August 18, 2008

vote JOLIE for CATWOMAN!


images courtesy of Andy Wirawan

Sekuel The Dark Knight masih lama lagi, tapi orang banyak telah berspekulasi akan kemunculan karakter-karakter apa saja pada sekuelnya tersebut. Nama-nama seperti Robin, The Riddler, Penguin dan Catwoman diharapkan akan kehadirannya pada seri Batman ketiga versi Chris Nolan ini.

Rumor has it, Johnny Depp will fit the role for The Riddler, yang sebelumnya pernah dimainkan oleh Jim Carrey di Batman Forever (imho, the best Batman in the 90's). Saya yakin jika memang itu benar, Depp akan memberikan kekuatan versatilitas aktingnya dengan sempurna. Cross my heart!

Okay, enough about Depp, the most interesting  topic here is who's gonna be the infamous bitchy Catwoman? Well, many fans has fuzzing about
Angelina Jolie as the leather cat's outfit dominatrix. I'm 100 % agree with them.

Saya dengar bahkan pemain Catwoman versi jaman baheula dulu pun sudah merestui jika Jolie yang menjadi Catwoman berikutnya. Sebenarnya saya suka sekali saat Michelle Pfeifer memainkan alter-ego Selina Kyle tersebut, karena mempunyai kharisma tersendiri. Tapi itu di dunianya Tim Burton. Untuk dunia Nolan yang realistis, well, well, Jolie definitely is The Catwoman! Man, she got the attitude....!

A-MUST!!!!!
                            

August 05, 2008

WHY SO SERIOUS?

WhysoseriousSaya dan teman-teman mengklaim kalau instalemen terbaru dari franchise Batman, 'The Dark Knight' adalah film tentang superhero terbaik yang pernah kami saksikan. Benar-benar luar biasa. Jalinan cerita yang berliku, penuh dengan kecerdasan, fantastis namun tetap berpijak erat ke bumi. Setidaknya ini menurut pendapat rendah hati kami.

Sementara itu teman yang lain justru menyebutkan jika film tersebut biasa-biasa saja. Jauh dari apa yang diharapkannya; penuh dengan spesial efek, seru dengan aksi berkecepatan tinggi, layaknya sebuah film superhero kebanyakan. Bahkan unsur realitasnya dianggap menghianati esensi utama seorang Batman yang seharusnya other-worldly.

Ternyata ini memang merupakan dua opini yang kini terbentuk terhadap eksistensi 'The Dark Knight'. Sebagian mengatakan luarbiasa bagus sementara yang lain biasa-biasa saja untuk sebuah film fantasi.

Kalau dibiarkan saja, maka kedua kubu bisa saja berkembang menjadi polemik  berkepanjangan yang tak akan usai. Bahkan kalau terlalu intens, bisa saja akan berujung pada konflik yang tak berkesudahaan. Tapi sudahlah. Mengapa menanggapinya begitu serius? Toh ini kan cuma film?

Kembali ke film 'The Dark Knight' tadi. Saya baru saja membaca opini seseorang yang dengan cukup cerdas meresensi film tersebut, yang kemudian menyebut jika ada konteks yang sangat Amerika didalam film tersebut. Well, politically correct, bukankah rata-rata film Amerika memang mengandung setiap moral dan ide-ide yang Amerika. Mungkin maksudnya membawa popaganda idealisme Amerika?

Film memang terbukti sebagai media yang efektif untuk menggiring opini publik. Dari konteks awal sebagai sebuah tontonan sederhana menggantikan konsep pagelaran theater panggung sehingga memperoleh bentuknya yang kompleks saat ini, seperti menjadi produk dagangan dengan skala masif hingga menjadi alat propaganda yang hegemonistis.

Amerika sendiri adalah sebuah negara adikuasa yang (rasanya) bukan rahasia umum lagi berkeinginan untuk menjadi polisi dunia. Terlepas dari berbagai pro-kontra yang terjadi didalam masyarakat terhadap kebijakan pemerintahnya, rasanya Amerika secara umum memang ingin terlihat lebih unggul, sehingga tidak heran melalui film, sesuatu yang mereka sangat kuasai, terkadang ingin menunjukkan betapa mereka punya kemampuan untuk mempengaruhi orang untuk mengikuti gaya hidup mereka.

Seseorang yang seperti saya sebutkan diatas mencurigai jika sebenarnya 'The Dark Knight' adalah sebuah propaganda keyakinan. Propaganda westernisasi. Propaganda neo-imperialisme. Propoganda anarkisme. Jadi, untuk memerangi kejahatan dipakailah kekerasan karena sepertinya tindakan kuratif terhadap kejahatan itu sendiri hanya dapat dilakukan dengan kekerasan yang mana esensi dari kehatan itu sendiri. Bingung? Saya juga, hahaha.

Intinya, seseorang bisa saja dengan sangat serius menafsirkan perspektif sebuah film dan kemudian melahirkan perspektif lain yang menganulir kemungkinan dari maksud dan tujuan utama dari dibuatnya film tersebut. Ini memang hanya masalah persepsi. Dan setiap orang berhak untuk melahirkan persepsi mereka masing-masing.

Yang menjadi masalah adalah saat seseorang begitu menggilai sebuah film kemudian menkultuskan film tersebut dalam tingkatan akut dan kemudian menanggapi secara berlebihan dan kemudian mengganggu kehidupannya. Dalam arti yang lebih sederhana, bisa saja ia terjebak pada film yang diminati (atau tidak) tersebut dan kemudian akan terjadi friksi dengan kehidupan nyatanya jika apa yang dipercayainya dari film ternyata tidak sesuai dengan kenyaataan yang dihadapinya.

Film adalah film. Terlepas apakah dia bermakna ganda atau tidak, ia bertujuan untuk merefleksikan kehidupan nyata, bukan kehidupan nyata itu sendiri. Seharusnya kita tidak terlalu menjadikan film sebagai acuan kehidupan kita. Diperdebatkan boleh-boleh saja, akan tetapi biarkan itu menjadi wacana pengasah intelektual kita. Bukan lantas menjadi intelektual yang prima. Biarkan film menjadi kodrat sejatinya. Sarana hiburan sekaligus pencerah jiwa.

Sebagai penutup, tidak ada salahnya kita menimbang apa yang dikatakan oleh maestro sinema Perancis yang legendaris, François Truffaut, “Is the cinema more important than life?” Apakah film menjadi lebih penting dibandingkan dengan kehidupan itu sendiri? Rasanya tidak. Seperti kata Joker di 'The Dark Knight', “ Why So Serious?”. Santai saja. Seat back. Relax. Camera rolling. Light. Action!

May 01, 2008

The Duel of Ghostly Trains

Ada apa sih dengan trek Kereta Api Manggarai? Dua Rumah Produksi dengan dua sutradara yang berbeda berbarengan menganggat fenomena kereta hantu di stasiun tersebut. Mana yang lebih baik? Mungkin pertanyaan yang paling tepat aalah mana yang lebih buruk secara kedua sutradaranya memang sama sekali tidak berbakat dalam menggarap genre horror sama sekali (entah komedi); Nayato Fio Nuola (Hantu Ambulance) untuk "Kereta Hantu Manggarai" dan Nanang Istiabudi (Terowongan Casablanca) untuk "Kereta Setan Manggarai".

Berikut sinopsis masing-masing film:

Kereta_hantu_manggarai KERETA HANTU MANGGARAI
GENRE : Drama Horor Misteri
PEMAIN : Sheila Marcia Joseph, Melvin Iim, Stefanie Hariadi, Nadila Ernesta, Rina Hasim, Gianina Emanuela, Fendi Trihartanto
SUTRADARA : Nayato Fio Nuala
PENULIS NASKAH : Ery Sofid
PRODUSER : Gope T. Samtani, Subagio Samtono
RUMAH PRODUKSI : RAPI FILMS
DURASI : 89 menit
TANGGAL RILIS : 30 April 2008

SINOPSIS :

Kakak beradik Rossa (Sheila Marcia) dan Emily terjebak dalam sebuah pertengkaran, sikap egois dan keras kepala yang dimiliki Emily ternyata membuat Rossa lepas kontrol, ia pun mengusir adik kandungnya tersebut dari rumahnya. Emily pun pergi ke Bogor untuk menemui tantenya.

Ternyata Rossa tidak pernah bertemu dengan Emily sejak malam pertengkaran itu. Dalam kebingungan, Rossa menceritakan semua kejadian kepada sahabatnya, Tari yang kemudian menaruh curiga, bahwa Emily dibawa pergi oleh kereta hantu. Meski tidak pernah percaya, Rossa mengikuti ajakan Tari untuk menemui Bobby, orang yang menjalankan situs ‘Dunia Gaib’ dan sangat terobsesi dengan kereta hantu. Konon, kekasih Bobby meninggal secara tragis akibat naik kereta hantu.

Bobby mengajak Dody dan Peggy untuk menaiki kereta hantu dibantu oleh Ki Anom, seorang paranormal. Di stasiun Manggarai mereka melakukan ritual. Setelah muncul, mereka akhirnya menaiki kereta hantu tersebut. Berbagai peristiwa mengerikan terjadi selama mereka di atas kereta hantu. Akhirnya, mereka selamat berkat pertolongan Ki Anom.

