August 18, 2008

The Chase Is Dangerous, But Subtle At Once

The_chaserstill_2 Have you seen any good South Korean thriller lately? Well, I haven't. 'Seven Days', dengan pemeran utama Kim Yoon-jin (dari serial TV 'LOST'), memakai gaya MTV yang terlalu memusingkan kepala untuk dapat mengikuti dengan nikmat jalan ceritanya, meski mempunyai premis yang menarik.

Untung kemudian ada 'The Chaser' atau 'Chugyeogja', yang merupakan debut bagi Na Hong-jin untuk menampilkan thriller yang intens, gripping dan menghanyutkan untuk tertarik dalam alurnya.

Eom Jung-ho (Kim Yoon-suk) adalah seorang germo bekas detektif polisi yang sarkastik karena kehidupannya yang keras. Ia merasa kesal karena beberapa "gadis"-nya sepertinya telah menghilang tanpa jejak setelah berkencan dengan klien. Lantas ia mengutus gadis yang tersisa, Kim Min-ji (Seo Yeong-hee) untuk melayani panggilan klien. Min-ji yang tinggal berdua saja dengan anak perempuannya, Eun-ji (Kim Yoo-jeong), sebenarnya sedang sakit, namun karena Jung-ho memaksa, akhirnya ia menerima "tugas" tersebut. Berdasarkan kesamaan nomor telepon pemesanan, Jung-ho ternyata mencurigai jika kilen ini sebenarnya adalah klien yang sama yang memakai jasa gadis-gadis yang menghilang, sehingga memutuskan untuk memakai Min-ji sebagai umpan. Namun, Ji Yeong-min (Ha Jeong-woo), bukanlah penjual gadis-gadis, melainkan seorang pembunuh berantai!

Secara tidak sengaja Jung-ho berhasil menangkap Yeong-min dan menahannya di kantor polisi atas bantuan mantan koleganya dikepolisian. Yeong-min mengakui kalau ia membunuhi gadis-gadis tersebut, namun bersikeras untuk tidak mengatakan dimana ia bersembunyi untuk membunuh selama ini. Sementara itu, karena kurangnya bukti, Yeong-min akan segera dibebaskan. Jung-ho, mau tidak mau, terpaksa menjaga Eun-ji bersamanya yang malah membangun simpatinya terhadap kehidupan Min-ji. Hal tersebut membuatnya menjadi sangat gelisah akan keselamatan Min-ji dan pada akhirnya memutuskan untuk melakukan penyelidikannya sendiri tentang siapa sebenarnya Yeong-min dan berusaha menemukannnya sebelum semuanya terlambat. Namun, waktu terus begerak, dan Min-ji bisa saja sudah tiada!

'The Chaser' mengingatkan akan filmnya Park Chan-wook, 'Oldboy' karena mempunyai derajat kekelaman yang sama dan tingkat kesadisan yang cukup tinggi (adegan pemukulan dengan palu, anyone?). Untuk ini tabik bagi Na Hong-jin yang berhasil merangkai adegan yang begitu gemilang dalam merangkai emosi penontonnya.

Namun, meski sangat menonjol dalam suspensi ketegangan ceritanya, 'The Chaser' lebih merupakan sebuah karakter studi yang kadang subtil, kadang kelam. Lihat saja pada progresi karakter Jung-ho atau dinginnya karakter Yeong-min yang rasanya sulit untuk diselami.

Sukses untuk kedua aktornya yang demikian piawai memainkan karakter mereka sehingga karakter-karakter tersebut bagai melekat dalam darah dan daging mereka. Namun penampilan Seo Yeong-hee dan juga terutama aktris cilik Kim Yoo-jeong tak kalah bernasnya. Yeong-hee tampak meyakinkan dalam merefleksikan karakter Min-ji yang kelihatan begitu rapuh sehingga kita dapat dengan mudah merelasikan diri pada karakternya. Sedangkan Kim Yoo-jeong tampil dengan menggemaskan namun sangat watak untuk ukuran anak seumurannya.

'The Chaser' mungkin saja thriller, namun ia juga sebuah ruang satir bagi Na Hong-jin bagi birokrasi di stuktur pemerintahan Korea Selatan. Oleh karenanya, meski terasa menggiriskan namun juga terasa menggelikan, dalam level satir tentunya.

Hanya saja, 'faktor kebetulan' di film ini terasa berlebihan, belum lagi beberapa lubang diceritanya yang seolah-olah memang menggiring ceritanya untuk dirangkai sedemikian rupa agar terkesan dramatis, yang padahal jika adegan tersebut mengalami alterasi, saya yakin film akan bergerak ke arah yang berbeda. Namun, ini memang sebuah produk film yang mengandalkan pada suspense-on-disbelief. Rasanya ia cukup berhasil untuk itu.

'The Chaser' adalah sebuah thriller yaang penuh dengan kekerasan, namun bukan bertumpu pada balas dendam, sebagaimana yang umum terdapat pada thriller sejenis di perfilman Korea Selatan. Ia lebih pada sebuah kedalaman karakter dan satir. Kekerasan hanya bermain sebagai pemain pendukung untuk menekankan maksud dan tujuan terpentingnya, yaitu drama dengan unsur humanis yang kental. Ini menjadikan 'The Chaser' jawara dalam kelasnya. Sangat direkomendasikan!

4.5 out of 5
"THE CHASER" (2008)/Showbox - South Korea/Directed by Na Hong-jin/Cast: Kim Yoon-suk, Ha Jeong-woo, Seo Yeong-hee, Kim Yoo-jeong/Runtime: 123 min

                            

June 08, 2008

'APARTMENT 1303': Another Ghost in da House!


Produksi: MonteCristo International (2007)
Sutradara: Ataru Oikawa
Cast: Noriko Nakagoshi, Eriko Hatsune, Yuka Itaya, Naoko Otani, Arata Furuta

Genre: Horor/Thriller
Durasi: 94"
Release Date: 27 Oktober 2007 (JEPANG)
My Grade: 1.5 out 5

Apartment1303 Ada apa dengan film-film horor Jepang akhir-akhir ini? Setelah menjadi pionir dengan sejumlah film yang monumental seperti 'Audition', 'Battle Royale', 'Ringu', 'Ju On: The Grudge', 'Dark Water', 'Pulse' dan 'One Missed Call', maka film-film yang keluar saat ini adalah film-film yang sudah terlalu repetitif dan kehilangan unsur inventifnya dalam segala segi. Kalau mau jujur, kok rasanya film-film horor Indonesia malah terasa jauh lebih baik? Yes, there's pun intended!

'Apartment 1303' bukan pengecualian. Segala hal yang biasa kita lihat dalam film-film terdahulu diatas bisa disaksikan disini. Hantu perempuan berambut panjang? Penuh dengan dendam? Korban penganiayaan? Anak kecil misterius? Hm??? Apa yang baru ya?

Mariko menyelidiki kematian adiknya yang melompat dari balkon apartemen bernomor 1303 yang baru ditempatinya. Ia curiga ini bukan kasus bunuh diri biasa dan entah mengapa ia curiga akan adanya unsur ghaib didalamnya. Ternyata memag benar. Apartemen (yang tidak angker) itu telah memakan banyak korban gadis muda yang juga melakukan bunuh diri dari atas balkon apartemen tersebut.

'Apartment 1303' diangkat dari novel karya Kei Oishi yang dimana novelnya yang lain telah diangkat menjadi 'Ju On: The Grudge'. Tidak heran jika trademark dari film tersebut banyak menempel di film ini.

Sayangnya Ataru Oikawa terlalu jenerik dalam menggarap film ini dengan memakai formula yang telah menjadi basi, sehingga film menjadi kurang menyeramkan dan menarik. Pada akhirnya dengan banyaknya pengulangan adegan, film pun mempunyai tendensi untuk membosankan. Belum lagi secara teknis film terasa sangat marjinal dan rasanya hanya cocok untuk menjadi konsumsi di televisi.

Sebenarnya film ini tidak buruk-buruk amat dan berpotensi untuk dapat menjadi menyeramkan, jika saja daftar film-film yang lebih superior diatas tidak dibuat. Ujung-ujungnya 'Apartement 1303' bukanlah film yang begitu penting untuk disimak, kecuali kalau memang ingin melihat variasi dari tema yang sejenis atau memang sudah tidak ada film lain yang bisa ditonton.

May 28, 2008

'CHOCOLATE': Let's Kick Some Ass, Girl!


Produksi: Baa-Ram-Ewe(2008)
Sutradara: Prachya Pinkaew
Cast: Yanin Vismistananda, Hiroshi Abe, Ammara Siripong 

Genre: Aksi/Drama
Durasi: 110"
Release Date: 06 Februari 2008 (Thailand)
My Grade: 2.5 out 5

Chocolate Bukan. Ini sama sekali bukan film Lasse Hallstrom yang dibintangi oleh Julliette Binoche dan Johnny Depp itu. Ini adalah sebuah film aksi dari sutradara yang pernah menghadirkan aksi laga mendebarkan nan seru, 'Ong Bak' dan 'Tom Yum Goong', Prachya Pinkaew. Oleh karena itu jangan harapkan adanya suatu kedalaman cerita ala film 'Chocolate'-nya Mr.Lasse tersebut.

