August 05, 2008

Somehow The Three Days Journey is Pointless

3hariuntukselamanyaSenang sekali perfilman kita mempunyai Riri Riza, karena bung satu ini konsisten dengan sajian yang lebih daripada hanya sekedar jualan tanpa isi, walaupun rata-rata filmnya juga berpretensi untuk menjadi “something-different” daripada jujur menjadi diri sendiri saja.

'3 Hari Untuk Selamanya' katanya adalah road movie. Film sejenis ini setahu saya memang bukan sesuatu yang sering dijadikan tema dalam perfilman Indonesia, sehingga menarik sekali melihat sepasang sepupu, Ambar (Adinia Wirasti) yang cenderung hedonis dan Yusuf (Nicholas Saputra) yang lebih kalem dalam melakukan perjalanan darat dari Jakarta menuju Jogyakarta dalam rangka mengantar seperangkat piring antik yang bakal digunakan bagi resepsi pernikahan kakak Ambar. Tentu saja, dalam tradisi road movie, sepanjang perjalanan terjadi bermacam peristiwa yang (diharapkan) mengubah sudu pandang Yusuf dan Ambar pada kehidupan mereka.

Saya yakin niat awal Riri Riza, selain sebagai sebuah film yang character driven dengan kental, ia juga pastinya menginginkan agar filmnya mengekspos panorama sepanjang perjalanan Jakarta menuju Jogyakarta tersebut dan untuk itu ia berhasil. Tapi soal character driven tadi? Hm, tunggu dulu.

Rasanya karakter Yusuf dan Ambar tidak terlalu signifikan untuk mewakilkan gambaran remaja saat ini. Apa memang benar sudah sedemikian kebarat-baratan-nya remaja kita, sehingga Riri merasa perlu mendeskripsikan dengan sedikit vulgar karakter Ambar dan Yusuf dalam bentuk sebuah film? Dialog-dialog yang mereka sampaikan terkadang juga terasa kosong dan kurang bernas, sehingga nyaris tidak memberikan apa-apa yang membekas di benak penontonnya.

Beruntung Riri memang berbakat. Film tetap dapat dicerna dengan renyah apalagi didukung dengan teknis produksi yang cukup matang dan akting menarik dari Nicholas Saputra dan Adinia Wirasti yang reuni setelah 'Ada Apa Dengan Cinta?'. Mungkin bukan yang terbaik dari Riri Riza, tapi tetap pantas untuk disimak.

3 out of 5
"3 HARI UNTUK SELAMANYA" (2007)/Miles Film/Directed by Riri Riza/Cast: Nicholas Saputra, Ardinia Wirasti, Tarzan, Inong/Runtime: 90 min

                            

A Relentless Bad Karma is Not So Good

Karma_1Setelah 'Peti Mati' atau 'Coffin' yang lalu, kini ada lagi film horor Indonesia yang mengangkat kultur etnis Tiong Hoa sebagai adonannya. 'Karma', becerita tentang dosa masa lalu yang menjadi sebuah kutukan berkepanjangan bagi keluarga Tiong Guan (H.I.M. Damsyik) dan juga keturunannya.

Sudah menjadi kepercayaan jika ada anak laki-laki di keluarga tersebut yang menikah, maka istri mereka akan meninggal dan begitu juga dengan anak yang dilahirkannya, jika berjenis kelamin perempuan. Sampai cucu Tiong Guan yang bernama Arman (Joe Taslim) membawa pulang Sandra (Dominique A. Diyose) dari luar negeri dalam keadaan hamil. Tiong Guan marah sekali dan tidak menyukai keadaan ini, namun kondisinya yang lumpuh karena tengah menderita stroke tidak mampu untuk membuat dirinya berbuat apapun.

Tidak lama, Sandra menyadari akan keanehan dalam keluarga tersebut, hingga ia melihat penampakan hantu-hantu perempuan. Tidak mau kandungannya terganggu, maka Sandra mulai melakukan penyelidikan tentang rahasia kelam didalam keluarga Guan.

'Karma' mempunyai ide cerita yang menarik dan menampilkan salah satu hantu menyeramkan yang pernah disaksikan di perfilman Indonesia. Sayangnya perkembangan plotnya yang disusun oleh Salman Aristo sebagai penukis skrip cukup lemah dan kurang berkembang sehingga filmnya terasa monoton. Editingnya juga tidak membantu karena terasa kurang rapi dan membuat film seakan meloncat-loncat.

Agak heran juga kenapa 'Summer Breeze' yang merupakan film kedua Allan Lunardi beredar terlebih dahulu dibandingkan dengan debutnya ini. Yah, memang Lunardi harus belajar lebih banyak lagi dalam membuat film dengan struktur yang lebih solid. Padahal ia tampaknya menguasai materi genre ini dengan baik, karena berhasil memaparkan beberapa adegan yang cukup menyeramkan.

Dominique sendiri menujukkan progresi yang menarik setelah 'Berbagi Suami' sedangkan Joe Taslim terlihat jelas berakting sebagai seorang debutan, meski ia mencoba dengan segenap kemampuannya untuk itu.

'Karma' dapat menjadi menarik jika penceritaannya dapat menjadi lebih ringkas dan padat. Walau begitu, upayanya untuk menjadi horor yang berbeda dari kebanyakan film sejenis yang beredar akhir-akhir ini bisa diberi kredit lebih.

2.5 out of 5
"KARMA" (2008)/Credo Pictures/Directed by Allan Lunardi/Cast: Dominique A. Diyose, Joe Taslim, Jonathan Mulia, HIM Damsyik, Henky Solaiman, Verdy Solaiman, Jenny Chang/Runtime: 90 min

June 20, 2008

'FIKSI': This Fiction Turn Into Sinister Reality


Produksi: Cinesurya (2008)
Sutradara: Mouly Surya
Cast: Ladya Cheryl, Donny Alamsyah, Kinaryosih, Inong, Rina Hasyim, Egy Fadly, Soultan Saladin, Jose Rizal Manua

Genre: Drama/Thriller
Durasi: (+) 100"
Release Date: 19 Juni 2008
My Grade: 3.5 out 5

Fiksi_poster Banyak yang skeptis jika orisinilitas menjadi bagian yang eksklusif dari film-film di Indonesia. Tidak bisa disalahkan saat fakta memang menunjukkan hal tersebut. Saya setuju plagiat merupakan sebuah big-no-no, namun jika orisinalitas diharapkan didapat dari film-film lain sebagai referensi, maka rasanya itu juga terlalu berlebihan. Lagipula, dengan sejarah panjang dunia perfilman saat ini, rasanya jarang sekali untuk mendapatkan film-film yang benar-benar inventif. Bahkan Quentin Tarantino "menjiplak" habis-habisan gaya film aksi Asia dalam 'Kill Bill'. Hanya saja kemudian dapat tepermisifkan jika bahan-bahan tersebut diolah menjadi sesuatu yang jenial.

Joko Anwar selalu dituduh "kebarat-baratan" dalam setiap film atau skenarionya. Rasanya ini juga terlalu berlebihan. Menyaksikan skenario terbarunya yang berjudul 'Fiksi' dan menjadi film debutan bagi sutradara perempuan bernama Mouly Surya, adalah seperti menyaksikan plot yang bisa jadi umum di Barat sana, namun dikemas dengan sentuhan lokal yang cukup kuat, sehingga menghasilkan sebuah narasi yang memikat untuk disimak dari awal sampai akhir dan menambah khasanah film lokal yang benar-benar layak untuk disimak.

Mengambil premis Alice in Wonderland, akan tetapi dibalik, film bercerita tentang Alisha (Ladya Cheryl), seorang gadis kaya dengan kehidupan yang suram. Sampai ia kenal dengan Bari (Donny Alamsyah), seorang pemuda sederhana yang tinggal berdua saja dengan kekasihnya yang mahasiswa psikologi bernama Renta (Kinaryosih) di sebuah rumah susun (namun menolak dikatakan sebagai pasangan 'kumpul kebo'!). Alisha, yang menyamar dengan memakai nama Mia, memutuskan untuk tinggal di rumah susun tersebut.

Bari ternyata seorang penulis yang masih bingung untuk memberikan akhir pada cerita-cerita yang ditulisnya mengenai beberapa karakter yang kebetulan menetap di rumah susun tersebut. Alisha yang kini terobsesi dengan Bari memutuskan untuk "memberi jalan" bagi klimaks di cerita-cerita Bari dengan memberikan klimaks di dunia nyata bagi karakter-karakter tersebut. Namun, yang namanya obsesi, jika kita terlalu konsumtif padanya maka pada akhirnya akan berujung pada petaka. Maka, pada akhirnya giliran cerita mereka yang kini Alisha perlu beri akhir.

Rasanya saya tidak perlu sebutkan pada film-film apa saja 'Fiksi' mengingatkan saya. Yang penting saat ini adalah bagaimana saya tersedot pada cerita yang ditawarkan oleh Mouli Surya ini. Bertahan pada pace yang lambat memang mempunyai tendensi untuk ditinggal oleh atensi penontonnya. Namun untunglah dinamika dalam ceritanya dialur dengan menarik, yang kalau saya ibaratkan seperti layang-layang yang ditarik ulur. Saat kita mulai merasa bosan, maka tiba-tiba cerita menawarkan "sesuatu" lagi yang membuat kita untuk bertahan.

Ini mungkin yang menjadi minor bagi 'Fiksi' secara umum, selain juga dimana rasanya 'Fiksi' terlalu banyak mengambil struktur drama dibandingkan thriller. Terlepas dari hal-hal tersebut, Joko Anwar sekali lagi menunjukkan betapa ia memang mempunyai refensi film dengan cakupan yang luas. Ia memang tahu sekali filmya akan diarahkan kemana, sehingga saya berani menyebutkan jika film bertutur dalam dramaturgi yang jelas dan lancar bercerita.

Tabik juga untuk Mouly Surya yang mampu mengemas cerita Joko dengan estetika yang dipilihnya. Jika ia tidak memahami dengan baik kandungan cerita film ini, saya yakin film akan berjalan pada arah yang salah dan pada akhirnya meloncat ke jurang monotonisme. Oh ya, tentu saja ia tahu kemana arah film akan berjalan. Bukannya ide cerita film ini berasal darinya?

Ladya Cheryl sendiri katanya memang sudah dibayangan Mouly saat mulai menulis cerita film ini. Tidak heran jika karakter Alisha diperankannya dengan tone yang setipe saat menjadi Alya di film 'Ada Apa Dengan Cinta' yang lalu. Hanya saja kini dengan atmosfir yang lebih kelam. Ms. Ladya, I think you should take another role in another films to variate your acting resume. Pada intinya untuk menambah jam terbang saja.

Donny Alamsyah sendiri beruntung jika pada banyak film lain ia hanya sebagai pemain pendukung, sehingga bisa mengasah aktingnya secara lebih tajam. Ia mampu menjadi Bari yang memang dibutukan oleh skenario. Tapi saya curiga, jangan-jangan karakter Bari juga terinspirasi dari keseharian Donny. Kinaryosih, dalam peran pendukung, tidak istimewa dan cenderung dapat dilupakan, namun cukup memberi kontribusi yang signifikan terhadap progresi cerita.

'Fiksi' adalah film yang berbeda. Bukan film yang umum mungkin. Selama selera penonton kita belum berubah dari pola yang terjadi saat ini, film seperti ini tidak akan dengan mudah diterima oleh awam. Akan tetapi film ini menjadi penting karena ia dibutuhkan sebagai sosialisi (dan juga edukasi) bagi kalangan penonton kita, bahwa film yang baik dan benar itu lebih menambah khasanah wawasan berfikir dan pada akhirnya kita akan mempunyai penonton dengan daya nalar yang lebih kritis. Okay, enough being preachy and just watch the film while it still last, which I think won't be long at the cinema.