Apa yang terjadi di dalam kereta hantu rupanya terus meneror dan mengikuti mereka satu persatu, terutama sosok hantu yang paling mengerikan. Satu persatu mereka tewas dan Rossa juga kerap mengalami penampakan. Rossa akhirnya terpaksa meminta Tari untuk bertemu kembali dengan Bobby. Bobby kembali membantu Rossa mencari Emily yang hilang diatas Kereta Hantu dengan bantuan Ki Anom. Dapatkah mereka menemukan Emily?

Kereta_setan_manggarai KERETA SETAN MANGGARAI
GENRE : Drama Horor
PEMAIN : Vera Lasut, Ocke Mulyawan, Ferry Agustian, Nelly Yustikarini, Renaldo Thompson
SUTRADARA : Nanang Istiabudi
PENULIS NASKAH : Kumar Pareek, Dhiyute
PRODUSER : Sagar Mahtani
RUMAH PRODUKSI : MM CREATIONS
DURASI : 100 Menit
TANGGAL RILIS : tba 2008

SINOPSIS :

Key, Fifi, Dado, Rey dan Fajar merencanakan sebuah liburan yang mengasyikkan di Bandung, namun perjalanan mereka sedikit terhambat, karena Dado harus mencari kabar dua orang sepupunya yang tak kunjung pulang selepas berlibur ke Bogor. Raut khawatir yang ditunjukkan oleh Om Dado saat mengatakan, bahwa kedua sepupunya telah pulang sejak semingu lalu membawa mereka ke dalam sebuah pencarian yang awalnya terlihat mudah.

Perjalanan membawa mereka ke sebuah jalan buntu yang menyesatkan, hingga kemudian kejadian aneh mulai bermunculan satu demi satu, rumah tua ditengah hutan, kakek dan cucunya yang misterius hingga kecelakaan yang menyebabkan mobil mereka tertabrak kereta. Berusaha mencari pertolongan, mereka pun berlari menyusuri rel menuju stasiun terdekat. Lelah dan panik menyebabkan mereka melupakan semua pesan dan cerita dari Om-nya Dado untuk tidak naik kereta pada malam jum’at. Merekapun naik kereta yang kebetulan sedang berhenti distasiun tersebut, kereta terakhir menuju Jakarta.

Rasa aman yang sempat melingkupi mereka berubah drastis saat satu demi satu mulai merasakan gelagat aneh yang ditunjukkan oleh para penumpang kereta, hingga ketika mereka sadar, bahwa kereta ini tak jua berhenti di beberapa stasiun. Berjuang untuk bisa bertahan, kebersamaan mereka pun dipertaruhkan karena untuk bisa keluar salah satu dari mereka harus menjadi tumbal.

April 12, 2008

'Hanya Untukmu' Bermetamorfosa Menjadi 'Ada Kamu, Aku Ada'


Hanya_untukmu_aka_ada_kamu_aku_ada_1

Masih ingat dengan poster film terbaru Rizal Mantovani yang ternyata mirip dengan film Korea? Nah, ternyata tim produksi film tersebut buru-buru merubah konsep poster sekaligus judulnya. Wah, biar engga jadi hype ya?

Kalau dilihat-lihat kok agak mirip film2 80-an ya? Warna2 kinclong gitu, berbeda dengan 'Hanya Untukmu' yang terkesan subtil. Judulnya pun semakin norak.

April 10, 2008

KARMA - TEASER POSTER

Teasernya keren..mudah2han filmnya juga keren

Karma


Judul : KARMA
Genre : Horor
Bahasa : Bahasa Indonesia
Produksi : Credo Pictures
Tahun Produksi : 2007
Sutradara : Allan Lunardi
Ide Cerita : Elvin Kustaman
Penulis Naskah : Salman Aristo
Eksekutif Produser : Insurjati, Liem Tjoen Kwan, Elvin Kustaman
Produser : Yeyet Sugriyati

Para Pemeran
:

Dominique Diyose sebagai Sandra
Joe Taslim sebagai Armand

H.I.M. Damsyik sebagai Guan (Tua)
Jonathan Mulia sebagai Guan (Muda)
Henky Solaiman sebagai Philip
Jenny Chang sebagai Ling Ling
Leny Jaya Dewi sebagai Giok Lan
Adi Kurdi sebagai Hariman                                              
Lucy Roswita sebagai Nani
Maria Glenon sebagai Mbok Ijah
Verdi Solaiman sebagai Martin

Penampilan Khusus:
Jaya Suprana sebagai Holianto

SINOPSIS

Keluarga Guan seharusnya keluarga yang bahagia. Tetapi, semua perempuan di keluarga itu meninggal secara misterius. Anak lelaki pertama dari Phillip, Martin, mendapat tekanan dari kakeknya, Thiong Guan, hingga membuatnya seperti sinting dan selalu mengurung diri. Ibu Martin meninggal setelah melahirkan Martin. Philip menikah lagi namun istri keduanya juga meninggal setelah melahirkan anak pertamanya, Armand. Armand yang tidak percaya dengan tahayul memilih untuk sekolah di Australia daripada mendapat tekanan dari kakeknya, Thiong Guan.

Kini Armand tiba-tiba pulang dengan membawa seorang wanita bernama Sandra, yang tengah hamil 6 bulan dan akan segera dinikahinya. Sandra yang telah diusir dari keluarganya karena hamil diluar nikah menaruh seluruh harapannya pada Armand.

Kedatangan Sandra disambut oleh lemparan gelas oleh kakek mertuanya. Teror demi terror juga dialami Sandra sejak malam pertama tinggal di rumah Guan. Sadar akan keadaannya sebagai perempuan terancam, Sandra pun bersikeras untuk mencari cara untuk menghentikan Karma yang terjadi pada setiap perempuan di keluarga Guan.

March 20, 2008

Poster "Hanya Untukmu" adalah Hasil Plagiat!!!!

Compare these images...

Hanya_untukmu_small_poster_2  Ditto_3

Apa perbedaan signifikannya??? Tidak ada bahkan sangat mirip. Film barunya Rizal Mantovani ini sangat mirip sekali dengan poster film Korea tahun 2000 yang berjudul "Ditto".

Miskin kreatifitas?

January 06, 2008

Do I Need Another Resolution?

Resolusi

Another year has gone. The brand new is come. It's time to make some new resolutions. But, do I actually need to make the new resolutions since I don’t accomplish my last resolutions?

Kalau dipikir-pikir, resolusi dibuat jika kita memang komit terhadap resolusi tersebut dan penerapan disiplin yang tinggi terhadap pelaksanaanya. Berbicara masalah disiplin, terutama terhadap diri sendiri, masih merupakan hal yang sulit untuk aku lakukan. Ya, tidak heran kalau tidak ada satupun resolusi yang sebelumnya telah dibuat bisa terlaksana untuk tahun 2007 yang lalu.

Ini bukan hanya berlaku untuk tahun yang lalu, karena resolusi-resolusi tersebut pada awalnya dikomposisikan lebih dari empat tahun yang lalu dan setiap tahun selalu diperbaruhui ikrarnya. Sayangnya, setiap tahun juga resolusi tersebut tidak pernah terwujudkan.

Pada malam akhir tahun kemarin, hati ini bimbang; “perlukah aku membuat resolusi baru atau tetap meneruskan upaya penerapan resolusi yang terunda-tunda selama beberapa tahun ini?”

Sampai kontemplasi berakir pada konklusi; “to hell with resolution!”

Seberapa pentingkah resolusi ini? Kalau dipikir-pikir sebenarnya tidak penting juga. Kalau memang berniat berubah, atau mengubah hidup, mengapa harus menunggu tahun baru? Rasanya setiap hari, jika pikiran dan tekad berkehendak, kita bisa saja melakukan perubahan atau melakukan rencana-rencana baru untuk hidup kita.

Jadi, akhirnya aku mengambil keputusan, “engga ada lagi yang namanya resolusi dalam hidup aku. Biar aja semuanya mengalir seperti air. What ever will be, will be-lah.”

Viva for Tomorrow!

December 03, 2007

Why The Hell KALA Isn't Nominated for The BEST MOVIE????

Citra The Indonesian Film Festival will be held in this December and the nomenees are been announced. But, the thing that makes me sick is Kala, that IMHO is the best Indonesian movie for this year, isn't nominated for the Best Film!!! Oh my God!!!! Are the jury are clueless or what??