Zen (Yanin Vismistananda) adalah seorang gadis autis yang tinggal bersama ibunya yang sakit kanker, Zin (Ammara Siripong) dan seorang saudara angkatnya yang sedikit oportunis. Walaupun mempunyai kekurangan, ternyata Zen dirahmati Tuhan dengan kemampuan istimewa, menyerap dengan luarbiasa kemampuan tarung yang didapatnya dari film-film aksi Tony Jaa (sic), Playstation dan tentu saja sasana Thai Boxing dekat tempat ia tinggal selama ia masih kanak-kanak. Berbekal kemampuannya ini ia kemudian menagih hutang kepada orang-orang yang pernah berhutang kepada ibunya.

Ternyata sang ibu ini mantan anggota gangster, namun karena terlibat percintaan dengan Masashi (Hiroshi Abe), seorang Yakuza Jepang, maka ia harus hidup mengasingkan diri dan merawat Zen, anak hasil hubungannya dengan Masashi. Masalahnya, mantan boss Zin mendengar sepak terjang Zen dan kemudian merasa terusik. Maka, dengan kemampuan istimewanya, Zen harus menyelematkan hidup dirinya serta sang ibu yang dicintainya.

Terus terang dengan cerita yang sangat tipis ini, kita memang tidak bisa berharap banyak, walau sebenarnya jika Pinkaew mau sedikit memfokuskan diri pada kedalaman dalam pengembangan cerita, maka film akan dapat lebih menyentuh. Yah, sedikit-sedikit melodrama tidak berbahayalah. Akan tetapi drama sepertinya memang bukan konsentrasi utama Pinkaew dalam membuat film. Baku hantam yang seru dan memukau itulah tujuan utamanya.

Untuk itu, lagi-lagi ia berhasil. 'Chocolate' adalah duel-vaganza yang intens. Bahkan kali ini ia dengan berani tidak memakai Tony Jaa sebagai jualan utamanya, melainkan pada seorang perempuan pendatang baru bernama Yanin Vismistananda. Akan tetapi soal kelihaian, jangan diragukan! Ketangkasan, kecepatan dan akrobatisme Vismistananda tidak kalah dengan Jaa. Sungguh memukau.

Dulu, seingat saya di pertengahan 80-an hingga awal 90-an, nama-nama seperti Michelle Yeoh, Chintya Khan, Moon Lee dan (tentu saja) Chintya Rotchrock, adalah jaminan akan keseruan dari film-film aksi. Namun, saat ini memang belum ada lagi tokoh aktris laga perempuan yang menonjol setelah Michelle Yeoh yang masih tetap bertahan, sehingga tidak heran peluang ini dimanfaatkan oleh Pinkaew dengan menawarkan Vismistananda sebagai chick kick ass barunya. Apalagi Yeoh juga sudah mulai veteran, sehingga kehadiran Vismistananda sungguh tepat. Saya yakin, dengan film ini deretan fans setia baru pasti sudah berharap banyak akan film-film selanjutnya. Saya salah satunya, hahahaha.

Vismistananda memang sangat berbakat. Namun tidak hanya untuk adegan laga, karena ia ternyata mampu pula menunjukkan ekspresi dan gestur yang dibutuhkan oleh karakternya dengan proporsi yang lumayan pas. Sayangnya, Pinkaew terlalu menekankan pada laga dan kurang mengelaborasi kemampuan akting Vismistananda. Padahal jika ia melakukannya, niscaya film tidak hanya menjadi sebuah aksi kosong tanpa bermakna apa-apa.

By the way, Hiroshi Abe underused in this film. Padahal penampilan singkatnya sudah memberi sedikit kedalam cerita. Imho, loh?

More Posters

Chocolate_poster2 Chocolate_poster3


February 20, 2008

'CJ7': Stephen Chow's Attempt on Sci-fi? Nah!!!


Produksi: Columbia Pictures (2008)
Sutradara: Stephen Chow
Cast: Stephen Chow, Xu Jiao, Kitty Zhang

Genre: Drama/Fantasi/Komedi
Durasi: + 90"
Release Date:  31 Januar1 2008 (HONG KONG)
My Grade: 3.5 out 5

Cj7poster2_3 Bertahun lalu, tepatnya di era 90-an, siapa yang menyangsikan kesaktian Stephen Chow sebagai komedian. Kini, di abad 21, dengan trek dua film yang terakhirnya yang impresif, 'Shaolin Soccer' dan 'Kungfu Hustle', siapa pula yang meragukan kemampuannya sebagai sutradara dengan kemampuan bercerita yang jenial.
Maka, saat kabar tentang 'CJ7' berhembus, ekspektasi langsung membumbung tinggi. Sehingga, saat mendengar pula ia akan berpaling dari sub-genre Kungfu dan memilih fiksi-ilmiah, rasa penasaran pun bertambah besar. Yang menjadi permasalahan, bagaimana fiksi-ilmiah ya jika berada di tangan Mr. Chow?

Ceritanya sederhana saja. Dicky (Xu Jiao) adalah siswa sebuah Sekolah Dasar untuk kalangan atas. Masalahnya Dicky hanya anak seorang buruh bangunan bernama Ti (Stephen Chow). Ti tidak menginginkan Dicky menjadi sepertinya, sehingga berkeras agar Dicky memperoleh pendidikan yang lebih baik. Hanya saja menjadi orang yang satu-satunya miskin disekelompok anak-anak kalangan borjuis adalah sebuah siksaan bagi Dicky, sehingga ia nyaris tidak mempunyai teman. Namun, ia sangat menghormati ayahnya, sehingga selalu menuruti keinginan sang ayah.

Sebagai seorang outsider tentu saja merupakan kondisi yang tidak menyenangkan, apalagi dengan kondisi ekonominya membatasi Dicky untuk mengakses permainan baru selayaknya anak-anak yang lain. Nasibnya mujur saat sang ayah membawa pulang sebentuk bola dari tempat sampah yang ternyata adalah sosok alien yang lucu berkarakteristik mirip anjing. Dicky menamainya CJ7. Pada mulanya Dicky mengira CJ7 mempunyai kekuatan super yang akan menolongnya dari segala kesulitan. Namun, ternyata keadaan tidaklah segampang itu. Ambisi Dicky dengan CJ7 justru mengancam keharmonisan hubungan dirinya dengan sang Ayah.

Trade-mark Chow masih melekat kuat di film terbarunya ini. Adegan komedik yang non-sense dan komikal masih tetap dipakai. Hanya saja, kali ini Chow lebih menekankan pada unsur drama dan sedikit fantasi. Pada mulanya saya mengira Chow akan mengarahkan filmnya menjadi mirip-mirip 'ET' misalnya. Namun, ternyata Chow memilih pendekatan yang berbeda. Beberapa adegan homage yang menjadi ciri khasnya tetap ada, namun secara keseluruhan filmnya lebih menekankan pada struktur drama tadi.

Jadi bagi yang mengharapkan adegan-adegan konyol atau fantastis ala Chow akan merasa kecewa, karena film tidak memberi banyak kelegaan untuk itu. Namun, dari segi bercerita, Chow mengalami peningkatan yang pesat, karena ia bisa menggambarkan adegan yang mengundangn airmata dan tawa penonton dalam satu frame yang bersamaan. Hanya seorang yang benar-benar berbakat saja mampu untuk melakukan hal seperti itu.

Hanya saja kemudian, adegan komedinya malah terasa sekunder dari keseluruhan bagian cerita kalau tidak mau dibilang tempelan, sehingga terkadang terkesan tidak penting, karena memang Chow sangat memfokuskan unsur drama tadi, terutama dalam dinamika hubungan antara Ti dan Dicky sebagai ayah dan anak. chow benar-benar menguras perhatiannya untuk membangun suasana yang mendukung, sehingga mengundang empati yang besar dari penontonnya. Dan ia berhasil untuk itu.

Xu Jiao sendiri berhasil mencuri perhatian dengan aktingnya yang mumpuni. Baik dalam adegan drama atai komediknya, ia dengan gemilang mengimbangi Chow. sementara untuk pemanis, kali ini Chow memasang si cantik Kitty zhang sebagai love interest karakter yang dimainkan oleh chow. Sayangnya ini tidak dikembangkan lagi oleh Chow, sehingga penampilan Kitty terkadang terasa mubazir.

Walau film ini memang tidak segemilang dua film sebelumnya, 'CJ7' jelas adalah upaya seorang Stephen Chow untuk menghadirkan sebuah film yang bisa dinikmati oleh semua anggota keluarga. Sebuah drama dengan bumbu-bumbu fantasi dan komedi. Stephen Chow jelas-jelas adalah seorang entertainer yang mengerti dengan apa yang ingin dilakukannya.

Ngomong-ngomong fiksi-ilmiah, rasanya label tersebut kurang cocok dilekatkan pada film ini. Kecuali kalau ada anjing luar angkasa yang cerdas disebut dengan sebuah fiksi yang ilmiah, yang mungkin saja bisa begitu.

