August 12, 2008

Despite Brainless, The Rise of The Oriental Mummy is Quite Fun

Themummy3pic26_1 Apakah saya harus kecewa dengan film ini? Seharusnya tidak, karena rasanya saya sudah mengantisipasi akan menyaksikan sebuah film aksi-petualangan yang begitu brainless-nya, sehingga kita tidak perlu repot-repot berkonsentrasi tinggi untuk menyaksikannya.

Terus terang saja, menyaksikan Brendan Fraser mengulangi perannya sebagai petualang happy-go-lucky bernama Rick O'Connell untuk yang ketiga kali memang terlihat kurang menarik. Pada saat karakter istrinya, Evelyn O'Connell, yang kali ini diperankan oleh Maria Bello (A History of Violence) menggantikan Rachel Weisz, kebingungaan saat hendak menulis cerita bagi novel petualangan The Mummy ketiganya, rasanya duo penulis skrip film ini, Alfred Gough dan Miles Millar juga kebingungan hendak membawa cerita kemana, sehingga akhirnya memutuskan untuk mendaur ulang plot 'The Mummy' sebelumnya dan memindahkan lokasi ke dataran China dan mendapuk Jet Li sebagai Kaisar yang dikutuk oleh penyihir Zi Juan (Michelle Yeoh) menjadi patung terakota, beserta seluruh tentaranya.

Selanjutnya, plot berjalan dalam pakem yang sama. Kejutan-kejutan sudah dapat diduga. Yang tersisa bagi kita hanyalah kumpulan adegan aksi yang mendebarkan. Yah, memang tidak luar biasa. Tapi Rob Cohen yang kini menggantikan kedudukan Stephen Sommers sebagai sutradara tahu bagaimana merangkai adegan laga yang (lumayan) seru.

Adegan-adegan yang mengandalkan animasi CGInya memang lemah. Chemistry Brendan Fraser dan Maria Bello nyaris nol. Komedinya terkadang kering. Jet Li and Michelle Yeoh are underused, even Mr. Li is so good as the villain if only the script gave more depth and more screen times for his character. Namun, film ini memang tidak menjanjikan akan menjadi film kontemplatif seperti 'The Dark Knight' misalnya, tapi murni hiburan ringan.

Ada seorang teman yang menganjurkan untuk "meninggalkan otak" dirumah saat akan menyaksikan film ini. Ayuhlah, film ini tidak separah itu untuk mendapatkan komentar sarkatis seperti itu (belum pernah menonton film Uwe Boll, ya?), walau memang tidak perlu otak yang cerdas untuk dapat menikmati film ini.
3 out of 5
"THE MUMMY: TOMB OF THE DRAGON EMPEROR" (2008)/Universal Pictures/Directed by Rob Cohen/Cast: Brendan Fraser, Jet Li, Michelle Yeoh, Maria Bello, John Hannah, Luke Ford, Issabella Leong, Anthony Wong/Runtime: 112 min

                            

August 05, 2008

Beware Men, For This Teeth is Lethal

Teeth_1Saya ingat jika Mitchell Lichtenstein adalah aktor yang berperan sebagai pasangan gay Winston Chao dalam karya klasik Ang Lee, 'The Wedding Banquet' di era 90-an lalu. Tidak mengira jika ia kini bermetamorfosa menjadi seorang sutradara dan karyanya yang berjudul 'Teeth' menunjukkan jika ia adalah seorang sutradara dengan sebuah visi yang signifikan.

Saat industri mainstream Hollywood dianggap mulai kehilangan ide-ide segar, dalam debutnya ini Lichtenstein menawarkan sesuatu yang beda, sesuatu yang mungkin tidak akan diterima secara luas (baca; komersil), sehingga ia memilih untuk bergerilya secara indie, mengangkat mitos tentang “Vagina Dentata”, yang sebaiknya menonton terlebih dahulu filmnya agar tahu apa sebenarnya arti dari istilah tersebut!

'Teeth' adalah tentang kelainan anatomi yang dialami oleh seorang gadis muda nan sederhana bernama Dawn (Jess Weixler). Pada mulanya ia tidak menyadari hal tersebut sampai ia hendak melakukan hubungan seksual pertamanya yang berujung tragis. Dawn sebelumnya bergabung dalam kumpulan remaja yang tidak mendukung prilaku seks-pranikah, namun ternyata hormon pubertas mempunyai kekuasaan yang lebih digdaya! Setelah peristiwa tersebut Dawn belajar tentang kekurangannya yang mungkin akan menjadi kelebihannya dalam masyarakat yang menjadikan laki-laki sebagai pemangsa kaum perempuan ini.

Dengan didukung oleh jajaran pemain yang terbiasa bermain di film kecil, menjadikan karakter-karakter dalam film ini dimainkan dengan ekspresif dan santai dan memberikan donasi yang besar dalam progresi cerita menjadi lebih bernas. Jess Weixler sendiri dengan gemilang mentransformasikan dirinya menjadi Dawn yang terkadang lembut dan bitchy kemudian. Rasa takutnya pun dapat digambarkan dengan relief komikal yang pas, sehingga kadang malah terasa menggiriskan.

'Teeth' mungkin sebuah horor. Mungkin juga komedi. Tapi ia adalah politik kesadaran tentang bagaimana gender yang tersubordinasi kemudian (mungkin) berevolusi membentuk sistem pertahanan menghadapi penekannya. Untuk mengeksplorasi topik seperti itu Lichtenstein menggunakan pendekatan gado-gado tadi, sehingga sebagai sebuah film remaja 'Teeth' terasa terlalu vulgar, kelam dan gelisah. Namun terkadang dipaparkan dalam porsi yang kurang berimbang alias satu tone mendominasi tone yang lainnya, meski sebenarnya mempunyai esensi yang substantif.

3 out of 5
"TEETH" (2008)/Dimension Films/Directed by Mitchell Lichtenstein/Cast: Jess Weixler, John Hensley/Runtime: 94 min

Even Smart People Can Be Clueless Sometimes

Smartpeople_1 'Smart People' merupakan debut Noam Murro, yang biasa menggarap iklan komersil, adalah sedikit dari komedi kecil yang renyah, ringan namun mengenyangkan, meskipun adonan formulanya terasa biasa-biasa saja dan terlalu gampang dicerna untuk ditebak kemana arah rasanya.

Prof. Lawrence Wetherhold (Dennis Quaid) adalah seorang dosen pengajar literatur disebuah kampus. Tinggal berdua saja dengan anak perempuannya Vanessa (Ellen Page) yang masih SMA, sedangkan anak sulungnya James (Ashton Holmes) yang telah kuliah memilih untuk tinggal di asrama kampus.

Lawrence terlihat begitu lelah dan pemurung sehingga ia nyaris tidak melakukan interaksi dengan orang lain dan lebih memikirkan dirinya sendiri. Vanessa, berotak cemerlang sepertinya namun berlidah tajam, sehingga nyaris menjadi cetak biru dari ayahnya. Sedangkan James tidak pernah menceritakan tentang dirinya kepada sang Ayah karena menggangap Lawrence kurang perhatian. Kedatangan adik angkat Lawrence, Chuck (Thomas Haden Church), dianggap hanya akan menambah runyam kehidupan Lawrence.

Sampai ia bertemu dengan Dr. Janet Hartigan (Sarah Jessica Parker). Sarah ternyata adalah mantan mahasiswinya yang dulu pernah naksir dengan Lawrence. Lantas, hubungan keduanya mulai dekat, sampai, tentu saja friksi terjadi!

Sesuai dengan judulnya, skrip yang ditulis oleh Mark Jude Poirier berhasil mempresentasi karakter-karakter yang terlihat cerdas dengan didukung oleh dialog-dialog bernas yang juga cerdas. Digawangi oleh aktor-aktris mumpuni, 'Smart People' semakin menarik saja. Dennis Quaid tampil meyakinkan. Sarrah Jessica Parker berhasil mengenyahkah ruh Carrie Bradsaw yang melekat erat. Sedangkan Thomas Haden Church memberikan performa optimalnya. Namun, yang memang mencuri perhatian itu adalah Ellen Page, yang memberi nuansa komik sekaligus intensitas mendalam dalam ceritanya. Sayang sub-plotnya dengan Haden Church tidak mendapatkan porsi yang lebih luas, sehingga karakter Vanessa-nya juga tidak mendapatkan kedalaman yang seharusnya.

Sebagai sebuah satir, mungkin 'Smart People' bukan yang terbaik dan jalan ceritanya gampang ditebak. Namun, Murro dan skrip Poirier berhasil menunjukkan jika materi yang sederhana dan repetitif dapat juga diolah (kembali) menjadi sesuatu yang menarik untuk disaksikan (lagi).

3.5 out of 5
"SMART PEOPLE" (2008)/Miramax/Directed by Noam Murro/Cast: Dennis Quaid, Sarah Jessica Parker, Ellen Page, Thomas Haden Church, Ashton Holmes/Runtime: 95 min

The Time Has Come For The Dark Knight

Thedarkknight01_1Saya pada awalnya ingin mengklaim jika 'The Dark Knight' adalah film tentang superhero terbaik yang pernah saya tonton. Tapi saya menimbang ulang perspektif tersebut, karena setelah saya fikir-fikir tidak ada yang super tentang Batman. Dia hanya seorang manusia tangkas yang cerdas, ulet dan dibantu dengan kekayaan yang luar biasa untuk menciptakan gadget yang mampu mengakomodir kebutuhan kegiatan 'malam'-nya. Lantas kalau bukan film tentang superhero, ini film tentang apa ya?

Yang saya dengar 'The Dark Knight' memicu provokasi akan subgenre yang bernama comic-book-movie. Saya sebenarnya kurang paham tentang istilah itu. Mungkin nanti saya periksa di Wikipedia, itu juga kalau sudah ada. Menurut saya 'The Dark Knight' terlalu kompleks untuk dikotakkan pada satu titik saja, sebagian drama, sebagian aksi dan mengandung unsur-unsur psikologis yang kental.

Cerita merupakan sambungan langsung dari 'Batman Begins'. Bruce Wayne mulai menekuni dengan serius kegiatan malamnya, sementera masyarakat terbelah antara mendukung dan menentang. Begitu juga dengan pihak kepolisian. meski telah benyak membantu, sekutu yang ia bisa andalkan cuma (bakal) Komisaris Gordon (Gary Oldman). Sementara itu seorang Jaksa Wilayah bernama Harvey Dent (Aaron Eckhart)-yang bagi siapa saja yang pernah membaca komiknya bakal tahu itu siapa-tengah memgusut dunia hitam di Gotham, sisa-sisa yang ditinggalkan oleh Falcone sebelumnya. Harvey sendiri bekerjasama dengan Rachel Dewes (Maggie Gyllenhaal, menggantikan Katie Holmes) asisten sekaligus kekasihnya. Sementara itu, seorang kriminal kecil bernama Joker (Heath Ledger) memasuki Gotham dan memulai eksperimennya dengan kekacauan terhadap komunitas Gotham. Intrik Joker inilah yang akan mepertemukan mereka dalam nasib yang akan menentukan masa depan mereka.

Saya mengagumi kerangka struktur dunia yang direka Christoper Nolan sebagai sutradara, membawa Batman kedalam multi-dimensi yang dapat direlasikan dengan mudah kepada penonton, sekaligus menghilangkan jarak dengan penontonnya, karena film terasa lebih membumi. Bahkan, dibandingkan 'Batman Begins' film ini mengandung unsur realisme yang lebih kental.

Filmnya sendiri berjalan dengan suspensi yang terjaga, dengan kejutan-demi-kejutan yang membuat kita terhenyak di kursi kita. Skrip, yang ditangani secara duet Christoper dengan sudara laki-lakinya Jonathan, menghadrikan ritme yang dinamis, plot yang cerdas dan menghindarkan penyederhanaan konflik dan solusi yang biasa di film-film sejenis dan uniknya juga menyelipkan alegori puitis sarat makna.

Gotham adalah seting bagi pertikaian abadi antara kejahatan melawan kebaikan, yang dalam hal ini dipersonifikasi melalui simbol-simbol yang diusung oleh Batman dan his archenemy Joker! Kemunculan Joker sudah diindikasikan melalui akhir 'Batman Begins' sehingga memang sudah dapat diantisipasi kehadirannya.