BEST ACTORS

Fachry Albar (Kala)
Deddy Mizwar (Naga Bonar Jadi 2)
Dwi Sasono (Mengejar Mas-Mas)
Ringgo Agus Rahman (Get Married)
Tora Sudiro (Naga Bonar Jadi 2)

BEST ACTRESS

Dinna Olivia (Mengejar Mas-Mas)
Marsha Timothy (Merah Itu Cinta)
Nirina Zubir (Kamulah Satu-Satunya)
Poppy Sovia (Mengejar Mas-Mas)

BEST SUPPORTING ACTORS

Adi Kurdi (Anak-Anak Borobudur)
Gary Iskak (D`Bijis)
Jaja Mihardja (Get Married)
Lukman Sardi (Naga Bonar Jadi 2)
Winky Wiryawan (Badai Pasti Berlalu)

BEST SUPPORTING ACTREES

Henidar Amroe (Love Is Cinta)
Ira Wibowo (Mengejar Mas-Mas)
Meriam Bellina (Get Married)
Shanty (Kala)
Shanty (Maaf, Saya Menghamili Istri Anda)

BEST FILMS

Get Married (PT Kharisma StarVision)
Kamulah Satu-Satunya
(PT. O Nalareima Kreative Produksi)
Mengejar Mas-Mas
(PT. Depic Media Citra)
Merah Itu Cinta
(PT. Rapi Films)
Naga Bonar Jadi 2
(PT. Demi Gisela Citra Sinema & PT. Bumi, Prasidi BI-EPSI)

BEST SCRIPTS

Arswendo Atmowiloto (Anak-Anak Borobudur)
Monty Tiwa (Mengejar Mas-Mas)
Musfar Yasin (Naga Bonar Jadi 2)
Musfar Yasin (Get Married)
Raditya Key Mangunsong (Kamulah Satu-Satunya)

BEST DIRECTORS

Deddy Mizwar (Naga Bonar Jadi 2)]
Hanung Bramantyo (Get Married)
Hanung Bramantyo (Kamulah Satu-Satunya)
Rako Prijanto (Merah Itu Cinta)
Rudy Soedjarwo (Mengejar Mas-Mas)

BEST CINEMATOGRAPHIES

Fauzan Rizal (Get Married)
Ipung Rachmat Syaiful (Kala)
Regina Anindita (Sang Dewi)
Sidi Saleh (Merah Itu Cinta)
Yudi Datau (Naga Bonar Jadi 2)

BEST ARTS

Allan Sebastian (Get Married, PT Kharisma StarVision)
Allan Sebastian (Kamulah Satu-Satunya, PT. O Nalareima Kreative Produksi),
Rico Marpaung (Merah Itu Cinta, PT. Rapi Films)
Samuel Wattimena (Naga Bonar Jadi 2, PT. Demi Gisela Citra Sinema & PT. Bumi, Prasidi BI-EPSI)
Wencislaus (Kala, MD Picutres).

BEST EDITORS

Cesa David Luckmansyah (Get Married)
Monty Tiwa/Cindy R.A. Biere (Mengejar Mas-Mas)
Sasha Sunu (Merah Itu Cinta)
Tito Kumianto (Naga Bonar Jadi 2)
Wawan I. Wibowo (Kala)

BEST SOUNDS

Adityawan Susanto/Adimolana Machmud (Get Married)
Adityawan Susanto/Adimolana Machmud (Naga Bonar Jadi 2)
Arman A.R. Raniri/Monty Tiwa (Mengejar Mas-Mas)
Khikmawan Santosa (Kala)
Satrio Budiona/Yusuf A. Patawari (Merah Itu Cinta)

BEST MUSIC DIRECTORS

Addie M.S (Cinta Pertama)
Andi Rianto (Mengejar Mas-Mas)
Bobby Surjadi (Badai Pasti Berlalu)
Bongki BIP (Kamulah Satu-Satunya)
Dian HP (Love Is Cinta)

October 31, 2007

Not All of Us Can Afford to be Romantic!

Lizzie_and_mr_darcy "Not all of us can afford to be romantic, Lizzie", demikian kata Charlotte Lucas kepada sahabatnya Elizabeth Bennet dalam 'Pride and Prejudice' karya Jane Austen. Charlotte, yang tidak seindah Lizzie secara fisik, menerima pinangan Mr. Collins, sepupu Lizzie yang telah  ditolaknya saat melamar dirinya.

Charlotte Lucas: Mr. Collins and I are engaged.
Elizabeth Bennet: Engaged?
Charlotte Lucas: Yes.
Elizabeth Bennet: To be married?
Charlotte Lucas: Yes, Lizzie, what other kind of engaged is there? Oh, for heaven's sake, Lizzie, don't look at me like that. There is no earthly reason why I shouldn't be as happy with him as any other.
Elizabeth Bennet: But he's ridiculous.
Charlotte Lucas: Oh hush Lizzie. I've been offered a comfortable home and protection. There's alot to be thankful for. So don't judge me Lizzie; don't you dare judge me!

Sunggih malang Charlotte. Karena memiliki rupa yang kurang menawan, sehingga ia menafikan eksistensi romansa bagi dirinya dan sangat bersyukur jika ada seseorang yang bersedia melamarnya. 'Pride and Prejudice' berseting di era Georgia di Inggris, namun rasanya sampai saat ini kasus ini masih banyak terjadi.

Rasanya memang betul yang dikatakan Charlotte. Romansa, mungkin ia memang barang mewah. Tidak semua orang rasanya dianugrahi kesempatan untuk mencintai dan dicintai kembali. Kemudian, saat ada 'penawaran' terhadap dirinya, ia menerima saja, walau mungkin saja ia tidak mencintai orang tersebut.

Kenapa ya, rasanya susah sekali mencari pasangan sejiwa itu, yang dapat berbagi romansa, suka, duka dan tentunya kehidupan?

September 10, 2007

10 Movies That Gives Me Creeps


One of my friend ask me (well, demand me is suits it more  )to make my Top-10-Horror-Movies. Actually, its kinda difficult to me since I love horror movies and have watched a lot of them. After taking some times to contemplated, I have decide that these movies are gives me creeps more than others. Add offcourse they all are my favorite:

01. The Others (2001)
02. A Tale of Two Sisters (2003)
03. The Ring (2002)
04. Ju On: The Grudge (2003)
05. Jeepers Creepers (2001)
06. Scream (1996)
07. Pengabdi Setan (1982)
08. A Nigtmare On Elm Street (1984)
09. The Exorcist (1973)
10. Jelangkung (2001)

June 24, 2007

MY TOP 5

Sebenarnya saya tidak punya kebiasaan membuat peringkat atau daftar film-film yang benar-benar saya sukai atau tidak, karena bagi saya terasa sangat subjektif. Namun, karena desakan beberapa teman :)), akhirnya saya memubuatnya. Akan tetapi saya hanya berani memberi peringkat sampai lima saja tidak 10, karena faktor kebingungan saya untuk mengurutkan sampai 10 buah. Jadi cukup hanya lima, karena film-film ini adalah yang saya benar-benar suka. Dan tidak ada Bottom List, karena bagi saya tidak ada film yang benar-benar jelek. Setiap film pasti dibuat dengan susah payah, sehingga rasanya kurang etis melabelkan film-film bottom. Anyway, here thet goes:

- MY TOP 5:
1. Le Fabuleux destin d'Amélie Poulain
2. Eternal Sunshine of The Spoless Mind
3. Puch Drunk Love
4. Crouching Tiger Hidden Dragon
5. Little Miss Sunhsine

- INDONESIA TOP 5:
1. Arisan!
2. Janji Joni
3. Ada Apa Dengan Cinta
4. Kala
5. Kejarlah Daku Kau Kutangkap

- HOLLYWOOD TOP 5:
1. Eternal Sunshine of The Spoless Mind
2. Punch Drunk Love
3. Little Miss Sunshine
4. The Hours
5. Seven

- MANDARIN TOP 5:
1. Crouching Tiger Hidden Dragon
2. The Wedding Banquet
3. House of The Fying Dagger
4. Green Snake
5. 2046

- KOREA TOP 5:
1. Windstruck
2. Innocent Steps
3. Tale of Two Sisters
4. Welcome To Dongmakgol
5. The Host

- INDIA TOP 5:
1. Kal Ho Naa Ho
2. VeerZara
3. Kabhi Alvida Naa Kehna
4. Black
5. Hum Dil De Chuke Sanam

SUSAHNYA JADI DIRI SENDIRI

Nesta_aldiSetelah menyaksikan film 'Coklat Stroberi' kemarin, saya jadi 'mikir'; ternyata memang susah untuk jadi diri sendiri, terutama untuk hidup di tengah kalangan masyarakat Indonesia yang patriarkhi seperti ini.

Aldi (diperankan oleh Marrio Merdhitia) sudah merasa 'gerah' dengan berpura-pura straight dan mengajak 'pacarnya', Nesta (Nino Fernandez) untuk lebih open-up their relationship. Tapi sayangnya Nesta tidak berpikiran sama. Dia bilang," loe pikir loe hidup dimana" (dengan kata lain bermaksud mengatakan jika menjadi gay di Indonesia sama saja dengan bunuh diri). Lebih lanjut dia mengelaborasi, "hubungan kayak gini 'gak punya masa depan!".

Setelah dipikir-pikir, sebenarnya Nesta dan Aldi nasibnya sungguh 'menggenaskan'! . Seriusnya, mereka tidak bisa menjadi diri mereka sendiri, karena banyak sekali tantangan dari lingkungan eksternal mereka yang akan mengkebiri keinginan terjujur mereka tersebut. Padahal kalau dipikir-pikir, mereka kan juga manusia biasa yang 'normal-normal' saja, bukan perampok atau pemerkosa anak orang. Mereka hanya ingin menjadi diri sendiri!

Rasanya tidak enak jika selalu berpura-pura, tapi sayangnya itu adalah jalan yang mau-tidak-mau harus dipilih, karena kita tidak hidup sendiri, tapi juga harus berdampingan dengan orang lain dan mayoritas orang lain tersebut tidak semuanya toleran dengan 'diri' kita, sehingga kita harus menjadi seperti yang diinginkan orang lain. Setidaknya mengikuti aturan yang menjadi standar oleh patriarkhi. What a living-in-Hell!

December 05, 2006

The Steamy HOT-HOT Mr. Bond!