January 06, 2008

'WARLORDS': Epic With Chinese Stellar Cast


Produksi: MediAsia (2007)
Sutradara: Peter Chan
Cast: Jet Li, Andy Lau, Takeshi Kaneshiro, Xu Jing-lei

Genre: Drama/Epik
Durasi: 127"
Release Date: 12 Desember 2007 (CHINA)
My Grade: 3.5 out 5

Thewarlordsjetlinewposter1Peter Chan adalah sutradara drama Mandarin kesekian yang mencoba genre epik, mengikuti kesuksesan Ang Lee dan Zhang Yi-mou. ‘Warlords’ atau Warlords - Tau Ming Chong, adalah sebuah epik tentang sebuah persaudaraan dan ambisi diantaranya. Dan berbeda dengan kebanyakan epik Mandarin yang bergaya Wu-Xia dan memanjakan mata dengan efek visual serta tata kelahi yang fantastis, maka 'Warlords' lebih memilih pendekatan yang lebih membumi dengan aksi yang lebih realistis serta penekanan yang amat besar dalam dominasi dramanya.

Dikatakan bersadarkan kisah nyata, pada hakikatnya 'Warlords' mengingatkan akan film 'Blood Brothers' karya Chang Cheh sekira 35 tahun yang lalu, karena mereka bercerita tentang tiga orang yang berbeda karakter yang kemudian mengangkat sumpah kakak beradik. Pada masa pemberotakan Tai Ping, Jendral Pang Qing-su (Jet Lie) selamat dari sebuah pertempuran karena ia berpura-pura mati. Lantas, secara incognito mengembara tanpa tujuan sampai berjumpa dengan rombongan perampok Zhao Er-hu (Andy Lau) yang didukung oleh pemuda Jiang Wu-yang (Takeshi Kaneshiro).

Lantas ketiganya mengangkat sumpah saudara dan Qing-su mengajak Er-hu dan Wu-yang menjadi tentara alih-alih menjadi perampok. Ketiganya kemudian terlibat dalam berbagai peperangan. Walaupun ambisius, namun ternyata Qing-su dan Er-hu mempunyai prinsip yang bersebrangan. Inilah yang kemudian membuat hubungan mereka diambang keretakan. Disaat lain, Wu-yang mengetahui jika istri Er-hu, Lian (Xu Jing-lei) terlihat hubungan intim dengan Qing-su.

Ketelitian Peter Chan tampaknya memang terbukti dalam film-filmnya. Setelah 'Perhaps Love' yang sangat artistik, baik visual dan narasi, maka etos kerja seperti itu juga yang ditunjukkannya dengan 'Warlords' ini. Hasilnya, film terlihat detil, megah dan secara visual memanjakan mata. Chan juga berupaya semampu mungkin untuk menghindarkan filmnya dari jebakan tipikal film jenis, dengan mengandalkan adegan pertempuran masif secara riil serta menjauhkan kesan fantasi. Ia juga mengelaborasikan dramanya dengan se-subtil mungkin agar film lebih menekankan pada perkembangan karakter dan cerita.

Dengan memakai Jet Li sebagai bintang utama, terus terang ekpektasi calon penoton tentu saja akan membumbung tinggi terhadap berbagai adegan laga yang seru. Belum lagi ini pertama kalinya ia berduet dengan mega-bintang Hong Kong, Andy Lau yang juga reuni dengan Takeshi Kaneshiro setelah 'House of the Flying Dagger'. Namun, rupanya ekspektasi tersebut harus dibuang jauh-jauh, karena Jet Li yang telah mengatakan akan berhenti dari genre Kung-fu atau Wu-Xia, lebih memilih untuk berakting dengan lebih intens dibandingkan hanya sekedar baku-hantam.

Rasanya niat Li tersebut memang ditekadkan dengan bulat karena terbukti Li dengan segenap kemampuannya mencoba memasuki karakter Pang Qing-su yang lumayan kompleks kedalam dirinya. Walau tampil meyakinkan, namun rasanya dibeberapa bagian ia terlihat salah menginterprestasikan karakternya sehingga terlihat kurang meyakinkan. Bagaimanapun imej Jet Li adalah sosok tegar yang kuat namun juga baik hati dan polos sudah terekam dengan baik di benak penggemarnya, sehingga agak susah juga keluar dari streotip seperti itu. Untuk upayanya ini, ia termasuk berhasil. Sedang untuk Lau dan Kaneshiro, rasanya urusan akting sudah "makanan harian" mereka, sehingga untuk tampil meyakinkan sudah bukan halangan lagi.

Nah, karena penekanan pada unsur drama tadi, maka 'Warlords' terlihat lebih seperti film drama dibandingkan epik perang. Bukannya Chan tidak menggarap dengan baik adegan pertempurannya. Sama sekali tidak. Chan, dengan dukungan koreografi aksi dari Toni Ching Siu-tung, ternyata cukup piawai dalam mengeksekusi adegan pertempuran yang terlihat megah, kasar, berdarah dan intensitas ketegangan yang memadai. Sayangnya, karena idealisme Chan tadi, maka kemampuan Toni Ching Siu-tung tidak dimanfaatkan dengan optimal, sehingga memang rasanya dari segi laga satu-lawan-satu terasa "kering". Bahkan potensi Jet Li pun menjadi mubazir.

Dari segi drama sendiri, rasanya 'Warlords' tidak begitu berkembang dari pakem epik kebanyakan. Berbicara tentang kehormatan, harga diri, pengorbanan serta perjuangan, ditambah sedikit unsur romantisme, yang malah membuat cerita menjadi melodramatis. Bahkan sebenarnya, karena unsur roman tadi, film terasa berlarat-larat dan sedikit membosankan. Rasanya karakter yang diperankan oleh Xu Jing-lei terlalu dipaksakan untuk hadir, ketimbang menjadi pelengkap integralitas cerita.

Namun begitu, 'Warlords' tetap merupakan satu hasil karya yang membanggakan. Upaya Peter Chan dan Jet Li untuk memberi suatu pungtuasi dalam riwayat karir mereka patut diberi jempol, karena dilakukan dengan sepenuh hati dan tidak setengah-setengah.

December 25, 2007

'EXTE - HAIR EXTENSIONS': The Creepy Hair That Will Scare You....and Laugh-A-Lot!


Produksi: Toei Picture (2007)
Sutradara: Sion Sono
Cast: Chiaki Kuriyama, Ren Osugi, Megumi Sato, Tsugumi

Genre: Drama/Thriller/Horor/Komedi
Durasi: 108"
Release Date: 17 Februari 2007 (JEPANG)
My Grade: 4 out 5

Exte_dvd
Saat 'Ringu' (1998) karya Hideo Nakata memulai trend J-Horror yang memperkenalkan hantu perempuan berambut panjang sebagai villain-nya, maka pakem jenis hantu seperti itu yang kemudian menginfeksi gaya film-film horor Asia sampai saat ini.

Kini, dalam 'Exte - Hair Extensions' atau 'Ekusuke', Sion Sono (Suicide Club), seorang cult-director di Jepang berupaya mengambil ide dari rambut panjang berhantu tersebut dan menjadikanya sebuah horor alternatif yang kadang pretensius dalam gaya mainstream-nya, namun jenial dalam tataran eksentrik sehingga menjadi sebuah film horor yang sama sekali berbeda.

Yuko Mizushima (Chiaki Kuriyama, Battle Royale, Kill Bill Vol. 1) adalah seorang stylist muda yang tengah magang di salon yang bernama Gilles de Rais. Yuko adalah seorang gadis yang penuh semangat dalam menggapai cita-citanya. Walau kakaknya yang kejam, Kiyomi (Tsugumi), "menitipkan" anak perempuannya, Mami (Megumi Sato), kepada Yuko, namun dia tetap bersemangat. Karena kasihan, maka Yuko berniat merawat dan mengasuh keponakannya tersebut.

Sementara itu, seorang petugas kamar mayat misterius, Gunji Yamazaki (Ren Osugi), mencuri mayat seorang perempuan yang sepertinya korban dari perdagangan organ tubuh illegal. Gunji adalah seorang hair fetish yang menyebabkan ia terobsesi dengan rambut. Ia sering kali menggunting rambut-rambut perempuan dalam kamar mayat dan menjualnya sebagai hair extension ke salon-salon. Rambut perempuan misterius itu sendiri uniknya tetap tumbuh panjang. Bukan itu saja, seluruh organ tubuhnya yang hilang kini diganti dengan rambut-rambut yang kian memanjang. Gunji memotongnya dan menjadikanya sebagai hair extension. Yang ia tidak ketahui, rambut tersebut jika dipakai oleh seseorang ternyata akan meneror orang tersebut dan pada akhirnya akan mencabut nyawanya!

Dikesempatan lain, Gunji bertemu dengan Yuko dan menjadi terobsesi dengan rambut Yuko. Lantas, ia pun menjual hair extension rakitannya ke salon Gilles de Rais. Karena kualitasnya yang baik, maka Yuko memakaikannya kepada Mami. Lantas, saat kepolisian menyelidiki kematian salah seorang kolega Yuko di salon, Yuko pun menyadari akan bahaya rambut ekstensi tersebut dan berupaya menyelamatkan diri Mami.