Yang tidak diharapkan, ternyata Heath Ledger, pemeran Joker mutakhir, meniupkan ruh yang luar biasa untuk menghidupkan karakter Joker; cerdas, sadis, sekaligus menggelikan namun loveable. Lho, apakah karakter villain seperti Joker bisa dikatakan loveable? Bisa, Ledger membuktikannya. Dia memang kejam, namun Joker bukanlah karakter psikopat yang gampang dibenci, karena kita menyadari jika Joker sendiri dihadirkan Nolan dengan dimensi yang lebih luas, menghindari tipikal warna hitam dalam karakternya dan elaborasi latar belakang yang lebih subtil sekaligus humanis.

Gestur, mimik, intonasi, dan attitude Joker dimanifestasikan dengan sangat sempurna oleh Ledger, sehingga kita teryakinkan jika ia adalah Joker dan Joker itu adalah Ledger. Sayangnya ini menyebabkan jika karakter Joker terasa sangat mendominasi, menyebabkan Christian Bale dan Batmannya terasa termarginalkan, meskipun dia meneruskan dengan persistensi yang kuat sebagai Bruce Wayne yang flamboyan dan Batman yang kelam dan misterius.

Aaron Eckhart sendiri tak kalah gemilangnya dalam mencuri perhatian. Dan tentu saja, dengan nama-nama seperti Maggie Gyllenhaal, juga Michael Caine dan Morgan Freeman yang meneruskan peran merekan sebagai Alfred dan Lucios Fox adalah aktor-aktor kuat yang memberi nuasa kuat pula dalam membentuk narasi film ini menjadi lebih solid.

'The Dark Knight' adalah film Batman yang paling kelam sekaligus paling luar biasa. Ia menghadirkan pahlawan dan villain dengan trauma emosionil yang mendalam. Dengan kerangka "superhero" justru Christoper Nolan membawa konflik psikologis ini menjadi sarana dengan elemen fantastis untuk sebuah kontemplasi sederhana; kita hidup dipilihan yang mana?

5 out of 5
"THE DARK KNIGHT" (2008)/WarnerBros/Directed by Chris Nolan/Cast: Christian Bale, Heath Ledger, Aaron Eckhart, Maggie Gylenhall, Michael Caine, Morgan Freeman/Runtime: 152 min

June 08, 2008

'ACROSS THE UNIVERSE': All You Need is The Love Songs of The Great Beatles


Produksi: Columbia Pictures (2007)
Sutradara: Julie Treymor
Cast: Jim Sturgess, Evan Rachel Wood, Joe Anderson, Dana Fuchs

Genre: Drama/Musikal
Durasi: 133"
Release Date: 12 Oktober 2007 (USA)
My Grade: 3 out 5

Across_the_universeSiapa yang tidak kenal dengan The Beatles. Band asal Inggris tersebut bisa dikatakan merupakan salah satu band yang paling berpengaruh dalam industri musik kontemporer saat ini. Dengan lagu-lagu melodius nan kontemplatif, telah menjadikan band ini sebagai sebuah legenda besar.

Saat Julie Taymor berniat membuat film musikal dengan menjadikan lagu-lagu dari The Beatles sebagai bagian dari musikalitas dalam dramaturginya, tentu saja ekspektasi melambung tinggi, berharap agar musik-musik yang jenial tersebut mampu meniupkan ruh yang diperlukan oleh filmnya.

Ceritanya sederhana saja. Berseting paruh 60-an, seorang pemuda Inggris, Jude (Jim Sturges) bertolak ke Amerika karena ingin bertemu dengan sang Ayah yang tidak pernah ditemui seumur hidupnya. Nasib mempertemukan ia dengan kakak beradik Lucy (Evan Rachel Wood) dan Max (Joe Anderson). Sudah bisa diduga Jude jatuh cinta dengan Lucy. Yah, kemudian Lucy pun jatuh cinta kepada Jude. Hanya saja, gaya hidup Jude yang happy-go-lucky ternyata tidak berkesinambungan dengan Lucy yang tenggelam dalam idealismenya dalam menentang perang Vietnam yang berkecamuk. Cerita juga diselingi pula dengan karakter-karakter satelit yang mengingatkan akan streotipe yang umum berlaku pada masa itu (hippies, rock n’roll, kebebasan dan sebagainya).

'Across The Universe' adalah pretensius. Rasanya hal tersebut susah untuk dinafikan. Tentu saja, walau bercerita tentang issue yang tengah hangat pada masa itu, namun rasanya tetap faktual dalam konsep kekinian. Namun, rasanya memang Taymor terlalu bersemangat dalam membuat sebuah drama musikal yang kontemplatif, sehingga kemudian meninggalkan esensi dari musikalitas itu sendiri.

Dalam sebuah film musikal, seyogyanya unusr lagu adalah satu bagian dari narasi. Dalam arti, kadang ia adalah sebuah dialog yang berbicara. Nah, disini Taymor terlalu memaksakan agar plot film berjalan dengan lagu-lagu yang menjadi pilihannya, sehingga film malah terasa kosong dan sedikit kehilangan arah, seperti kumpulan video musik dalam konteks yang kurang jelas. Ini membuat film hanya sebagai “penanda” dari kemegahan lagu-lagu dari The Beatles tersebut.

Harus diakui, secara visual, Taymor mampu membangkitkan kenangan yang lekat akan lagu-lagu tersebut, sehingga adegan terasa menggugah. Bahkan, ia dengan imajinasinya yang kuat mampu membuat penggambaran yang kadang surealistis namun tetap terasa indah.

'Across The Universe' adalah pengalaman visual yang menarik, juga bukanlah film musikal yang buruk. Hanya saja, menjadi pretensius terkadang menjadikan film kehilangan esensi dalam urgensinya. Dan itulah 'Across The Universe'. 

May 28, 2008

'THE EYE': This Eye See Horrible Thing


Produksi: Lions Gate (2008)
Sutradara: David Moreau, Xavier Palud
Cast: Jessica Alba, Alessandro Nivola, Parker Posey, Rachel Ticotin 

Genre: Horror/Drama
Durasi: 95"
Release Date: 01 Februari 2008 (USA)
My Grade: 2.5 out 5

The_eye Sudah lelah dengan remake horor Asia? Sayangnya para produser di Hollywood ternyata merasa kebalikannya. 'The Eye' adalah film Asia sukses kesekian yang dibeli hak ciptanya oleh H'wood dan dimanifestasikan dalam bentuk umumnyanya yang paling banal, setidaknya dalam genre Horor.

Ceritanya nyaris tidak ada perubahan. Sidney (Jessica Alba) adalah seorang perempuan buta yang menerima transpalntasi kornea mata. Namun, setelah mampu melihat lagi, ia malah menerima penglihatan-penglihatan yang menyeramkan. Oleh karena itu, dibantu oleh psikolognya (Alessandro Nivola), ia berusaha membuka tirai kelam yang dimiliki oleh pemilik kornea matanya yang terdahulu.

Duet David Moreau dan Xavier Palud bukanlah duet Danny dan Oxide Pang, dalam membuat versi 'The Eye' mereka. Walau memberikan intensitas yang lumayan menegangkan pada adegan-adegan seramnya, namun atmosfir kelam yang ingin dicapai belumlah mencapai tingkat yang dicapai oleh versi yang asli garapan Pang bersaudara tersebut.

Jessica Alba, sebagai atraksi utamanya sendiri tidak buruk dan terlihat berupaya tampil meyakinkan, walau kadang dibeberapa adegan yang mengharuskan ia berdialog, malah tampil kurang meyakinkan. Miss Alba sudah seharusnya meningkatkan talentanya dan jangan hanya mampu dikenang menjadi poster-girl belaka.

Terus terang, sejak 'The Ring' versi Gore Verbinski, maka belum ada remake horor Asia yang benar-benar koheren untuk dibuat ulang, karena menunjukkan signifikansi yang kurang jelas akan apa yang sebenarnya hendak dicapai oleh film aslinya. 'The Eye' bukan pengecualian.

Film ini jelas-jelas terlalu 'terHollywoodkan' dan mengorbankan esensi utama mengapa film aslinya bisa begitu sukses dalam menakuti penontonnya. Dalam pandangan kritisi Amerika, film-film horor remake ini (yang biasanya PG-13) dipandang buruk, tidak seram dan kurang memuaskan dalam segi dramatikalnya. Berbeda dengan versi aslinya, Asia dalam hal ini, yang terbukti mampu menjalin drama yang baik dengan keseraman yang dibangun dengan merambat.

Berbeda dengan remake 'The Grudge' yang memang jelas-jelas hanya menjual kengerian dibandingkan dengan cerita yang unik atau 'Dark Water' yang terlalu moody, maka 'The Eye', sama halnya dengan remake 'Pulse' dan 'One Missed Call' terlalu mengfokuskan pada unsur horor akan tetapi melupakan sinergitas dengan unsur drama, yang mana merupakan esensi utama dari jalinan kesatuan dalam plot film-film horor Asia ini. Meski menurut pendapat saya presentasi film ini jauh lebih baik dibandingkan film-film tersebut.

'The Eye' versi aslinya menurut saya memang salah satu film yang mampu menampilkan keseraman yang diperlukan sekaligus plot yang dramatiknya terjaga, sehingga unsur ironi yang ingin disampaikan bisa tercapai. 'The Eye' versi Amerika ini terlalu menginginkan sebuah jalan cerita yang lebih membumi dan menghibur sehingga orang tidak haris repot-repot mengesensikan apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Disinilah masalahnya, 'The Eye' terasa kering dan tidak bermakna apa-apa selain hiburan semata-semata. Ending yang lebih kompromistis buktinya. Terasa dibuat-buat dan sedikit menghina intelenjensia penontonnya.

'The Eye' mungkin sebuah film yang menghibur, namun dapatkan ia menandingi versi aslinya? Mungkin jawabannya akan sedikit subjektif, akan tetapi kata "tidak" adalah yang paling tepat. Bukan remake yang terbaik, apalagi horor yang luar biasa.

'SHELTER': Home Is Where The Heart Is


Produksi: Regent Releasing (2008)
Sutradara: Jonah Markowitz
Cast: Trevor Wright, Brad Rowe, Tina Holmes, Jackson Wurth, Ross Thomas, Katie Walder

Genre: Drama
Durasi: 97"
Release Date: 21 Maret 2008 (USA)
My Grade: 3 out 5

Shelter 'Shelter' adalah sebuah film kecil karya Jonah Markowitz yang namun memiliki kelegaan yang luas dalam temanya. Film terasa jujur dan menyentuh walau sebenarnya secara umum biasa-biasa saja. Mengapa biasa-biasa saja? Terus terang, pendekatan yang dipakai oleh Markowitz memang tipikal dalam drama yang menyangkut Gay-Lesbian-Bisexual-Transgender seperti ini. Gaya yang terlalu indie jika tidak mau dikatakan made-for-tv, walau tidak sevulgar film-film sejenis yang umum keluar akhir-akhir ini.

Inti utamanya itu ada di drama dan cerita. Zach (Trevor Wright) adalah seorang pemuda berbakat dalam seni lukis, namun ia terpaksa menyimpan cita-citanya, karena ia tinggal bersama dengan kakaknya Jeanne (Tina Holmes, dari film cult Edge of Seventeen) yang mempunyai satu anak laki-laki berama Cody (Jackson Urth) yang sudah menganggap Zach sebagai ayahnya. Jeanne begitu manipulatif terhadap Zach, sehingga ia kemudian merasa terikat dengan Jeanne dan Cody dan melupakan cita-citanya bahkan hubungannya dengan kekasihnya Tori (Katie Walder) menjadi hambar. Sahabatnya sendiri, Gabe (Ross Thomas) terlalu sibuk dengan kuliahnya sehingga praktis Zach hanya sendiri.

Sampai tiba kembali kakak laki-laki Gabe yang sudah dikenalinya sedari kecil, Shaun (Brad Rowe). Karena sama-sama menggemari surfing, maka kemudian mereka menjadi akrab. Bahkan, pada akhirnya pertemanan mereka berkembang menjadi romansa. Dari Shaun, Zach belajar untuk menghargai dirinya sendiri dan mempunyai pilihan sendiri untuk hidupnya. Namun, disaat lain ia merasa bimbang apakah ia bisa meninggalkan Jeanne dan Cody dari dunianya?