June 19, 2008

'SUMPAH POCONG DI SEKOLAH': A Horror Comedy That Entertains But Fails To Undertand The Genre


Produksi: Maxima Pictures/27Ant (2008)
Sutradara: Awi Suryadi
Cast: Alex Komang, Marcell Darwin, Fandi Christian, Hardi Fadhillah, Herichan, Joshua Pandelaki, Henidar Amroe

Genre: Horor/Komedi
Durasi: (+) 100"
Release Date: 12 Juni 2008
My Grade: 2.5 out 5

Sumpah_pocong_di_sekolah Saat sang hantu perempuan merangkak keluar dari televisi dan mulai mencekik Alex Komang, saya langsung tahu kalau komedi sejatinya memang ranah utama bagi Awi Suryadi (Claudia/Jasmine). Saya juga langsung tahu kalau dia itu sama sekali tidak punya ide yang inventif untuk bagaimana menciptakan atmosfir seram, sehingga harus mengkloning adegan-adegan seram dari film-film horor lainnya yang jelas-jelas lebih superior!

'Sumpah Pocong di Sekolah' mempunyai judul yang sensasional dengan jalan cerita yang kini sudah jenerik. Menampilkan hantu dengan penampilan yang jenerik pula, sehingga pada akhirnya film ini adalah film jenerik yang berusaha menarik perhatian dengan aksi-aksi yang "heboh".

Tidak ada yang baru disini. Menceritakan tiga orang siswa dari sekolah elit khusus laki-laki yang tidak mempunyai karakter jelas kecuali kalau mereka itu badung (yang rasanya juga kurang meyakinkan!). Saat mereka diminta pertanggungjawaban akan kelakukan badung mereka, justru mereka semakin badung dengan melakukan Sumpah Pocong.

Seperti sudah dapat ditebak, sumpah ghaib tersebut mengundang makhluk ghaib lainnya dan mulai mengganggu ketentraman hari-hari mereka. Uniknya, yang mencoba membongkar tabir sang mahluk ghaib aka "hantu perempuan berambut panjang", bukan ketiga siswa laki-laki yang rasa tanggung jawabnya diletakkan didengkul mereka tersebut, melainkan seorang guru perempuan nan seksi yang motivasinya juga kurang kuat dan berakhir dengan klimaks yang membuat karakter ketiga siswa laki-laki yang masa depannya kurang jelas itu (dan juga guru seksi) menjadi tidak penting lagi.

Memang kedengarannya konyol, tapi (dengan segala keterbatasannya) saya juga langsung tahu kalau Awi ternyata memang mampu untuk meramu adegan demi adegan dengan gaya bertutur yang lancar. 'Sumpah Pocong di Sekolah' tidak hanya dipenuhi adegan (yang dicoba) seram, namun juga dipenuhi oleh banyak adegan dagelan yang konyol dan tidak juga kehilangan dramatisasi yang menarik.

Ini menjadikan film menjadi menghibur dan tidak membosankan. Film ini jelas diatas dari banyak film horor Indonesia yang tidak jelas kualitasnya. Tidak dinafikan lagi kalau Awi Suryadi itu berbakat dan ia masih sangat muda dan memerlukan jam terbang yang lebih tinggi lagi. Hanya saja mungkin horor bukan pilihan yang tepat baginya dan he really should stick to the comedy instead.

Anyway, Awi is lucky to have Alex Komang and Hennidar Amroe because they are great as ussual. The threee so-called lead actors should learn more from them.

June 08, 2008

'MAY': Melodrama Gets Intense and Profound


Produksi: Flix Pictures (2008)
Sutradara: Viva Westi
Cast: Jenny Chang, Yama Carlos, Lukman Sardi, Ria Irawan, Tutie Kirana, Tio Pakusadewo, Niniek L. Karim, Jajang C. Noer

Genre: Drama/Roman
Durasi: 105"
Release Date: 05 Juni 2008
My Grade: 3.5 out 5

May_2 Saya sebenarnya merasa sedikit bersalah, karena kemarin tidak sempat menyaksikan 'Suster N', karya perdana Viva Westi, setelah membantu Garin Nugroho di 'Serambi'. Walau mengambil genre horor, entah mengapa saya yakin kalau horor ditangan Viva akan berbeda hasilnya. Walau kemudian saya membaca banyak komentar yang sedikit negatif akan film tersebut, namun tidak menyurutkan keyakinan saya jika Viva Westi merupakan salah satu sutradara muda yang dapat diperhitungkan.

Keyakinan saya terbayarkan sesudah menyaksikan film 'May' ini. Sebuah film drama dengan penanganan yang lumayan menarik dan subtil, sehingga meski bertema melodrama dalam esensinya, namun 'May' tetap mempunyai kelas tersendiri yang dapat membedakan dengan kebanyakan film Indonesia akhir-akhir ini.

Dengan mengambil latar belakang kerusuhan di bulai Mei sepuluh tahun lalu, 'May' bercerita tentang May (newcomer, Jenny Chang), seorang gadis keturunan Tiong Hoa yang terpaksa menghadapi tragedi dalam hidupnya, karena sang kekasih, Antares (Yama Carlos, Angker Batu, Merah Itu Cinta, In the Name of Love), seorang sutradara dokumenter pemula, terlambat menjemputnya dari sebuah audisi.

Tepat pada tanggal 13 Mei itu, May harus mengalami penderitaan tak terperikan karena diperkosa oleh orang asing. Cik Bing (Tuti Kirana), ibu May sangat kebingungan akan nasib May, namun karena situasi yang tidak memungkinkan, maka ia terpaksa mengungsi ke Malaysia dengan mengorbankan sertifikat rumah satu-satunya kepada Gandang (Lukman Sardi), seorang petugas laundry hotel tempat Cik Bing mengungsi. Gandang sendiri terpaksa melakukan hal tersebut karena istrinya (Ria Irawan) tengah hamil tua dan membutuhkan banyak biaya. May sendiri diselamatkan oleh seorang jurnalis asing dan dibawa ke Malaysia. Ternyata May hamil, namun ia tidak sudi untuk memelihara anak tersebut.

sepuluh tahun kemudian, May, Antares, Cik Bing dan Gandang menjadi sosok-sosok yang bebeda. Namun takdir mempertemukan mereka kembali dan memberikan mereka kesempatan untuk menebus segala perbuatan mereka di masa lalu.

Jika ditarik garis lurus dari intisari cerita diatas, maka pada dasarnya 'May' adalah melodrama. Rasanya itu memang tidak terbantahkan lagi. Namun Viva Westi tidak ingin filmnya bercerita secara linear, karena film tentu saja akan membosankan. Maka dengan memakai alur maju-mundur, ia dapat menjaga suspensi dalam cerita dan menarik ulur emosi dan ketertarikan penonton untuk tetap mencerna isi cerita.

Viva juga berhasil mengeksekusi salah satu sejarah kelam bangsa ini sebagai sebuah latar belakang yang kuat dan mampu menjadi pilar yang kokoh untuk struktur ceritanya. Dengan piawai, oleh Viva Westi adegan kerusuhan tidak digambarkan dengan secara berlebihan apalagi vulgar, namun tetap dapat menangkap atmosfir kelam dan mengerikan dari peristiwa tersebut.

Juga, dengan memasukkan sub-plot karakter Gandang didalamnya, maka film pun dapat menjadi kontemplatif tanpa harus menggurui kemudian. Dengan dialog-dialog yang cukup bernas, semakin menambah nilai positif untuk film.

Yang menjadi masalah justru kedua aktor utamanya. Yama Carlos telah bermain dibeberapa film dan sinetron dan ini adalah film keduanya sebagai leading. Sementara Jenny Chang memang benar-benar baru di ranah tersebut. Keduanya telah berupaya memberikan penampilan terbaik mereka, namun sayangnya tidak benar-benar kuat untuk kemudian menjadi believeable menjadi May dan Antares. Bukan berarti keduanya bermain buruk, namun dengan dukungan bintang-bintang papan atas seperti Lukman Sardi, Ria Irawan, Tio Pakusadewo dan Tuti Kirana, menyebabkan akting mereka terlihat sangat rata-rata.

Sisi kurang menyenangkan lainnya adalah pada beberapa bagian, perpindahan adegannya kurang terasa halus. Juga sub-plot karakter Gandang yang rasanya terlalu panjang sehingga mencuri perhatian dari kisah utamanya. Mungkin porsinya harus lebih kecil? Entahlah.

Apakah kemudian film akan berakhir dengan happy ending yang telah menjadi tipikal bagi film sejenis? Sekedar wanti-wanti yang kurang penting; jangan tertipu dengan adegan akhirnya. Pada hakikatnya apa yang terlihat tidak sama dengan apa yang tersurat!

Pada akhirnya, 'May' adalah sebuah drama komersil dengan unsur kontemplatif yang cukup dalam. Viva Westi cukup berhasil membangun jalinan cerita melodramatis yang intens namun tidak lantas menjadi cengeng. Untuk tahun ini, 'May' jelas adalah salah satu film Indonesia yang menarik untuk disimak. Direkomendasikan.

May 25, 2008

'LOST IN LOVE': In Paris, They In Love Again


Produksi: Itrema (2008)
Sutradara: Rachmania Arunita
Cast: Pevita Pearce, Richard Kevin, Arifin Putra, Barry Prima, George Rudy, Chrisye Subono

Genre: Drama/Komedi/Roman
Durasi: + 90"
Release Date: 22 Mei 2008
My Grade: 2.5 out 5

Lost_in_love Rachmania Arunita sungguh beruntung. Mungkin banyak orang di Indonesia yang sedari kecil sudah berbakat, akan tetapi kesempatan jarang bisa diraih. Berbeda dengan Nia yang menulis 'Eiffel I'm In Love' saat duduk di kelas menengah dan mengedarkan secara bergerilya, namun sukses sehingga kemudian di cetak secara massa dan sukses lagi. Tidak heran perusahaan film mengincar novel tersebut untuk diangkat menjadi produk layar lebar, yang kemudian menuai sukses besar pula.
Dengan kesuksesan 'Eiffel I'm In Love' ternyata membuat Nia berkeinginan untuk membuat kelanjutan cerita cinta Adit dan Tita. Kali ini tidak main-main, ia menulis novel sekaligus mengarahkan versi filmnya! Sungguh kesempatan yang sangat langka.

Cerita dari film ini merupakan kelanjutan langsung dari akhir 'Eiffel I'm In Love' (2003). Di Paris, Perancis, Tita (Pevita Pearce, Denias) berusaha meyakinkan cinta Adit (Richard Kevin, Get Married) kepadanya. Namun sikap Adit yang kaku dan canggung membuat sebal Tita, sehingga pada suatu kesempatan ia memutuskan untuk rendevouz sendiri, yang malah menyebabkan ia nyasar di tengah kehidupan Paris. Beruntung ia bertemu dengan Alex (Arifin Putra), pria ganteng yang mengaku dari Thailand. Setelah merasa sebal dengan Tita, Alex bersedia menolong Tita untuk kembali ke keluarganya dan juga menyelusuri hati Adit yang membingungkan Tita. Sikap Alex yang chraming sendiri kemudian menarik hati Tita!

Terus terang tidak ada yang istimewa dari cerita film ini. Semuanya berjalan dengan linear dan tidak ada perkembangan plot yang berarti. Di beberapa bagian film malah terasa datar nyaris tanpa emosi. Kadang malah terasa menjengkelkan karena terasa kekanak-kanakan seperti karakter utamanya, Tita. Namun, harus diakui Rachmania Arunita memang berbakat dan ia tampaknya belajar keras dalam megarahkan film. Dalam usia yang relatif masih sangat muda ia mampu mengemas filmnya dengan fisik yang cantik. Terima kasih untuk eksotisme Paris yang sangat mendukung, sehingga film terselamatkan dari rasa bosan.

Sebenarnya Nia bisa saja mengeksplorasi keindahan Paris dengan lebih elaboratif, sehingga bisa saja 'Lost in Love' menjadi road movie yang menggugah dan informatif, namun Nia terlalu menekankan pada konflik percintaan Adit-Tita-Alex, sehingga film terasa datar.

Dari segi teknis, film memang terlihat menarik dan kompeten. Dari segi akting, Pevita dan Richard mengingatkan akan Shandy Aulia dan Samuel Rizal. Tidak ada yang istimewa. Entah mengapa Nia tidak memakai saja sekalian Shandy dan Samuel. Yang paling mencuri perhatian itu Arifin Putra. Kalau tidak salah ini film layar lebar pertamanya, dan ia menampilkan kualitas akting yang sesuai untuk konteks ini. Dengan aksen Perancisnya yang kental ia tampil dengan menarik. Way to go, Arifin Putra!