Daniel_craig04Okay! Mungkin pada awalnya banyak yang kecewa, karena Pierce Brosnan sebagai pemeran James Bond yang telah menjadi favorit banyak orang akhirnya digantikan. Apalagi yang menggantikannya adalah seorang aktor Inggris yang, yah mungkin kurang terkenal. Aktor tersebut bernama Daniel Craig. Ketidaksetujuan tersebut diperparah lagi, karena secara fisik Mr. Craig dianggap sangat tidak relevan sebagai James Bond (baca: blonde, kekar, dan katanya sih jelek). Dengan kata lain ia sangat tidak sesuai dengan profil James Bond yang parlente (baca: Pierce Brosnan).

Namun, saat Casino Royale sebagai film terbaru dari franchise 007 keluar, sepertinya komunitas kontra tersebut semakin tereduksi, tergantikan dengan banyaknya kegaguman terhadap Daniel Craig karena berhasil menampilkan sosok James Bond yang lebih menyegarkan.

Ke-macho-an James Bond yang diaktualisasikan oleh Daniel Craig membuat banyak orang akhirnya mengidolakan dia. Terus terang, memang secara tampang beliau tidak ganteng-ganteng amat. Tapi secara fisik, Daniel Craig memang menghipnotis. Apalagi ia juga mempunyai kharisma tersendiri yang membuat kita bisa melekatkan pandangan kepadanya (no pun intended!).

Sepertinya Martin Campbell, sutradara Casino Royale sadar betul akan aura ragawi Daniel Craig yang bersinar tersebut, sehingga ia dalam banyak kesempatan di film tersebut memamerkan lekuk-lekuk tubuh Daniel. Sebagai contoh, ya gambar diatas. Mungkin ini memang trik baru dalam seni dagangan H'wood. Rasanya, di jaman baheula, hanya fisik perempuan saja yang diekspos. Namun, jika sering mengamati film-film jaman sekarang, memang rasanya kesetaraan gender sudah mulai merasuki dunia perfilman, khususnya dalam adegan buka-bukaan.

Apa penyebab hal ini? Mungkinkah para produser H'wood kian menyadari jika kaum perempuan saat ini juga mempunyai kebebasan dalam menikmati fisik lawan jenisnya? Atau mereka menyadari jika sekarang juga banyak lho kaum laki-laki yang menyenangi laki-laki lainnya. Ha? It's that true? Well, I think the veracity of it is still under questioning.Yang jelas, apapun ideologi politis H'wood saat ini tentunya tergantung akan perkembangan atau perubahan trend yang berlaku di masyarakat, kan? However, in the spirit of capitalism, body sells, right?

Ngomong-ngomong soal Daniel Craig itu sendiri, berikut sedikti biodatanya (dikutip dari imdb.com):

Birth name
Daniel Wroughton Craig
Height
5' 11" (1.80 m)
Mini biography

Daniel Craig, one of British theatre's most famous faces who was waiting tables as a struggling teenage actor with the NYT, is now starring as James Bond in Casino Royale (2006).

He was born Daniel Wroughton Craig on March 2, 1968, at 41 Liverpool Road, Chester, Cheshire, England. His father, named Tim Craig, was a merchant seaman turned steel erector, then became landlord of 'Ring O' Bells' pub in Frodsham, Cheshire. His mother, named Carol Olivia Craig, was an art teacher. His parents split up in 1972, and young Daniel Craig was raised with his older sister, Lea, in Liverpool, then in Hoylake, Wirral, in the home of his mother. His interest in acting was encouraged by visits to the Liverpool Everyman Theatre arranged by his mother. From the age of 6, Craig started acting in school plays, and his mother, Carol, was the driving force behind his artistic aspirations. He was also a good athlete and was a rugby player at Hoylake Rugby Club.

At the age of 14 Craig played roles in 'Oliver', 'Romeo and Juliet', and 'Cinderella' at Hilbre High School in West Kirby, Wirral, UK. He left Hilbre High at 16 to audition at the National Youth Theatre's (NYT) troupe on their tour in Manchester in 1984. He was accepted and moved down to London. There his mother and father watched his stage debut as Agamemnon in Shakespeare's 'Troilus And Cressida'. As a struggling actor with the NYT, he was toiling in restaurant kitchens and as a waiter. Craig performed with NYT on tours to Valencia, Spain, and to Moscow, Russia, under the leadership of director Edward Wilson. He failed at repeated auditions at the Guildhall, but eventually his persistence paid off, and in 1988, he entered the Guildhall School of Music and Drama at the Barbican. There he studied alongside Ewan McGregor and Alistair McGowan, then later Damian Lewis and Joseph Fiennes, among others. He graduated in 1991, after a three-year course under the tutelage of Colin McCormack, the actor from the Royal Shakespeare Company. From 1992-1994 he was married to Scottish actress Fiona Loudon, their daughter, named Ella, was born in 1992.

Daniel Craig made his film debut in The Power of One (1992). His film career continued on television, notably the BBC2 serial 'Our Friends in the North' (1996). He shot to international fame after playing supporting roles in 'Lara Croft: Tomb Raider' (2001) and Road to Perdition (2002). He was nominated for his performances in the leading role in Layer Cake (2004), and received other awards and nominations. Craig was named as the sixth actor to portray James Bond, in October of 2005, weeks after he finished his work in Munich (2005), where he co-starred with Eric Bana under the directorship of Steven Spielberg.

Craig's reserved demeanor and his avoidance of the showbiz-party-red-carpet milieu makes him a cool 007. He is the first blonde actor to play Bond, and also the first to be born after the start of the film series, and also the first to be born after the death of the author Ian Fleming in 1964. Four of the past Bond actors: Sean Connery, Roger Moore, Timothy Dalton, and Pierce Brosnan have indicated that Craig is a good choice as Bond.


Personal quotes

"I go through life thinking it's all going to end tomorrow."

"I don't believe in self-promotion, really I can't be arsed."

September 20, 2005

Bahayanya Lensa Kontak

Informasi ini didapat dari milis. Sangat mengerikan>>>>>>>>>

YMID-JKT-ADM Lisa <jkt_lisa@yml.co.id> wrote:

Fyi ......

Tolong sebarkan ini ke semua teman-teman yang menggunakan lensa kontak. Jangan gunakan lensa kontak saat anda atau hadir di pesta BBQ atau sejenisnya yang  berhubungan dengan api...

Sebuah kisah nyata mengenai efek lensa kontak.... Ini terjadi pada seorang pemuda berusia 21 tahun, dia pakai lensa kontak selama pesta barbecue. Ketika dia sedang
memanggang daging, dia memandangi terus bara api itu.  Setelah beberapa detik kemudian, dia mulai berteriak minta tolong dan meloncat-loncat. Orang-orang disekitar
tidak tahu kenapa....Saat tiba di rumah sakit, dokter bilang kalau pemuda itu buta permanen akibat lensa kontak yang dipakai. Lensa kontak terbuat dariplastik dan hawa panas dari bara api telah melelehkan lensa kontak tsb.So, kasih tahu semua teman-2 anda.......

JANGAN PAKAI LENSA KONTAK SAAT DIMANA BERHADAPAN HAWA PANAS DAN API
Tolong sebarkan berita ini ke teman-teman anda.

Terima Kasih

August 25, 2005

Kuntilanak dan Horor Asia

Kalau kita perhatikan film-film horor Asia (Korea, Jepang), mayoritas menampilkan hantu perempuan berambut panjang (berbaju putih) yang mati penasaran. Biasanya suka menakut-nakuti mangsanya sebelum kemudian membunuhnya. Ternyata hantu perempuan ini memiliki banyak kesaman dengan hantu Kuntilanak di Indonesia. Kuntilanak sendiri di era film-film Old-School Indonesia telah habis menjadi objek eksploitasi dalam beberapa film horor Indonesia. Ini tentu saja menimbulkan pertanyaan, apakah perempuan Asia yang mati penasaran kemudian menjadi hantu sejenis ini?

Terlepas dari itu, dari negeri tetangga (Malaysia & Singapura), kuntilanak yang disana dikenal dengan Pontianak, juga mendapat tempat yang lumayan baik dihati pemirsa film horor. Untuk melihat bagaimana sebenarnya fenomena ini, dapat dilihat dari kutipan dari kfccinema.com berikut ini:

Scream Queen
24 Aug 2005 [ Asian Cinema News | Posted By: magic8 ]
Source: channelnewsasia 

She's said to be rather easy to spot. Clad in a flowing dress, she has long, curved fingernails and hair streaming down her back. She is a bloodsucker, wreaking havoc on those who have wronged her, or to lament a tragedy she has suffered, usually death at childbirth.

In the Philippines, they call her aswang. In Malaysia, she's the pontianak. The names may be different, but she provokes the same anxiety and terror wherever her tale is told.

Sounds familiar? Perhaps you're thinking of Hideo Nakata's Ringu (The Ring, 1998) or Thai horror flick Nang Nak (1999), directed by Nonzee Nimibutr, both of which feature wandering female spirits.

824maidp_1Now, during the Hungry Ghost Festival, The Maid is drawing the crowds. The horror flick, produced by MediaCorp Raintree Pictures, is currently No. 1 on Singapore's box office charts. It grossed a record-breaking $758,000 at the box office last weekend, the biggest opening weekend in Singapore for a horror movie.

The Maid, of course, isn't the first scream queen to hit our screens. Almost fifty years ago, there was Maria Menado.