'Shelter' jika diartikan secara harafiah dalam Bahasa Indonesia berarti "penampungan". Kalau berbicara dalam konteks inibisa disebutkan bahwa karakter-karakter dalam film ini sebenarnya sedang mencari tempat bagi penampungan jiwa mereka, karena mereka begitu terbiasa untuk dibutuhkan-membutuhkan, sehingga terlupa akan tempat dimana ia sebenarnya seharusnya menempatkan diri dan jiwanya.

Walau berbicara dalam esensi yang puitis, namun 'Shelter' tidak berbicara dalam kerangka itu. Melodrama memang, akan tetapi tidak terlalu menekankan pada konteks mellow. Konflik dianalisa dengan intensitas yang tidak terlalu meledak-ledak. Iringan musik-musik folk-rock dan ballada membuat feel film yang terasa membumi dengan issue yang biasa dihadapi oleh sehari-harinya.

Pada intinya 'Shelter' berbicara tentang coming-out-age serta menyikapi bagaimana menjadi diri sendiri tanpa harus kehilangan ikatan dengan orang-orang disekitar kita. Untuk itu Trevor Wright mampu memberikan kewajaran dalam kesubtilitasan karakternya sedangkan Brad Rowe seperti seorang sparring partner yang setimpal dan saling melengkapi. sebagai karakter yang lebih tua, Shaun seperti seorang mentor yang memberikan enlightment sekaligus teman yang bisa diandalkan bagi Zach. Ia adalah shelter bagi Zach!

March 25, 2008

'THE MIST': Ada Sesuatu di Balik Kabut


Produksi: Dimension Films (2007)
Sutradara: Frank Darabont
Cast: Thomas Jane, Marcia Gay Harden, Toby Jones, Laurie Holden, William Sadler

Genre: Horor/Thriller/Drama
Durasi: 125"
Release Date: 21 Nopember 2007 (USA)
My Grade: 3.5 out 5

Mist_xlg_1 Terlepas dari nama besar Frank Darabont yang telah sukses mengarahkan film-film berdasarkan karya Stephen King lainnya menjadi karya yang berkelas (The Green Mile, Shawsank Redemption), tetap saja keraguan hinggap dipikiran, apakah film 'The Mist' ini akan sebaik karya-karya Darabont sebelumnya itu.
Premisnya sangat khas film horor-thriller, sekelompok orang sebuah kota kecil terperangkap di sebuah swalayan saat bergulung-gulung kabut tebal tiba-tiba menyelubungi seisi kota. Masalahnya bukan hanya jarak pandang yang terganggu, namun ada sesuatu yang mengerikan dibalik kabut dan itu mengincar nyawa manusia.

Maka dimulailah pembantaian satu-demi-satu orang-orang yang ada di Swalayan tersebut, sedangkan sisanya berkemelut, apakah pergi menerobos kabut untuk menyelematkan diri atau tetap tinggal menunggu ada yang menyelamatkan?

Tentu saja, apa sih yang bisa diharapkan lebih dari cerita semacam ini. Sangat tipikal dan telah berulang-ulang menjadi pakem dalam film bergenre sejenis. Masalahnya kita membicarakan Frank Darabont sebagai orang dibelakang layar disini. Ternyata ia memang piawai sekali dalam merangkau adegan menjadi sebuah narasi yang mencekam, mendebarkan, sekalugis dramatik dalam proposi yang seimbang.

Darabont lebih memfokuskan pada konflik yang terjadi diantara orang-orang tersebut dan ia dengan sangat berhasil membangun simpati penonton pada sebagian karakternya dan antipati pada karakter lainnya. Padahal jelas-jelas ia menggambarkan karakter-karakter tersebut di ranah abu-abu, bukan hitam atau putih yang sebagaimana menjadi tipikal dalam film sejenis. Unsur kengerian tetap dimasukkan secara berkala, namun prioritas tetap pada dramatisasi dan progresi konflik kepentingan karakter-karakter tadi.

Unsur streotype dan formulaic direduksi seperlunya dan saat diperlukan penjelasan, maka penjelasan tersebut lebih kepada "hutang" yang harus diberikan kepada penonton tentang apa yang sebenarnya terjadi, daripada benar-benar diperlukan.

Film lebih bercerita tentang dilema serta krisis moralitas disaat orang-orang menghadapi masalah yang mengancam jiwanya dimana keselamatan sepertinya telah menjadi barang yang teramat mahal. Dan adegan klimaks yang menggetarkan sepertinya mewakili dengan tepat!

'The Mist' adalah jenis horor yang selama ini saya rindukan. Sangat jarang sekali ada film yang benar-benar "horor' seperti film ini. Gelap, moody, intens dan atmosferik. Direkomendasikan.

February 27, 2008

'NO COUTRY FOR OLD MEN': A Mesmerizing Tale of Bloody Rampage


Produksi: Miramax/Paramount Vintage (2007)
Sutradara: Ethan & Joel Coen
Cast: Tommy Lee Jones, Javier Bardem, Josh Brolin, Kelly Macdonald, Woody Harrelson

Genre: Drama/Thriller
Durasi: 122"
Release Date:  21 November 2007  (USA)
My Grade: 4.5 out 5

No_country_for_old_men_1 Setelah menyelesaikan membaca novel "No Country For Old Men" karya Cormac McCarthy, terus terang saya merasakan kebingungan yang luar biasa tentang apa sebenarnya yang terkandung dalam cerita dari novel yang dibuatnya tersebut. Rasanya inilah novel terlama yang pernah saya selesaikan membaca akibat harus mengulang sampai dua kali (terkadang tiga kali) membaca setiap halamannya.
Novelnya sendiri berseting tahun 1980 dan bercerita tentang seorang sheriff tua bernama Ed Tom Bell dalam menghadapi kasus serangkaian pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pria psikopatis bernama Anton Chigurh yang sedang mengejar seorang pria bernama Lyewllin Moss, karena Moss melarikan sejumlah besar uang panas. Sepanjang isi novel rasanya hanya bercerita tentang Chigurg dan Moss, sedangkan porsi sheriff tua rasanya sedikit sekali.

Beruntung kemudian saya berkesempatan untuk menyaksikan film adaptasinya yang diarahkan oleh Coen bersaudara. Ed Tom dimainkan oleh Tommy Lee-Jones, Chigurh oleh Javier Bardem dan Moss oleh Josh Brolin dengan Kelly Macdonald sebagai Carla Jean istri Moss dan Woody Harrelson sebagai Carson Wells.

Secara esensi, Coen bersaudara terasa sangat setia sekali dengan jalan cerita serta pengadeganan yang digambarkan oleh McCarthy dalam novelnya. Tentu saja proses penyesuaian harus tetap dilakukan dengan dilakukan perombakan-perombakan kecil demi kepentingan durasi.

Pada dasarnya novel McCarthy berjalan dengan pola yang cukup linear dan tidak berbelit-belit, sehingga Coen bersaudara dapat mengambil mayoritas isi novel ke dalam filmnya. Coen bersaudara sendiri mengeksekusi filmnya dalam tempo yang lumayan lambat akan tetapi merambat. Ini rasanya memang sangat efektif untuk Coen bersaudara dalam membangun ketegangan dalam nuansa suram, seperti yang diinginkan oleh novelnya. Mengenai masalah ini, bahwa novelnya menjual ketegangan dan kesuraman, terus terang baru saya sadari setelah menonton filmnya.

Plot yang seperti bertele-tele dalam novelnya ternyata berfungsi untuk menjaga intensitas dalam cerita tadi. Dengan iringan musik yang seminim mungkin, film terasa mencekam, menegangkan sekaligus tetap dramatis, karena pada dasarnya film memang ingin bercerita tentang dari sisi psikologis karakter-karakter manusiawi dalam filmnya, bahkan untuk pria sejenis Anton Chigurh, yang saat ini seperti sebuah penyakit sosial yang banyak melanda masyarakat kita.

Tentu saja dengan bintang-bintang seperti Jones dan Brolin, Ethan dan Joel Coen tidak harus pusing memikirkan dari segi karakterisasi. Mereka memainkan peran mereka dengan kekuatan yang memang sudah dipastikan didapat dari mereka. Namun, harus diakui, kekuatan utama dari film ini adalah akting dari Javier Bardem.

Bintang papan atas dari Spanyol ini memainkan karakter Anton Chigurh dengan sempurna. Rasanya tidak ada aktor lain yang mampu mewujudkannya. Oleh Bardem, Anton Chigurh dihindarkan dari kesan satu dimensi yang bisa saja terjadi jika diperankan oleh aktor yang kurang tepat atau tidak memahami karakter Anton Chigurh sebenarnya. Terus terang, satu-satunya film Bardem yang saya tonton cuma 'Second Skin' atau 'Segunda Piel', saat ia memainkan karakter pria yang melakukan perselingkuhan dengan seorang pria beristri! Walaupun berjenis melodrama, namun Bardem menyematkan kelas tertentu dalam film tersebut, sehingga saya yakin pada dasarnya ia memanglah seorang aktor yang berkarakter.

'No Country For Old Men' adalah jenis film yang memerlukan konsentrasi khusus dalam menyimaknya. Ia bukanlah jenis drama yang menyenangkan atau gampang disimak, walaupun pada dasarnya jalan ceritanya sederhana saja. Film yang berjalan dalam feel nan gloomy, seakan-akan ingin menegaskan kompleksitas serta kerasnya kehidupan yang harus dijalani oleh karakter-karakternya. Ini terasa berjalan dengan efektif di filmnya. Dan untuk ini tabik bagi Coen bersaudara yang berhasil membangun dunia yang keras sekaligus realistis tadi.

Dan tentang novelnya, saya harus akui kalau yang saya baca itu dalah versi terjemahan Bahasa Indonesianya. Setelah menyaksikan filmnya, rasanya saya bernafas lega karena mengira saya begitu bodohnya untuk mengurai maksud dan esensi cerita dalam novelnya. Ternyata semua berjalan dengan takarannya yang pas. Tidak ada yang mendapatkan porsi lebih atau kurang. Oleh karena itu, jelas yang saya bisa salahkan untuk kekurang pahaman saya terhadap novel tersebut adalah penerjemahnya yang ternyata tidak cukup pintar untuk menyadur novel cerdas tersebut dalam bahasa yang mudah dipahami. Atau jangan-jangan dia yang tidak cukup pintar untuk menangkap maksud novelnya? Siapa tahu?

February 20, 2008

'MICHAEL CLAYTON': The Good, The Bad, and The Ugly of The Truth


Produksi: Samuel Media (2007)
Sutradara: Tony Gilroy
Cast: George Clooney, Tilda Swinton, Tom Wilkinson, Sidney Pollack

Genre: Drama/Thriller
Durasi: + 120"
Release Date:  05 Oktober 2007 (USA)
My Grade: 4 out 5

Michael_clayton_2 'Michael Clayton' adalah sebuah thriller, tapi bukanlah jenis thriller yang mengandalkan ketegangan non-stop atau kengerian. Ia lebih menekankan suspensi cerita serta karakterisasi dan dinamika plot yang cerdas. Itulah 'Michael Clayton'.

Michael Clayton (George Clooney) adalah seorang mantan penuntut hukum yang kini bekerja sebagai seorang fixer di sebuah firma hukum yang bernama Kenner, Bach & Ledeen. Tugasnya disini adalah untuk membereskan masalah melalui jalan belakang agar nantinya secara hukum urusan bisa jadi "lebih lancar". Walau berpenghasilan besar, namun kehidupannya tidaklah seindah yang dibayangkan. Ia telah bercerai dengan istrinya dan mempunyai hutang sejumlah besar uang. Ia sendiri tampaknya tidak bangga dengan pekerjaan yang dilakoninya.