'Lost in Love' mungkin adalah proyek coba-coba dari Nia. Namun setidaknya film ini membuktikan jika ia hanya butuh jam terbang yang lebih tinggi untuk menghasilkan karya yang mungkin dapat memperkaya khazanah industri film Indonesia. Dan terus terang, sebagai debutan sutradara bagi seorang penulis, 'Lost In Love' lumayan menarik.

'MEREKA BILANG, SAYA MONYET': Hati Manusia Itu Kacau dan Absurd, Akan Tetapi Menyenangkan Untuk Disimak


Produksi: Intimasi Productions (2007)
Sutradara: Djenar Maesa Ayu
Cast: Titi Sjuman, Henidar Amroe, Ray Sahetapy, Bucek, Mario Lawalatta, Fairuz Faisal, Ayu Dewi, Jajang C. Noer, August Melaz, Nadya Rompies, Banyu Bening

Genre: Drama
Durasi: 90"
Release Date: 28 Desember 2007 (limited)
My Grade: 3.5 out 5

Mereka_bilang_saya_monyet Mengikuti jejak Richard Oh dengan 'Koper'-nya, maka Djenar Maesa Ayu adalah penulis berikutnya yang menjajal bidang pengarahan film. Sebenarnya dunia film tentu saja bukan hal yang baru bagi Djenar, secara ayahnya adalah sang legenda perfilman Indonesia, Sumanjaya dan ia sempat pula berakting di film 'Koper' dan 'Anak-Anak Borobudur'.
Keraguan sempat hinggap dihati, apakah Djenar bisa menafsirkan dua cerpennya, 'Lintah' dan 'Melukis Jendela' yang terdapat dalam antologi 'Mereka Bilang, Saya Monyet', menjadi sebuah narasi seperti film. Untunglah Djenar, yang mengaku tidak bisa bercerita dengan linear, dibantu oleh Indra Herlambang sebagai penulis skenario, hingga ia kemudian bisa mengkhususkan pada bidang pengarahan saja.

Ternyata Djenar memang berbakat. 'Mereka Bilang, Saya Monyet'adalah pembuktiannya. Film berjalan dengan pace yang lancar, gampang dicerna dan tetap terlihat surealis, seperti yang memang menjadi ciri khas Djenar dalam penulisannya. Hanya saja memang media film berbeda dengan novel. Walaupun sama-sama bermodalkan narasi, Djenar sadar jika ia hanya akan membingungkan penontonnya jika tetap nekad berkeinginan menggambarkan simbolisasi dalam penulisannya dalam bentuk film, karena mungin ia sadar akan keterbatasannya sebagai sutradara debutan sehingga akan cukup sulit untuk menggambarkan surealisme yang dapat dipahami.

Oleh karena itu film tetap berjalan dengan plot yang cukup linear, walaupun bermodalkan alur maju-mundur, yang bisa saja memusingkan. Namun, dengan cekatan ia mengeksekusi adegan-adegan yang dapat terjalin dengan baik, walau kadang-kadang terasa kurang rapi, karena emosi ledakan dari pengarahan Djenar yang bersemangat, sehingga terasa overrated di beberapa bagian (sekuens teleponnya sudah sampai pada taraf annoying, no pun intended).

Djenar juga cukup cekatan dalam menyikapi bujet yang minimal, karena hasil akhirnya, dalam skala independen, film tetap terasa feel sinematisnya, berbeda dengan pendekatan yang sama oleh Rudi Sudjarwo terhadap film-filmnya akhir-akhir ini, yang diproduksi oleh perusahaan film besar namun malah terasa lebih condong untk konsumsi televisi dibandingkan untuk sebuah layar lebar.

Beruntungnya lagi film ini didukung oleh pendatang baru berkualitas seperti Titi Sjuman, yang notabene adalah saudari iparnya sendiri. Kadang kala kemiripiannya dengan Djenar dan problematikanya dalam film ini mengingatkan akan Djenar itu sendiri, terlepas disengaja atau tidak. Titi memberikan kemampuannya dalam menerjemahkan karakter Adjeng, sehingga kita benar-benar dapat merelasikan dengan karakternya. Plus, ada Henidar Amroe dan Ray Sahetapy. Rasanya kekuatan akting mereka tidak perlu untuk diragukan lagi.

'Mereka Bilang, Saya Monyet' mungkin bukan film yang besar, dan hanya batu kecil dalam industri perfilman Indonesia akhir-akhir ini. Tapi ia adalah batu kecil yang bernilai cukup tinggi, hingga rasanya cukup pantas direkomendasikan untuk dipilih sebagai salah satu karya anak bangsa yang cukup membanggakan. Dan untuk Djenar sendiri, ditunggu film-film berikutnya.

March 25, 2008

'KUNTILANAK 3': Akhir Dari Kengerian sebuah Legenda


Produksi: MVP Pictures (2008)
Sutradara: Rizal Mantovani
Cast: Julie Estelle, Imelda Therine, Laura Antoinetta, Mandala Shoji, M. Reza Pahlevi, Ida Iasha, Laudya Chintya Bella

Genre: Horor/Thriller
Durasi: 125"
Release Date: 13 Maret 2008
My Grade: 3 out 5

K3poster Terlepas dari banyaknya dialog ekposisi yang mengindikasikan jika penulis skenarionya, Ve Handojo, menganggap penonton film ini begitu tolol, sehingga harus menghadirkan banyak penjelasan aksi karakter melalui elaborasi dialog, 'Kuntilanak 3' berhasil meningkatkan eskalasi ketegangan dibandingkan dua seri sebelumnya.
Diniatkan sebagai akhir dari sebuah trilogi, Rizal Mantovani, sebagai sutradara tampaknya belajar banyak dari kekurangan dua film sebelumnya, dan kini tampak memperhatikan dengan cukup teliti akan pembangunan atmosfir kengerian yang memang diperlukan oleh film ini.

Ceritanya ringan sekali, bahkan nyaris tipis. Sekelompok anak muda pecinta alam berupaya mencari teman mereka yang hilang di kelamnya hutan sebuah pegunungan. Tidak sengaja mereka bertemu dengan Samantha (Julie Estelle), yang kini mempunyai misi tersendiri untuk mengakhiri konfrontasinya dengan mimpi buruk bernama Kuntilanak yang telah membuat suram hari-harinya. Selanjutnya para anak muda tersebut mati satu persatu ditangan Kuntilanak gunung, sedangkan Sam, asyik sendiri dengan misinya.

Yah, bisa dikatakan karakter Samantha dengan empat anak muda tersebut sama sekali tidak integratif dimana mereka sebenarnya bisa berdiri sendiri tanpa harus memerlukan eksistensi dari karakter lainnya. Karakter Samantha bisa menjalankan misinya tanpa harus kehadiran karakter pendukung tersebut, sedangkan karakter pendukung tersebut bisa dijadikan cerita sendiri tanpa harus melibatkan Samantha.

Karakter satelit lebih berguna untuk unsur suspensi cerita agar lebih menarik, karena tidak melulu hanya terfokus pada cerita utama, misi samantha, yang sebenarnya bisa saja selesai dalam waktu setengah jam.

Jadi, alih-alih sebagai penutup sebuah trilogi, 'Kuntilanak 3' lebih kepada cerita horor sekelompok anak muda di tengah kabut gelap dan mistis sebuah hutan, yang mau tidak mau mengingatkan akan 'Hantu' (2007) karya Adrianto Sinaga yang lalu.

Banyak sekali adegan-adegan yang mengingatkan akan film tersebut. Beruntung (atau sialnya bagi kru film 'Hantu'?), kini Rizal bisa menjadikan film tersebut sebagai template untuk membangun suspensi, sehingga unsur ketegangan bisa cukup terjaga, berbeda dengan dua film sebelumnya yang mengendor menjelang akhir.

Meski banyak kelemahan yang melekat di cerita film ini, 'Kuntilanak 3' jelas karya horor terbaik Rizal Mantovani saat ini. Hanya saja, dengan hasil akhir film ini, rasanya ia gagal untuk menjadikan seri 'Kuntilanak' sebagai trilogi yang solid.

March 11, 2008

'40 HARI BANGKITNYA POCONG': Setelah Kematian, Mereka Akan Datang


Produksi: Rapi Films (2008)
Sutradara: Rudi Sudjarwo
Cast: Irwansyah, Raffi Ahmad, Sabai Morchek, Faridha Pasha, Monique Henry, Herichan, Ulli Artha

Genre: Horor/Thriller
Durasi: 90"
Release Date: 06 Maret 2008
My Grade: 3 out 5

40hari_bangkitnya_pocong_1 Rudi Sudjarwo kembali menggarap horor. Hal yang memang saya tunggu, secara dengan 'Pocong 2' kemarin ia berhasil memberikan pengalaman horor jernial, yang memang sudah lama saya tunggu dari film lokal. Namun, dengan memakai judul yang rada-rada "mengkuatirkan" seperti '40 Hari Bangkitnya Pocong' ini, terus terang menimbulkan rasa ragu di hati. Pocong lagi? Apa tidak ada jenis hantu yang lain untuk dieksplorasi? Tapi, ya sudahlah.
Dengan judul yang mengingatkan akan film-film era 80-an tersebut, seakan-akan Rudi memang ingin mengenang kembali era keemasan horor Indonesia, dimana kengerian sudah menjadi jaminan. Ini sudah ditandai dengan adegan awal yang sebenarnya sederhana saja, akan tetapi terasa menggelisahkan.

OK. Ini awal yang menarik. Kemudian adegan beralih pada sebuah kecelakaan mobil, yang jelas-jelas adalah hasil teknik CGI, walaupun hasilnya lumayan mulus. Selanjutnya film mengenalkan karakter Jessi (Sabai Morchek, Sang Dewi), yang terganggu dengan mantan pacarnya yang obsesif, Nino (Raffi Ahmad, Bukan Bintang Biasa). Lantas, untuk menghindari gangguan sang mantan, Jessi yang bekerja di sebuah servis komputer memilih untuk menerima panggilan perbaikan komputer di sebuah rumah. Ternyata kliennya adalah seorang pemuda simpatik bernama Kevin (Irwansyah, Love), yang tinggal bersama dengan tantenya yang galak dan neurotis (Faridha Pasha, Misteri Gunung Merapi).

Masalahnya kemudian adalah, setelah itu Jessi mendapat gangguan dari berbagai makhluk halus, yang secara konstan meneror kesehatan jiwanya. Ternyata Nino pun mendapat masalah yang sama. Lantas, mengapa makhluk-makhluk halus ini meneror mereka?

Rudi Sudjarwo sepertinya memang belum rela untuk melepaskan trade-mark penggunaan kamera secara genggamnya. Sama halnya dengan 'Pocong 2', Rudi lebih menekankan pada situasi dan suasana serta ekspresi karakternya untuk membangun atmosfir. Dan rasanya ini memang masih bekerja dengan baik. Tterlepas dari akting standar Irwansyah dan Raffi Ahmad, Sabai Morchek memang juaranya untuk film ini. Dia berhasil membangun rasa percaya penonton akan teror yang dialaminya sehingga menular juga pada para penontonnya.

sayangnya pola ini seakan pengulangan dari film 'Pocong 2' tersebut, sehingga justru menghilangkan unsur utama dari suspensi yang akan dibangun. Ketegangan dan teror tetap ada, namun unsur mencekamnya sudah jauh berkurang.

Terus terang, makin lama teknik penggarapan ala Rudi Sudjarwo ini semakain mengganggu saja. Rasanya, film menjadi kehilangan unsur bercerita secara sinematisnya dan treatment film layaknya untuk konsumsi televisi saja. Bukannya, Rudi tidak mampu bercerita, hanya saja rasanya ada yang kurang saja. Belum lagi banyaknya pengabaian logika yang membuat kening berkerut.

