Somehow The Three Days Journey is Pointless
Senang sekali perfilman kita mempunyai Riri Riza, karena bung satu ini konsisten dengan sajian yang lebih daripada hanya sekedar jualan tanpa isi, walaupun rata-rata filmnya juga berpretensi untuk menjadi “something-different” daripada jujur menjadi diri sendiri saja.
'3 Hari Untuk Selamanya' katanya adalah road movie. Film sejenis ini setahu saya memang bukan sesuatu yang sering dijadikan tema dalam perfilman Indonesia, sehingga menarik sekali melihat sepasang sepupu, Ambar (Adinia Wirasti) yang cenderung hedonis dan Yusuf (Nicholas Saputra) yang lebih kalem dalam melakukan perjalanan darat dari Jakarta menuju Jogyakarta dalam rangka mengantar seperangkat piring antik yang bakal digunakan bagi resepsi pernikahan kakak Ambar. Tentu saja, dalam tradisi road movie, sepanjang perjalanan terjadi bermacam peristiwa yang (diharapkan) mengubah sudu pandang Yusuf dan Ambar pada kehidupan mereka.
Saya yakin niat awal Riri Riza, selain sebagai sebuah film yang character driven dengan kental, ia juga pastinya menginginkan agar filmnya mengekspos panorama sepanjang perjalanan Jakarta menuju Jogyakarta tersebut dan untuk itu ia berhasil. Tapi soal character driven tadi? Hm, tunggu dulu.
Rasanya karakter Yusuf dan Ambar tidak terlalu signifikan untuk mewakilkan gambaran remaja saat ini. Apa memang benar sudah sedemikian kebarat-baratan-nya remaja kita, sehingga Riri merasa perlu mendeskripsikan dengan sedikit vulgar karakter Ambar dan Yusuf dalam bentuk sebuah film? Dialog-dialog yang mereka sampaikan terkadang juga terasa kosong dan kurang bernas, sehingga nyaris tidak memberikan apa-apa yang membekas di benak penontonnya.
Beruntung Riri memang berbakat. Film tetap dapat dicerna dengan renyah apalagi didukung dengan teknis produksi yang cukup matang dan akting menarik dari Nicholas Saputra dan Adinia Wirasti yang reuni setelah 'Ada Apa Dengan Cinta?'. Mungkin bukan yang terbaik dari Riri Riza, tapi tetap pantas untuk disimak.






