Masalah timbul saat rekannya di firma, Arthur (Tom Wilkinson) justru memilih untuk membongkar kebusukan perusahaan yang seharusnya dibelanya. U/North, nama perusahaan tersebut, lantas mengutus Karen Chowder (Tilda Swinton), seorang pengacara yang telah lama bekerja untuk U/North untuk membereskan masalah ini. Maka boss Kenner, Bach & Ledeen, Marty (sidney Pollack) mengutus Michael untuk bertemu dengan Karen dan mengatur jalan keluar yang baik. Apalagi Arthur, yang kini keseimbangan mentaknya tengah terganggu, adalah teman karib Michael.

Pada saat Arthur ditemukan meninggal, maka Michael pun tiba diambang batas kebimbanganya, apakah memilih untuk melanjutkan penyelesaian kasus secara damai dengan Karen Chowder dari pihak U/North atau meneruskan "perjuangan" Arthur dalam membongkar kebusukannya. Masalahnya, secara finansial, Michael juga tengah dirundung masalah. Lantas, langkah apa yang harus ditempuhnya?

'Michael Clayton' pada awalnya mungkin mengingatkan akan film-film bertema hukum yang diangkat dari novel John Girsham yang dulu sempat menjadi populer. Akan tetapi, Tony Gilroy memutuskan untuk menjadikan filmnya menjadi sebuah politik kesadaran dalam bungkusan thriller suspens yang tidak meledak-ledak. Dalam pilihan "baik" atau "jahat" yang hitam-putih, 'Michael Clayton' seakan menunjukkan ada area abu-abu ditengah-tengahnya, walaupun pada akhirnya secara kontemplatif menyebutkan jika kebenaran mutlak untuk ditegakkan.

Kadang film bercerita dengan non-linear, namun menjelang paruh-akhir film kemudian konstan pada linearitas. Hal ini tidak dapat dinafikan sebagai upaya Gilroy untuk memberi aksentuasi pada cerita yang sebenarnya tidak terlalu luar biasa. Sederhana bahkan. Namun, Gilroy berhasil membangun rasa penasaran penontonnya dengan cara itu, karena informasi cerita tidak dapat diperoleh penonton dengan mudah. Untuk itu Gilroy membentuk tempo film yang medium untuk menahan emosi penonton agar tidak terlalu meledak-ledak dan akan tetap sabar untuk merelasikan diri dengan perkembangan plot dan karakternya.

Gilroy pun membangun karakternya dengan teliti, sehingga walau ada aura protagonis-antagonis disini, namun tidak dalam ranah hitam-putih tadi, melainkan mengindikasikan jika mereka adalah manusia biasa yang terjebak dalam kepentingan yang berada diluar diri mereka namun menyeret mereka untuk berpusar didalamnya. Elaborasi latar belakang karakter-karakter utamanya terasa pas dan informatif, tanpa terkesan melodramatis apalagi berlebihan.

'Michael Clayton' didukung pula dengan akting yang mumpuni oleh Clooney yang mampu melepaskan imej flamboyan-nya. Ia adalah Michael Clayton. Itu tidak terbantahkan lagi. Seakan-akan Michael Clayton itu adalah karakter yang riil bukan fiski. Rasanya akan aneh jika ada orang lain yang mencoba menjadi Michael Clayton.

Tilda swinton sendiri pada dasarnya memang adalah aktris watak yang berkarakter. Melalui film ini ia seakan menegaskan sudah seharusnya jika ia diganjar penghargaan atas kemampuan aktingnya. Begitu juga dengan Tom Wilkinson dengan segala pesona personanya. Sementara itu, agak janggal juga mengetahui jika sutradara kenamaan Sidney Pollack ternyata mampu berakting juga.

'Michael Clayton' adalah jenis film thriller yang mencoba tampil dengan lebih membumi dalam suspensi maupun logika ceritanya ketimbang mengandalkan sensasi yang menjadi formula dalam film sejenis. Walau begitu, ia tetap mampu tampil dengan menarik dengan karakterisasi yang menawan pula. Pada akhirnya, 'Michael Clayton' adalah sebuah thriller cerdas yang mengajak penontonnya untuk berfikir, ketimbang hanya duduk menonton.

February 07, 2008

'ATONEMENT': Sebuah Drama Akan Misinterprestasi Yang Jenial


Produksi: Universal Pictures (2007)
Sutradara: Joe Wright
Cast: Keira Knightley, James McAvoy, Saoirse Ronan, Romola Garai, Vanessa Redgrave

Genre: Drama
Durasi: 123"
Release Date:  07 Desember 2007 (USA)
My Grade: 4.5 out 5

Atonement_1 Lagi-lagi Joe Wright mengadaptasi novel menjadi filmnya, setelah 'Pride and Prejudice' yang diangkat dari karya klasik Jane Austen. Kali ini giliran novel (yang kabarnya) kompleks milik Ian McEwan, Atonement.

Berseting di tahun 1935, tepatnya disebuah rumah besar dipedalaman Inggris. Sorang gadis kecil, Briony (Saoirse Ronan) melihat kakak perempuanya, Cecilia (Kiera Knightley) dalam dekapan Robbie (James McAVoy), anak pengurus rumah mereka. Kekurang fahamannya akan peristiwa tersebut menuntunnya akan sebuah misinterprestasi akan perbuatan yang dilakukan oleh kakaknya dan anak penurus rumah tangga mereka. Sebuah peristiwa lain, yang terjadi sebelumnya, menguatkan asumsinya dan pada akhirnya menjadikan Robbie korban dari kekeliruan Briony dan menyebabkan perpisahan antara Ceci dan Robbie.

Sekian tahun berlalu, Briony (Romola Garai), bekerja sebagai seorang perawat. Ia kini telah memahami persitiwa yang terjadi sebelumnya. Namun, duka yang mendalam telah tercipta. Maka kini Briony berupaya mengembalikan orang-orang yang dikasihinya itu dalam kebahagiaan, yang mana juga akan menuntun pada kebahagiaanya sendiri.

'Atonement' adalah segalanya yang bisa diharapkan dari sebuah film berjenis period drama seperti ini. Seting, tata artistik, musik dan yang paling penting cerita. Hanya saja, kini Joe Wright melangkah kesisi yang lebih gelap dengan 'Atonement' setelah sebelumnya menampilan keceriaan dalam warna-warna cerah di 'Pride and Prejudice'.

Saya belum pernah membaca novel karya Ian McEwan tersebut, namun setelah menyaksikan filmnya, saya kemudian tersadar jika filmnya terasa seperti sebuah ringkasan dari isi utama dalam novel tersebut. Namun, saya yakin Christopher Hampton, sebagai penulis skenario, berupaya semampu mungkin mengambil cerita dalam novel tanpa meninggalkan esensi utamanya. Hanya saja, unsur ringkas tadi tetap terasa dan mengimplikasikan akan kerumitan dari materi aslinya.

Walau terasa sebagai "ringkasan", bukan berarti 'Atonement' sebagai film yang seadanya-secukupnya. Dengan dukungan kasting yang brilian, Knightley, McAvoy dan terutama Ronan, film terasa sangat ciamik. Apalagi pada paru pertama Joe Wright mengarahkan perguliran cerita dalamn tempo yang dinamis dengan bahasa gambar yang dinamis pula. Menjelang paruh akhir, temo kemudian melambat begitu juga dengan bahasa gambarnya, namun terasa tepat untuk melukiskan cerita yang tengah berlangsung.

Joe Wright sendiri pada dasarnya memang membagi filmnya menjadi dua bagian, dengan sedikit epilog dan prolog kemudian. Dengan sedikit mengambil pola dari 'Rashomon' karya Akira Kurosawa, membuat film menjadi lebih jenial. Alih-alih membingungkan, gaya tersebut malah terasa efektif dalam membantu penonton untuk memahami cerita.

Walau aktor-aktris utama adalah Knightley dan McAvoy, namun jelasnya film ini sendiri diambil dari sudut pandang Briony yang dimainkan dengan gemilang oleh Saoirse Ronan. Briony sendiri dimainkan oleh tiga aktris yang bebeda dengan veteran Venessa Redgrave sebagai Briony yang sudah berumur dan kontemplatif dalam epilognya.

Disinilah, 'Atonement' adalah sebuah film yang menceritakan kisah tragis tanpa perlu terkesan melodramatis apalagi cengeng. Dengan mengambil struktur cerita yang terdapat dalam novel sebagai materi aslinya, 'Atonement' adalah sebuah karya kontemporer yang pantas untuk dianggap klasik.

January 27, 2008

'EASTERN PROMISES': A Tale of the Dark Side of Humanity


Produksi: Focus Features (2007)
Sutradara: David Cronenberg
Cast: Viggo Mortensen, Naomi Watts, Vincent Cassel, Armin Mueller-Stahl

Genre: Drama/Thriller
Durasi: 96"
Release Date:  21 September 2007 (USA)
My Grade: 4.5 out 5

Eastern_promises_xlg Trailer. Love it or hate it! Trailer adalah sarana yang tepat untuk mempromosikan sebuah film. provokatif dan seduktif. Orang memutuskan akan menonton sebuah film biasanya memang berdasarkan empatinya setelah menyaksikan sebuah trailer. Kadang-kadang trailer begitu provokatif, sehingga melencengkan sebuah film dengan memperomosikannya dalam arah yang berbeda, sehingga menimbulkan ekspektasi yang salah. Trailer film David Cronenberg, 'Eastern Promises', bisa digolongkan pada bagian tersebut, seolah-olah memperlihatkan film sebagai sebuah aksi-thriller yang penuh dengan laga-aksi. Well, thanks to the trailer I'm afraid I watched it with the wrong expectation!

Film dibuka dengan adegan yang cukup sadis, mengingatkan jika film akan mengambil rute yang sama menjelang keseluruhan film. Kemudian kita dikenalkan dengan Anna Khitrova (Naomi Watts), seorang bidan di London yang membantu persalinan seorang perempuan muda. Sayang, sang perempuan tewas, meninggalkan seorang bayi dan buku harian. Dalam upayanya mencari keluarga sang bayi, ia berusaha menerjemahkan isi buku harian yang berbahasa Rusia (Walau berdarah Rusia, namun Anna besar di Inggris, sehingga tidak menguasai bahasa ibunya tersebut). Ini menyebabkan ia berkenalan dengan Semyon (Armin Mueller-Stahl), seorang pemilik restoran Rusia.

Yang Anna tidak ketahui adalah Semyon sebenarnya pimpinan sebuah kelompok Mafia dan isi buku harian tersebut mengancam eksistensi Semyon. Lantas, Semyon menugaskan Nikolai (Viggo Mortensen), tangan kanan anak laki-lakinya yang telengas, Kiril (Vincent Cassel) untuk mengurus masalah ini. Nikolai sendiri tampaknya mempunyai agenda tersendiri dan hubungannya dengan Anna berkembang dalam arah yang tak terduga.

Setelah menyaksikan 'Eastern Promises' secara keseluruhan, barulah kita sadar, bahwasannya Cronenberg sama sekali tidak menginginkan filmnya menjadi sebuah thriller tegang atau penuh intrik ala trilogi Godfather. sebaliknya, ia hanya ingin membuat sebuah film drama tentang hubungan antar manusia dengan latar belakang kekerasan didalamnya. Setidaknya itulah yang saya tangkap.

Ini membuat 'Eastern Promises' kering adegan aksi, walau tetap tersedia porsinya. Film berbicara dalam struktur drama murni dan Cronenberg, yang mantan sutradara film horor ini, dengan impresif mengemasnya dalam tempo yang tidak meledak-ledak, melainkan berjalan perlahan akan tetapi lancar bergerak. Tingkat kesadisan dalam film ini lumayan tinggi, namun dengan pendekatan yang dilakukan Cronenberg tadi, seakan-akan kekerasan tadi memang diperlukan untuk menggambarkan cerita yang ingin disampaikannya tadi (tunggu adegan perkelahian Mortensen di sebuah sauna dengan bertelanjang bulat!).

Viggo Mortensen sendiri dengan gemilang mentranformasikan dirinya menjadi seorang gangster Rusia. Pada awalnya karakter yang dimainkanya terasa gelap seperti warna hitam hingga kemudian bergradasi menjadi abu-abu, sesuai dengan motif sebenarnya. Naomi Watts sendiri rasanya memang bisa diandalkan dalam adegan-adegan yang memerlukan intensitas emosional seperti ini.