Working Title dari film ini adalah '40 Hari Setelah kematin', sesuatu yang rasanya lebih pas untuk isi cerita dari pada judul yang terasa menjual sensasionalitas seperti '40 Hari Bangkitnya Pocong'. Film yang saya yakin shootingnya tidak memakan waktu sampai 40 hari ini memang lebih baik dari banyak horor rata-rata saat ini, namun rasanya Rudi sudah harus memulai menemukan formula barunya.

'AYAT-AYAT CINTA': Romantisme dalam Religiusitas


Produksi: MD Pictures (2008)
Sutradara: Hanung Bramantyo
Cast: Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Putri, Zaskia Adya Mecca, Melanie Putria, Surya Saputra, Marini Burhan, Oka Antara, Dennis Adhiswara

Genre: Drama/Roman
Durasi: 95"
Release Date: 27 Februari 2008
My Grade: 3 out 5

Ayatayatcinta_1 'Ayat-Ayat Cinta' yang diangkat dari sebuah novel laris bercerita tentang Fachri (Fedi Nuril) adalah seorang mahasiswa muslim asal Indonesia yang tengah menimba ilmu di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Ia bertetangga dan berteman baik dengan gadis Mesir yang beragama Kristen Koptik, Maria (carissa Putri). Pribadi Fachri yang bersahaja namun kharismatik begitu menyirap Maria dan juga Nurul (Melani Putria), teman kuliahnya sesama Indonesia. Namun, justru Aisha (Rianti Cartwright), perempuan bercadar namun berpendidikan serta kaya raya asal Jerman yang justru menjadi istri pilihan Fachri. Ini tentu saja menghancurkan hati Maria dan Nurul. Namun, masalah justru datang dari Noura (Zaskia Adya Mecca), perempuan yang dulu pernah ditolongnya, dan kini menuduh Fachri telah memperkosanya sehingga hamil. Disinilah ketegaran iman Fachri diuji.

Terus terang, saya tidak menemukan sesuatu yang istimewa setelah membaca novel karangan Habiburrahman El-Shirazi yang lebih dikenal dengan Kang Abik tersebut. Ceritanya standar saja. bahkan cenderung mengingatkan akan melodrama di era 70-an. Namun, yang saya kagumi dari novel tersebut adalah saat kang Abik mampu memasukkan nilai-nilai dakwah Islami tanpa kesan mendikte, sehingga kita dapat menerima tanpa terasa digurui.

Perasaan yang sama saya dapati setelah menyaksikan film yang diarahkan oleh sutradara kelas Citra, Hanung Bramantyo. Filmnya menghibur, kuat dengan unsur religi tanpa ada kesan ditempelkan. Esensi dalam dialog-dialognya cukup bernas. Dan secara umum film juga cukup berkelas.

Duet penulis skrip Ginatri S. Noer dan Salman Aristo cukup handal dalam merangkum novel beratus halaman tersebut dalam durasi cerita dua jam-an. Film terasa berjalan dengan cepat dan ringkas. Merangkum adegan-adegan yang dirasa penting untuk disampaikan. Namun, adegan yang berjalan dengan cepatnya,kadang rasanya bagi penonton yang kurang awas atau awam dengan novelnya akan merasa tertinggal.

Hanung sudah berusaha untuk menangkap aura yang ada dalam novelnya. Sayangnya, berbagai kendala lapangan memang membatasi daya imajinasinya, sehingga banyak adegan yang terasa kurang gaungnya apalagi jika memang harus membandingkan dengan novelnya tadi. Terlepas dari itu, upayanya sudah cukup maksimal untuk menjadikan film ini sebagai film yang terasa megah.

Masalahnya, menyaksikan 'Ayat-Ayat Cinta', mengingatkan saya pada saat dahulu menonton sandiwara televisi di era saat stasiun TV hanya ada satu di negeri ini. Terutama yang mempunyai tema-tema islami dan berseting di jazirah Arab. Dengan pemakaian bahasa yang terasa baku dan kaku, sehingga penyamaran karakter orang Arab dengan orang Indonesia dan tentu saja mereka semua berbahasa Indonesia. Bukannya tidak menghibur, namun rasanya cerita seakan sebuah dongeng yang rasanya jauh dari kesan membumi.

Begitulah kesan saya akan film ini. Akting Fedi dan Rianti kadang terasa karikatural dan kurang realitis. Terima kasih atas pemakaian dialog yang setia dengan novelnya, sehingga terkadang menyaksikan mereka seperti menyaksikan film India yang disulih suarakan dalam Bahasa Indonesia. Beruntung Carissa Putri memainkan peranannya dengan cukup gemilang. Ia berhasil menjadi Maria yang adorable namun juga cerdas tapi memendam perasaan yang mendalam terhadap Fachri. Andai Carissa Putri menerjemahkan secara salah karakter Maria, niscaya film akan membosankan. Zaskia Adya Mecca dibatasi oleh adegan yang minimal, namun ia berhasil meniupkan kesan membumi untuk karakternya, terlepas dari kesan kurang masuk akal sosok Melayunya sebagai orang Mesir.

'Ayat-Ayat Cinta' adalah sebuah film roman. Rasanya itu tidak terbantahkan. Yang menjadi nilai tambah disini adalah saat unsur Islami menjadi bagian yang integratif tanpa kemudian menjadikan filmnya sebagai film dakwah. Dan dia menghibur. Namun, 'Ayat-Ayat Cinta' sebagai sebuah film yang istimewa? Rasanya itu terlalu berlebihan.

February 27, 2008

'CLAUDIA/JASMINE': Romantisme Perempuan dalam Mencari Cinta


Produksi: Nation Pictures (2008)
Sutradara: Awi Suryadi
Cast: Kinaryosih, Kirana Larasati, Nino Fernandez, Andhika Pratama, Mieke Amalia, Tio Pakusadewo, Ira Maya Sopha, Mario Lawalatta

Genre: Drama/Komedi/Roman
Durasi: + 100"
Release Date:  21 Februari 2008
My Grade: 3 out 5

Claudia_jasmine Sebelum saya kenal Ebert, Travers dan Berardinelli, semasa saya masih menjadi penonton berseragam sekolah, nama Yan Widjaya sebagai seorang komentator film adalah andalan saya sebelum memutuskan untuk menyaksikan film. Sayangnya, kini Pak Yan seakan menghilang dan otak saya juga sudah terkontaminasi oleh nama-nama asing tadi, sehingga tidak pernah lagi menyaksikan film berdasarkan komentarnya yang saya anggap bernas dan informatif itu.

Pada saat saya melihat poster film Awi Suryadi yang berjudul 'Claudia/Jasmine' ini mencantumkan komentar Pak Yan, maka niat saya untuk menyaksikan film ini menjadi besar. Padahal sebelumnya film ini tidak masuk kedalam daftar film yang harus saya tonton di bioskop. Untuk lebih jelasnya, biarlah saya cantumkan kutipan komentar Pak Yan Widjaya berikut ini:

"Kinar dan Kirana hot, romantis dan kocak abiies dalam skenario dan film jempolan". Hm..Ok!

Tentu saja saya menyadari jika ini adalah salah satu trik dagang dari produsennya, sehingga saya kemudian menontonnya dengan ekspektasi yang serendah-rendahnya. Adegan dibuka secara simultan yang menggambarkan awal hari dua orang perempuan, Claudia (Kirana Lasarasti, Perempuan Punya Cerita) yang masih duduk dibangku SMU dan Jasmine (Kinaryosih, Mendadak Dangdut) yang berusia diakhir dua puluhan. Adegan terasa dinamis dan mengundang perhatian. Apalagi ada gimmick komedi yang cukup segar didalamnya. Mulai dari sini ekspektasi saya menambah sedikit.

Selanjutnya diperkenalkan karakter kedua perempuan secara bertahap, hingga kemudian konflik masuk saat Claudia bertemu dengan cinta pertamanya, Tody (Andhika Pratama, The Butterfly) dan Jasmine bertemu dengan Jerry (Nino Fernandez, Cokelat Strberi), yang diharapkan sebagai cinta terakhirnya.

Ringan. Itulah kesan pertama saya setelah menyaksikan filmnya secara utuh. Menghibur. Itulah kesan kedua saya. Tapi tetap berisi. Itulah yang menjadi kesan terakhir saya. Cerita yang ditawarkan oleh Awi Suryadi sebagai penulis dan pengarah film sebenarnya sangat tipis dan sederhana dan bisa saja berakhir sebagai FTV atau sinetron kebanyakan, jika saja AWi tidak mempunyai treatment yang sinematis dan kreatif, jika tidak mau dikatakan inventif, untuk filmnya ini.

Awi berhasil membangun suspensi dalam cerita dengan baik, sehingga mengundang rasa penasaran untuk penontonnya. Walaupun rasanya twist dan ending dalam filmnya sudah bisa terbaca menjelang paruh film, namun Awi mampu untuk menjaga konsistensi dinamika dalam ceritanya. Walaupun mungkin pada awalnya ada sedikit bertele, namun menjelang paruh akhir, Awi membayarnya dengan cerita yang padat dan solid.

Ia pun mampu membangun atmosfir romantik dan komedi secara seimbang, sehingga terasa dalam takaran yang cukup pas. Mungkin ada beberapa sub-plot yang tidak begitu signifikan dan pada beberapa bagian terasa over-melodramatis, namun unsur tersebut rasanya memang bumbu penyedap yang tak dapat dihilangkan dalam genre sejenis ini. Satu lagi yang penting, Awi terlihat lihai dalam merangkai kata-kata dalam dialog yang trendy namun sense kontemplatifnya tetap terasa.

Tentu saja film didukung dengan intensitas akting dari duo Kinar dan Kirana. Rasanya label Best Supporting Actress yang pernah disematkan untuk Kinar memang tidak percuma. Sedangkan Kirana, ia dengan sukses melepaskan akting ala sinetronnya dan menjadi karakter yang loveable.

Nah, setelah sebelumnya sempat meragukan komentar Pak Yan Widjaya, pada akhirnya saya mengakui kalau (potongan) komentarnya untuk 'Claudia/Jasmine' itu ada benarnya juga. Mulai dari sekarang saya mencoba untuk tidak meragukan kredebilitasnya lagi. Hahaha......!

February 20, 2008

'LOVE': Love Is The Air You Breathe


Produksi: 13 Entertainment (2008)
Sutradara: Kabir Bhatia
Cast: Sophan Sophian, Widyawati, Acha Septriasa, Fauzi Baadilla, Irwansyah, Laudya Chintya Bella, Luna Maya, Darius Sinathrya, Wulan Guritno, Surya Saputra

Genre: Drama
Durasi: + 120"
Release Date:  14 Februari 2008
My Grade: 3.5 out 5

Love_poster_3 'Love' adalah sebuah film antologi tentang kisah cinta beberapa anak manusia dalam bungkusan romantisme dan (tentu saja) melodrama. Bercerita tentang pasangan usia senja Pak Guru (Sophan Sophian) dan Lestari (Widyawati), pasangan sederhana Rama (Fauzi Baadilla) dan Iin (Acha Septriasa), pasangan penulis novel metropop dan calon penulis Tere (Luna Maya) dan Awin (Darius Sinathrya), pasangan remaja Restu (Irwansyah) dan Dinda (Laudya Chintya Bella), serta pasutri bermasalah Gilang (Surya Saputra) dan Miranda (Wulan Guritno). Semuanya berseting di Jakarta dan kesemuanya nyaris tak bersinggungan. Yang menjadi kesatuan adalah lika-liku cinta dan problematika yang harus mereka hadapi.

Kabarnya 'Love' adalah remake dari film Malaysia berjudul 'Cinta'. Namun, dari kabar yang saya dengar justru film 'Love' hanya mengambil inti cerita dari film tersebut sebagai bagian segmentasi ceritanya, sedangkan empat cerita lainnya adalah asli rekaan penulis Titien Wattimena (Mengejar Matahari, Cinta Pertama). Yang dimaksud disini adalah cerita tentang pasangan di usia senja yang dalam film ini diperankan oleh Sophan Sophian dan Widyawati.

