four days and collected more than RM2 million in the end. So, Gol & Gincu has much of catching up to do if it hopes to reach the RM1 million mark. And that�s made much tougher as Gila Gila Pengantin Popular, starring Erra Fazira, Norman Hakim, Saiful Apek and Afdlin Shauki, is opening next week.
INDONESIAN INVASION
Good news for fans of Indonesian heartthrob Nicolas Saputra. His new film, Janji Joni
opens nationwide on September 4th. The film will be distributed here by
Wayang Tinggi Sdn Bhd, the same company that brought in last year�s Eiffel...I�m In Love. With Nicolas in the lead, Janji Joni is expected to match the success of Tentang Dia and Unggu Violet.
For
that, Indonesian filmmakers will rejoice at the expense of local film
producers. It�s a fact that when an Indonesain teen flick opens here,
the turnout for local films is badly affected. One only has to look at
what Unggu Violet did to Gol & Gincu last week.
Akhirnya perhelatan MTV Indonesia Movie Award yang kedua dilaksanakan pada tanggal 5 Agustus 2005 kemarin, lebih cepat dari jadwal semula, akhir Oktober 2005. Acara kembali di-host dengan meriah oleh mantan VJ MTV Sarah Sechan, dan dihadiri oleh banyak selebritis.
Sama seperti penyelenggaraan sebelumnya, maka unggulan dari award ini terbagi dua, yaitu pilihan juri dan penonton. Dengan pengkategorian seperti ini, MTV mengulangi pola unik mereka yang tentu saja memberikan kesegaran dalam ajang-ajang seperti ini.
Ada sedikit perubahan dalam pemberian nominasinya, namun tidak mengurangi ke-khasan MTV. Sementara dari daftar nomenee-nya, cukup variatif, antara artis muda dan senior, yang mana hal ini dimaksudkan agar generasi MTV mengenal senior-seniornya. Para nominasi dikumpulkan dari film-film yang rilis pada periode 1 Juli 2004 - 25 Juni 2005 dan tercatat 23 film yang sudah dihasilkan para sineas. Namun, dari 23 film tersebut yang masuk ke dalam daftar nominasi MIMA cuma 21 film. Berikut daftar nominasi dan pemenangnya. Huruf berwarna merah mengindikasikan pemenangnya.
• DAFTAR NOMINEE PILIHAN JURI •
Best Crying Scene:
1.Angie: Virgin
2.Lembu: Banyu Biru
3.Raisa Parmesi: Rindu Kami Padamu
4.Dian Sastrowardoyo: Ungu Violet
5.Ade Tasya: Janji Joni
Best Movie
1.Janji Joni
2.Ungu Violet
3.Rindu Kami Padamu
4.Banyu Biru
5.Catatan Akhir Sekolah
Best Director:
1.Joko Anwar: Janji Joni
2.Hanung Bramantyo: Catatan Akhir Sekolah
3.Garin Nugroho: Rindu Kami Padamu
4.Rako Prijanto: Ungu Violet
5.Teddy Soeriatmaja: Banyu Biru
Best Theme Song
1.Cinta Terakhir: GIGI (Brownies)
2.I Remember: Mocca (Catatan Akhir Sekolah)
3.Juwita: Slank (Banyu Biru)
4.Menanti Sebuah Jawaban: Padi (Ungu Violet)
5.Tentang Dia: Melly Geslaw Feat Evan (Tentang Dia)
• DAFTAR UNGGULAN PILIHAN PENONTON •
Most Favorite Movie
1.Janji Joni
2.Ungu Violet
3.Rindu Kami Padamu
4.Banyu Biru
5.Catatan Akhir Sekolah
Most Favourite Actor:
1.Tora Sudiro: Banyu Biru
2.Nicholas Saputra: Janji Joni
3.Sakurta: Rindu Kami Padamu
4.Rizky Hanggono: Ungu Violet
5.Vino G Bastian: Catatan Akhir Sekolah
Most Favourite Actress:
1.Dian Sastrowardoyo: Ungu Violet
2.Angie: Virgin
3.Putri Mulia: Rindu kami padamu
4.Adinia Wirasti: Tentang dia
5.Marcella Zalianti: Brownies
Most Favourite Supporting Actor:
1.Barry Prima: Janji Joni
2.Butet Kartaredjasa: Banyu Biru
3.Fauzy Baadila: Tentang Dia
4.Didi Petet: Banyu Biru