OK. Mungkin pada awalnya saya tertipu oleh trailernya. Namun, pada akhirnya saya merasa tidak tertipu dengan hasil akhir film ini. Walaupun kemudian arah ekspektasi saya bergerak kedalam arah yang berbeda, namun secara lebih positif, saya bisa mengatakan jika 'Eastern Promises' adalah salah satu film drama terbaik untuk tahun 2007.

December 26, 2007

'ONCE': All You Need Is Music


Produksi: Fox Searchlight (2007)
Sutradara: John Carney
Cast: Glen Hansard, Marketa Irglova

Genre: Drama/Musikal
Durasi: 85"
Release Date: 23 Maret 2007 (IRLANDIA)
My Grade: 4.5 out 5

Once
Terkecuali Bollywood, pada saat ini musikal bukanlah genre yang umum untuk dipilih oleh kebanyakan sineas di dunia. Walaupun pada era 50-an hingga 60-an musikal begitu berjaya, namun disaat realisme menjadi bagian yang tak terelakkan dalam sebuah film, maka gaya narasi musikal yang terkadang dianggap tidak membumi menjadi kurang populer. 'Once' adalah upaya John Carney, seorang sutradara sekaligus penulis dari Irlandia, untuk membawa narasi musikal dalam ranah film realis, tanpa harus kehilangan inti dari sebuah film musikal itu sendiri.

Ceritanya sederhana saja, seorang pria (Glen Hansard) adalah seorang musisi jalanan. Suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis muda penjual bunga keliling(Marketa Irglova) yang mengagumi lagu yang dinyanyikan oleh sang pria. Sang pria hanya tinggal berdua saja dengan ayahnya yang memiliki sebuah toko reparasi. Sang perempuan berasal dari Czechnya dan tinggal bersama dengan ibunya dan putrinya. Lantas keduanya melakukan jamming disebuah toko musik dan pada akhirnya sang perempuan membantu sang pria untuk membuat sebuah album demo.

Begitulah, sebagai sebuah drama, 'Once' sama sekali tidak mempunyai cerita yang sangat dramatis atau mengharu-biru. Bahkan cerita yang memang sudah sederhana berjalan dengan sangat linear. Namun, 'Once' didukung dengan lagu-lagu yang diintegrasikan dengan sangat padu dengan jalan cerita. Lagu-lagu tersebut terasa sangat emosional dan menyentuh, sehingga bisa dikatakan film secara umum bercerita melalui lagu-lagu ini. Lagu-lagu inilah yang membuat 'Once' terasa sangat powerful dan memberi kesan yang mendalam.

Disinilah hadir upaya Carney untuk membuat sebuah film musikal gaya baru, yang mana lagu-lagu dihadirkan bukan dengan gaya antah-berantah atau tiba-tiba adegan menjadi musikal. Film tetap berjalan sebagaimana layaknya film "normal", dan juga dipenuhi dengan dialog, namun lebih kurang 60 % dari durasi adalah lagu-lagu. Dengan latar belakang musikalitas kedua karakter utamanya, film mengizinkan lagu-lagu tersebut menjadi bagian dari narasi, tanpa harus kelihatan tidak realistis, karena lagu-lagu tersebut ditembangkan dengan cara yang paling umum dilakukan dalam keseharian kita.

Penggarapan Carney dalam filmnya adalah realisme, sehingga secara teknis film memakai pendekatan ala dokumenter, sehingga membuat film terasa lebih nyata. Hal ini mungkin memang disengaja oleh Carney, karena kedua aktor utamanya, Glen Hansard dan Marketa Irglova sama sekali bukan aktor-aktris profesional, melainkan musisi sejati. Bahkan pada awalnya Hansard sebenarnya dideskripsikan sebagai pengkomposisi lagu-lagu dalam film. Saat Carney mengkastingnya menjadi pemain utama, maka selanjutnya Marketa Irglova yang baru berusia 17 tahun, rekan Hansard dalam membuat lagu-lagu dalam film diajak serta sebagai aktris utama.

Dengan teknik pengambilan gambar film yang bergerilya, maka Hansard dan Irglova dapat berakting dengan lebih alami tanpa harus terkesan dibuat-buat atau amatiran. Untunglah porsi utama dari film adalah musikalitas, sehingga disegmen ini keduanya dapat lebih total dan memberikan penampilan yang sangat impresif, terutama untuk adegan lagu duet "Falling Slowly" atau penampilan solo Irglova dalam "The Hill" yang sangat emosionil.

Segmen musikal dalam film ini menunjukkan bahwa Hansard dan Irglova adalah musisi-musisi yang brilian, karena berhasil mengkomposisi lagu-lagu bergaya campuran folk dan rock yang captivating. Rasanya lagu-lagu dalam film sedap didengar dan memorable, terutama "Falling Slowly", "If You Want Me", "When Your Mind's Made Up" dan "Fallen From The Sky".

Lagu-lagu yang terasa romantis tersebut meresonansikan hubungan antara sang pria dan sang perempuan. Walaupun hubungan diantara mereka terasa jujur dan tulus bahkan cenderung platonis, namun chemistry diantara keduanya begitu kental dan aura romansa memenuhi udara dengan penuhnya. Bahkan film mempunyai beberapa elemen romantisme yang jenial, sehingga cocok pula bagi yang menyenangi film-film percintaan.

Dari segi teknis, dengan pendekatan ala dokumenter tadi, sebenarnya 'Once' terasa medioker atau biasa-biasa saja. Dengan penggunaan hand-held, kadang gambarnya terasa kurang fokus atau teknik pencahayaan yang kurang maksimal. Meski begitu, rasanya hal tersebut hanyalah bersifat minor dan tidak mengganggu narasi film secara keseluruhan.

Inti utama dari 'Once' adalah musikalitasnya itu tadi. Dalam durasi yang padat, film berhasil mewujudkan sebuah musikalitas dalam gayanya yang baru. Walaupun film musikal seperti 'Haispray' (2007) akan tetap menunjukan eksistensinya, tapi Carney, dengan sangat gemilang Carney membuktikan jika film musikal pun bisa menemukan gayanya yang paling mutakhir.

December 25, 2007

'THE BUBBLE': Love On The Edge Of Tragedy


Produksi: Metro Communications (2006)
Sutradara: Eytan Fox
Cast: Ohad Knoller, Yousef "Joe" Sweid, Daniela Wircer, Alon Friedmann, Ruba Blal, Shredy Jabarin

Genre: Drama
Durasi: 118"
Release Date: 29 Juni 2006  (ISRAEL)
My Grade: 4 out 5

The_bubble Melihat art-cover dari film Israel yang berjudul asli 'Ha buah' ini mau tidak mau mengingatkan akan seri 'Queer As Folk' atau film-film indie dalam subkultur GLBT (gay-lesbian-bisexual-transgender) di Amerika. 'The Bubble' seakan menyiratkan sebagai sebuah komedi romantis happy-go-lucky yang ceria dan mungkin juga dipenuhi dengan berbagai karakter yang stereotipikal yang kemudian beresensi kosong karena hanya mengumbar seks dan ketelanjangan. Well, a cover could be very deceiveful, right?

Berseting di Tel Aviv kontemporer, Noam (Ohad Knoller) baru saja kembali dari bertugas di sebuah pos pemeriksaan. Hari-harinya ia isi kembali dengan bekerja disebuah toko kaset dan menghabiskan waktu dengan teman serumah sekaligus sahabatnya, Lulu (Daniela Wircer), yang bekerja di sebuah toko parfum dan Yali (Alon Friedmann), yang mengelola sebuah kafé.

Hanya saja kali ini ada yang berbeda dikesehariannya. Ia bertemu dengan Ashraf (Yousef "Joe" Sweid), pemuda Palestina yang mencoba mencari pekerjaan di Tel Aviv. Dalam seketika mereka menjadi sepasang kekasih dan Ashraf kemudian menetap bersama dengan Noam. Bahkan Yali memberikan pekerjaanya di kafénya tersebut. Lantas, hari-hari mereka isi dengan penuh keceriaan.

Namun, meski sedemikian keras upaya mereka untuk menghindari topik politik dari agenda percakapan dalam keseharian mereka, walau bagaimanapun mereka tidak bisa menafikan situasi disekitar mereka. Dan secara perlahan dan pasti, saat situasi tersebut akan datang dan menguji kekuatan hubungan mereka.

Dengan pendekatan ala indie, 'The Bubble' seakan tampil sebagai sebuah realisme akan kehidupan di jazirah Israel-Palestina. Eytan Fox, pada awalnya sudah memberikan petunjuk jika filmnya ini tidak akan semanis pada paruh awal cerita, yang memang kadang terlihat seperti sebuah komedi romantis.

Menjelang paruh akhir, barulah film menunjukkan sisi sebenarya, dan Fox dengan cukup cekatan menggambarkan pergulatan batin yang harus dihadapi oleh Noam dan Ashraf.Bukan itu saja, sebagai seorang gay di komunitas Arab yang mayoritas muslim, tantangan bagi Ashraf tentu dua kali lebih berat dibandingkan dengan Noam.

Disini, Fox dengan gemilang memasukkan isu-isu sosial atas konflik Israel dan Palestina dalam cerita cintanya, tanpa harus terlihat dipaksakan melainkan integratif secara murni dalam pergeseran ceritanya.

Ya, pada intinya 'The Bubble' mengingatkan akan sebuah film romans ala Romeo-dan-Juliette. Hanya saja, dengan dua karakter utamanya yang terlibat romansa adalah berjenis kelamin laki-laki serta isu terorisme dan pertentangan politik yang kental.

Untuk segi homoseksualitasnya itu sendiri, rasanya Fox mengambil cukup kebebasan untuk bereksplorasi, sehingga ada beberapa bagian yang cukup grafis dan mungkin kurang nyaman untuk disaksikan secara umum. Walau begitu, Ohad Knoller dan Yousef "Joe" Sweid berbagi chemistry yang kental dan keduanya memainkan peran mereka dengan subtil. Sementara pemeran pendukung lainnya rasanya cukup komplementatif tanpa harus terlihat berlebihan.

Eytan Fox sendiri tampaknya harus berhadapan dengan bujet yang rendah, namun dengan semangat indie-realis tadi, ia berhasil menekankan filmya pada narasi bukan melulu visual, sehingga walau bagaimanapun, film tetap tampil dengan meyakinkan, from start to finish!

December 18, 2007

'HALLOWEEN': The Night He Been Re-made


Produksi: Dimension Films (2007)
Sutradara: Rob Zombie
Cast: Malcolm McDowell, Sheri Moon Zombie, William Forsythe, Scout Taylor-Compton, Danielle Harris, Brad Dourif, Tyler Mane

Genre: Thriller/Horror
Durasi: 121" (Unrated)
Release Date: 31 Agustus 2007 (2007)
My Grade: 3.5 out 5

Halloween_ver_deutch 'Halloween' (1978), pada masanya merupakan horor fenomenal, karena diproduksi dan dipasarkan secara independen, namun mampu meraih pemasukan yang besar sekaligus disukai kritikus dan, tentu saja, menarik perhatian banyak fans, yang menjadikan karya horror-meister John Carpenter ini menjadi cult-film. Sampai tahun 2001, Halloween sudah mempunyai tujuh sekuel, hingga pada tahun 2007 ini keluarlah versi terbaru dari versi asli serial tersebut yang ditangani oleh rocker-turn-director, Rob Zombie.

Garis besar ceritanya sama saja; Michael Myers diusia 10 tahun membantai keluarganya dan kemudian memasuki sebuah institusi kejiwaan. 17 tahun kemudian ia kabur dari tempat tersebut dan kembali ke kampung halamanya di Haddonfield, Illinois, untuk kembali menebar teror kepada sekelompok babysitter. Namun, seorang babysitter, Laurie Strode ternyata mempunyai hubungan yang khusus dengan Myers. Sementara itu, sang psikolog, Dr. Loomis berusaha mengentikan teror yang dilakukan oleh Myers.

Untuk versinya ini, Rob Zombie ternyata tidak ingin melakukan remake yang biasa-biasa saja. Ia benar-benar melakukan revisi terhadap jalan cerita dan melakukan pendalaman secara sisi psikologis, terutama terhadap perkembangan karakter Michael Myers tersebut. Jika John Carpenter lebih menekankan sosok Myers sebagai monster tanpa jiwa, bahkan semenjak ia kecil pula, maka dalam visi Zombie, sosok Myers adalah dari seorang anak yang terlihat normal hingga progresinya menjadi sosok monster yang beku dalam kesunyian namun sangat berbahaya. Sesuatu yang tidak dikembangkan di versi asli.