Ini tentu saja merupakan ide remake yang cukup menyegarkan untuk tidak terjebak pada pakem aslinya. Apalagi film ini kembali diarahkan oleh Kabir Bhatia, sutradara film 'Cinta' tersebut. Hanya saja kemudian tercetus pemikiran, bagaimana jika film ini adalah hasil contekan dari film multi-narasi lainnya 'Love Actually'? Setelah menyaksikan filmnya, saya berani memastkan film ini, selain tema cinta dan multi-narasi, sama sekali tidak mempunyai kemiripan dengan film yang dimaksud.

Titien Wattimena, sebagai penulis skrip, berhasil membangun cerita yang naratif dan menyentuh. Dramatisasi dari kehidupan cinta sekelompok orang yang berbeda ini berhasil dibangunnya dengan nyaris tanpa cacat-cela. semua dalam takaran yang pas. Berbeda dengan 'Cinta Pertama' (2006) kemarin yang terasa dipanjang-panjangkan dan berlebihan dalam dramatisasi. Walau begitu, dalam segi urgensi cerita, ia tampaknya kurang pas dalam membagi takarannya, sehingga ada cerita yang terasa esensial, namun ada juga yang terasa terlalu ringan dan kurang penting.

Walau begitu, secara keseluruhan skrip Titien berhasil diterjemahkan dengan baik oleh Kabir Bhatia. 'Love' hadir dengan kekuatannya sendiri. Akting yang sophisticated, tempo yang konsisten, musik latar yang integratif (sudah semestinya Erwin Gutawa lebih sering dipakai oleh sineas kita sebagai penata musik), hingga pergerakan narasi yang dinamis. Harus diakui, Kabir Bhatia dengan baik mampu untuk menjaga tempo untuk tidak terasa kendor. Apalagi keseluruhan cerita dan karakter terasa efektif tanpa ada terkesan mubazir. Hal ini didukung pula dengan perpindahan plot dieksekusi dengan baik sehingga aliran ceritanya terasa mulus tanpa harus membuat kerut di kening penontonnya. Ia juga berhasil membangun suasana yang diperlukan oleh karakter-karakternya, sehingga pesan film pun dengan mudah tersampaikan.

Berbicara masalah akting, rasanya keseluruhan ensemble cast-nya bermain gemilang, bahkan untuk kelas pemain pendukung sekalipun (Sapto and Joko Anwar included , hahaha). Tentu saja tidak ada yang meragukan kualitas akting aktor-aktris sekaliber Sophan Sophian-widyawati, yang seakan-akan mengenang kembali masa jaya mereka di tahun 70-an. Kabir Bhatia pun mampu mengekstraksi kemampuan dari bintang-bintang masa kini Indonenesia, walaupun harus diakui Acha Septriasa is such a scene-stealer. Progresi aktingnya sedemikian berkembang dan melepas akting ala film remaja yang telah menjadi tipikalnya.

'Love' mungkin bukan film yang penting atau setidaknya menyuarakan sesuatu yang luar biasa. Ia hadir dengan sesadar-sadarnya sebagai film komersial yang menjual cinta. Yang menjadi pembeda adalah ia merupakan sajian sinema yang renyah, ringan namun sekaligus lezat serta mengenyangkan dalam paket yang 'indah' bungkusannya tanpa harus menyakitkan perut sesudah memakannya. sesudahnya, I easily put this film as my first favorite Indonesian films for this year.

February 07, 2008

'RADIT DAN JANI': A Tale of Dysfunctional Couple


Produksi: IFI (2008)
Sutradara: Upi
Cast: Vino G. Bastian, Fahrani, Mario Merdhitia, Joshua  Pandeleaki, Nungki Kusumaastuti

Genre: Drama
Durasi: + 120"
Release Date:  24 Januari 2008
My Grade: 2.5 out 5

Radit_and_janiRupanya Upi tidak jadi menggarap 'Ahmad, Antara Mars dan Venus', yang kabarnya merupakan proyek film ketiganya. Entah mengapa, justru yang beredar kini adalah 'Radit dan Jani', sebuah film yang katanya bergaya brutal-romantic.

Radit (Vino G. Bastian) dan Jani (Fahrani) bukanlah tipikal pasutri biasa. Mereka percaya dengan kekuatan cinta mereka akan mengalahkan segalanya, sehingga kemudian mereka memilih gaya hidup dalam prespektif idealisme mereka (ya..kalau dikatakan hidup tidak teratur, slengean dan drug addicted disebut dengan idealisme). Masalahnya ternyata memang benar jika cinta saja tidaklah cukup. Hidup rasanya memang terlalu kompleks untuk dihadapi hanya dengan bermodalkan cinta. Pada akhirnya gaya hidup mereka menimbulkan friksi yang kemudian menguji kekuatan cinta mereka (sic).

Dalam film terbarunya ini Upi mencoba menyoroti realitas kehidupan sebagian anak muda yang ada di Indonesia. Oleh karena itu ia memilih pendekatan yang diusahakan juga realisme, terutama dengan penggunaan teknik kamera handheld. Sesuatu yang baru tampaknya bagi Upi. Namun, rasanya Upi lebih gemilang daripada Rudi Sudjarwo misalnya, dalam penggunaan teknik ini, karena UPi tetap bisa bercerita melalui bahasa gambar yang cukup sinematis.

Secara umum, filmnya Upi ini memang menarik. Upi juga mengalami peningkatan pesat dalam mengarahkan filmnya. Film lebih lancar bertutur walau rasanya penyakit lama perfilman Indonesia tetap menghinggapi film ini. Pace yang dinamis diawal-awal film, menjelang paruh hingga akhir menjadi melambat, kalau tidak mau dibilang draggy, yang membuat film terasa bertele.

Inilah masalah utamanya. Pada awalnya memang Upi cukup berhasil menggambarkan film sesuai mood yang memang ingin dicapainya; sebuah roman yang kasar dan up-tempo. Namun, seperti disebutkan tadi, menjelang akhir perkembangan cerita film malah terkesan berlarat-larat dan banjir air mata. Tapi kalau memang yang dimaksudkan Upi dengan brutal-romantic itu adalah sebuah roman yang dipenuhi dengan orang yang marah-marah dan menangis bombay kemudian, mungkin ia berhasil!

Mungkin. Yah, mungkin ekspektasi saya saja yang terlalu berlebihan. Saya mengira brutal-romantic itu seperti 'Natural Born Killer' atau 'A Life Less Ordinary'. Ternyata brutal-nya Upi ya tidak jauh-jauh dari tipikal melodrama biasa yang dibuat dalam versi yang lebih kasar namun fungsi utamanya tetap saja tear-jerking (adegan: Radit dikeroyok sekelompok orang, obat dan nasi goreng untuk Jani, sang istri yang tengah hamil berhamburan di tanah. Selanjutnya adegan memperlihatkan botol obat dipijak oleh kaki salah seorang pengeroyok dimana Radit tergeletak penuh luka dan tak berdaya! Hm, rasanya pernah liat dimana ya?).

Masalah lain adalag Upi terlalu memaksakan diri untuk tetap memakai aktor kesayangannya, Vino G. Bastian, sebagai pemegang leading role. Vino memainkan perannya dengan cukup berdedikasi, namun menginterprestasikannya secara salah, setidaknya menurut pandangan saya. Vino masih terlalu segar untuk menjadi Radit. Itu yang pertama. Selanjutnya, dalam adegan yang menuntut kekuatan emosionil, Vino malah terkesan komikal, karena masalah salah interprestasi tadi. Dalam artian kesedihan yang diumbar Vino malah terkesan cengeng dan melodramatis. Bertentangan dengan pembangunan karakter sebelumnya yang menunjukkan Radit sebagai sosok yang tegar dan kuat. Disinilah unsur subtilitas memang berperan penting. Intinya, Vino kurang berhasil membangun atmosfir subtil yang diinginkan oleh cerita.

Berbeda dengan Fahrani yang bermain dengan cukup gemilang dan meningkat jauh dari debut film layar lebarnya di 'Kala' kemarin. Fahrani berhasil menghadirkan atmosfir ceria dan suram sekaligus, yang rasanya memang ironi yang ingin ditampilkan oleh karakter Jani itu. Gerak tubuh, mimik dan aksentuasi. Semuanya itu Jani bukan Fahrani. Tabik untuk dia.

Dengan 'Radit dan Jani', Upi membuktikan jika ia memang seorang sutradara perempuan yang berbakat di Indonesia, setelah Nia DiNata. Film mampu bercerita dengan cukup lancar dan gampang dicerna. Pada intinya 'Radit dan Jani' memang fim yang menghibur sekaligus membawa pesan. Hanya saja, rasanya Upi perlu banyak belajar pada NiaDinata pada masalah kesempurnaan detil. Hanya itu. Selain itu, saya yakin Upi akan mampu membuat film-film yang lebih dahsyat lagi. Amin!

January 27, 2008

'KAWIN KONTRAK': Lebih Baik Kawin Kontrak Daripada Zina?


Produksi: MVP Pictures (2008)
Sutradara: Ody C. Harahap
Cast: Ricky Harun, Herichan, Dimas Aditya, Wiwid Gunawan, Masayu Anastasia, Dinda Kanyadewi, Lukman Sardi, Mieke Amalia, Unang

Genre: Komedi/Drama
Durasi: 120"
Release Date:  09 Januari 2008
My Grade: 2.5 out 5

Kawin_kontrak'Kawin Kontrak' sepertinya memang fenomena yang umum terjadi di masyarakat kita. Sudah bukan sesuatu yang mengherankan jika ada beberapa daerah tertentu yang justru para perempuannya mempraktekkan prilaku ini dengan imbalan kompensasi uang. Nah, yang menjadi pertanyaan, apa perbedaan hal ini dengan prilaku prostitusi?

Di tangan Ody C. Harahap (Bangsal 13, Selamanya), prilaku ini dikemas menjadi sebuah komedi seks ala film-film yang pernah menjamur di tahun 80-an dahulu (tidak mengherankan jika ia menggandeng band retro seperti NAIF untuk mengisi soundtracknya).

Tiga orang remaja laki-laki yang horny berat (Ricky Harun, Herichan, Dimas Aditya) memutuskan untuk melakukan kawin kontrak daripada melakukan zina, karena kata ustadz mereka hal itu adalah sebuah perbuatan berdosa besar.

Lantas mereka menghubungi seorang makelar kawin kontrak (Lukman Sardi) untuk memuaskan hasrat mereka. Lantas, disebuah desa mereka mendapatkan perempuan-perempuan yang mereka inginkan. Masalahnya, salah seorang perempuan taksiran sudah "dijodohkan" dengan seorang Arab kaya. Lantas, problematika film berubah menjadi sentimentil dan mendayu-dayu.

Berbicara komedi seks, mau tidak mau, 'Kawin Kontrak' akan dibanding-bandingkan dengan 'Quickie Express' (2007) yang keluar lebih dahulu. Berbicara kevulgaran, jelas 'Kawin Kontrak' setingkat diatas 'Quickie Express'. Namun, berbicara konsistensi, jelas 'Kawin Kontrak' harus mengakui keunggulan 'Quickie Express'.

Secara teknis, Ochai, panggilan akran sutradaranya, menampilkan estetika yang sedap dipandang, namun dari segi kelucuan, dibeberapa bagian terasa kering dan kurang tersampaikan maksudnya. Belum lagi masalah konsistensi dalam tema umum tadi, sehingga menjelang akhir film terasa draggy.

Walau begitu, 'Kawin Kontrak' bukanlah film yang jelek-jelek amat. Secara keseluruhan film tampil dengan cukup menghibur. Walau kurang berhasil dalam misinya, namun untuk pengisi waktu luang dan jika tidak ada alternatif lain, bolehlah film ini menjadi pilihan.

December 18, 2007

'MIRACLE': It's A Miracle That This Movie Has Been Made!


Produksi: Starvisionplus (2007)
Sutradara: Helfi Kardit
Cast: Keira Sabhira, Lian Firman, Nadilla Ernesta, Intan Ayu Purnama, Robertino, Spec. App.: Inong, Ivy Batuta

Genre: Thriller
Durasi: 90"
Release Date: 13 Desember 2007
My Grade: 1.5 out 5

Miracle_cover_1Kabarnya 'Miracle', karya ke empat Helfi Kardit setelah 'Seventeen' (2005), 'Bangku Kosong' (2006) dan 'Lantai 13' (2007), mengambil inspirasi dari film Hollywood yang berjudul 'Final Destination' (1999). Berkisah tentang seseorang yang tiba-tiba bisa melihat ke masa depan dan keluar dari kematian yang akan menjeput. Sayangnya, kematian itu sendiri pada akhirnya akan tiba juga, hanya saja dengan dua kali lebih kejam.