Sama halnya dengan Sinya Tsukamoto dengan 'Nightmare Detective'-nya dan Takashi Miike dengan 'One Missed Call'-nya, maka 'Exte - Hair Extensions' adalah upaya Sion Sono dalam menggarap film dalam ranah populer. Dengan plot yang dijalin seperti tersebut diatas, maka jika digarap dengan formula konvensional, maka pastilah 'Exte - Hair Extensions' akan menjadi film horor yang tipikal, yang umum didapat di J-Horror.

Ada saat-saat dimana 'Exte - Hair Extensions' memang berjalan dengan tipikal, yang mana hal ini sepertinya disengaja oleh Sono, namun dibanyak sisi, 'Exte - Hair Extensions' terdiri dari beberapa lapisan yang saling menindih namun menjadi satu kesatuan yang utuh. Perjuangan Yuko menjadi seorang stylist serta konfliknya dengan sang kakak serta rasa sayangnya terhadap sang keponakan mengingatkan akan film drama yang subtil. Sementara itu karakter Gunji digambarkan dengan semangat eksentrisme yang kadang terasa komedik. selanjutnya ada bagian dimana film seperti sebuah thriller medikal.

Akibatnya, sepintas film seperti terlihat acak-acakan dan tidak teratur. Namun, jika dicermati dengan secara lebih mendalam, terlihat dengan jelas semangat bermain-main Sono dengan genre yang dipilihnya. Berbagai adegan menunjukkan itikat untuk sebuah homage namun dibagian lain terlihat seperti hendak mengolok-olok genre itu sendiri. Jika paham dengan konsep Sono, maka film memang terlihat menggelikan, dalam arti sarkastik yang positif.

Walau begitu, Sono bukannya tidak serius dalam menggarap adegan-adegan seramnya. Dengan penggunakan efek khusus yang cukup maksimal, Sono berhasil menggambarkan kengerian dari teror rambut berhantu ini. Unsur blood-and-gore berhasil diminimalisir dan digantikan dengan adegan-adegan menggiriskan akibat ulah rambut-rambut ini. Uniknya, meski mengandalkan tema balas-dendam-hantu-perempuan-berambut-panjang, namun tidak ada adegan hantu perempuan yang muncul tiba-tiba atau merangkak-rangkak menyebar kengerian. 'Exte - Hair Extensions' murni hanya mengandalkan sang rambut sebagai aset utamanya.

Chiaki Kuriyama sendiri tampil dengan sangat gemilang dan berhasil membangun rasa ingin-tahu dan empati penonton terhadap karakter yang dimainkannya. Setelah menyaksikannya sebagai gadis beringas dalam 'Battle Royale' dan 'Kill Bill Vol. 1', sungguh istimewa bisa menyaksikannya bertransformasi menjadi gadis yang cantik-baik hati-dan-tidak sombong (sic) seperti ini.

Ren Osugi sendiri kelihatannya tampil dengan sedikit over-the-top dan penggambaran karakternya pun mungkin sedikit mengganggu, namun secara keseluruhan, sepertinya Karakter Gunji Yamazaki yang diperankannya fit the screen effectively.

'Exte - Hair Extensions' adalah pengalaman menonton horor yang menghibur sekaligus memorable. Bisa dikatakan ia diatas rata-rata beberapa film horor Jepang clueless yang akhir-akhir ini banyak keluar. Bukan tidak mungkin status cult akan disematkan kembali bagi film Sion Sono ini.

November 12, 2007

'13 BELOVED': 13 Steps To Gain A Large Sum of Money (And It Probably Lethal)


Produksi: Sahamongkolfilm (2006)
Sutradara: Matthew Chookiat Sakveerakul
Cast: Krissada Sukosol Clapp, Acita Sukamana, Sarunyoo Wongkrachang

Genre: Thriller/Drama
Durasi: 111"
Release Date: 05 Oktober 2006 (Thailand)
My Grade: 4 out 5

13beloved_1Chit (Krissada Sukosol Clap a.k.a Krissada Terrence), seorang karyawan biasa berumur 32 tahun, yang tengah depresi oleh banyak permasalahan yang dihadapinya. Belum lagi ia habis dipecat oleh pimpinannya. Kemudian ia menerima sebuah panggilan telepon misterius yang mengajaknya untuk mengikuti permainan 13 Beloved, dimana ia harus melakukan 13 perkara untuk dapat memenangkan 100 juta Baht (sekira 27.3 miliar rupiah). Hal-hal yang dilakukannya mulai dari yang konyol hingga amat berbahaya dan menentang hati nurani. Berhasilkah ia menempuh 13 rintangan tersebut dan memenangkan uang tersebut?

Sementara itu, kolega Chit di kantor, Tong (Acita Sikamana, dari film Shutter), yang ahli komputer mencurigai tingkah polah Chit dan menemukan website misterius yang bernama 13 Beloved, dimana sejumlah orang bertaruh uang untuk seseorang seperti Chit, apakah bisa melakukan 13 rintangan atau tidak! Oleh karena itu Tong berniat mencegah Chit untuk terseret lebih dalam.

Sepintas memang film ini mengingatkan akan 'feardotcom' atau 'Pulse'. Akan tetapi sebenarnya '13 Beloved' atau '13 Game Sayong' berdasarkan sebuah komik karya Eakasit Thairath. Sang sutradara yang baru berusia 25 tahun, Matthew Chookiat Sakveerakul dengan mengagumkan berhasil merangkai sebuah thriller dengan unsur suspens dan misteri yang kuat dengan kritisi sosial serta bumbu-bumbu komedi, yang menjadikan '13 Beloved' sebagai sebuah film yang entertaining sekaligus mendalam.

Film bertutur dengan lancar nyaris tanpa tergagap, sehingga secara keseluruhan terasa solid, walau rasanya bumbu-bumbu komedinya terasa kurang tepat atau kurang berhasil, sehingga terasa mengganggu toneserius yang sudah dibangun sebelumnya. Belum lagi adegan kejutan di klimaks yang terasa kurang pas jika tidak dikatakan terlalu dibuat-buat, walaupun memang bisa mengisi beberapa lubang-lubang dalam ceritanya.

Berbicara mengenai lubang di cerita, terus terang memang wajar jika penonton akan kerap memikirkannya sepanjang durasi Chit melaksanakan "tugasnya". Sebagai contoh, betapa hebat dan efisien sistem kerja kelompok 13 Beloved, sehingga mereka selalu bisa memantau dan mengarahkan tindak tanduk Chit. Atau memang bisa saja segala sesuatunya memang telah mereka rencanakan dengan teliti sebelumnya. Namun, entah mengapa rasanya masih terlalu luar biasa, sehingga bisa saja kita berfikir ada campur tangan unsur supernatural disini!

Krissada Sukosol Clap sendiri dengan sangat berhasil mentranformasikan dirinya menjadi Chit, yang depresi pada awalnya, antusias kemudian, dan penuh dilema pada akhirnya. Ia berhasil merefleksikan realisme dalam film, sehingga walau beberapa keadaan terasa luar biasa, namun tetap terasa grounded, sehingga atmosfir terasa menegangkan sekaligus mengerikan. Realisme memang sepertinya yang ditawarkan oleh Matthew Chookiat Sakveerakul, sehingga meski mengandung unsur fantasi, '13 Beloved' terasa riil dan oleh karenanya malah terasa lebih menggelisahkan.

Kabarnya PH Hollywood, Weinstein Co., telah merencanakan untuk meremake film ini dalam versi Amerika. Ini membuktikan jika '13 Beloved', yang bersama dengan 'Kala' (2007) karya Joko Anwar menjadi peserta PiFan Film Festival 2007 di Korea Selatan baru-baru ini, adalah film yang unik dan hadir dengan visinya yang universal.

November 05, 2007

'DORORO': The 1st Chapter From An Epic Trilogy


Produksi: ToHo(2007)
Sutradara: Akihito Shiota
Cast: Satoshi Tsumabuki, Kou Shibasaki, Kiichi Nakai
Genre: Aksi/Fantasi/Petualangan/Drama
Durasi: 139"
Release Date: 06 Januari 2007
My Grade: 4 out 5

Dororo_1Sungguh saya tidak pernah mengira jika Osamu Tezuka, pengarang komik Astroboy, juga adalah penulis dari komik yang kemudian diangkat menjadi film yang berjudul'Dororo' ini. Beruntung film ini diproduksi pada masa kini, secara kemajuan spesial efek mampu mewujudkan imajinasi Tezuka menjadi hidup di layar. Ditangani oleh Akihito Shiota, yang sebelumnya banyak membuat film indie, 'Dororo' menjadi sebuah chambara dengan fantasi dalam cerita yang memikat dan dipenuhi dengan visual yang memanjakan mata.