Inilah pembeda utama dari kedua film. Zombie mencoba membuat filmnya lebih kepada thriller-psikologis, sedangkan Carpenter murni mewujudkan Halloween sebagai teror-horor. Sayangnya, Zombie kemudian tidak konsisten dalam pakemnya, karena menjelang paruh film hingga menjelang klimaks, pada akhirnya filmnya tidak jauh-jauh dari sebuah thriller-slasher biasa, yang menampilkan pola umum yang sudah dipatenkan oleh 'Halloween' yang orisinil. Bahkan Zombie banyak mengambil adegan-adegan yang mau tidak mau mengingatkan akan film tersebut.

Secara teknis, film pun terbelah menjadi dua, dimana pada paruh awal film bergerak dalam struktur thriller dan paruh akhir yang murni horor. Inilah yang membuat film terasa kurang solid dan utuh, karena seperti menyaksikan dua narasi dalam satu film. Ini juga berpengaruh pada perkembangan karakter-karakternya. Sangat terasa sekali jika Zombie ingin membentuk karakter-karakternya sendiri, walau berdasarkan karakter-karakter yang sudah terlebih dahulu eksis. Mulanya ini cukup berhasil, seperti karakter Dr. Samuel Loomis yang diperankan oleh Malcolm McDowell. Pada awalnya karakternya terasa menyegarkan, unik dan eksentrik, namun pada akhirnya kembali menjadi karakter yang gloomy seperti yang dahulu dengan sukses diperankan oleh Donald Pleasence.

Karakter Laurie Strode, yang dahulu menggemilangkan nama Jamie Lee-Curtis sebagai debutan, kali ini bukan menjadi perhatian utama, karena Zombie memang sepertinya ingin menekankan pada karakter Myers itu sendiri. Pada akhirnya Scout Taylor-Compton, pemeran Laurie masa kini, terlihat tersia-sia dalam perkembangan karakternya dan pada akhirnya menjadi tipikal final girl dalam film sejenis. Sayangnya, Zombie sendiri rasanya pun kurang berhasil mengembangkan karakter Myers yang uni itu sendiri, karena ujung-ujungnya ia hanya monster pembunuh satu dimensi yang biasa kita temui dalam genre slasher.

However, walau mungkin bukan film horor terseram atau terbaik, namun 'Halloween' masih menyimpan sesuatu yang menarik untuk disimak, karena 'Halloween' versi Rob Zombie ini adalah film yang cukup kredibel dan Zombie pun cukup lancar dalam bercerita. Uniknya, ia banyak memakai aktor-aktor veteran dalam genre horor sebagai pendukung film, seperti Brad Dourif dan Dee-Walace Stone, juga Danielle Harris yang dulu menjadi herroine dalam seri Halloween ke 4 dan 5. Pada akhirnya, 'Halloween' rasanya lumayan sukses dalam visinya mereimajinasi visi John Carpenter dan Debra Hill, sebagai penggagas awal cerita, dan mewujudkannya dalam versi yang lebih kontemporer.

'HOSTEL PART II': The Illicit Dangerous Liaison Continues


Produksi: Lionsgate (2007)
Sutradara: Eli Roth
Cast: Lauren German, Bijou Philips, Heather Matarazzo, Richard Burgi, Rogert Bart, Jordan Ladd, Jay Hernandez

Genre: Thriller/Horror
Durasi: 93"
Release Date: 08 Juni 2007 (USA)
My Grade: 2 out 5

Hostel_part_iiDengan kesuksesan 'Hostel' maka memuluskan jalan Eli Roth untuk membuat sekuelnya yang hanya setahun setelahnya. Namun, entah mengapa, setelah menyaksikan 'Hostel Part II' ini, rasanya film ini tidak menawarkan sesuatu yang baru selain gender karakter utamanya.

Kali ini giliran tiga mahasiswi asal Amerika (German, Phillips, Matarazzo) yang berlibur ke Hostel maut tersebut dan pada akhirnya menjadi mangsa kelompok ekskulisif pembantai manusia tersebut.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dalam sekuel ini, selain pengulangan pola, sehingga kemudian kita sudah bisa membaca jalan ceritanya. Oleh karena itu, Roth kemudian menaikan eskalasi kesadisan dalam film ini, sehingga bagi yang berjantung lemah atau perempuan hamil diharapkan untuk tidak menonton film ini.

Setelah menyaksikan film ini kemudian kita seakan mempertanyakan kewarasan Roth saat membuat skrip untuk film ini. Film kemudian menjadi pointless dan tidak berarti lagi, saat Roth terlalu mengandalkan formula umum dan blood-and-gore.

Namun, untunglah Roth bukanlah sutradara yang buruk-buruk amat. Secara teknis, film tampil dengan lumayan menarik. Setidaknya bagi penggemar film horor, apalagi yang penuh dengan darah dan kesadisan, film ini akan menjadi penawar dahaga yang kering. Halah!!!!

Anyway, apa sih yang memutuskan dua laki-laki dari serial ‘Desperate Housewives’ (Richard Burgi dan Rogert Bart) untuk bermain di film ini?

December 09, 2007

'IN THE LAND OF WOMEN': In The Land of The Warmy Heartfelt


Produksi: Warner Bros (2007)
Sutradara: Jonathan Kasdan
Cast: Adam Brody, Kristen Stewart, Meg Ryan, Makenzie Vega, Olympia Dukakis, JoBeth Williams, Elena Anaya

Genre: Drama
Durasi: 97"
Release Date: 20 April 2007 (USA)
My Grade: 3.5 out 5

In_the_land_of_women_1 Jonathan Kasdan adalah anak dari Lawrence Kasdan (The Bodyguard), yang menunjukkan jika pepatah bahwa apel jatuh tidak jauh dari pohonnya adalah benar. 'In The Land of Women' adalah film yang ditulis dan diarahkan sendiri oleh Kasdan, yang menujukkan jika ia memang mencintai film sehingga berniat untuk membuatnya sendiri. Hasilnya, 'In The Land of Women' adalah sebuah drama dengan gaya penuturan yang santai dan tidak meledak-ledak namun efektif dalam penyampainnya.

Carter Webb (Adam Brody, The OC), 26 tahun, baru saja diputuskan oleh kekasihnya yang artis, Sofia (Elena Anaya). Carter yang juga seorang penulis skenario untuk film-film bergenre soft-core, kemudian memutuskan untuk merawat neneknya yang tengah sakit, Phyllis (Olympia Dukakis), di Michigan dan berharap tidak bertemu dengan perempuan yang lain lagi. Namun ia salah, karena Phyllis bertetangga dengan Sarah (Meg Ryan, When Harry Met Sally), seorang perempuan dewasa dengan dua anak perempuan, Lucy (Kristen Stwerat, The Messengers) yang remaja dan Paige (Makenzie Vega) yang baru berumur 11 tahun.

Carter mulai berteman dengan Sarah dan keduanya saling menujukkan rasa empati yang besar. Sarah sepertinya memiliki keluarga yang sempurna, namun kondisi dirinya serta hubungan dengan kedua anaknya serta sang suami pelan-pelan membawa Carter dalam kehidupan Sarah.

Setelah menyaksikan film secara keseluruhan, terus terang, cerita dalam film 'In The Land of Women' ini terasa biasa-biasa saja dan tidak meresonansikan sesuatu yang filosofis. Bahkan, nyaris tidak terjadi apa-apa sepanjang film!

Karakter-karakter, baik yang utama maupun satelit, sama sekali tidak mempunyai pengaruh yang berarti satu dengan yang lainnya, bahkan mungkin tidak mempunyai perkembangan yang mendalam.

Namun uniknya, film terasa sangat menghibur dan gampang dicerna. Jelas sekali ini adalah sebuah film yang character driven. Kita hanya perlu terhanyut dengan karakter-karakter ini dan selanjutnya kita terasa menjadi bagian dari ceritanya. Lebih jauh lagi, karakter-karakter ini terasa membumi yang membuat kita bisa merelasikan diri dengan mereka. Pada akhirnya, film terasa menyentuh tanpa harus terkesan menjadi melodrama yang berlebihan, walau tendensi untuk itu besar sekali.

Adam Brody dan Kristen Stewart dengan gemilang memainkan peran mereka. Terutama Stewart, yang semakin terlihat matang saja dalam berakting. Bukan suatu yang mengherankan jika nanti ia bisa sebesar Jodi Foster yang telah berperan menjadi ibunya dalam 'Panic Room' karya David Fincher yang lalu. Sementara Meg Ryan, walau bermain baik, namun entah mengapa kesan bintang komedi romantisnya masih susah untuk dihilangkan.

'In The land of Women' mungkin film kecil yang akan banyak dilewatkan oleh para moviegoers. Namun, film ini adalah sesuatu yang jarang ada di ranah Hollywood. Dengan menawarkan kehangatan hubungan antar manusia yang murni, 'In The land of Women' adalah film yang menghibur dan dapat membuat kita sebagai penonton merasakan 'sesuatu' setelah menyaksikannya.

'SAAWARIYA': Beloved in Such Picturesque Beauty


Produksi: Columbia Pictures (2007)
Sutradara: Sanjay Leela Bhansali
Cast: Rani Mukherjee, Ranbir Kapoor, Sonam Kapoor, Zohra Sehgal & Salman Khan

Genre: Drama/Roman/Musikal
Durasi: 150"
Release Date: 09 November 2007 (INDIA)
My Grade: 3.5 out 5

SaawariyaSanjay Leela Bhansali is a one of talented Bolywood's film director nowdays and has a distinctive style in film making that differs him from the others. Setelah 'Khamoshi', 'Hum Dil De Chuke Sanam', 'Devdas' dan 'Black', maka 'Saawariya' adalah bukti terbarunya. Diangkat dari cerita pendek karya Dostoevsky berjudul The White Nights, berkisah tentang kisah cinta empat malam antara Raj (Ranbir Kapoor) dan Sakina (Sonam Kapoor), yang dinarasikan oleh "gadis profesional" bernama Gulab-ji (Rani Mukherjee).

Raj hidup sebatang kara dan bekerja sebagai seorang penyanyi di sebuah klub malam. Ia tinggal disebuah guess house milik Lilian (Zohra Sehgal). Tanpa sengaja, pada suatu malam ia bertemu dengan Sakina, seorang gadis cantik disebuah jembatan. He's in love with her instantly. Tapi Sakina bukannya tanpa alasan berdiri dijembatan pada malam hari seperti itu. Ternyata ia menunggu kekasihnya yang bernama Iman (Salman Khan), yang berjanji akan menemuinya dijembatan tersebut, tepat pada hari lebaran Ied.

Raj berhasil membina hubungan pertemanan dengan Sakina namun untuk menjadi levih jauh lagi, tampaknya Raj harus melawan rival yang sepertinya hanya ada dalam benak Sakina. Atau benarkah Iman itu memang ada dan akan menepati janjinya pada Sakina?

'Saawariya' digambarkan Bhansali bagai melukis cat minyak di kanvas. Penggunaan warna biru dan hijau yang mendominasi layar membuat film terlihat sedap dipandang. Dengan menggunakan seting di studio, film terlihat seperti homage terhadap film-film lawas ala Raj Kapoor, yang kebetulan adalah kakek dari aktor debutan Ranbir Kapoor. Oleh karenanya, dibandingkan dengan 'Devdas' sekalipun, 'Saawariya' bahkan terlihat lebih theatrikal, walau tidak dengan skala yang lebih grande dari 'Devdas'.

'Saawariya' mungkin tidak terlihat nyata, bahkan mungkin surreal, karena tidak menggambarkan realitas secara konkrit, namun Bhansali bertujuan untuk membuat sebuah film art tanpa melupakan unsur komersial ala Bolywood-nya. Film ini seakan sebuah sarana untuk meluapkan visinya tentang sebuah film roman yang indah namun tetap tanpa melupakan unsur sinematografinya.