Rasanya dengan premis seperti itu mau tidak mau Kardit harus mengakui jika ia mengambil ide dari film besutan James Wong tersebut, jika tidak mau disebut plagiat atau copy cat. Sayangnya, ia tidak menyebutkan jika filmnya ini pun menyadur ide dari film Thailand yang berjudul 'Letters of Death' (2006)!

Ya, selain berjalan cerita mirip sekali dengan 'Final Destination' ia menambahkan twist dengan adanya pola yang memakai inisial nama korban yang kemudian membentuk suatu kata, yang bisa juga menjadi petunjuk. Belum lagi dengan adanya sosok psycho diujung cerita. Ini menujukkan betapa keringnya ide Kardit dalam membuat film dengan idenya sendiri.

Skrip yang ditanganinya bersama Anggoro bermaksud untuk menjadi trailer yang menegangkan, dimana pada awalnya film memang terasa cukup menegangkan dan rasanya progresi cerita akan menarik untuk diikuti. Namun, menjelang pertengahan unsur tegang tadi hilang entah kemana dan cerita menjadi terasa absurd dan mengada-ngada serta sangat menghina intelejensia para penontonnya dengan banyaknya lubang di dalam cerita, dan hingga diakhiri dengan klimaks yang anti-klimaks jika tidak mau dikatakan konyol.

Berbicara konyol, entah apa yang ada di benak Kardit saat ia melakukan kasting untuk pemain-pemain utamanya. Semuanya bermain dengan sangat mentah dan annoying, sehingga kita berharap jika mereka mati saja semuanya. Karakter-karakternya pun sama sekali tidak menarik apalagi membuat penonton dapat merelasikan dengan ketakutan mereka.

Namun kelemahan terbesar, selain skrip dan kasting, adalah eksekusi dari Kardit itu sendiri. Dengan menggunakan teknik kamera hand held dia berusaha untuk menangkap ketegangan dengan secara lebih realistis. Namun, rasanya ia masih belum bisa membangun ketegangan yang diperlukan untuk teknik seperti itu dan malah membuat film terasa amatiran. Dan penggunaan hand held bukan alasan utama dari lemahnya eksekusi Kardit, melainkan penggarapan secara jeneral, film memang terasa kurang matang.

Ok, mungkin ia bisa memakai alasan bujet yang rendah untuk menafikan kelemahan-kelemahan dalam film ini. Akan tetapi, jika ia memang berbakat, dengan bujet seperti bagaimanapun ia seharusnya bisa membuat film yang jenial!

Hasil akhirnya, menonton 'Miracle' seperti menyaksikan salah satu episode dari sinetron-sinetron atau FTV di televisi. Rasanya film ini memang lebih pantas dirilis televisi atau setidaknya direct-to-video, karena terus terang saja, terasa mubazir saat menyaksikanya di layar bioskop.

By the way, kredit lebih harus ditujukan untuk Michael Tju yang mendisain posternya, karena terus terang alasan utama saya untuk menyaksikan film ini adalah posternya yang rasanya cukup komunikatif dan "menjual". But, like peoples said, don't judge book by its cover. Hm, I should listen. :((

December 03, 2007

'QUICKIE EXPRESS': Sex is Good!


Produksi: Kalyana Shira Films (2007)
Sutradara: Dimas Djayadiningrat
Cast: Tora Sudiro, Amink, Lukman Sardi, Tino Saroengallo, Sandra Dewi, Ira Maya Sopha, Rudy Wowor, Tio Pakusadewo

Genre: Drama/Komedi
Durasi: 117"
Release Date: 22 November 2007
My Grade: 3.5 out 5

Quickie_express Komedi seks. Begitu menggoda, seduktif dan entertaining, jika digarap dengan serius. Jika tidak, film dengan genre ini akan jatuh menjadi sebuah film yang eksploitatif dalam mengumbar selera murah yang vulgar. 'Quikie Express' adalah upaya Kalyana Shira Film untuk menghindari anomali seperti itu dan mencoba membuat sebuah komedi seks yang renyah sekaligus mempunyai kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan tanpa melupakan esensi dari genre tersebut.

Dengan skrip yang ditangani oleh Joko Anwar (Arisan!, Jakarta Undercover), tidak mengherankan jika 'Quickie Express' mempunyai jalinan cerita yang jenial dan serta sadar-dengan-sesadarnya apa yang ingin diceritakannya.

Film bertutur tentang Jojo (Tora Sudiro, Nagabonar Jadi 2), seorang pemuda yang mempunyai peruntungan yang kurang memuaskan dalam pekerjaaannya. Sampai ia bertemu dengan seorang 'pemburu' (Tino Saroengallo) yang mengajaknya bergabung disebuah escort enterprise dengan kedok sebuah restoran pizza bernama Quickie Express. Di tempat itu ia bertemu dengan sesama plonco lainnya, Marley (Amink, Get Married) dan Piktor (Lukman Sardi, Jakarta Undercover).

Walaupun mempunyai tampang yang kurang menarik, namun ternyata ketiganya berhasil meningkatkan status mereka dalam tingkat esklusif sehingga kemudian dapat memperbaiki taraf kehidupan mereka secara lebih baik. Masalah kemudian timbul saat Jojo berkenalan dengan seorang dokter cantik (the up and coming,Sandra Dewi). Mulai dari inilah konflik mulai menimpa Jojo, baik secara fisik maupun psikis!

Sungguh tidak terduga, jeda sekian lama setelah 'Tusuk Jelangkung' (2003) membuat Dimas Djayadiningrat mampu meningkatkan kemampuan mengarahkan filmnya secara lebih mumpuni. Ia mampu mengeksekusi adegan-adegan yang menarik dan mengelaborasi unsur komedinya dengan berbagai gag yang berhasil dalam misinya mengocok perut para penontonnya.

Dengan pemilihan warna-warna natural beraroma pastel, film seakan-akan mengajak penontonnya kembali ke-era 70-an. Didukung pula dengan beberapa elemen yang mendukung untuk itu, seperti pemilihan musik skore, lagu-lagu pengiring, hingga pemilihan seting dan kostum, walaupun film sebenarnya berseting di masa kini.

Ini mungkin memang dimaksudkan sebagai sebuah homage terhadap film-film sejenis yang dulu memang banyak beredar di Indonesia. Bahkan beberapa gag mengingatkan pada komedi slapstick ala Warung Kopi DKI. Bukan suatu masalah, selama bersinergi dengan positif terhadap esensi sebenarnya dari film tersebut, yang mana dalam konteks ini adalah memberikan komedi yang dewasa tanpa bermaksud menghina intelejensia penontonnya.

Terus terang aja, walau diarahkan oleh Dimas Djay, akan tetapi tetap saja terasa kental pengaruh Joko Anwar dalam film ini dan pada akhirnya membuat kita bertanya-tanya, bagaimana hasil akhir film ini jika seandainya Joko sendiri yang turun tangan. Is it just the same or perhaps better?

Skrip Joko sendiri bukannya tanpa ada cacat didalamnya. Setelah pada babak pertama dan kedua film dengan mumpuni menghibur, menjelang akhir film terasa terbata-bata dalam memberi konklusi. Surprise yang gampang tertebak dan <>twist yang rasanya mengada-ada membuat film terasa absurd.

Walau begitu, secara umum, Quickie Express adalah sebuah film komedi yang berhasil. Didukung dengan akting prima oleh jajaran cast-nya, 'Quickie Express' jelas diatas rata-rata beberapa film lokal dan menjadikannya sebuah film yang unik dengan visinya yang ekletik dan jelas merupakan salah satu film terbaik secara kualitas untuk tahun ini. Once again Kalyana Shira and Joko Anwar rocks. Bravo!

October 31, 2007

'LEGENDA SUNDEL BOLONG': A Fun Homage. A Thrill Ride? Not Exactly!


Produksi: Rapo Films (2007)
Sutradara: Hanung Bramantyo
Cast: Tio Pakusadewo, Jian Batari Anwar, Baim, Uli Auliani
Genre: Horor/Thriller/Drama
Durasi: 91"
Release Date: 18 Oktober 2007
My Grade: 2.5 out 5

Sundel_bolongSungguh "luar biasa"! Dalam dua minggu berturut-turut Hanung Bramantyo merilis dua filmnya, setelah seminggu sebelumnya ada 'Get Married', maka diberikutnya hadir 'Legenda Sundel Bolong'. Saya kurang tahu ini mengindikasikan apa, over-kreatif atau kejar setoran?

'Legenda Sundel Bolong' adalah karya horor kedua dari Hanung, setelah 'Lentera Merah' (2006). Sama halnya dengan film tersebut, maka kali ini film horor ini pun berunsur politis. Hanya saja kali ini Hanung mengambil seting di era 60-an disebuah perkebunan, yang mana pada saat itu situasi di masyarakat memang tengah mengalami pergolakan, terutama konflik antara kaum buruh tani, tuan tanah serta alim ulama.

Dikisahkan Sarpa (Baim, BadWolves) baru menikah dengan seorang mantan ronggeng bernama Imah (Jian Batari Anwar, KM 14). Untuk mengubah nasib, ia memutuskan untuk bekerja di perkebunan milik Danapati (Tio Pakusadewo, Berbagi Suami). Sayangnya, Danapati ini bukan karakter yang charming. Selain terkenal sebagai tuan tanah yang tyrant ia ternyata suka menyiksa perempuan. Bisa ditebak, Imah pun menjadi sasaran Danapati berikutnya! Dengan megirim Sarpa ke Sumatera untuk sementara waktu, ia menjebak Imah dan menyekap Imah dirumahnya. Imah kemudian tewas menggenaskan di tangan kaki tangan Danapati, karena berusaha melarikan diri.

Sepeninggal Imah, sosok perempuan dengan punggung yang bolong, mulai meneror dan membunuh beberapa orang dikampung. Dengan tewasnya beberapa orang penduduk kampung, maka situasi kampung mulai gerah. Belum lagi kaum buruh yang berkeinginan menentang Danaspati. Sementara itu Sarpa kembali dari Sumatera dan bertemu dengan Imah dirumahnya. Namun, kebahagian mereka hanya berumur jagung, karena tanpa sepengetahuan Sarpa, sesuatu yang jahat mengancam kehidupan mereka!

Dengan memakai judul yang diembeli kata 'Legenda', tentu saja film akan mengelaborasi asal-muasal hantu Sundel Bolong tersebut. Memang sebelumnya sudah ada film yang memakai judul Sundel Bolong sebelumnya yang dibintangi oleh Suzzana. Namun, film ini sama sekali tidak ada hubungan dengan film tersebut. Bisa dikatakan 'Legenda Sundel Bolong' adalah re-boot dari film tersebut. Dan untuk itu, Hanung bahkan memakai beberapa adegan khas film horor tahun 80-an, mungkin saja sebagai homage.

Dengan desain opening yang menampilkan potongan-potongan koran ditahun 60-an, film ini seakan menegaskan akan menggambarkan situasi pelik di era tersebut sebagai latar belakang kisah horornya. Namun, setelah menyimak filmnya secara keseluruhan, kok rasanya hal tersebut hanya tempelan belaka. Hanung seperti terjebak antara mau bercerita tentang situasi sosial politik masyarakat pada saat itu dan antara film horor yang murni komersil. Rasanya keduanya seperti tidak saling mendukung dan malah berjalan sendiri-sendiri. Hal ini didukung dengan salah satu adegan di ending yang rasanya cukup absurd, 'perang' antara buruh tani dengan kaum agamis yang diwakili kalangan pesantren, yang mana rasanya dieksekusi dengan terlalu tergesa-gesa, sehingga malah terkesan came-out-from-nowhere.

