
Pada mulanya saya berfikir, sebuah film thriller dengan bintang lawas seperti Kevin Costner dan Demi Moore sebagai bintang utama? Kok seperti déjavu ke tahun 90-an? Bukannya saya meremehkan. Era 90-an merupakan era dimana banyak film thriller yang bagus beredar (
Silence of the Lambs, Single White Female, The Hand that Rocks the Cradle, Malice dan sebagainya). Hanya saja, apakah ini merupakan langkah tepat disaat banyak bintang yang lebih bersinar(
no pun intended!)? Dan ada jaminan ini akan menjadi film yang memikat?
It's turn out that I'm wrong. 'Mr. Brooks' ternyata adalah sebuah thriller yang memikat dengan intensitas cerita yang mengikat para penontonya untuk tetap menyimak sampai akhir.
Apa yang kurang dari Earl Brooks (Kevin Costner)? Ia seorang pengusaha sukses, ayah yang baik dan suami ideal. Tidak ada yang mengetahui jika ia sebenarnya adalah
Thumbprint Killer, seorang pembunuh berantai yang tenga dicari-cari. Namun Mr. Brooks sebenarnya tidak sendirian. Ia selalu ditemani oleh Marshall (William Hurt),
alter ego-nya, yang sebenarnya adalah perwujudan rasa 'kejam' pada diri Mr. Brooks. Setelah jeda selama dua tahun, ia merencanakan pembunuhan terakhirnya untuk kemudian memutuskan untuk menghentikan "kecanduan" membunuhnya. Sayangnya, malam itu seorang fotografer amatiran yang mengaku bernama Mr. Smith (Dane Cook) melihat aksi Mr. Brooks. Entah dengan alasan apa, Mr. Smith malah meminta Mr. Brooks untuk mengajaknya adalam "aksi" berikut.
Sementara itu, seorang polisi wanita bernama Tracy Atwood (Demi Moore), berada tepat dalam penyilidikan untuk menangkap sang
Thumbprint Killer. Tracy sendiri ternyata mempunyai masalahnya sendiri. Dalam perkembanganya, nasib Mr. Brooks akan bersilangan dengan Tracy. Hanya saja dalam bentuk apa?
Sebagian thriller psikologis dan sebagian suspense, terkadang 'Mr. Brook' terlihat sangat populis dengan memakai formula yang terkadang tipikal, namun terkadang mencapai level berkelas dengan idealismenya sendiri. Ini mungkin ganjalan utama 'Mr. Brooks' untuk menjadi sebuah thriller yang benar-benar klasik.
Terlepas dari itu, Bruce A. Evans, sebagai sutradara mampu membangun ceritanya dengan pola ketegangan yang menjalar, tanpa terasa kendor sama sekali. Ini merupakan film keduanya, setelah Kuffs pada tahun 1992. Jeda 15 tahun ternyata tidak membuat Evans kehilangan kekuatanya dalam membangun sebuah cerita yang solid.
Penggambaran karakter Mr.Brooks dilakukan dengan teliti oleh Evans, sehingga walaupun Mr.Brooks adalah karakter anti-hero, namun Evan mampu membangun empati sekaligus simpati penonton kepada Mr. Brooks. Rasanya, setelah 'The Talented Mr. Ripley' (1997) yang lalu, baru kali ini saya merasa kagum dengan karakter "gelap" seperti ini. Apalagi Kevin Costner dengan mumpuni masuk kedalam tubuh Mr. Brooks dan meniupkan ruh yang tepat untuknya. Terlepas dari kredit jelek yang terdapat dalam daftar filmnya akhir-akhir ini, Mr. Costner menunjukkan ia memang aktor watak kaliber Hollywood yang handal.
Tentu saja, karakter Marshall yang digambarkan dengan gemilang oleh William Hurt turut andil dalam menempatkan Mr. Brooks dalam posisi yang simpatetik, karena Marshall adalah perwujudan naluri amoral dan kebinatangan Mr. Brooks, sehingga ia merupakan orang yang tepat untuk dibenci!
Karakter yang dimainkan oleh Demi Moore sebenarnya mempunyai kans untuk tampil dengan sangat gemilangnya dengan Mr. Brooks itu sendiri, akan tetapi sayangnya skenario tidak memberikan kualitas yang lebih dalam elaborasi karakternya, sehingga ia menjadi sangat tipikal dalam jenis film seperti ini. Padahal, seharusnya ia dan Mr. Brooks mempunyai ikatan batin yang kuat, walaupun mereka tidak pernah saling bertemu. Meski berakting dengan baik, namun Demi Moore tetap terlihat kurang maksimal dalam menjadi Ms. Woods, sehingga karakternya kemudian seperti menjadi "kewajiban" dalam tuntutan isi film.
Karakter yang diperankan oleh Dane Cook sendiri cenderung sangat mengganggu dan membuat kita berfikir mengapa ia yang begitu "bodoh" merasa bisa mengimbangi Mr. Brooks yang brilian, sehingga kemudian karakternya terasa sebagai "alat bermain" Mr. Brooks dalam progresi cerita. Dane Cook sendiri sepertinya mengira ia sedang berakting dalam sekuel 'Good Luck Chuck', dan berharap agar Mr. Brooks cepat-cepat saja "mengeliminasinya"!
Terlepas dari aspek minornya, Mr Brooks
is really gripping, from start to finish. Walau secara keseluruhan tetap terasa seperti film hiburan, namun dengan didukung jalinan cerita yang cerdas dan kekuatan akting bintang kelas A, 'Mr. Brooks' rasanya menjadi thriller dengan kekuatan narasi yang sangat ciamik, sesuatu yang rasanya jarang ada di banyak film akhir-akhir ini.