Untuk yang terbiasa dengan tipikal Bollywood masala, mungkin akan sedikit kecewa dengan film ini, karena Bhansali tidak melakukan kompromi untuk itu. Inilah yang mungkin yang sedikit mengganjal dari film ini. 'Saawariya' rasanya tampil dengan ultra-serius, padahal topik yang ditanganinya tidaklah sesulit itu. Mungkin, jika Bhansali meramunya dengan seikit ringan, film akan menjadi berbeda.

Dari jajaran pemainnya, 'Saawariya' beruntung didukung oleh aktor-aktris yang kompeten, karena walaupun Ranbir Kapoor dan Sonam Kapoor adalah debutan, akan tetapi Bhansali berhasil mengekstrak kekuatan akting mereka, sehingga film tidak tampak dibintangi oleh bintang-bintang rookie. Namun, tidak bisa dinafikan jika Rani Mukherjee adaah star dari film ini. Seakan menegaskan bahwa para debutan ini harus bekerja lebih keras jika hendak sampai pada level yang diraih salah satu diva akting Hindi ini. Salman Khan sendiri, walau tampil singkat, namun berhasil menanamkan kesan yang kuat dan impresif dan menegaskan eksistensi karakternya.

November 17, 2007

'KNOCKED UP': Menjadi Dewasa Itu Pilihan


Produksi: Universal Pictures (2007)
Sutradara: Judd Apatow
Cast: Katherine Heigl, Seth Rogen, Paul Rudd, Leslie Mann, Jay Baruchel, Jonah Hill

Genre: Drama/Komedi
Durasi: 128"
Release Date: 01 Juni 2007 (USA)
My Grade: 4.5 out 5

Knocked_up Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa adalah pilihan. Mungkin itu adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan tema utama dalam film 'Knocked Up' karya sophomore Judd Apatow setelah 'The 40 Old Year Old Virgin'.

Entah apa nasib masa depan Ben Stone (Seth Rogen, The 40 Old Year Old Virgin), pemuda setengah-pengangguran yang luntang-lantung tidak jelas kerjaanya, selain membuat website yang tidak selesai-selesai dengan isi yang kurang jelas, berganja dengan teman-temannya yang sama tidak jelasnya, atau sekedar bersenang-senang di klub. Sampai suatu hari, disebuah klub, ia bertemu dengan Alison Scott (Katherine Heigl, Bride of Chucky, serial Grey's Anatomy), seorang perempuan muda yang cantik dan tengah meniti karir di sebuah stasiun televisi.

Dipengaruhi oleh alkohol yang telah mereka minum dan mengendap dalam darah mereka, keduanya pun memutuskan tidur bersama. Dan sebuah kesalahan terjadi! Mereka yakin mereka menggunakan kondom, atau setidaknya itulah yang mereka pikir. Well, kenyataanya mereka tidak. Jadilah Alison mengandung. Ia menemui Ben dan ternyata Ben bersedia untuk membantu Alison mengadapi kehamilannya. Hubungan yang mulanya hanya sebuah one night stand pun menjadi hubungan yang lebih mendalam dan kemudian Alison dan Ben memutuskan untuk pacaran. Namun, mereka berdua sungguh berbeda dalam banyak hal. Bisakah keduanya mempertahankan hubungan seumur jagung tersebut dan kemudian bersama-sama untuk membesarkan anak mereka?

Sebagai sebuah komedi romantis, terus terang 'Knocked Up' setingkat lebih daripada hanya sebuah komedi yang ringan-ringan saja. Situasi dibangun sengan serealistis mungkin, sehingga adegan-adegan dalam film terasa lebih berkesan. Walaupun unsur roman-nya lebih menonjol daripada komedinya, namun film tetap terasa bernas dan jenial dalam menyampaikan maksudnya.

Dengan dialog-dialog yang mendalam dan tajam, Judd Apatow merangkai suasana komedi dan roman tadi menjadi satu kesatuan sebagai sebuah eksposisi dan deskripsi akan kehidupan kaum muda saat ini, terutama dalam proses menuju pendewasaan diri tadi. Konflik dibangun dengan cermat, sehingga plot berjalan dengan narasi yang ciamik. Walaupun kemudian mungkin bagi sebagian orang endingnya terasa klise, namun sepertinya hal tersebut lebih diperlukan untuk menciptakan kesan yang lebih mendalam. Dan beberapa aspek komedinya pun terasa seperti keluar dari sejenis film komedi seperti seri 'American Pie', walau pun rasanya memang tidak terlalu absurd. And I'm okay with it.

Judd Apatow juga beruntung didukung oleh akting kuat dari jajaran pemainnya. Pada mulanya saya under estimate dengan Katherine Heigl, namun terbukti ia adalah orang yang tepat untuk peran Alison. Begitu juga dengan Seth Rogan yang sangat mewakili kehidupan sosok pemuda sehari-hari yang ignorant, baik secara fisik maupun attitude-nya. Chemistry diantara mereka begitu kuat, membuat kita terhanyut dalam kehidupan mereka.

Yang menarik, bintang-bintang pendukungnya pun bersinar dalam bentuk mereka masing-masing dan membuat film terasa lebih solid. Leslie Mann dan Paul Rudd memainkan pasangan suami-istri kakak Alison dan suaminya dengan mengesankan, apalagi mereka pun mendapat porsi adegan yang cukup besar karena mendapatkan sub-plot mereka sendiri.

'Knocked Up' mungkin mempunyai beberapa klisenya tersendiri dan mungkin terasa terlalu manis atau bahkan vulgar dibeberapa bagian, namun tetap saja ia adalah film yang sukses dalam menjalankan misinya, menghibur penonton sekaligus melaksanakan fungsi kontemplatif yang cukup mendalam. Sesuatu yang jarang didapat dari tipikal komedi romantis biasa!

November 12, 2007

'1408': Welcome to The Room of Terror of Horror


Produksi: Dimension Films (2007)
Sutradara: Mikael Håfström
Cast: John Cusack, Samuel L. Jackson, Mary McCormack

Genre: Horor/Thriller/Drama
Durasi: 94"
Release Date:  22 Juni 2007 (USA)
My Grade: 3.5 out 5

Fourteen_hundred_and_eight '1408' adalah sebuah film thriller-horor yang diangkat dari cerita karya Stephen King. Horror Miester tersebut sudah puluhan tahun menulis kisah-kisah horor, sehingga mungkin dapat dimaklumi jika ia kemudian mencari varian cerita dengan menggali karya-karya lamanya, karena terus terang saja, '1408' sangat mengingatkan akan 'The Shining' yang kemudian diarahkan oleh Stanley Kubrick di tahun 70-an dalam bentuk film. Lantas, bisakah Mikael Håfström (Derailed) membuat film yang sama kelasnya dengan film tersebut. Mungkin jawabannya tidak, namun Mr. Håfström mampu membangun sebuah drama menegangkan dengan intensitas cerita yang cukup terjaga.

Ceritanya mungkin terdengar klise; Mike Enslin (John Cusack) adalah seorang penulis buku mengenai tempat-tempat berhantu. Ia terlebih dahulu melakukan penyelidikan terhadap tempat-tempat tersebut dan selalu bisa membuktikan jika kabar yang berkembang di masyarakat adalah mitos belaka. Sampai ia mendengar tentang keberadaan kamar 1408 di Hotel Dolphin, New York.

Telah ada hampir 100 tahun dan menewaskan 56 orang dan semuanya dalam tempo tidak lebih dari satu jam. Manajer hotel (Samuel L. Jackson) telah mengingatkan Enslin akan bahaya yang akan dihadapinya. Tapi Enslin yang skeptis bersikeras. Akhirnya ia pun menginap di kamar tersebut and then everything goes awful, off-course!

Satu hal yang pasti, secara visual '1408' cukup atmosferik dan dalam segi dramanya pun menyentuh ranah psikologis yang membuat 1408 terasa berbeda dengan banyak film horor lainnya. '1408' tidak hanya berupaya untuk menakut-nakuti, akan tetapi mencoba meneror dari segi emosi. Rasanya, Mr. Håfström cukup berhasil untuk itu. Hanya saja, mungkin karena terlalu menekankan pada cerita dan juga visual, '1408' menjadi tidak terlalu menyeramkan.

Akan tetapi nilai positif utama dari film ini adalah saat '1408' tetap terasa ciamik, walaupun secara umum berlokasi di hanya satu lokasi dengan John Cusack yang menonjol memenuhi layar. Bisa dikatakan ini memang filmnya John Cusack. Segala ekspresi emosi mampu diluapkan dari mimik, gestur, hingga vokal, sehingga kita begitu tersedot olehnya dan melupakan bahwa nyaris tidak ada karakter lain bersamanya untuk berbagi emosi.

'1408' sendiri bukanya tidak terjebak dalam klise yang sudah terpolarisasi dalam genre ini. Namun, '1408' jelas adalah film horor yang berbeda dengan tingkat kecerdasan diatas rata-rata dari banyak film horor yang lebih mengandalkan darah dan kekejian akhir-akhir ini. Jadi, jika Anda merasa sebagai penoton yang cerdas dan memiliki kematangan emosi yang lebih dewasa, '1408' adalah film horor untuk Anda.

November 11, 2007

'MR. BROOKS': Here Come The Talented Mr. Brooks


Produksi: MGM (2007)
Sutradara: Bruce A. Evans
Cast: Kevin Costner, Demi Moore, William Hurt, Dane Cook, Marg Helgenberger, Danielle Panabaker

Genre: Thriller/Drama
Durasi: 120"
Release Date:  01 Juni 2007 (USA)
My Grade: 4 out 5

Mr_brooks_2Pada mulanya saya berfikir, sebuah film thriller dengan bintang lawas seperti Kevin Costner dan Demi Moore sebagai bintang utama? Kok seperti déjavu ke tahun 90-an? Bukannya saya meremehkan. Era 90-an merupakan era dimana banyak film thriller yang bagus beredar (Silence of the Lambs, Single White Female, The Hand that Rocks the Cradle, Malice dan sebagainya). Hanya saja, apakah ini merupakan langkah tepat disaat banyak bintang yang lebih bersinar(no pun intended!)? Dan ada jaminan ini akan menjadi film yang memikat?

It's turn out that I'm wrong. 'Mr. Brooks' ternyata adalah sebuah thriller yang memikat dengan intensitas cerita yang mengikat para penontonya untuk tetap menyimak sampai akhir.

Apa yang kurang dari Earl Brooks (Kevin Costner)? Ia seorang pengusaha sukses, ayah yang baik dan suami ideal. Tidak ada yang mengetahui jika ia sebenarnya adalah Thumbprint Killer, seorang pembunuh berantai yang tenga dicari-cari. Namun Mr. Brooks sebenarnya tidak sendirian. Ia selalu ditemani oleh Marshall (William Hurt), alter ego-nya, yang sebenarnya adalah perwujudan rasa 'kejam' pada diri Mr. Brooks. Setelah jeda selama dua tahun, ia merencanakan pembunuhan terakhirnya untuk kemudian memutuskan untuk menghentikan "kecanduan" membunuhnya. Sayangnya, malam itu seorang fotografer amatiran yang mengaku bernama Mr. Smith (Dane Cook) melihat aksi Mr. Brooks. Entah dengan alasan apa, Mr. Smith malah meminta Mr. Brooks untuk mengajaknya adalam "aksi" berikut.

Sementara itu, seorang polisi wanita bernama Tracy Atwood (Demi Moore), berada tepat dalam penyilidikan untuk menangkap sang Thumbprint Killer. Tracy sendiri ternyata mempunyai masalahnya sendiri. Dalam perkembanganya, nasib Mr. Brooks akan bersilangan dengan Tracy. Hanya saja dalam bentuk apa?

Sebagian thriller psikologis dan sebagian suspense, terkadang 'Mr. Brook' terlihat sangat populis dengan memakai formula yang terkadang tipikal, namun terkadang mencapai level berkelas dengan idealismenya sendiri. Ini mungkin ganjalan utama 'Mr. Brooks' untuk menjadi sebuah thriller yang benar-benar klasik.

Terlepas dari itu, Bruce A. Evans, sebagai sutradara mampu membangun ceritanya dengan pola ketegangan yang menjalar, tanpa terasa kendor sama sekali. Ini merupakan film keduanya, setelah Kuffs pada tahun 1992. Jeda 15 tahun ternyata tidak membuat Evans kehilangan kekuatanya dalam membangun sebuah cerita yang solid.