Dari segi horornya, rasanya Hanung memang kurang berbakat dalam menggali adegan-adegan seram. Atmosfir kengerian kurang terbangun dan beberapa adegan malah terasa konyol dan menggelikan, entah disengaja atau tidak! Walau begitu, Hanung beruntung didukung oleh Faozan Rizal sebagai D.O.P-nya. 'Legenda Sundel Bolong' menampilkan gambar-gambar yang terkesan elegan dan indah, walaupung berseting diperkampungan. Penggambaran hutannya dengan aura mistis pun terasa lumayan berhasil. WSementara itu, dari aspek drama, rasanya Hanung memang terlihat semakin matang. Film bertutur dengan cukup lancar dan gampang dicerna, sehingga kita tidak merasa kebosanan.

Hal positif lainnya adalah akting Jian Batari Anwar yang sangat aspiratif dalam memerankan karakternya. Dan tentu saja Tio Pakusadewo. Rasanya ia memang 'raja'-nya untuk peran-peran 'sakit' seperti ini. Sedangkan Baim, walau tidak luar biasa, namun untuk pendatang baru, ia bermain dengan cukup baik.

Akhirnya, 'Legenda Sundel Bolong' memang horor yang 'cantik', namun ambiguitas dalam ceritanya justru menjebak menjadi ketidakjelasan arah cerita sebenarnya. Walau begitu, memang film ini masih sangat lumayan dibandingkan beberapa film horor yang beredar akhir-akhir ini.   

October 23, 2007

'GET MARRIED': A Fun Comedy That Will Remind You Of Your Self


Produksi: Starvision (2007)
Sutradara: Hanung Bramantyo
Cast: Nirina Zubir, Ringgo Agus Rahman, Aming, Desta, Richard Kevin, Jaja Miharja, Meriam Bellina, Ira Wibowo

Genre: Drama/Komedi
Durasi: 105"
Release Date: 10 Oktober 2007
My Grade: 3.5 out 5

Get_married_1 Setelah 'Kamulah Satu-Satunya' (2007), Hanung Bramantyo kembali bermain di ranah komedi satir. Hanya saja kali ini ia bekerja sama dengan penulis skenario yang memang handal di ranah tersebut, Musfar Yassin (Kiamat Sudah Dekat, Ketika, Nagabonar Jadi 2). Hasilnya, jadilah 'Get Married' sebuah komedi ringan tapi tetap berisi sekaligus menghibur.

Seorang perempuan bernama Mae (Nirina Zubir, Kamulah Satu-satunya) berteman sedari kecil dengan tiga laki-laki, Beni (Ringgo Agus Rahman, Maaf, Saya Menghamili Istri Anda), Eman (Aming, Berbagi Suami) dan Guntoro (Desta, I Love You Om), sehingga ketika besar pun berperangai seperti laki-laki yang dianggap menyusahkan oleh keduaorangtuanya (Jaja Miharja dan Meriam Bellina). Untuk meringkankan 'beban keluarga', Mae pun dijodohkan dengan banyak laki-laki. Sayangnya semua laki-laki tersebut ditolak oleh Mae dan dihajar oleh teman-teman karibnya tersebut agar tidak mengusik Mae lagi.

Namun, kemudian hati Mae tertambat oleh Rendy (Richard Kevin, Cinta Pertama), laki-laki ganteng yang anak orang kaya. Sepertinya Rendy pun tertarik pada Mae. Sayangnya sebuah kesalahan membuat ketiga teman Mae mengira Rendy termasuk laki-laki yang tidak diinginkan sehingga 'menghajar' Rendy hingga babak belur. Karena ibu Mae sakit, maka Mae memaksa salah seorang dari ketiga sohibnya untuk menikahi dirinya! Akhirnya Beni yang terpilih. Saat Mae dan Beni mau melaksanakan akad nikah mereka, datanglah rombongan pemuda kompleks tempat Rendy tinggal untuk membalas dendam. Maka, terjadilah tawuran antara kaum elit dengan kaum pinggiran dengan kepentingan yang tidak jelas lagi.

Terus terang, menyaksikan 'Get Married' seakan menyaksikan kembali kehidupan nyata orang-orang yang ada disekitar kita, karena pendekatan yang diusahakan realitis oleh Hanung ini. Berbagai sindiran-sindiran bernada kritik sosial dalam dialog dan pengadegananya terasa sangat mengena pada sasarannya. Dengan balutan komedi, kita menjadi mampu untuk menertawakan diri sendiri. Bukankah ini merupakan tujuan dari komedi satir?

Hanya saja, komedi satir dengan pendekatan realis ini menjelang paruh akhir malah kemudian cenderung terasa absurd dengan banyaknya adegan slapstik ala komedi trio Warkop di era 80-an dahulu. Terutama pada adegan tawuran yang terasa sangat komikal. Belum lagi kenyataan jika rasanya warga kompleks perumahan elit tidak mempunyai rasa "solidaritas sosial" seperti yang tergambar dalam film ini.

Nirina, Ringgo, Aming dan Desta tampil dengan lepas sehingga terasa alami. Richard Kevin sendiri bermain dengan baik. Terbukti yang telah saya sebutkan saat memberi review 'Cinta Pertama' bahwa Richard hanya butuh arahan dari sutradara yang baik untuk mengeluarkan kemampuan aktingnya. Meriam Bellina dan Ira Wibowo sebagai aktris senior tentu saja tidak diragukan lagi aktingnya. Akan tetapi scene stealer jelas adalah aktor komedi kampiun Jaja Miharja, setelah penapilan cameo-nya di 'Nagabonar JJadi 2' (2007) kemarin.

Terlepas dari segala kelemahannya, 'Get Married' adalah sebuah komedi cerdas yang berhasil. Ia mampu menjalakan misinya sebagai film dengan unsur hiburan sekaligus membawa sesuatu yang bisa diambil oleh para penontonnya. Direkomendasikan!   

'POCONG 3': Not So Good As The Predecessor


Produksi: Sinemart (2007)
Sutradara: Monty Tiwa
Cast: Francine Roosenda, Elmayana Sabrenia, Gery Iskak, Darius Sinathrya, Rina Hassim

Genre: Thriller/Horor
Durasi: 85"
Release Date: 11 Oktober 2007
My Grade: 2out 5

Pocong3_474x700Walaupun 'Pocong' (2006) karya Rudi Sudjarwo tidak mendapat izin untuk diedarkan secara luas, namun tidak menghalangi sekuel-instannya, 'Pocong 2' (2006) untuk merajai box-office saat peredarannya. Kini, tidak sampai setahun kemudian, telah muncul 'Pocong 3'. Kali ini Rudi Sudjarwo tidak langsung turun tangan, melainkan menyerahkan kepada Monty Tiwa yang sebelumnya menulis skenario untuk dua film pertamanya. Film ini sendiri merupakan kali kedua Monty jadi pengarah film setelah 'Maaf, Saya Menghamili Istri Anda' (2007).

'Pocong 3' nyaris tidak mempunyai hubungan dengan dua film sebelumnya terkecuali sekelumit benang merah tentang legenda Pocong tersebut. Putri (Francine Roosenda) adalah seorang DJ di klub Vendetta pimpinan Michelle (Elmayana Sabrenia) yang galak. Suatu hari ia menerima kabar jika ayahnya yang telah lama meninggalkan dirinya telah tiada. Walau kaget, namun Putri tidak dapat menyembunyikan rasa kecewa terhadap sang ayah. Sepeninggal ayahnya, Putri malah sering diperlihatkan sosok Pocong. Lantas ia menemui Laksmi (Rina Hassim), adik ayahnya, yang dianggap dapat menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya. Sementara itu, ternyata ada sosok lain, selain Pocong, yang juga menghantui Putri.

Jujur saja, setelah menyaksikan film ini, saya malah jadi berharap jika sebaiknya Rudi saja yang turun tangan langsung, karena terbukti, Monty ternyata kurang lihai mewujudkan isi skenarionya sendiri. Konyol adalah kata yang melintas dibenak saya setelah keluar dari gedung bioskop. Entah mengapa, film ini malah terlihat seperti film komedi bagi saya, karena Monty rasanya kali ini terlalu banyak bermain-main dalam ranah komedi dalam balutan cerita yang semestinya horor ini. Entahlah, mungkin ia masih terbawa-bawa oleh atmosfir 'Maaf, Saya Menghamili Istri Anda' saat mengerjakan skrip film ini atau malah memang dikerjakan secara back-to-back dengan film tersebut!

Monty terlalu menekankan pada banyak pola basi dari genre ini daripada membangun atmosfir pada cerita. Apalagi ia terasa kurang intens dalam membangun keseraman cerita. Belum lagi dengan banyaknya 'kelucuan-kelucuan' yang mungkin dianggap Monty keren (hantu perempuan yang minta rokok sambil mengelaborasi konsep gentayangan!) dan film yang diakhiri dengan ending yang anti-klimaks, semakin menambah rasa konyol tadi. Belum lagi penampilan sosok Pocong dan hantu bernama "Merah"(sic) yang terlalu jenerik jika tidak mau dikatakan amatiran.

Secara teknis, bujet yang kurang memadai terasa sekali membatasi produksi film, sehingga mempunyai banyak kekurangannya, seperti dari segi audio dimana Monty sepertinya hanya mampu memakai jasa tenaga penata suara kelas amatiran, yang mengakibatkan kualitas audio di film ini terasa buruk sekali dibeberapa bagian.

'Pocong 3' beruntung didukung oleh pendatang baru yang berbakat seperti Francine Roosenda. Ia dengan kapabilitas yang sangat lumayan, mampu untuk menghidupkan karakter Putri. Elmayana Sabrenia rasanya cukup tipikal dengan peran juteknya, namun terasa pas. Begitu juga dengan Darius. Hanya saja Gery Iskak yang rasanya act like he came out from nowhere. Penampilan aktris baheula Rina Hassim menambah kesan creepy dari film.

Sebenarnya Monty tidak jelek-jelek sekali dalam menggarap film ini, hanya saja ia kurang jelas dalam membatasi paradigma horor yang diinginkannya. Penggunaan warna-warna terang juga sangat membantu dalam membangun mood film, untuk membedakan dengan film sebelumnya yang memakai tone pucat atau gelap dalam film horor lainnya. Hanya saja kemudian sangat disayangkan jika film malah terasa clueless.

'KUNTILANAK 2': Deadly Chanting Continues....


Produksi: MVP Pictures (2007)
Sutradara: Rizal Mantovani
Cast: Julie Estelle, Evan Sanders, Piet Pagau, Bella Esperance, Ibnu Jamil

Genre: Thriller/Horor
Durasi: 97"
Release Date: 10 Oktober 2007
My Grade: 2.5 out 5

Kuntilanak_the_chanting2_1Dibuka dengan sekelompok anak kecil, tiga orang tepatnya, bermain petak umpet di sebuah rumah besar yang kosong, yang jika sudah pernah menyaksikan 'Kuntilanak' (2006) pastilah tahu jika rumah tersebut merupakan setting utama dalam film tersebut. Adegan pembuka tersebut terasa sangat mendebarkan dan seakan ingin mengindikasikan jika film ini bukanlah untuk anak-anak. Hal ini dibuktikan saat cerita dalam 'Kuntilanak 2' dipoles oleh Ve Handojo sebagai penulis cerita dengan lebih twisted dalam eksplorasi narasinya.

Dikisahkan Samantha (Julie Estelle), pindah tempat kost yang baru, dimana sanak perempuan pemilik kost dapat melihat hal-hal ghaib. Sedangkan Agung (Evan Sanders) mengalami trauma berat akibat pernah diculik oleh Kuntilanak, namun disisi lain ia sangat mengkhuatirkan nasib Samantha. Ditempat lain, sekte sesat Mangkujiwo, pimpinan Madeng (Piet Pagau), tengah mehgalami krisis, karena anggota mereka yang bisa men-dhurmo memanggil kuntilanak, Sri Sukma (Alice Iskak) telah tewas ditangan Samantha. Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadikan Samantha sebagai anggota baru mereka agar eksistensi kelompok mereka tetap bisa berlangsung. Selanjutnya, film berkisah tentang lika-liku antara karakter-karakter tersebut, dan sang Kuntilanak yang sesekali muncul menunjukkan rupanya!