Hyakki-maru (Satoshi Tsumabuki, Tears for You) adalah seorang pengelana, tapi ia bukan pengelana biasa. Dilahirkan dengan kehilangan 48 anggota tubuhnya, ia kemudian dibesarkan oleh seorang dukun yang memberi pengganti untuk setiap bagian tubuhnya yang hilang. Kini, setelah dewasa, Hyakki-maru harus membasmi 48 iblis guna memperoleh kembali bagian tubuh aslinya. Ia sebenarnya adalah putera dari jenderal perang Kagemitsu Daigo (Kiichi Nakai), yang rela memebrikan 48 bagian tubuh putranya yang belum lahir kepada 48 iblis guna memperoleh kekuatan dalam memenangkan peperangan.

Dalam perjalanannya, Hyakki-maru bertemu dengan Dororo (Kou Shibasaki, Battle Royale, One Missed Call), seorang pencuri perempuan yang menyamar menjadi pria yang bersifat jenaka dan usil. Karena mengincar pedang Hyakki-maru, maka ia menyertai perjalanan Hyakki-maru dalam menumpas iblis. Ternyata, Dororo sendiri mempunyai latar belakang yang tak kalah menyedihkan.

Dororo sendiri berarti manusia dalam wujud monster, sesuatu yang bisa direferensikan untuk Hyakki-maru, karena walau mempunyai fisik seperti manusia normal, namun fisiknya tersebut sebenarnya adalah bagian-bagian tubuh dari orang yang telah mati.

Pada mulanya, 'Dororo' seperti mengingatkan akan serial-serial televisi Jepang untuk anak-anak. Ditambah pula dengan beberapa F/X yang mendukung untuk itu. Namun dalam perjalanannya, 'Dororo' menjadi terlalu kompleks dan kelam jika hanya untuk konsumsi anak-anak.

Bahkan pada klimaks, dimana pada akhirnya Hyakki-maru harus berhadapan dengan ayahnya, film cenderung menjadi sebuah tragedi ala-Shakespeare. Untunglah kesedihan ala melodrama bisa dihindarkan oleh Akihito Shiota dengan pendekatan yang lebih subtil. Sehingga, walau bertema fantasi, namun 'Dororo' tidak melupakan sentuhan drama humanisnya, sehingga tidak heran 'Dororo' terasa istimewa.

Yang membedakan 'Dororo' dengan chambara-fantasi lainnya adalah eksplorasi karakternya yang mendalam, sehingga terhindar dari tipikalitas satu dimensi yang biasa terdapat dalam jenis film-film ini. Kita dengan mudah terserap dan berempati dengan Hyakki-maru dan Dororo bahkan untuk karakter villain minor sekalipun, seperti seorang laki-laki yang menikahi seorang iblis, walau ia tahu sang iblis tidak mencintainya!

Pada mulanya, Satoshi Tsumabuki yang berperawakan melankolis terasa kurang meyakinkan untuk karakter gelap seperti Hyakki-maru, namun dalam progresinya ia berhasil mewujudkan Hyakki-maru dalam sosok dirinya. Sedangkan Kou Shibasaki dengan gemilang malih rupa menjadi Dororo yang menyebalkan sekalihus adorable. They such a cute pair!

Film ini didukung pula oleh Toni Cheng Siao-tung (Hero, House of the Flying Dagger) sebagai pengarah silat. Trade-mark tertempel dengan lekat pada adegan-adegan aksinya, sehingga terlihat menakjubkan. Bahkan, pada beberapa adegan mengingatkan pada gaya Toni pada film-film silat Hong Kong-nya ditahun 90-an.

'Dororo' sendiri adalah bagian pertama dari trilogi yang sudah disiapkan. Bagian kedua dan ketiga akan keluar pada tahun 2008 dan 2009. Dengan kredit lebih difilm ini, maka sudah dipastikan saya akan menunggu dengan tidak sabar seri dua dan tiganya. This movie definitely one of my favorite in 2007!   

October 05, 2007

'BLACK HOUSE': This House Lies A Dark Secret


Produksi: CJ Entertainment/Kadokawa Pictures (2007)
Sutradara: Sin Tae-ra
Cast: Hwang Jeong-min, Kang Shin-il, Yoo Seon

Genre: Thriller/Horor
Durasi: 104"
Release Date: 21 Juni 2007(Korea Selatan)
My Grade: 3.5 out 5

Blckhouse02_1Asian horrors are taking break from the long-haired-ghost-genre and possesion video-cell phone-shoes-wig-house-etc. Dengan 'Black House' (Geomeun Jib), sebuah horor psikologis, mengingatkan kembali akan kejayaan 'Audition' (1999) karya Takashi Miike.
Diangkat dari novel karya Yûsuke Kishi, 'Black House' merupakan kali kedua novel tersebut diterjemahkan dalam bentuk seluloid, setelah sebelumnya ada 'The Black House' atau 'Kuroi Ie' di tahun 1999. Kali ini giliran bagi Sin Tae-ra untuk menyutradarinya. Sin Tae-ra sendiri sebelumnya menyutradarai sebuah film ultra-low-budget sci-fi berjudul "Brainwave" (2006).

'Black House' berkisah tentang seorang agen asuransi bernama Junno (Hwang Jeong-min) yang diminta untuk mendatangi sebuah rumah tua di daerah pinggiran oleh seorang kliennya yang bernama Park (Kang Shin-il). Saat di rumah tersebut, Junno menyaksikan anak tiri Park tewas menggenaskan dalam kondisi tergantung dikamarnya. Keadaan tersebut diklaim sebagai bunuh diri oleh polisi. Namun Junno mencurigai jika Park sengaja membunuh anak tirinya tersebut untuk mendapatkan polis asuransi sang anak. Apalagi, berdasarkan penyelidikan Junno, Park mempunyai latar belakang yang mencurigakan.

Junno mencoba mempringati istri Park, Shin (Yoo Seon, Uninvited, The Wig) akan bahaya yang mengancam dari Park, karena polis asuransi jiwa Shin yang besar. Namun, sesuatu yang mengerikan sebenarnya tengah mengancam jiwa Junno dan juga kekasihnya. Dan untuk itu ia harus membuka rahasia kelam dari rumah tersebut.

Pada paruh pertama, nyaris tidak terjadi apa-apa di layar film, kecuali untuk eksposisi dan pembangunan latar belakang karakter. Bagi yang tidak tidak sabaran, mungkin akan menguap berkali-kali. Namun, sebenarnya Sin Tae-ra cukup baik dalam membangun ekposisi tersebut dalam struktur yang menarik dan gampang diikuti. Kemudian di paruh akhir, film mulai berubah bentuk menjadi thriller-horror yang mencekam, dengan mengandalkan suspensi dan gore. Lantas diakhiri dengan ending yang cukup memikat walau mungkin terlihat jenerik secara umum.

Disini Tae-ra menunjukkan jika ia adalah seorang sutradara yang kreatif dan lumayan inventif. Hanya saja, di bagian ini terasa sekali ada lubang-lubang dan ketidak logisan yang tidak dapat ditambal dengan baik oleh Tae-ra.

Walau begitu, secara keseluruhan, 'Black House' adalah sebuah film yang cukup efektif. Penggambaran Black House-nya sendiri sebagai sebuah 'rumah derita' tampil dengan cukup meyakinkan. Tidak kalah dengan house of terror di film-film 'Saw'.

Akan tetapi, kekuatan utama film ini adalah Hwang Jeong-min dan Su Yeon, sebagai karakter-karakter dengan latar belakang yang menggelisahkan. Keduanya dengan baik mampu membawakan karakter yang dimaksud sehingga begitu integratif dengan jalannya cerita secara keseluruhan. Walau kemudian mereka kemudian berubah menjadi karakter satu dimensi diklimaks film, namun keduanya membawa harkat yang dibutuhkan dalam film ini.

'Black House' mungkin bukan jenis horor atau thriller utama, namun ditengah derasnya film horor Asia yang bergaya sama, jelas ia sangat menjanjikan dan berbeda dari banyak aspek. Direkomendasikan!

September 30, 2007

'THE VICTIM': An Unique Tale of Avenging Spirit


Produksi: RS Public Co.(2006)
Sutradara: Monthon Arayangkoon
Cast: Pitchanart Sakakorn, Apasiri Nitibhon, Penpak Sirikul, Kiradej Ketakinta, Chokchai Charoensuk

Genre: Thriller/Horor
Durasi: 108"
Release Date: 12 Oktober 2006 (Thailand)
My Grade: 3 out 5

The_victim 'The Victim' (Phii Khon Pen) adalah sebuah double feautre, jika kita jita bisa mengatakan seperti itu, karena mengandung dua cerita yang sebenarnya tidak ada hubungannya, kecuali tentu saja penampakan hantu perempuan yang menteror batin .

Cerita pertama tentang Ting (Pitchanart Sakakorn), seorang artis pemula yang diminta oleh kepolisian untuk memerankan sang korban dalam reka-ulang pembunuhan. Pada saat harus memainkan karakter Meen, seorang mantan Ratu Kecantikan Thailand dan Runner-Up Miss Universe yang tewas menggenaskan. Saat arwah penasaran Meen mulai menganggu ketenangan Ting, ia mencoba mencari tahu siapa pembunuh Meen yang sebenarnya.