5.Arie K Untung: Ada Hantu Di sekolah
Most Favourite Supporting Actress:
1.Rachel Maryam: Janji Joni
2.Rima Melati: Ungu Violet
3.Lydia Kandau: Ketika
4.Elmayana Sabrenia: Brownies
5.Mariana Renata: Janji Joni
Most Favourite Rising Star:
1.Laudia Cintya Bella: Virgin
2.Alexandra Joanna: Catatan Akhir Sekolah
3.Angie: Virgin
4.Rizky Hanggono: Ungu Violet
5.Marcel: Catatan Akhir Sekolah
Sama halnya dengan tahun kemarin, MTV Indonesia Movie Award juga memberikan Life Time Achievement Award, yang pada tahun lalu diberikan kepada Didi Petet. Tahun ini adalah giliran (alm) Benyamin Sueb, yang dikarenakan dedikasinya yang tinggi untuk kebudayaan Betawi khusunya, dan perfilman Indonesia pada umumnya. Sosok Bang Ben dianggap sebagai sosok legenda dalam dunia perfilman Indonesia, sehingga award ini dianggap sangat pantas.
Perfilm Korea tidak saja menunjukkan indikasi sebagai pusat perfilman dengan kreatifitas yang tinggi dalam film-filmnya. Ternyata kreatifitas tidak hanya ada dalam membuat film, akan tetapi juga dalam membuat poster film.
Poster film dipandang sebagai suatu alat untuk menangkap target penonton yang ingin dicapai sekaligus sebagai first impression yang catchy bagi calon penonton, sehingga poster pun dibikn dengan semenarik dan artistik mungkin. Ini beberapa contohnya:
Untuk lebih jelasnya bagaimana poster menjadi suatu strategi tersendiri dalam menyukseskan filmnya, dapat diketahui dari kutipan berikut ini:
Film Posters in the Context of Marketing and Design
14 Jul 2005
[ Korean Cinema News | Posted By: magic8 ] Source: joongangdaily
With
the film industry growing so big, there are dozens of festivals and
award ceremonies in Korea, let alone globally. While artistic elements
and filming techniques have been discussed as important factors in the
industry, posters have rarely made it into the limelight and are
usually dismissed as commercial works, not art.
But
designers of movie posters and leaflets claim that film marketing
design is more than just an image, but an important media form that
speaks for public sentiment and cultural trends of the times. Posters, the Flower of Films
is an exhibition arranged by the Design Center of Kookmin University.
It does not focus on movie posters as a genre of pure art, but rather
in the context of commercial art and Korean film marketing design.
Recently,
promotional print materials for the film market are having more
influence on the success of the film since the contents that are used
for the posters are thought out in the context of the film's story and
imagery, said Yoon Sang-jin, an organizer of the exhibition. Even
though we are living in the digital age, movie fans still collect
posters and paraphernalia, which is very nostalgic and romantic.
The exhibition, which begins today, is not a prim
gallery filled with framed movie posters, although movie posters are
indeed on display. There are also press kits, scenario books,
photographs taken for poster images, and other types of promotional
material. Some of the posters and materials on display are of movies
including Peppermint Candy, Failan and Il Mare.
Semoga saja perilman Indonesia yang tengah berkembang dengan pesat bisa mengambil contoh positif dari kreatifitas perfilman Korea tersebut agar dinamika industri film kita semakin bagus lagi.