Dibandingkan dengan film sebelumnya, maka di sekuel Kuntilanak ini, Rizal Mantovani sebagai sutradara, tampak lebih matang dalam menggarapnya. Didukung oleh cerita yang lebih kompleks tadi, maka 'Kuntilanak 2' bisa dikatakan lebih baik. Penampakan Kuntilanaknya juga terlihat menyeramkan dengan sedikit perombakan dalam, bentuk fisik. Secara teknis, Rizal juga terlihat lebih matang, sehingga film terlibat 'cantik' dengan cerita yang lebih menarik.

Hanya saja kemudian ada beberapa hal yang mengganggu. Rizal Mantovani mungkin saja ahli dalam merangkai visual yang menarik, namun dari segi penyampaian cerita, tampaknya ia masih harus belajar lagi. Cerita rasanya berjalan monoton dan sedikit menjemukan, karena terlalu menekankan pada sekte Mangkujiwo, sedangkan sisi lain dari cerita kurang tergali karena ditampilkan seadanya.

Plot-twistnya terasa kurang greget dan Kuntilanaknya malah terasa sebagai karakter tempelan. Mungkin saja, sebagai bagian tengah dari sebuah trilogi yang disiapkan oleh Rizal dan Ve Handojo, 'Kuntilanak 2' lebih menekankan pada eksplorasi karakter, namun bukankah sebaiknya progresi cerita berjalan dengan lebih proporsional dengan kekuatan film itu sendiri, dimana untuk kasus ini adalah sang Kuntilanak!

Julie Estelle sendiri aktingnya memang lebih baik dari prekuelnya, namun kok terasa kurang berkembang. Berbeda dengan akting gemilangnya di 'Selamanya' (2007). Evan Sanders, walau memang tampil lebih baik, akan tetapi tetap harus belajar keras untuk berakting-yang-baik-dan-benar. Justru penampilan bintang senior Bella Esperance, sebagai salah satu anggota sekte, tampil memukau sebagai orang sakit jiwa! Entah kenapa Bella akhir-akhir ini malah tampil dalam banyak film horror setelah 'Bangku Kosong' (2006) dan 'Lantai 13' (2007). Ohya, ada penampilan khusus dari aktris lawas yang mengejutkan di akhir cerita. Jelas, merupakan jembatan untuk sekuel berikutnya.

Jadi, bagi yang sudah menonton dan menyukai 'Kuntilanak', jelas film ini wajib tonton. Bagi yang belum atau bukan penggemar film yang pertama, mungkin dilewatkan saja.

October 08, 2007

'JELANGKUNG 3': Have An Inventive Plot But Lack of Style in Substance


Produksi: reXinema (2007)
Sutradara: Angga Dwimas Sasongko
Cast: Andrew R. Roxburgh, Mitha Griselda, M. Reza Pahlevi

Genre: Thriller/Horor
Durasi: 80"
Release Date: 05 Oktober 2007
My Grade: 2.5 out 5

Jelangkung3_2 Kabarnya, disetiap pemutaran film 'Jelangkung' (2001), harus ada bangku kosong demi tumbal bagi filmnya. Namun, Yodi (Andrew R. Roxburgh), yang menonton bersama teman-temannya, Chris (Mitha Griselda) dan Patra (Muhammad Reza Pahlevi), nekat untuk menduduki bangku tersebut, karena ia tidak percaya dengan segala tahayul atau mitos. Sayangnya, ia harus mempercayai mitos tersebut, karena kemudian ia mulai diganggu oleh penampakan hantu anak kecil yang terdapat di film tersebut. Percuma ia minta bantuan Chris dan Patra, karena mereka merasa Yodi hanya berbohong, sama halnya dengan banyak kebohongan yang telah dikatakannya sebelumnya. Lantas, apa yang harus dilakukan oleh Yodi?

Dengan mengusung ide cerita yang unik, 'Jelangkung 3' hadir sebagai sekuel teranyar dari 'Jelangkung' dan ' Tusuk Jelangkung' (2003). Jeda beberapa tahun mungkin disebabkan karena Erwin Arnada pernah sesumbar jika 'Bangsal 13' (2004) adalah film horor terakhir dari rumah produksi reXinema. Namun, tentu saja kita tidak akan pernah mempercayai apa pun yang keluar dari mulut seorang produser! Ditengah banyaknya kisah sukses film horor akhir-akhir ini, tentu tidak ada salahnya untuk menggembungkan pundi-pundi perusahaan, secara reXinema akhir-akhir ini kurang berdengung namanya.

Dengan menggandeng nama-nama kurang terkenal seperti Ginatri S. Noer untuk menulis cerita dan Angga Dwimas Sasongko (Foto, Kotak, Jendela), seorang sutradara indie muda yang baru berusia 22 tahun sebagai pengarah film, Erwin Arnada sepertinya mempunyai kepercayaan diri yang besar terhadap film ini.

Angga Dwimas Sasongko jelas berbakat. Ini terlihat dari film ini. Dengan pendekatan sinematografis yang realitis, ia mampu membangun suasana mencekam dan ketegangan yang dibutuhkan oleh film. Hanya saja, ia masih terlalu muda dan perlu banyak pengalaman. Film pada mulanya dieksekusi dengan sangat baik, hanya saja kemudian tempo menjadi dragging dan film pun berjalan membosankan, karena cerita sudah dapat tertebak. Belum lagi ia masih memakai semangat indie-nya dalam pendekatan teknis film dengan kamera yang bergoyang-goyang dan gambar-gambar yang terkadang buram. Ini seakan menegaskan jika film dibuat dengan bujet yang ultra-minim sehingga pengerjaan film dilakukan secara terburu-buru. Secara umum, ini mengganggu kenikmatan dalam menyaksikan filmnya.

Skrip yang ditangani oleh Ginatri S. Noer rasanya pun dikerjakan secara tergesa-gesa, karena eksplorasi plot dan karakter yang terasa seadanya-secukupnya. Belum lagi bolong-bolong dalam plot yang membuat kening berkerut! Ia pun terlalu banyak memakai pola usang, sehingga unsur ketegangannya kemudian sudah dapat diraba, sehingga progresi rasa seram gagal untuk dibangun. Film kemudian menjadi tidak jelas, antara hanya mau menakuti-nakuti atau memang ada sesuatu yang hendak diceritakan.

Film ini pun sayangnya tidak didukung dengan kekuatan akting dari tiga bintang pendukungnya. Andrew R. Roxburgh (Hantu Jeruk Purut) rasanya berlu amat-banyak-banyak belajar akting yang benar. Ia tampil dengan sangat annoying, terlepas dari memang karena karakter yang dimainkannya juga annoying (pun intended)! Sementara Mitha Griselda dan Muhammad Reza Pahlevi, walau berakting dengan cukup lumayan baik, namun rasanya menjadikan sinetron sebagai acuan akting mereka sehingga overall sama annoying-nya dengan akting Andrew R. Roxburgh.

Walaupun 'Jelangkung 3' secara umum mampu tampil dengan lebih baik daripada film horor yang beredar akhir-akhir ini, namun jelasnya ia tetap saja masih jauh dari kategori horor ideal yang baik-dan-benar secara keseluruhan.

August 20, 2007

'HANTU': A Chilling Adventure Deep In The Wood


Produksi: Grandiz Media (2007)
Sutradara: Adrianto Sinaga
Cast: Oka Antara, Dhea Ananda, Dwi Andhika, Andhika Gumilang, Monique Henry, Rina Hassim (Spec. App)

Genre: Horor/Thriller
Durasi: -
Release Date: 09 Agustus 2007
My Grade: 3 out 5

Hantu_kcl_1
Berpengalaman sebagai art director untuk film-film 'Tusuk Jelangkung', 'Bangsal 13' dan 'Titik Hitam', mungkin yang menyebabkan Adrianto Sinaga memutuskan untuk mengarahkan sebuah film horor sebagai karya perdananya sebagai seorang sutradara. Dengan memakai judul yang singkat, padat, tepat seperti 'Hantu', maka Adrianto Sinaga seakan membuktikan jika ia hanya akan membuat film hiburan yang singkat, padat, tepat.

Ceritanya sederhana saja, sekelompok remaja, Gali (Oka Antara, Gue Kapok Jatuh Cinta, Dunia Mereka), Rinjani (Dhea Ananda), Ray (Dwi Andhika, Me Versus High Heels), Indra (Andhika Gumilang) dan Sofie (Monique Henry), yang berkemah di tengah hutan karena ingin menemukan sebuah telaga yang bernama Setra Wingit. Namun, saat Rinjani kerasukan dan menghilang masuk hutan, maka selanjutnya plot berjalan sesuai dengan formula kebanyakan film horor.

Kelebihan film ini dibandingkan dengan kebanyakan horor yang beredar saat ini adalah akurasi dan presisi dalam menggarap adegan serta tentu saja pengetahuan yang besar dari Adrianto Sinaga yang juga menulis cerita untuk film ini terhadap genre yang dipilihnya, sehingga film terasa tepat sasaran.

Atmosfir seram dibangun dengan baik dan unsur kengeriannya pun terjaga. Sehingga walau dibumbui dengan drama dan sedikit komedi, 'Hantu' tetap hadir sebagai ghalibnya film horor, mecekam dan menegangkan.

'Hantu' pun secara tak terduga didukung oleh akting yang menarik oleh barisan bintangnya yang terbiasa bermain sinetron, seperti Dwi Andhika atau Dea Ananda. Mungkin hanya Oka Antara saja yang resume film fiturnya yang cukup panjang dibandingkan mereka.

Walaupun bukan film horor yang paling sempurna, 'Hantu' jelas sedikit dari banyak film horor yang 'baik-dan-benar' serta (tentu saja harus) menghibur. Jika saja, kebanyakan sutradara film horor seperti Adrianto Sinaga, Rudi Sudjarwo (Pocong 2) atau Joko Anwar (Kala), saya yakin industri film horor kita akan semakin menarik. Satu hal yang pasti, 'Hantu' membuat Shanker/Koya sebagai the dumbest horror's producer/director in Indonesia. Peace!

August 07, 2007

'SELAMANYA': Love Will Conquer All


Produksi: MVP Pictures (2007)
Sutradara: Ody C. Harahap
Cast: Julie Estelle, Dimas Seto, Masayu Anastasia, Donny Alamsyah, Sita Nurasanti

Genre: Drama/Roman
Durasi: -
Release Date: 18 Juli 2007
My Grade: 3.5 out 5

Selamanya_filmMelodrama. Rasanya kata ini merupakan hal yang tak terpisahkan dari perkembangan dunia sinema dimanapun, termasuk di Indonesia. Sama halnya dengan berbagai sub-genre film, melodrama pun biasanya mempunyai formula tersendiri dengan streotipikal khusus yang menderanya. Walau begitu, tetap saja banyak sutradara yang memilih untuk membuat melodrama, karena pasarnya memang eksis. Yang menjadi masalah sekarang adalah, bagaimana sineas tersebut meramu filmnya dengan gaya atau substansi yang bisa membedakan sehingga film tidak terjebak dalam pola basi yang monoton.

'Selamanya' adalah melodrama. Film ini tidak mengingkarinya. Namun, film mencoba bercerita dalam
kerangka tematik yang berbeda. Kali ini bercerita tentang cinta sejati untuk selamanya yang mungkin didapat oleh seorang junkie bernama Aristha (Julie Estelle, Alexandria, Kuntilanak). Rasanya, kehidupan Aristha sudah tidak genah lagi. Hidup baginya hanya untuk narkoba dan narkoba hanya ada untuknya. Suatu malam ia ter'garuk' oleh polisi. Di kantor polisi, ia berjumpa lagi dengan Bara (Dimas Seto, Buruan Cium Gue!, Pesan dari Surga) kekasihnya saat di SMA. Tentu saja Bara sangat senang bertemu dengan Aristha, karena ia memang selama ini tengah mencarinya. Namun Aristha justru terlihat sangat membencinya. Melalui Cacha (Masayu Anastasia, Buruan Cium Gue!), teman Aristha yang berprofesi sebagai penari eksotis, Bara berusaha mendekati Aristha lagi. Namun, kehidupan gadis itu sudah sangat rusak dan ia sangat