The Rise of the Pontianak

In 1957, audiences in the region were terrified by Pontianak (The Vampire), in which B. Narayan Rao cast the beautiful Indonesian actress Menado. Not only did it run for over a month in the cinemas, the movie also spawned two sequels by Rao and a fourth film by Filipino director Ramon Estela. They were all screaming successes.

The first movie may have been shot a half-century ago, but the plot wasn't tame. It centered on an ugly little girl raised in the jungle. She consumes a forbidden potion to become a beautiful woman; the recipe was taken from a book for bomohs (Malay witch doctors),  which certainly wasn't meant for little girls.

Of course, the transformation came with a warning: Never touch human blood. Whoops.

824menado 824pontianak2 824pontianak3

Menado, who played both the beautiful Chomel and the ugly pontianak, devoured the role. I grew up listening to stories about pontianaks and plesits, supernatural insects that can get inside you and give you diseases, about disembodied heads flying in the air and getting inside your body or heart. I didn't believe them, but I grew up hearing those stories, recalled the 63-year-old.

Still, you have to wonder, why on earth did Menado decide to make such a hideous career move? At that time, nobody here had made a horror movie like that, so I wanted to be the first. It was so tiring, hours of sitting still when they put on the make-up, she told Today. But you always have to try new things in life!

Modern-day horror has changed. The image of the pontianak dashing through the jungle has altered, as Singapore filmmaker Djinn Ong, who paid homage to the genre with Return to Pontianak (2001), pointed out. We knew the old settings and styles wouldn't be suitable for the current generation, he said of his version. Not only do our Generation X urbanites not understand the culture and language, they won't even bother to try to understand it. So, we decided to juxtapose the increasingly-divorced urban population of South-east Asia against the fast-changing rural landscape.

You Can't Buy Back the Past

824returnIn Return to Pontianak, an Asian-American girl heads deep into the Borneo jungles with her friends because she is haunted by recurring dreams of her birth mother, whose last resting place is in Malaysia. Released around the same time as the infamous Blair Witch Project, Ong's film ironically saw more comparisons to the American horror movie, with its notoriously shaky visuals, than to ghost stories, from Malaysia's own golden age.

The Maid has also intelligently updated the horror genre by taking it out of the jungles, which can barely be found in modern Singapore, and into the heartlands and the lives of domestic workers and residents. But does that mean Singaporeans and Malaysians have forgotten about Menado's famous turn as a pontianak?

I don't feel forgotten at all! You're calling me and I have had several interviews and photo shoots, she said. I left the industry in 1963 after I married my second husband, the late Sultan of Pahang, and felt I had acted enough.

However, she said she was disappointed on one count: All the prints of the pontianak films were tossed into a lombong,  a mining pool, by co-owner of Cathay-Keris, Ho Ah Loke, as they were too difficult to maintain.

824pontianakpIt's so sad that all the prints of the original films were destroyed, she lamented. It's a pity that your generation in Singapore can't see them. It's very important to keep these Malay films. You can't buy back the past.

Despite the revival of the local horror genre with Return to Pontianak, The Maid and last year's Pontianak Harum Sundal Malam, by Malaysian filmmaker Suhaimi Baba, it's important to keep the legends alive.

Said cultural commentator and writer Gerrie Lim: Stars are remembered and become iconic only if people want to know more. There has to be a desire to remember the past and keep that memory alive. Why else is Elvis still around? But not everyone has forgotten Menado, not just yet. During the Screen Singapore Festival, she appeared with fellow actor Wahid Satay before the screening of their movie Sumpah Pontianak last week. They received warm applause from a packed house.

Singaporeans, it seems, will never forget the original pontianak.

July 25, 2005

Is Michael Bay Loosing His Charm on The Island?

Sungguh mengejutkan melihat hasil awal yang di dapat oleh The Island, film terbaru oleh Michael Bay, hanya mendapatkan sekitar $ 12.100.000, dalam masa edar minggu pertamanya (22 -24 Juli 2005). Mengingat kredibilitas Bay yang sebelumnya telah menghasilkan super hit seperti Armageddon, Pearl Harbour atau serial Bad Boys, maka ini sangat mengecewakan. Apakah The Island begitu jeleknya sehingga 'cuma' bisa menangguk dolar dalam jumlah yang relatif kecil tersebut, mengingat pula The Island, yang tentunya ber-ujet besar ini, di edarkan pada musim panas. Kenyataanya The Island justru sudah 'keok' di minggu perdananya, dimana posisi jawara masih dipegang oleh Johnny Depp dengan Charlie and Chocolate  Factory-nya.

Lincoln Six-Echo (McGregor) dan Jordan Two-Delta (Johansson) adalah dua orang yang tinggal di sebuah fasilitas canggih yang menampung warga yang selamat dari pencemaran. Fasilitas tersebut terlihat sangat sophisticated dan menampung ribuan warga, yang sama halnya dengan Lincoln dan Jordan, menunggu kesempatan untuk di pindahkan ke sebuah lokasi yang bernama The Island, yang konon merupakan satu-satunya kawasan di Bumi yang tidak tercemar. Ketika Jordan terpilih untuk ditransfer menuju The Island, bertepatan pula Lincoln menemukan rahasia mengerikan dari tempat mereka bernaung tersebut. Maka, bersama dengan Jordan, ia merencanakan untuk melarikan diri dari tempat tersebut, yang tentu saja tidak mudah dan merupakan alasan bagi Michael Bay, sang sutradara untuk mengeksekusi adegan-adegan aksi yang mendebarkan!

Jujur saja, pada mulanya saya mengira film ini akan seperti film-film yang diangkat oleh karya Philip K. Dick, seperti Minority Report (2002), yang mempunyai atmosfir yang kelam dan misterius, namun saya lupa kalau sutradaranya adalah Michael Bay, yang terbiasa membuat popcorn movies, sehingga jadilah The Island salah satu roller coaster-thrill ride, yang biasa dibuatnya. Namun, apakah kemudian film ini menjadi lebih jelek?

Michael_bayMenurut saya, kelemahan Bay dalam membuat film adalah dalam hal elaborasi cerita. Coba lihat saja Armageddon atau Pearl Harbour, yang sangat lemah dalam plot (terutama Peral Harbour), sehingga kita cukup terkesan hanya dengan adegan-adegan yang luar biasa thrillingnya. Hal tersebut terulang kembali di The Island ini. Pada awalnya cerita The Island memang terlihat menjanjikan, dengan nuansa yang cukup memancing rasa penasaran penontonnya. Namun, memasuki adegan dimana Lincoln dan Jordan melarikan diri, maka dimulailah adegan-adegan aksi yang terus terang sangat meremehkan intelenjensia penontonnya, dengan menampilkan banyak adegan-adegan yang tidak masuk akal, demi memuaskan adrenalin yang menonton film ini. Bagi saya, adegan-adegan aksi tersebut sudah cukup memuaskan, namun film ini seharusnya bisa lebih baik daripada sekedar aksi ledak-ledakan atau kebut-kebutan. Film ini mungkin akan berbeda jika digarap oleh Gore Verbinski, misalnya.

Saya sangat menghargai jika Michael Bay berusaha membuat film aksi yang cerdas, namun sayangnya ia kurang berani melepaskan image-nya sebagai sutradara handal dalam membuat popcorn movies. Film ini menjadi repetitif, padahal premisnya sudah menjanjikan sesuatu yang berbeda. Dari segi akting sendiri, sudah sangat terbantu oleh duet Ewan McGregor dan Scarlet Johansson, yang sayangnya di ujung film, karakter mereka pun berubah menjadi konyol dengan melakukan tindakan yang biasanya dilakukan oleh karakter-karakter film B.

Jadi, apakah Michael Bay sudah kehilangan 'sentuhannya'? Jawabannya mungkin tidak atau mungkin belum. Akan tetapi, ditengah kemonotonan kreatifitas film-maker di Hollywood, maka Bay seharusnya berpikir inventif dan berusaha keluar dari streotipikal film-filmnya dan mencoba yang baru. The Island pada dasarnya adalah film yang memenuhi standar yang baik untuk film yang menghibur. Akan tetapi, pada saat ini kita justru mempunyai ekspektasi yang lebih dari itu dari seorang Michael Bay.

June 08, 2005

Konsumersime Dan Gaya Hidup Remaja

Teenagers

Latar Belakang
Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja. Di kalangan remaja rasa ingin menunjukkan bahwa mereka juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar sangatlah besar, padahal mode itu sendiri selalu berubah sehingga para remaja tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya, sehingga muncullah perilaku yang konsumtif tersebut.

Pada mulanya belanja hanya merupakan suatu konsep untuk menunjukkan suatu sikap untuk mendapatkan barang yang menjadi keperluan untuk sehari-harinya dengan jalan menukarkan sejumlah uang sebagai pengganti barang tersebut. Pada saat ini konsep belanja itu sendiri telah berkembang sebagai sebuah cerminan gaya hidup dan rekreasi di kalangan masyarakat. Belanja adalah suatu gaya hidup tersendiri, dimana bahkan telah menjadi suatu kegemaran bagi sejumlah orang.

Belanja menjadi alat pemuas keinginan mereka akan barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan, akan tetapi karena pengaruh trend atau mode yang tengah berlaku, maka mereka merasa akan suatu keharusan untuk membeli barang-barang tersebut. Perilaku berlebihan inilah yang disebut dengan perilaku konsumtif (http://www.freewebs.com/kolektifbunga/konsumerisme.htm).