MTV Movie Award adalah event tahunan MTV. Disaat perfilman Indonesia kembali bangkit, maka MTV Indonesia pun segera mengadakan acara penganugrahan sejenis terhadap insan perfilman Indonesia sebagar rasa apresiasi dan pendorong majunya industri film di Indonesia. Tentu saja dengan bergaya khas MTV. Beberapa bulan lagi MTV Indonesia akan mengadakan eventnyan yang kedua. Untuk itu, at a glance, let's rewind the the very first fuss that happened last year.
Event yang pertama kali diadakan pada 2 Oktober 2004, di Jakarta Convention Centre (JCC). Dengan host mantan VJ MTV Sarah Sechan, kemeriahan berjalan lancar. Banyak sekali selebritis hadir di antaranya Dian Sastro, Nicholas Saputra, Cut Mini, Dina Olivia, El Manik, Rachel Maryam dan bahkan Meriem Bellina dan Onky Alexander (!) serta masih banyak lagi.
Unggulan dari award ini terbagi dua, yaitu pilihan juri dan penonton yang tentu saja berbeda karena dilakukan melalui sebuah proses penilaian yang dilakukan oleh orang-orang terpilih yang terwakili dari kalangan media cetak, pengamat dan praktisi film, artis, sutradara film dan tentu saja tim dari MTV Indonesia sendiri. Di antaranya ada nama-nama Noorca M. Massardi (pengamat film), Richard Buntario (sutradara), Indra Yudhistira (sutradara/praktisi film), Fathan Rangkuti (Pemimpin Redaksi Tabloid Bintang Milenia), Cornelia Agatha (artis), dan Haswati Handrazfil (Communication Manager MTV). Sementara pilihan penonton berdasarkan poling yang dilakukan sebelumnya terhadap film-film yang diputar mulai 1 Januari 2003 hingga 31 Juli 2004. Sesuai dengan konsep MTV, maka kategori pemilihannya juga unik danmenarik.
MTV Indonesian Movie Award 2004 memiliki slogan Finding MIMA dengan alasan, karena MTV berharap ajang ini bisa menjadi jalan untuk memacu kreatifitas dunia perfilman. Slogan ini terinspirasi pada film Finding Nemo.
Berikut daftar nominasi dan pemenangnya. Huruf berwarna merah mengindikasikan pemenangnya.
• DAFTAR NOMINEE PILIHAN JURI •
Best Crying Scene:
1. Shandy Aulia (Eiffel I'm In Love)
2. Cut Mini (Arisan)
3. Tora Sudiro (Arisan)
4. Winky Wiryawan (Mengejar Matahari )
5. Marcella Zalianty (Tusuk Jelangkung )
Best Director:
1. Nasry Cheppy (Eiffel I'm In Love )
2. Nia Dinata (Arisan )
3. Dimas Djayadiningrat (Tusuk Jelangkung )
4. Jose Poernomo (Tak Biasa )
5. Rudi Soedjarwo (Mengejar Matahari )
Best Theme Song
1. Pujaanku - Melly Goeslaw (Eiffel I'm In Love )
2. Mengejar Matahari - Ari Lasso (Mengejar Matahari)
3. Mimpi dan Rumah ke 7 - Indra Lesmana (Rumah ke 7 )
4. Melompat Lebih Tinggi - Sheila on 7 (30 Hari Mencari Cinta)
5. Cinta Terlarang - Ren Tobing (Arisan)
Best Movie
1. Arisan
2. Mengejar Matahari
3. Tusuk Jelangkung
4. Eiffel I'm In Love
5. Biola Tak Berdawai
• DAFTAR UNGGULAN PILIHAN PENONTON •
Most Favourite Actor:
1. Tora Sudiro (Arisan!)
2. Nicholas Saputra (Biola Tak Berdawai)
3. Samuel Rizal (Eiffel…I'm In Love)
4. Jeremias Nyangoen (Kanibal Soemanto)
5. Fauzi Baadilah (Mengejar Matahari)
Most Favourite Actress:
1. Rachel Maryam (Andai Ia Tahu)
2. Cut Mini (Arisan!)
3. Ria Irawan (Biola Tak Berdawai)
4. Shandy Aulia (Eiffel…I'm In Love)
5. Nirina Zubir (30 Hari Mencari Cinta)
Most Favourite Supporting Actor:
1. Surya Saputra (Arisan!)
2. El Manik (Biarkan Bintang Menari)
3. Dicky Lerbianto (Biola Tak Berdawai)
4. Ade Habibie (Mengejar Matahari)
5. Arief Rivai (Mengejar Matahari)
Most Favourite Supporting Actress:
1. Rachel Maryam (Arisan!)
2. Aida Nurmala (Arisan!)
3. Jajang C Noer (Biola Tak Berdawai)
4. Titi Kamal (Eiffel…I'm In Love)
5. Dinna Olivia (Tusuk Jelangkung)
Most Favourite Movie:
1. Arisan!
2. Eiffel…I'm In Love
3. Mengejar Matahari
4. 30 Hari Mencari Cinta
5. Tusuk Jelangkung
Most Favourite Romantic Moment:
1. Andai Ia Tahu
2. Biarkan Bintang Menari
3. Mengejar Matahari
4. 30 Hari Mencari Cinta
5. Eiffel…I'm In Love
Guys! Gw jarang bgt nonton tv apalagi sampe ngikutin serial. Paling2 beberapa series aja, itu
pun kayak The Apprentice atau Sex in the City. Drama Asia, apalagi sinetron? Maaf, bukannya anti, tapi banyak yang ngecewain.
Beberapa minggu lalu, ada teaser drama Full House di Indosiar, dengan sedikit penjelasan mengenai serial ini. Mula2nya gw underapreciate ama nih film, abis kayaknya ceritanya tuh childish dan rather silly. Tapi berhubung yang main Song Hae Gyo (my fave babe since Endless Love) makanya, gw bela2in nonton. Itupun udah episode ke3. Ternyata sodara2, (hehehee) gw salah. Ini series paten abis. Ceritanya simple tapi dikemas dengan menarik
sehingga mengasyikkan, bikin kita penasaran. Dan itu yang penting kan?
Ceritanya tentang seorang gadis urakan, Han Ji-eun (Song Hae Gyo) dan artis terkenal yang sombong, Lee Young-jae (Bi), yang dikarenakan suatu keadaan haris terpaksa menikah pura. Pada mulanya hubungan mereka bagaikan kucing dan tikus, tapi lama2 mereka mulai merasa saling tertarik satu sama lain. Apalagi ada orang2 diluar mereka yang juga 'menjalin' cerita sehingga makin ciamik ceritanya, yaitu penerbit yang keren, Kang Hye-won (Han Eun Jung) dan penata gaya Yoo Min-hyuk ( Kim Sung Soo), yang masing2 menjadi love interest Ji-eun dan Young-Jae.
Serial ini kayaknya lagi hebih2nya nih di Medan. Pas jalan2 ke PAJUS (alias Pajak USU) udah ada bajakannya dan murah pula. Aduh jadi pengen beli, hehehehe. Am I too much melodrama?
Tapi serius, sebagai sebuah komedi romantis, Full House berhasil. Ia berhasil menjadi penghibur, pengharubiru dan pemikat. Ini penting kan? Apalagi untuk para pembuat sinetron2 yang membosankan itu. Sadar dunk, kalo kita butuh tontonan yang menarik,
bukan serial murahan yang gemar mengeksploitasi harta kekayaan atau sisi psikopat orang yang senang menyiksa orang lain. Wake Up Man!!!!!!!
PS:
The shows already end. Watch for the VCD instead
Recent Comments