Cerita kedua tentang seorang aktris yang bernama May (dimainkan juga oleh Pitchanart Sakakorn), yang tengah melakukan syuting film horor mengenai kasus pembunuhan Meen, sang Ratu Kecantikan. Entah mengapa, May, kru film dan produksi film secara keseluruhan seperti mengalami gangguan dari mahluk halus. May mengira jika arwah Meen tidak tenang, maka ia mencoba menyelidiki kematian Meen. Namun, sesuatu yang lebih mengerikan mengancam nyawanya.

Sebagai sebuah film horor dengan memakai konsep dua narasi dalam penceritaannya, 'The Victim' termasuk unik. Bagian pertama film berjalan seperti sebuah homage untuk genre ini, terutama horor Asia, dengan menampilkan adegan-adegan yang terasa over-the-top dan sedikit komedik.

Pada bagian kedua, film mulai berjalan dengan tone yang lebih serius dan atmosfir yang lebih kelam. Disinilah sebenarnya inti cerita dari film berada. Walaupun kadang-kadang tetap terasa over-the-top, namun aura seram dan suspensi dapat dibangun dengan baik, sehingga film menjadi lebih mencekam.

Sebagai sebuah film dalam film (pada awalnya), teknik yang dipakai oleh Monthon Arayangkoon (Garuda) cukup mulus tereksekusi, walau kadang rasanya tema film berkesan bertumpuk-tumpuk, namun dia cukup mampu memutuskan antara film dengan realita dalam film ini.

Hanya saja, rasanya secara keseluruhan 'The Victim' bukanlah fitur yang terlalu istimewa, karena production values yang rasanya terlalu biasa-biasa saja. Apalagi jika dibandingkan dengan 'Shutter' (2004) atau yang lebih kini 'Alone' (2007), yang terlihat lebih rapih secara teknis penggarapannya.

Dikabarkan sebagai film yang dishoot diberbagai lokasi kejadian kejahatan yang terkenal di Thailand, maka tunggu di kredit akhir film, dimana ditunjukkan penampakan-penampakan yang terekaam di kamera film. Tentu saja ini mengingatkan akan cerita yang terdapat dalam film ini.

August 27, 2007

'ALONE': Seperated Twin With Grudge. And It's Scary!


Produksi: GMM/Phenomena (2007)
Sutradara: Banjong Pisanthanakun/Parkpoom Wongpoom
Cast: Masha Wattanapanich, Vittaya Wasukraipaisan, Ruchanu Boonchoduang

Genre: Horror/Thriller
Durasi: 95"
Release Date: 29 Maret 2007 (Thailand)
My Grade: 3.5 out 5

Alone_2Dengan kesuksesan 'Shutter'(2004), duet Banjong Pisanthanakun dan Parkpoom Wongpoom semakin mantap saja dalam menggarap film horor. Kali ini mereka kembali lagi dengan 'Alone' atau 'Faet', sebuah horor dengan bumbu thriller-psikologis (atau sebaliknya?), yang tak kalah memikatnya.

Pim (Masha Wattanapanich) tinggal berdua saja dengan kekasihnya Wee (Vittaya Wasukraipaisan) di Korea. Namun, saat ibunya dikabari tengah sakit parah, maka Pim dan Wee kembali ke Thailand, kembali kerumah dimana ia tumbuh besar bersama saudari kembar siamnya, Ploy (Masha Wattanapanich). Sayangnya, saat operasi pemisahan, Ploy meninggal. Saat tiba di rumah tersebut, Pim seakan dihantui oleh arwah penasaran Ploy. Entah karena rasa bersalah kepada Ploy atau memang benar arwah Ploy menghantui Pim, Wee mulai merasakan keanehan. Saat guncangan akibat teror yang dialami Pim semakin intens, Wee harus berusaha menyelamatkan orang yang dicintainya atau hidup mereka dalam bahaya.

Keseraman dalam film ini dibangun dengan hanya mengandalkan atmosfir seram dan buram dalam lingkungan yang sederhana. Sebenarnya bahkan pola yang dipakai cukup umum, namun duet sutradaranya berhasil membangun ketegangan melalui gambar-gambar yang sederhana tersebut melalui set-up yang penuh perhitungan dengan baik tanpa harus terkesan overakting atau terlalu berlebihan dalam menakut-nakuti.

Masha Wattanapanich sebelumnya dikenal sebagai pop-diva di Thailand, dan melalui film ini melakukan come-backdi layar lebar setelah absen selama 10 tahun. Dan ia cukup baik menampilkan karakter Pim dan Ploy yang berbeda secara karakteristik. Kredit lebih juga harus disematkan kepada dua pemain muda yang memainkan Pim-Ploy saat remaja, karena mereka cukup berhasil meniupkan ruh yang diinginkan oleh karakter mereka. Sementara itu, Vittaya Wasukraipaisan bermain dalam kapasitas medioker walau cukup komplementatif.

Harus diakui, Banjong Pisanthanakun dan Parkpoom Wongpoom semakin fasih saja dalam bercerita, terutama dalam genre horor yang mereka pilih ini. 'Alone' tidak hanya mengandalkan formula horor konvensional akan tetapi juga dengan memikat berhasil memperlihatkan lika-liku hubungan antara dua saudari tersebut. Dan pada akhirnya, film malah berujung pada thriller-suspense yang kental dan menegangkan.

Sebagaimana 'Shutter', maka 'Alone' juga mempunyai twist dan harus saya akui twist dalam film ini terasa lebih orisinil dan memikat, membuat kita merasakan 'sensasi' yang rasanya sekarang jarang dapat kita rasakan, walau sepertinya belum mampu menyamai 'sensasi' yang ditimbulkan sehabis menyaksikan 'A Tale of Two Sisters' (2003).

Dan 'Alone' sendiri pun sebenarnya masih mempunyai lubang-lubang dan pendangkalan logika dalam plotnya, namun sebagai sebuah film horor, ia berhasil dalam melaksanakan misinya. Dan 'Alone' tampil bukan hanya sebagai sebuah scare-fest atau thrill-ride belaka, tapi utuh sebagai hiburan yang mempunyai esensi yang kuat untuk disampaikan.

July 04, 2007

'NIGHTMARE DETECTIVE': Chills-and-Thrills Investigation in aVivid Dream


Produksi: Movie-Eye Entertainment Inc. (2007)
Sutradara: Shinya Tsukamoto
Cast: Ryuhei Matsuda, Hitomi, Ando Masanobu, Shinya Tsukamoto

Genre: Drama/Thriller/Horor
Durasi: 106"
Release Date: 13 January 2007 (JEPANG)
My Grade: 3.5 out 5

Nightmare_detectivecover 'Nightmare Detective' (Akumu Tantei) sungguh film yang unik, jika tidak mau dikatakan beda dari tipikal film yang ada. Separuh thriller-suspense, separuh horor, separuh drama dan dipadukan dengan elemen psikologis yang surealis. Berbicara surealis, tentu saja bukan hal yang aneh karena sutradaranya, Shinya Tsukamoto memang terkenal dengan karya-karya surealis berbau psikologis, seperti 'Vital' (2004) dan 'Tetsuo'(1989). Shinya sendiri juga merupakan seorang aktor yang telah bekerjasama dengan sutradara-sutradara berkelas seperti Takashi Miike dalam 'Ichi The Killer' dan Takashi Shimizu dalam 'Marebito'. Dalam film ini ia pun bermain sebagai sang karakter villain. 

Seorang pemuda yang bernama Kyoichi Kagenuma (Ryuhei Matsuda) mempunyai kelebihan secara psikis, yaitu bisa memasuki dunia mimpi seseorang. Sayangnya, ini justru merupakan suatu kutukan bagi Kyoichi semenjak ia menjadi tersiksa secara batin dengan kemampuannya tersebut. Pada dasarnya Kyoichi ini pun mempunyai latar belakang yang menggiriskan. Sementara itu seorang detektif polisi perempuan yang bernama Keiko Kirishima (Hitomi) menangani kasus lapangan pertamanya, yaitu dua buah kasus bunuh diri yang mencurigakan dan kelihatannya berhubungan dengan sosok misterius bernama O (Shinya Tsukamoto), karena kedua korban menelpon O sebelum diketemukan tewas menggenaskan.

O kelihatannya mampu memasuki pikiran korbannya dan kemudian membunuh korbannya di alam bawah sadar. Pada akhirnya Keiko berusaha mengajak Kyoichi untuk bekerjasama menangkap O. Sayangnya Kyoichi meonal. Sampai rekan kerja Keiko, Wakamiya (Ando Masanobu) mencoba menelpon O dan pada akhirnya tewas menggenaskan. Untuk menangkap O, maka Keiko memutuskan untuk memanggil nomor O dan bertekad untuk menghadapi O. Walau ragu-ragu, akhirnya Kyoichi bersedia untuk membantu Keiko. Keiko sendiri, dibalik penampilan tangguhnya, ternyata rapuh didalam jiwanya dan mempunyai pergolakan batin tersendiri. Ini tentu saja akan menjadikan ia sebagai mangsa empuk bagi O. Bisakah kemudian Kyoichi melupakan masalahnya dan menyelamatkan Keiko sekaligus meringkus O?