Ironisnya, gaya hidup yang konsumeristis ini semakin besar tuntutannya, sehingga apa yang sudah ada akan tidak mencukupi. Pola hidup yang konsumtif juga menampakkan kesenjangan yang semakin besar pada masyarakat, sehingga kalangan yang sebenarnya tidak mampu atau tidak memerlukan perilaku konsumtif ini turut mempraktekannya, dan kemudian ia bisa saja melakukan segala upaya dalam memenuhi keinginannya, sehingga bisa menyebabkan terjadinya hal-hal yang devian (Kusmin, dalam Waspada, Kamis, 31 Juli 1997).

Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja Tambunan, dalam http://www.e-psikologi.com/remaja/191101.htm).

Di kalangan remaja yang memiliki orang tua dengan kelas ekonomi yang cukup berada, terutama di kota-kota besar, mall sudah menjadi rumah kedua. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka juga dapat mengikuti mode yang sedang beredar. Padahal mode itu sendiri selalu berubah sehingga para remaja tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Alhasil, muncullah perilaku yang konsumtif.

Remaja adalah suatu fase dalam kehidupan manusia, dimana ia tengah mencari jatidirnya, dan biasanya dalam upaya pencarian jatidiri tersebut, ia mudah untuk terikut atau terimbas hal-hal yang tengah terjadi disekitarnya, sehingga turut membentuk sikap dan pribadi mereka.

Bagi tipe sosial kultural masyarakat Indonesia, penyesuaian pribadi dan sosial remaja banyak yang ditekankan dalam lingkup kelompok teman sebaya. Alasan pokoknya adalah bahwa kelompok teman sebaya merupakan lingkungan sosial pertama, dimana remaja belajar untuk hidup bersama orang lain yang bukan anggota keluarganya. Lingkungan teman ini merupakan suatu kelompok yang memiliki ciri, norma dan kebiasaan yang jauh berbeda dengan apa yang ada dalam lingkungan keluarga remaja. Dalam hal ini remaja dituntut memiliki kemampuan setelah itu baru menyesuaikan diri dan akhirnya dapat dijadikan dasar dalam hubungan sosial yang lebih luas (Mappiare, 1982 : 157).

Dalam pergaulannya, remaja biasanya mempunyai trend tersendiri yang dapat dilihat dalam perwujudan sikap mereka. Perwujudan sikap yang mencolok ini biasanya terjadi di masyarakat perkotaan, yang disebabkan karena kehidupan kota yang semakin kompleks dan penuh dengan dinamika.

Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja.

Perilaku konsumtif pada remaja sebenarnya dapat dimengerti bila melihat usia remaja sebaga usia peralihan dalam mencari identitas diri. Remaja ingin diakui eksistensinya oleh lingkungan dengan berusaha menjadi bagian dari lingkungan itu. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama dengan orang lain yang sebaya itu menyebabkan remaja berusaha untuk mengikuti berbagai atribut yang sedang in. Remaja dalam perkembangan kognitif dan emosinya masih memandang bahwa atribut yang superfisial itu sama penting (bahkan lebih penting) dengan substansi. Apa yang dikenakan oleh seorang artis yang menjadi idola para remaja menjadi lebih penting (untuk ditiru) dibandingkan dengan kerja keras dan usaha yang dilakukan artis idolanya itu untuk sampai pada kepopulerannya (Tambunan, dalam http://www.e-psikologi.com/remaja/191101.htm).

Menjadi suatu masalah ketika kecenderungan yang sebenarnya wajar pada remaja ini dilakukan mereka dengan secara berlebihan. Pepatah “lebih besar pasak daripada tiang” dapat terjadi di sini. Terkadang apa yang dituntut oleh remaja di luar kemampuan orang tuanya sebagai sumber dana, sehingga perilaku konsumtif tersebut telah menimbulkan masalah ekonomi pada keluarganya.

Saat ini kita hidup dan berada dalam alam komoditas yang sama sekali tidak memberikan kita pilihan lain selain mengkonsumsi dan mengkonsumsi, serta terus mengkonsumsi semua produk-produk pasar yang dikendalikan oleh sifat keserakahan akan properti dalam atmosfer kompetisi. Kita hidup di jaman modern, sebenarnya yang membuat jaman kita secara fundamental berbeda dari masyarakat yang pernah ada sebelumnya? Jawabnya adalah “konsumerisme”, atau lebih spesifik lagi biasa disebut dengan “komodifikasi”. Dalam masyarakat kita sekarang segala sesuatunya dibuat menjadi komoditas; barang atau jasa dapat diperjual-belikan dipasar. Tentu saja uang dan pasar telah ada sejak ribuan tahun, tapi mereka hanyalah bagian kecil dalam ehidupan masyarakat. Baru pada abad inilah ekonomi pasar menjadi gaya hidup yang dominan; dalam artian telah menguasai aspek kehidupan manusia (http://www.freewebs.com/kolektifbunga/konsumerisme.htm).

Permasalahan ini menjadi penting, karena remaja merupakan asset untuk kelangsungan masa depan bangsa. Untuk mengetahui bagaimana persepsi mereka mengenai konsumersime ini, kita akan mengetahui sampai sejauhmana konsumersime ini menggejala di tengah mereka, sehingga kita bisa mengambil sikap-sikap yang dapat mengantisipasinya lebih lanjut.

Perilaku Konsumerisme
Why_not Saat ini kita hidup dan berada dalam alam komoditas yang sama sekali tidak memberikan kita pilihan lain selain mengkonsumsi dan mengkonsumsi, serta terus mengkonsumsi semua produk-produk pasar yang dikendalikan oleh sifat keserakahan akan properti dalam atmosfer kompetisi. Kita hidup di jaman modern, sebenarnya yang membuat jaman kita secara fundamental berbeda dari masyarakat yang pernah ada sebelumnya? Jawabnya adalah “konsumerisme”, atau lebih spesifik lagi biasa disebut dengan “komodifikasi”. Dalam masyarakat kita sekarang segala sesuatunya dibuat menjadi komoditas; barang atau jasa dapat diperjual-belikan dipasar. Tentu saja uang dan pasar telah ada sejak ribuan tahun, tapi mereka hanyalah bagian kecil dalam ehidupan masyarakat. Baru pada abad inilah ekonomi pasar menjadi gaya hidup yang dominan; dalam artian telah menguasai aspek kehidupan manusia.
Tidak ada lagi hubungan yang jelas antara barang produksi dengan kegunaannya. Penimbunan fungsi akibat tinggi-rendahnya nilai kejeniusan artistik semu-lah yang membuat sifat konsumerisme manusia tidak mudah dihilangkan. Nilai kegunaan sebuah produk sudah tidak menjadi nilai dominan lagi dalam kehidupan manusia jaman sekarang, yang ada dibenak manusia saat ini hanyalah pencarian identitas diri dengan pengakuan yang dibuat-buatnya sendiri dengan senantiasa mengkonsumsi produk terbaru dari jaman ke jaman, seperti contoh: seseorang yang membeli barang yang lebih baru dan lebih bagus dari barang yang sama yang telah ia miliki sebelumnya, seperti: pakaian, sepatu, atau properti hidup lainnya.

Sifat konsumerisime semacam ini akan menimbun nilai fungsi atau kegunaan terhadap suatu barang yang telah ada dan ia miliki sebelumnya. Sifat seperti contoh diatas melukiskan tentang seseorang yang ingin mendapat identitas atau penghargaan yang dibuat-buat sendiri oleh dirinya, dengan membeli barang yang lebih baru dari yang pernah ada sebelumnya mempunyai harapan untuk adanya orang lain disekitarnya menilai atau memujinya dengan sepatah kalimat kagum: “baju kamu bagus”. Penghargaan semacam itu sangatlah tidak berguna sama sekali dan membuang-buang waktu untuk mengenakannya atau memamerkan agar banyak kalayak/orang melihat dan mengaguminya (http://www.freewebs.com/kolektifbunga/konsumerisme.htm).

Iklan merupakan budaya bentukkan kapitalis yang paling sering melakukan tindakan sexist. Tujuan utamanya adalah untuk menjual produk, karenanya para pembuat iklan menggunakan 1001 macam metode persuasif agar terciptanya kegunaan-kegunaan semu bagi produk-produk busuk mereka tersebut. Iklan selalu berusaha meyakinkan kita, bahwa kita membutuhkan sesuatu untuk menyempurnakan hidup kita, mendorong kita dan merayu kita agar kita jatuh hanyut dalam buaian belaian kepuasan semu dengan mongkonsumsi barang-barang yang mereka produksi.