Penggambaran karakter Mr.Brooks dilakukan dengan teliti oleh Evans, sehingga walaupun Mr.Brooks adalah karakter anti-hero, namun Evan mampu membangun empati sekaligus simpati penonton kepada Mr. Brooks. Rasanya, setelah 'The Talented Mr. Ripley' (1997) yang lalu, baru kali ini saya merasa kagum dengan karakter "gelap" seperti ini. Apalagi Kevin Costner dengan mumpuni masuk kedalam tubuh Mr. Brooks dan meniupkan ruh yang tepat untuknya. Terlepas dari kredit jelek yang terdapat dalam daftar filmnya akhir-akhir ini, Mr. Costner menunjukkan ia memang aktor watak kaliber Hollywood yang handal.

Tentu saja, karakter Marshall yang digambarkan dengan gemilang oleh William Hurt turut andil dalam menempatkan Mr. Brooks dalam posisi yang simpatetik, karena Marshall adalah perwujudan naluri amoral dan kebinatangan Mr. Brooks, sehingga ia merupakan orang yang tepat untuk dibenci!

Karakter yang dimainkan oleh Demi Moore sebenarnya mempunyai kans untuk tampil dengan sangat gemilangnya dengan Mr. Brooks itu sendiri, akan tetapi sayangnya skenario tidak memberikan kualitas yang lebih dalam elaborasi karakternya, sehingga ia menjadi sangat tipikal dalam jenis film seperti ini. Padahal, seharusnya ia dan Mr. Brooks mempunyai ikatan batin yang kuat, walaupun mereka tidak pernah saling bertemu. Meski berakting dengan baik, namun Demi Moore tetap terlihat kurang maksimal dalam menjadi Ms. Woods, sehingga karakternya kemudian seperti menjadi "kewajiban" dalam tuntutan isi film.

Karakter yang diperankan oleh Dane Cook sendiri cenderung sangat mengganggu dan membuat kita berfikir mengapa ia yang begitu "bodoh" merasa bisa mengimbangi Mr. Brooks yang brilian, sehingga kemudian karakternya terasa sebagai "alat bermain" Mr. Brooks dalam progresi cerita. Dane Cook sendiri sepertinya mengira ia sedang berakting dalam sekuel 'Good Luck Chuck', dan berharap agar Mr. Brooks cepat-cepat saja "mengeliminasinya"!

Terlepas dari aspek minornya, Mr Brooks is really gripping, from start to finish. Walau secara keseluruhan tetap terasa seperti film hiburan, namun dengan didukung jalinan cerita yang cerdas dan kekuatan akting bintang kelas A, 'Mr. Brooks' rasanya menjadi thriller dengan kekuatan narasi yang sangat ciamik, sesuatu yang rasanya jarang ada di banyak film akhir-akhir ini. 

'GRINDHOUSE'S PLANET TERROR': All Terror Break Loose


Produksi: Dimension Films (2007)
Sutradara: Robert Rodriguez
Cast: Rose McGowan, Freddy Redriguez, Marley Shelton, Josh Brolin, Naveen Andrews, Michael Biehn, Jeff Fahey, Bruce Willis

Genre: Aksi/Fantasi/Petualangan/Horor
Durasi: 105"
Release Date:  6 April 2007 (USA)
My Grade: 3.5 out 5

Paknet_terror'Planet Terror' adalah bagian Robert Rodriguez untuk persembahan kepada subgenre film-film eksploitatif tahun 70-an yang disebut dengan Grindhouse, setelah Quentin Tarantino dengan 'Death Proof'-nya. Di Amerika kedua film merupakan bagian dari double feature, sedangkan untuk peredaran global, kedua film beredar masing-masing dengan durasi yang lebih panjang.

'Planet Terror' mengambil ide dari film-film Zombie yang pada jaman itu mengalami era emasnya. Ditambah lagi dengan sentuhan aski-aksi eksplosif ala Rodriguez, menjadikan 'Planet Terror' sebagai sebuah laga dengan aksi yang intens dan (tentu saja) blood-and-gore.

Seorang penari go-go, Cherry Darling (Rose McGowan) kehilangan sebelah kakinya akibat serangan sekelompok zombie yang menginvasi sebuah kota kecil. Ia bertemu dengan mantan kekasihnya yang misterius El-Wray (Freddy Rodriguez) yang kemudian bersama-sama memimpin sekelompok orang, untuk melawan komplotan zombie tersebut.

Ceritanya terus terang sangat kelas B, jika tidak dikatakan amatiran. Tapi ini memang tujuan Rodriguez, aksi dalam kecepatan penuh tanpa pretensi apapun untuk menjadi tetap berkelas A, seperti yang dilakukan Tarantino dengan 'Death Proof'-nya. Bukannya 'Death Proof' tidak mengandung semangat bermain yang jahil sekaligus jenial seperti film ini, akan tetapi Tarantino sepertinya tidak tahan untuk tetap melekatkan imej tipikalnya terhadap filmnya.

Berbeda dengan Rodriguez yang sadar-sesadarnya ia membuat sebuah film homage dan berniat untuk mengeksplotasinya secara total. Selain cerita, maka gambar yang scratchy, missing reel, dan segala klise fisik lainnya diterapkan Rodriguez dengan setia.

Hanya saja kemudian yang sangat mengganggu adalah dimana Rodriguez terasa sangat bersemangat dalam "sentuhan artistiknya" tersebut sehingga terkadang terasa mengorbankan beberapa aspek filmis yang ideal. Bahkan kadang-kadang film terasa terlalu absurd dalam pengadeganan cerita. Sebagai contoh, missing reel terasa sangat menganggu jalan cerita, entah memang disengaja mengganggu atau tidak, menyebabkan film terasa terlalu attitude "serius dalam bermain-main".

Walau begitu, tetap saja 'Planet Terror' tetap tambil dengan sangat menghibur sekaligus berhasil menyampaikan "pesannya" dalam mereferensikan makna Grindhouse itu sendiri. Dan jika kemudian harus dibandingkan, rasanya 'Planet Terror' lebih direkomendasikan dibandingkan 'Death Proof'.   

September 24, 2007

'GRINDHOUSE'S DEATH PROOF': A Fun Homage to the Original Grindhouse


Produksi: Dimension Films (2007)
Sutradara: Quentin Tarantino
Cast: Kurt Rusell, Rosario Dawson, Vanessa Ferlito, Rose McGowan, Zoe Bell, Tracie Thoms, Kelley Robins

Genre: Thriller/Drama
Durasi: 114"
Release Date: 21 Juli 2007 (USA)
My Grade: 3.5 out 5

Death_proof_3'Death Proof' adalah bagian dari double feature 'Grindhouse', karya dua sahabat Quentin Tarantino dan Robert Rodriguez, yang mengarahkan segmen 'Planet Terror'. 'Grindhouse' merupakan ide awal milik Tarantino yang menggilai film-film kelas B zaman 60-an sampai 70-an, sehingga berniat membuat tribut terhadap film jenis-jenis tersebut. Usahanya sudah dimulai dengan 'Kill Bill'(2003), namun dengan 'Grindhouse' kini ia berusaha lebih total.

Untuk peredaran di Amerika Serikat, 'Death Proof' dan 'Planet Terror' adalah satu bagian dari 'Grindhouse' dengan durasi 3 jam lebih. Namun, untuk peredaran Internasional dan versi DVD, maka kedua film tersebut dipisahkan dan dirilis secara berbeda menjadi masing-masing satu film yang utuh. Oleh karena itu, maka durasi setiap film menjadi lebih panjang karena mengandung adegan-adegan extended. 'Death Proof' sendiri memiliki durasi 114 menit, lebih panjang 24 menit dari segmen dalam 'Grindhouse'. Oleh karena itu, pastinya 'Death Proof' dalam 'Grindhouse' pastilah lebih ringkas dan padat.

'Death Proof' versi extended cenderung sangat tipikal Tarantino dengan banyaknya dialog-dialog verbal yang kadang membuat kita garuk-garuk kepala karena rasanya tidak nyambung dengan isi cerita. Bahkan film ini sendiri pun seperti dua bagian film yang menjadi satu.

Struktur ceritanya adak aneh, tentang seorang laki-laki, bernama Stuntman Mike (Kurt Russel), yang terobsesi dengan sekelompok perempuan (Sidney Tamiia Porter, Venessa Ferlito, Cehryl Ladd, Rose McGowan) yang dijumpainya dalam sebuah bar. Stuntman Mike kemudian membututi gadis-gadis tersebut dengan mobilnya. Bagian kedua dari film, Mike kembali lagi membuntuti sekelompok perempuan (Rosario Dawson, Zoe Bell, Tracie Thoms, Mary Elizabeth Winstead). Hanya saja kali ini ia membuntuti kelompok yang salah.

'Death Proof' murni sebuah homage dari Tarantino untuk film-film grindhouse era 70-an. Mulai dari gaya penceritaan, musik latar skor, hingga kualitas gambar yang sedikit buram dan penuh dengan scratch, reel yang terpotong, dan sebagainya, sehingga film terkesan kuno, walaupun setingnya adalah dimasa sekarang. Namun, pada paruh kedua dengan karakter yang berbeda pula, gaya tersebut menghilang dan film pun lebih bernuansa kekinian.

Walau mempunyai adegan kejar-kejaran mobil yang intens serta kekerasan dan gore yang vulgar, namun sayangnya 'Death Proof' lebih banyak dalam eksposisi dialog. Inilah yang membuat bagi penonton awam yang mengharapkan limpahan adegan laga akan merasa kebosanan saat menyaksikan film ini, walaupun sebenarnya dialog-dialog yang ditawarkan Tarantino dalam skripnya sebenarnya cukup jenial dan atraktif, asal kita mau bersabar mengikutinya. Film dengan dua penekanan cerita yang berbeda juga bisa mengancam kenyamanan saat menontonnya.

Akan tetapi sebenarnya 'Death Proof' adalah film yang cukup komunikatif dan Tarantino rasanya lumayan berhasil dalam memberikan visinya tentang film-film eksploitatif di tahun 70-an. Terlepas dari 'keanehannya', 'Death Proof' adalah film yang cukup menghibur, asal kita memahami maksud dan tujuan dari film ini. Jika tidak, rasanya banyak orang yang akan mereferensikan film ini sebagai junk movie, sebagaimana film-film yang menjadi homage-nya.

September 03, 2007

'DISTURBIA': A Fun and Neat Little Thriller


Produksi: DreamWorks SKG (2007)
Sutradara: D.J. Caruso
Cast: Shia LaBeouf, Carrie Ann-Moss, Sarah Roemer, Aaron Yoo, David Morse

Genre: Thriller
Durasi: 105"
Release Date: 13 April 2007 (USA)
My Grade: 3 out 5

DisturbiaDibuka dengan adegan tabrakan mobil yang menawan, 'Disturbia' kemudian bercerita tentang Kale (Shia LaBeouf, Transformer), seorang remaja yang terpaksa menerima tahanan rumah, karena memukul guru bahasa Spanyolnya. Kaki kale dipasangi sehenis gelang yang akan membatasi ruang lingkup pergerakannya. Jika ia melawati batas harak tertetu maka gelang akan mengirimkan sinyal yang akan memanggil polisi. Ibunya, Julie (Carrie Ann-Moss, The Matrix) telah membatalkan langganan X-Boxnya, maka sebagai pengisi waktu ia mulai memata-matai aktifitas tetangganya, termasuk pendatang baru Ashley (Sarah Roemer, The Grudge 2).

Namun, Ashley mengetahui kegiatannya, saat ia bersama sahabatnya Ronnie (Aaron Yoo, Things That Go Bump in the Night) terlalu 'bersemangat' mengobservasi. Malah kini, Ashley bergabung untuk mengintip kegiatan tetangga mereka, termasuk yang menjadi santapan utama, Mr. Turner (David Morse, 16 Blocks) yang misterius. Kale mencurigai Mr. Turner sebagai pembunuh berantai yang tengah dicari polisi. Apalagi, kemudian Kale mencurigai jika pria tersebut