'Nightmare Detective' pada akhirnya seperti sebuah thrill-ride dengan kecepatan dibawah rata-rata. Namun ini justru yang memang dibutuhkan oleh film ini dan pastinya akan mempunyai efek yang berbeda jika bertempo amat sepat. Ketegangan dibangun secara merambat sedangkan misteri perlahan tapi pasti dikuak. Kedalaman psikologisnya sendiri bukan sekedar tempelan akan tetapi merupakan bagian utuh dari struktur cerita secara keseluruhan.

Dari segi akting, Ryuhei Matsuda tampil dengan cukup meyakinkan sementara Hitomi sendiri pada awalnya adalah seorang penyanyi dan film ini merupakan debutnya. Wajar jika pada beberapa bagian ia terlihat menampilkan ekspresi wajah yang singular, walau untuk seorang debutan, ia tampil dengan cukup baik.

Shinya Tsukamoto kelihatannya mencoba untuk tampil dengan sedikit lebih komersil dengan 'Nightmare Detective', karena dia memakai banyak konvensi tradisional dalam filmnya ini. Walaupun pace film sedikit lambat namun secara keseluruhan film dapat dicerna dengan mudah tanpa harus banyak-banyak mengerutkan kening. Walau begitu, tentu saja ia tidak melepaskan trade-marknya, sehingga inilah yang menjadikan 'Nightmare Detective' sebagai film hiburan yang istimewa.

June 24, 2007

'I'M A CYBORG BUT THAT'S OK': Cyborg Juga Manusia!


Produksi: CJ Entertainment (2007)
Sutradara: Park Chan-wook
Cast: Im Soo-jung, Jung Ji-Hoon (Rain), Oh Dal-su, Park Jun-myeon, Kim Ju-hi

Genre: Komedi/Romantis/Drama
Durasi: 105"
Release Date: 07 Desember 2006 (KOREA)
My Grade: 3.5 out 5

CyborgSetelah menyelesaikan 'Vegeance Trilogy', Park Chan-wook memutuskan untuk mengerjakan sebuah projek yang berbeda; komedi romantis! Tapi ini Park Chan-wook yang kita bicarakan. Pastinya bukan komedi romantis biasa.'I'm A Cyborg, But That's Ok' atau 'Ssaibogeujiman Kwaenchanha' adalah buktinya.

Young-goon (Im Soo-jung, Tale of Two Sisters) adalah seorang pasien baru disebuah RSJ, setelah sebuah usaha bunuh diri yang gagal. Sang gadis percaya jika aia adalah seorang cyborg dengan sebuah misi dan diperlengkapi dengan senjata berbahaya. Ia menolak untuk memakan makanan manusia dan "me-recharge" energinya melalui baterai. Perlahan tapi pasti, Young-goon sekarat, karena menolak asupan makanan. sementara itu, Il-Soon (Jung Ji-hoon atau Rain dari serial Full House)m seorang penghuni RSJ yang sama, mempunyai kemampuan untuk menyerap emosi atau prilaku orang lain, merasa tertarik kepada Young-goon. Lantas, Il-soon dan Young-goon kemudian menjalin hubungan yang unik dan Il-soon memutuskan untuk membuat Young-goon memakan makanan secSetelah ara normal kembali.

Setelah menyimak filmnya, mungkin banyak yang mengatakan jika ini sama sekali bukan filmnya Park Chan-wook. Namun, walaupun film ini terlihat "manis" dan "menggemaskan", tetap saja stempel Park Chan-wook menempel di film ini. Dengan pendekatan yang tak kalah neurotik dengan karater-karakter filmnya, Park sekali lagi menggambarkan tentang sulitnya (atau kemuskilan) untuk berkomunikasi dengan sesama. Prilaku Young-goon mungkin hanya bisa dipahami oleh dirinya sendiri dan ia merasa jika prilakunya sangat signifikan dengan eksistensi dirinya, sementara justru bagi orang lain ia tidak lebih dari seorang sakit jiwa! Walau begitu, entah mengapa saya merasa jika Park Chan-wook seakan sedang bercerita tentang sindrom anoreksia dengan metafora delusi cyborg yang diderita oleh Young-goon.

Kali ini Park Chan-wook juga memperlihatkan kekuatan imajinasinya dengan memasukkan adegan-adeganan fantasi seperti yang biasa ditampilkan oleh anime. Eksekusinya berjalan dengan cukup mulus dan kita jadi berharap jika Park Chan-wook mengadaptasi manga yang kaya visual di film berikutnya.

Im Soo-jung sendiri lagi-lagi memerankan penderita schizophrenia akut, namun aktris muda ini dengan luar biasa menunjukkan kemampuannya untuk menjukkan kekuatan untuk menjadi orang lain yang sangat bertolak belakang dengan dirinya. Ditangannya, karakter Young-goon menjadi terlihat rapuh dan subtil namun juga berkeinginan kuat. Rain sendiri bermain dengan cukup baik, akan tetapi Im Soo-jung terlalu mencuri perhatian, sehingga akhirnya ia menjadi kurang dominan.

'I'm Cyborg But That's OK' mungkin tidak akan memuaskan semua penikmat karya-karya Park Chan-wook. Tapi upayanya untuk membuat variasi dalam film-filmnya patut dihargai dan film ini seakan menegaskan jika Park Chan-wook adalah sineas terbaik Korea Selatan pada saat ini. 

June 03, 2007

'LIKE GRAINS OF SAND': Teenage Angst That Captivating


Produksi: ToHo (1995)
Sutradara: Ryosuke Hashiguchi
Cast: Yoshinori Okada, Kouta Kusano, Ayumi Hamasaki, Kouji Yamaguchi

Genre: Drama
Durasi: 129"
Release Date: 16 Desember 1995 (JEPANG)
My Grade: 4 out 5

Likegrains_bgPubertas dan segala dilemanya. Siapa saja yang pernah mengalaminya tentu paham betapa menggelisahkan dan menyusahkan masa tersebut, terutama mengenai masalah perasaan dan seksualitas. Apalagi bagi Shuji Ito (Yoshinori Okada), seorang remaja SMA di Tokyo yang berorientasi seksual pada sejenisnya. Ia sangat menyukai sahabat karibnya, Hiroyuki Yoshida (Kouta Kusano) yang ramah. Namun Ito tidak berani merusak persahabatannya dengan Yoshida dan mencemarkan reputasinya sebagai remaja 'straight' di sekolahnya. Tentu saja ini menyebabkan beban batin yang menyesakkan perasaan Ito. Sementara itu datang siswi baru bernama Kasane Aihara (pop star, Ayumi Hamasaki) yang cenderung introvert dan penyendiri. Aihara tampaknya memahami perasaan Ito dan semenjak itu mereka pun berteman.

Keadaan menjadi lebih sulit bagi Ito saat sahabatnya yang lain Kanbara (Kouji Yamaguchi) mengetahui jika Ito seorang gay dan menyukai Yoshida dan dikarenakan kebingungan Kanbara akan hal tersebut, ia malah menyebar-luaskan rahasia yang dipendam Ito. Yoshida yang baik hati tidak menyalahkan sahabatnya itu dan mencoba memahami perasaan Ito. Bahkan ia memperbolehkan Ito untuk menciumnya!Namun, walau ia sadar tidak merasakan hal yang sama dengan Ito, ia tetap berteman dengan Ito. Di sisi lain Yoshida sendiri ternyata menunjukkan perasaan suka terhadap Aihara. Aihara sendiri menafikan perasaan Yoshida, karena ia sendiri menyimpan rahasia memilukan yang menyebabkan ia menolak setiap stimulan bersifat seksual. Lantas bagaimanakah konflik antara tiga remaja ini terkulminasi?

Walau mempunyai karakter yang berorientasi seksual sebagai seorang homoseksual, Like Grains of Sand (Nagisa no Shindobaddo) bukan film tentang homoseksualitas, namun lebih memfokuskan diri pada tema kegelisahan remaja, persahabatan dan disorientasi seksual. Ito, Yoshida, Aihara dan Kanbara adalah tipologi remaja yang bingung akan friksi yang terjadi pada diri mereka dan tidak mendapat sugesti atau dukungan yang semestinya dari orang dewasa di sekitarnya. Ini menyebabkan mereka belajar mengidentifikasi masalah dan menemukan sendiri solusinya.

Jika melihat plotnya yang terlihat melodramatis diatas, maka sepertinya Like Grains of Sand adalah bagian dari sub-kultur film remaja yang tipikal dan menekankan pada romansa klise. Maka persepsi tersebut adalah suatu kesalahan. Ryosuke Hashiguchi, sang sutradara, lebih menekankan pada interaksi antar karakter dengan realisme yang kental. Hashiguchi secara akurat memperhitungkan presisi setiap adegan untuk elaborasi motivasi dan perasaan karakternya. Hanya saja ini menyebabkan film berjalan dengan tempo yang melambat.