Dunia periklanan adalah salah satu aspek yang tak terhindarkan dari keglamouran dunia media. Sebuah dunia yang hanya memiliki tujuan tunggal yakni mempertahankan sistem yang ada. Sistem ini adalah sebuah sistem opresif yang dikuasai oleh kaum elit-kelas dominan yang memecah-belah kita, membeda-bedakan kita lewat kategori-kategori seperti: gender, ras, agama atau kepercayaan. Mereka menghegemoni masyarakat dengan propaganda yang disebarluaskan melalui kebudayaan, media dan iklan, agar kita tidak lagi memiliki kebebasan sebagai individu. Kamu tidak punya apa-apa kecuali kamu melakukan hal-hal yang seharusnya kamu lakukan. Kamu sendirian, tidaka akan ada yang menerimamu, kamu butuh seseorang, kamu butuh sesuatu.
Tidak ada yang tersedia di dalam kebudayaan konsumerisme kecuali untuk membelinya, hal ini juga berlaku dalam bersosialisasi. Iklan dan sistem menjalin hubungan mutualisme yang sangat romantis. Dunia periklanan dan juga sistem yang melahirkannya merupakan anjing-anjing penjaga faham sexisme. Tidak terhitung jumlah iklan yang menempatkan wanita sebagai makhluk yang berpuas diri jika ia bisa tampil menarik aau semakin disayang suami karena menjadi perawat rumah tangga yang baik. Para wanita dalam iklan-iklan peralatan dapur, perawatan bayi, pemutih kulit atau jamu perapet vagina digambarkan sebagai orang-orang yang terobsesi dengan peran domestik mereka. Mereka begitu gembira saat deterjen mampu menghilangkan noda-noda dari kerah kemeja suaminya ataupun saat sebuah shampo membuat ketombenya tidak ketahuan sang pacar. Iklan-iklan tersebut mengatakan bahwa membeli produk sama dengan membeli kesuksesan, menciptakan metafor bagi arti “kesuksesan” dalam kehidupan seorang wanita dimana kesuksesan diukur menurut kemampuan seorang wanita dalam memuaskan serta melayani kaum pria (http://www.freewebs.com/kolektifbunga/konsumerisme.htm).

Kebutuhan kita telah dikontaminasikan dengan kebutuhan-kebutuhan artifisial, yaitu kebutuhan yang sebenarnya tidak kita butuhkan, sementara kebutuhan kita yang otentik justru tak terpenuhi. Para konsumen pada kenyataannya telah dikonsumsi oleh pasar, suatu barang menjadi kebutuhan semata-mata karena ia ingin menjaga simbol status, yang berkat industrialisasi sistem komoditas telah menjadi wajib atau keharusan bagi semua orang. Dunia yang gila konsumsi merupakan sebuah dunia yang spektakuler, dimana semua orang hidup terpisah dalam keterasingan dan ke-non-partisipasian mereka. Iklan dari berbagai media merupakan salah satu dari sekian banyak penyaluran tawaran produk melalui media, baik media elektronik maupun media cetak yang tengah berkembangan dewasa ini.

Penutup
Belanja, adalah kata yang sering digunakan sehari-hari dalam konteks perekonomian, baik di dunia usaha maupun di dalam rumah tangga. Namun kata yang sama telah berkembang artinya sebagai suatu cerminan gaya hidup dan rekreasi pada masyarakat kelas ekonomi tertentu. Belanja juga punya arti tersendiri bagi remaja.

Remaja adalah sebuah kelompok umur yang mempunyai dinamika yang unik. Dalam masa remaja, seseorang akan belajar untuk mengenal dirinya sendiri serta mengalami proses sosialisasi dengan lingkungan sosialnya. Tidak jarang, masa hidup remaja merupakan suatu masa yang krusial, karena merupakan masa pembentukan seseorang saat ia dewasa nanti. Jadi, jika pada masa remaja ia tidak mendapatkan sosialisasi berbagai kebiasaan dan norma masyarakat, maka pada saat dewasa ia akan cenderung bersikap yang kurang baik.

Usia remaja itu sendiri juga mempunyai kultur tersendiri, yang berbeda dengan kultur orang dewasa. Mereka mempunyai aturan dan norma tersendiri yang berlaku hanya di kalangan mereka. Biasanya, kultur tersebut merupakan perlambang dari pemberontakan mereka atas budaya atas yang menekan mereka.

Banyak juga yang mengatakan usia remaja merupakan usia yang labil, dimana ia sangat mudah terpengaruh oleh berbagai hal di sekitar dirinya, baik itu yang bersifat positif atau negatif.

Bagi produsen, kelompok usia remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Alasannya antara lain karena pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja. Di samping itu, remaja biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Sifat-sifat remaja inilah yang dimanfaatkan oleh sebagian produsen untuk memasuki pasar remaja. Berdasarkan tersebut, memang bisa dikatakan konsumersime telah menggejala didalam kehidupan atau kultur hidup remaja tersebut.

Gaya hidup yang dianut oleh masyarakat pada saat ini cenderung hanya mengikuti trend yang berlaku, sehingga bisa dikatakan gaya hidup yang dianut berdifat homogen dan tidak variatif. Dalam konteks ini tindakan yang dilakukan seorang individu bukanlah murni tindakan objektifnya akan tetapi termotivasi oleh unsur-unsur yang ada di luar individu, sehingga apa yang yang sedang berlaku umum disekitarnya, itulah yang menjadi dasar tindakannya.

Adorno menyebutkan perbedaan diantara ‘esensi’ dan ‘penampilan’ dalam rangka untuk menolak sifat dangkal dari penampilan masyarakat kapitalis moderen. Bagi Adorno penampilan dunia adalah dunia dari imaji atau tampilan dan tidak lain persamaan dari sebuah dunia dari relativisme (http://pratt.edu/~arch543p/help/Adorno.html).

Dengan demikian, kadang perilaku konsumerisme tersebut merupakan suatu hasil dari hegemoni kapitalis itu sendiri, sehingga masyarakat tergiring menjadi suatu masyarakat komoditas, dimana segala sesuatunya dipandang berdasarkan material atau kepemilikan barang.

Pada mulanya belanja adalah sebuah prosesi yang menjadi kebiasaan dalam masyarakat. Ia adalah bagian dari keseharian anggota masyarakat. Akan tetapi, pada saat ini akumulasi kapital mengalami kemandekan, sehingga para kapitalis mencoba cara baru agar peredaran barang produksi mereka bisa tetap berlangsung atau malah menghasilkan profit yang lebih baik. Belanja kemudian menjadi gaya hidup.

Umumnya para remaja mengetahui kalau konsumerisme tersebut merupakan suatu perilaku yang berlebihan dan sebaiknya tidak harus dilakukan dalam keseharian mereka, dan umumnya juga tidak menyetujui jika konsumerisme menjadi bagian dari sebuah gaya hidup. Harus diakui kalau memang terkadang sebagian dari mereka suka melakukan belanja dengan berlebihan, akan tetapi umumnya mereka mencoba untuk tidak mengulanginya kembali. Mereka berupaya agar selalu membeli barang-barang yang memang benar-benar mereka butuhkan.

Sementara itu, bagi remaja yang mempunyai kebiasaan belanja berlebih atau terjebak dalam perilaku konsumerisme ini, perilaku mereka sama sekali tidak dirasa mengganggu keseharian mereka. Mungkin karena mereka berasal dari kalangan remaja strata menengah-atas, sehingga mereka mempunyai akses untuk itu. Mereka juga mengatakan, kalau gaya hidup mereka tersebut sudah menjadi keseharian dari diri mereka, sehingga mereka tidak merasa kalau mereka sebenarnya telah melakukan perubahan sosial atas makna belanja itu sendiri.

Didalam pelbagai teori mengenai perubahan-perubahan dalam masyarakat, sering dipersoalkan mengenai perbedaan antara perubahan-perubahan sosial dengan perubahan-perubahan kebudayaan. Kingsley Davis mengatakan bahwa perubahan-perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan-perubahan dalam kebudayaan. Sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari acap kali tidak mudah untuk menentukan letaknya garis pemisah antara perubahan sosial dan perubahan kebudayaan, karena sukar untuk menentukan garis pemisah antara masyarakat dengan kebudayaan (Sismudjito, 2000: 39-40).

Perubahan nilai akan belanja itu sendiri bisa dikatakan sebagai perubahan sosial, akan tetapi terlalu dini untuk dikatakan sebagai sebuah perubahan kebudayaan, karena memang konsep konsumersime sepertinya telah menggejala di dalam keseharian masyarakat, akan tetapi sifatnya parsial, dalam artian, hanya menyentuh beberapa aspek dalam masyarakat, tidak sampai membentuk suatu kebudayaan baru yang mana harus dipatuhi oleh anggota masyarakat.

Meskipun kita telah tahu banyak tentang kondisi dan proses perubahan, kita belum menemukan adanya penjelasan yang memuaskan menyangkut pertanyaan mengapa perubahan itu muncul. Barangkali jawabannya adalah karena manusia pada dasarnya memiliki sifat bosan. Bisa juga karena perubahan terjadi sebagai sesuatu yang konstan dalam alam semesta ini. Pandangan ini tidak memerlukan jawaban, karena sesuatu yang konstan merupakan hal yang selalu ada.

Menurut Comte, ada tiga faktor yang mempengaruhi tingkat kemajuan manusia, pertama adalah rasa bosan, kedua adalah lamanya umur manusia, dan faktor ketiga yang mempengaruhi tingkat perubahan manusia adalah faktor demografi, yaitu pertumbuhan penduduk secara alamiah (Lauer,1993: 76).

Kadar dan arah perubahan suatu masyarakat banyak dipengaruhi oleh kebutuhan yang dianggap perlu oleh para anggota masyarakat itu. “Kebutuhan” itu bersifat subjektif. Kebutuhan dianggap nyata jika orang merasa bahwa kebutuhan itu memang nyata (Horton, 1992: 221).

Berdasarkan penjelasan diatas dapat diketahui bahwa perubahan akan selalu terjadi dalam dinamika masyarakat, karena akan selalu ada yang menyebabkan mereka (masyarakat) untuk selalu berubah.

Sampai saat ini, konsumersime dalam kehidupan remaja itu sendiri belum begitu menggejala, akan tetapi perilaku ini dapat terus mengakar di dalam gaya hidup sekelompok remaja. Dalam perkembangannya, mereka akan menjadi orang-orang dewasa dengan gaya hidup konsumtif. Gaya hidup konsumerisme ini harus didukung oleh kekuatan finansial yang memadai. Masalah lebih besar terjadi apabila pencapaian tingkat finansial itu dilakukan dengan segala macam cara yang tidak sehat. Mulai dari pola bekerja yang berlebihan sampai menggunakan cara instan seperti korupsi. Pada akhirnya perilaku konsumerisme bukan saja memiliki dampak ekonomi, tapi juga dampak psikologis, sosial bahkan etika.

May 27, 2005

MALE SEXUALITY: Are We Still Virgin?

Pertanyaan yang sering menghantui saya adalah, saya masih "virgin" gak ya? Jika saya peermpuan mungkin pertanyaan tersebut krusial banget, karena pada struktur masyarakat kita yang patriarkhi, keperawanan seorang perempuan adalah "Maha Penting". Ingat, kualitas seorang perempuan diukur dengan keperawanannya.

Nah yang menjadi masalah sekarang adalah, saya ada;ah seorang laki-laki. Penting 'gak sih pertanyaan virgin atau tidak virgin lagi itu? Secara pribadi menurut saya sebenarnya, baik laki-laki maupun perempuan seharusnya menjaga diri mereka, biar tidak terjebak dengan 'perangkap nafsu'. Virginitas bagi saya hanya sebuahmasalah konsep dan hegemoni saja. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan.

Ok, back to my origin point, kita masih perawan (or perjaka perhaps?) gak sih, after we've 'molesting' our self for years! Kok kesannya rancu, setelah having sex we entitled "not-virgin", but if we don't we are Virgin. Menurut saya, swa-service itu kan termasuk having sex juga kan, jadi secara deduktif, disimpulkan jika kita semua sudah tidak virgin lagi? Apakah penetrasi penis ke vagina yang disebut Virgin, sepertinya bukan. My point is, laki-laki tidak sesuai untuk mendapat pelabelan virgin atau tidak itu. Ya itulah subordinasi pria daripada perempuan.
Mungkin ini hanya masalah psikologis aja. Mau merasa masih virgin atau engga terlepas dari persepsi masing-masing kita, bukankah seperti itu?

Maksud saya disini adalah, sebaiknya kita tidak menjustifikasi seseorang dari Virginitasnya. Bukankah ada jenis orang, dimana kalau ada teman kita yang sudah tidak virgin lagi, lantas mendapat prejudice dan streotype (especially for the woman). Hei, for you guys, hidup dibawah bayang-bayang prejudice dan streotype itu 'gak nyaman loh. I can tell! Mungkin orang pernah khilaf, sekali dua kali, tapi mudah-mudahan engga terlalu bodoh untuk melakukannya untuk kesekian kalinya.

So guys, are we still virgin? I guess it depend on your heart.

May God Damned America (because I love it so passionately)

Morrissey_1“America is not the world”, demikian kata Morrisey dalam lagu yang berjudul sama. Entah kenapa, akhir-akhir ini semakin banyak saja yang tidak menyukai Amerika. Gampangnya saja dapat kita lihat saja pada banyaknya artis, baik musik maupun film yang mengekspresikan ketidaksukaanya terhadap Amerika melalui aspirasi seni mereka tersebut. Para artis tersebut ternyata tidak hanya artis yang berasal dari luar Amerika, akan tetapi bahkan yang berasal dari negeri mereka sendiri, seperti Green Day yang mengeluarkan album terbaru mereka yang dinamai dengan “American Idiot” yang secara harafiah adalah satire akan keberadaan negera mereka yang Super Power tersebut. Belum lagi dengan kehebohan film dokumenter yang dikeluarkan oleh sutradara berbakat Michael Moore, “Fahrenheit 9/11”. Kenapa sih kita mesti membenci Amerika?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, sepertinya kita harus memahami dulu pameo bahwa antara benci dan suka tersebut sangat tipis batasnya. Kita membenci Amerika adalah sama halnya dengan kita menyukai (baca: memuja) Amerika. Amerika adalah tanah impian, dimana disana terdapat kebebasan dan harapan yang besar sebagai seorang manusia seutuhnya. Setidaknya, walau kita tidak bisa tinggal secara permanen disana, akan tetapi Amerika menawarkan gaya hidup atau lebih tepatnya konsep hidup mereka dalam segenap aspek terhadap berbagai masyarakat (atau Negara) lain yang ada di dunia. McDonalisasi, MTV, sampai Hollywood adalah bentuk gampangnya dari hegemoni Amerika tersebut.

Kita tidak perlu menjadi American untuk menjadi seorang American. Secara kebangsaan kita adalah bangsa Indonesia, akan tetapi dalam kesehariannya kita adalah American. Rasanya ada yang salah saja jika kita tidak mengadopsi apa yang menjadi the latest di sana. Kita seakan dimanjakan dengan gaya hidup so-called modern ini. Rasanya tidak klop saja, karena Amerika adalah patron.

Amerika adalah Amerika. Kita tidak bisa membantahnya. Negara adi daya dan negara nomor 1 di dunia, if I might say? Presiden Amerika adalah presiden di dunia. Pemimpin-pemimpin negara lainnya adalah, let’s we say, as the governor and the other country as their province, atau mungkin negara bagian seperti prinsip Amerika. Memang, banyak negara-negara yang tidak mau begitu saja patuh dan tunduk kepada Amerika, tapi let’s check the fact, America is still everything. Mereka harus setidaknya campur tangan untuk internal affair negara lain, dengan alasan world peace. Klise banget, karena motif utamanya ya tetap untuk kepentingan Amerika juga. Kasus perang Iraq misalnya. Ya dasarnya ya penguasaan emas hitam alias minyak.

Sebuah kekuasaan yang luas cenderung akan menghasilkan absolutisme dan arogantisme. Inilah yang banyak dikecam orang. Karena Amerika (baca: pimpinannya!) cenderung ingin mencampuri urusan orang lain.

Kita memang harus bersyukur, bahwa kita memang hidup lebih baik, setidaknya secara way of life dalam terminologi globalisasi. Akan tetapi, secara sosio-kultural, apakah memang menjadi lebih baik? Berubahnya nilai-nilai masyarakat saat ini bisa dikatakan sebagai aspek negatif dari Amerikanisasi, karena banyak dari nilai yang berubah itu bukan untuki menjadi lebih baik. Secara tidak sadar kita telah dijajah secara ekonomi dan budaya, karena kita-kita ini, orang-orang dunia ke-3, adalah pembuangan hasil kapital Amerika (dan negara-negara maju lainnya). Kita menjadi pasar potensial segala produk cutting-edge dan the latest idea of way of life yang semuanya berujung pada akumulasi kapital.

Saya bukan ingin mengatakan kita harus membenci Amerika, karena tidak semua aspek dari Amerika adalah a**hole. Tapi yang ingin saya ajukan disini, disaring-saring dululah. Being hedon doesn’t mean being better. Bukan bermaksud cerewet atau sok tahu atau sok menjadi provokator yang mengeluarkan propaganda untuk membenci Amerika (I think I’m not that good). Saya cuma ingin kita tidak merasa subordinat terhadap Amerika dan lantas dengan mentah-mentah menjadi penjiplak no.1. Pada dasarnya kita membutuhkan Amerika, seperti Amerika membutuhkan kita. Rasa itulah yang harus kita tanamkan. Kita bukanlah inferior sebagaimana Amerika adalah bukan superior. Kita adalah sama. Kita adalah struktur yang saling simbiosis agar menjadi fungsional dalam hidup yang sebenarnya. Dan maunya sih, Amerika juga berpikiran yang sama. Jika memang sudah demikian, niscaya saya pasti ingin God Bless America!

January 01, 2005

Berawal Dari Titik Nol

Nol adalah kehampaan. Tanpa ada hampa takkan ada ruang atau waktu. Saya percaya semua berawal dari nol. Sebelum satu akan selalu ada nol. Seorang manusia berasal dari nol yang hampa hingga bermutasi menjadi darah dan daging. Bahkan, konon alam semesta berasal dari ledakan besar di ruang hampa angkasa luas.

Filosofi nol mengingatkan kita bahwa kita sebenarnya adalah kosong tanpa ada suatu apapun. Semua yang pernah kita ketahui dan pelajari adalah tidak berarti sampai kita sebagai manusia mempunyai apa-apa. Kita harus mengosongkan pemahaman kita yang telah ada untuk mengisinya dengan pembelajaran baru, "apa yang dikatakan oleh hati".

Hati kita diciptakan untuk mengontrol superego kita. Hati ada agar otak tidak berjalan sembarangan. Hati ada untuk kita percayai, sebagaimana untuk percaya pada diri sendiri. Ilmu pengetahuan bukanlah dewa, hanya sebuah konsep, sebagaimana konsep-konsep retoris manusia lainnya. Kita semua mampu memberikan konsep kita sendiri dan mengapa tidak? Marilah kita lupakan apa yang pernah kita ketahui sebagai ilmu dan menceritakan apa yang kita inginkan. Kita adalah manusia bebas dengan kehendak yang bebas pula. Dari titik nol kita menuju milyaran mimpi dan harapan. Niscaya kita menuju kesana dan bersama......!

August 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31            

Perfect Scare!