Walau begitu, tetap saja Like Grains of Sand adalah film yang kuat karena didukung dengan perkembangan cerita yang subtil dan pengarahan Hashiguchi yang moody. Dan film ini seakan membuktikan jika film remaja tidak melulu hanya berbicara tentang cinta-cintaan belaka, karena dunia remaja lebih luas dari itu.

More Poster
Like_grains_of_sand_1995_02_1












 

May 20, 2007

'200 POUNDS BEAUTY': Cliche Yet Entertaining


Produksi: Showbox (2006)
Sutradara: Kim Yong-hwa
Cast: Kim Ah-joong, Jo Jin-mo, Kim Yeon-geon, Seong Dong-ill

Genre: Aksi/Petualangan/Fantasy/Drama
Durasi: 120"
Release Date: 14 Desember 2006 (KOREA SELATAN)
My Grade: 3 out 5

200_pounds_beauty'200 Pounds Beauty' atau 'Minyeoneun Goirowa' adalah komedi hit sensasional di tahun 2006 lalu, dengan mengumpulkan penonton hingga dalam kisaran 6.5 juta orang. Sebagai sebuah komedi ringan, tentu saja ini prestasi luar biasa. Sebenarnya apa sih yang membuat tertarik masyarakat Korea Selatan untuk berbondong-bondong menyaksikan film ini?

Hanna (Kim Ah-joong) adalah seorang gadis ceria, pekerja keras dan bersuara indah. Ia berprofesi sebagai penyanyai. Namun sayangnya, dikarenakan bobot tubuh yang besar, menyebabkan ia hanya dipakai sebagai penyanyi bayangan untuk superstar Ammi yang seksi. Ya, Ammi hanya cuap-cuap di panggung sedangkan Hanna yang bertugas untuk bernar-benar beranyanyi dibelakang panggung. Dengan bobotnya, tentu saja pihak label menolak untuk mengorbitkan Hanna. Hanna sendiri diam-diam menaksir produser musiknya, Sang-joong (Joo Jin-mo, dari epik 'Musa'). Sadar akan kondisi fisiknya, tentu saja Hanna kemudian meredam keinginannya untuk mencintai Sang-joong dan hanya  bisa memuja sang produser secara rahasia. Walau begitu kelihatanya Sang-joong tulus bersahabat dengan Hanna. Suatu hari, Ammi dengan sengaja mempermalukan Hanna. Hanna semakin tertekan dengan kondisi fisiknya dan kemudian memutuskan untuk menghilang dari lingkungannya dan melakukan operasi plastik untuk mempermak penampilannya. Satu tahun kemudian, tidak ada seorangpun yang mengenalinya lagi, karena kini Hanna menjelma menjadi seorang perempuan cantik bernama Jenny. Kini Hanna alias Jenny siap menggapai mimpi-mimpinya, termasuk untuk mendekati Sang-joong dan menjadi penyanyi sebenarnya. Tentu saja Ammi yang tersingkir tidak mau tinggal diam begitu saja. Seperti telah kita duga, maka menjelang akhir film, rahasia masa lalu Jenny sebagai Hanna terancam untuk terbuka dan merusak kebahagian yang baru saja diraihnya. Tentu saja, happy ending kemudian bukan hal yang harus ditabukan.

Komedi yang mengandalkan orang bertubuh gemuk tentu bukan hal yang asing lagi, termasuk yang terabaru dari Eddy Murphy, 'Norbit'. Bahkan tetangga kita, Malaysia, telah pula merangkai film dengan tema seperti ini dengan 'Cinta Kolesterol'. Lalu, apa yang membedakan '200 Pounds Beauty' dengan yang lainnya?

Terlepas dari humor-humornya yang cenderung ofensif terhadap orang gemuk, '200 Pounds Beauty' jelas lebih mengandalkan komedi romantis sebagai jualannya. Jika sering menyaksikan banyak variasi jenis film ini, maka rasanya jalan cerita '200 Pounds Beauty' sudah bisa tertebak.

Yang cukup mengganjal, efek khusus tubuh gemuk yang harus dilakoni oleh Kim Ah-joong sebagai Hanna terasa kurang alami, sehingga terlihat nampak dibuat-buat dan sedikit tidak wajar. Namun, ini kan bukan perfilman Amerika Serikat sana, sehingga masih bisa untuk dimaklumi.

Terlepas dari itu, ternyata '200 Pounds Beauty' sukses dalam misinya dalam menghibur penonton. Film berjalan dengan tempo medium yang ternyata cukup efektif dalam menarasikan ceritanya yang cukup renyah untuk dicerna. Lagipula '200 Pounds Beauty' ternyata menyimpan kekuatan satir dalam ceritanya, terutama terhadap prilaku operasi plastik dan dinamika dunia hiburan industri musik di Korea Selatan sana.

Dengan dukungan dialog yang kuat dan akting yang menawan dari Kim Ah-joong, '200 Pounds Beauty' hadir dengan kekuatan dalam dramatisasi, film berhasil menepikan hal-hal klisenya. Walau mungkin tetap saja akan meninggalkan beberapa hal yang menggantung pertanyaan, '200 Pounds Beauty' adalah pilihan yang cocok untuk merasakan cinta seorang perempuan bertubuh gemuk dalam balutan romantisme ala dongeng.

May 06, 2007

' A TALE OF TWO SISTERS': Magnifying The Horror Into Chilling And Captivating


Produksi:  Bom Film Production (2003)
Sutradara: Kim Ji-woon
Cast: Moon Geun-yeong, Im Soo-jeong, Yeom Jeong-ah, Kim Kap-soo

Genre: Horor/Drama
Durasi: 115 "
Release Date: 13 Juni 2003 (KOREA)
My Grade: 4 out 5

Twosisterbig2 Setelah 'Ringu' (1998) dan 'Ju On' (2003) memenangkan banyak perhatian dari banyak orang sebagai sebuah horor mencekam, sebenarnya ada satu film lagi yang bisa dianggap sebagai horor klasik dari Asia. Hanya saja film ini tidak berasal dari Jepang, melainkan Korea Selatan.

Di saat banyak film horor dari Korea Selatan mengekor atau plagiat dari film-film horor Jepang, maka 'A Tale of Two Sisters'(Janghwa, Hongryeon) menunjukkan superioritasnya.'A Tale of Two Sisters' jelas-jelas mengandung ambiguitas dalam ceritanya dan mencekam secara psikologis, level yang pada saat ini susah dicapai oleh banyak film horor. Horor psikologis merupakan ranah yang mungkin susah untuk dielaborasi, karena jika salah formula malah filmnya akan berubah menjadi menggelikan.

Su-mi (Im Soo-jeong, I'm A Cyborg But That's OK) dan adiknya Su-yeon (Moon Geun-yeong, My Little Bride) merupakan sepasang kakak-adik yang sangat akrab dan mempunyai keterikatan emosional yang dalam. Setelah tampaknya baru melakukan sebuah perjalanan, mereka kembali lagi untuk tinggal disebuah rumah dipedesaan bersama ayahnya (Kim Kap-soo) dan ibu tiri yang neurotik (Yeom Jeaong-ah, Tell Me Something). Su-mi jelas-jelas menujukkan rasa tidaksukanya terhadap sang ibu tiri dan sering menentangnya sementara sang adik, Su-yeon, malah merasa sangat ketakutan bila berhadapan dengan sang ibu tiri. Jelasnya, SU-yeon tidak mampu membela dirinya sendiri terhadap sang ibu tiri yang mempunyai fluktuasi emosionalitas yang tidak jelas ini. Sang ibu tiri tidak segan-segan menghukum secara fisik Su-yeon jika dianggapnya melakukan kesalahan. Tidak lama mereka menetap dirumah tersebut Su-mi dan Su-yeon melihat penampakan hantu perempuan dan peristiwa-peritiwa aneh mulai terjadi. Sementara itu konflik antara kedua bersaudari dan sang ibu tiri semakin meruncing saja.

'A Tale of Two Sisters' dengan berani menentang konvensi horor tradisional dengan mengutamakan cerita dalam balutan drama yang kental. Perkembangan ceritanya  membuat otak kita untuk bekerja mencerna peristiwa yang terjadi sehingga kita kemudian merasa terikat untuk menyelesaikan film ini. Struktur yang dipakai oleh Kim Ji-woon sebagai sutradaranya tetap memakai pola yang umum dalam genre ini, hanya saja ia lebih menekankan pada perkembangan cerita yang cerdas dengan subtilitas pada karakterisasi yang menawan.

Tentu saja film ini tetap mempunyai adegan-adegan menyeramkan dalam atmosfir mencekam yang telah dibangun dengan sukses. Hanya saja dengan kedalaman psikologis dalam intensitas drama yang kental, film bukan hanya bertujuan untuk menakut-nakuti, melainkan menantang Anda untuk merekonstruksi kenyataan yang terjadi dalam film. Ini menyebabkan 'A Tale of Two Sisters' menjadi sebuah film horor yang beda dan lain daripada yang lain.

'A Tale of Two Sisters' adalah salah satu dari sedikit film yang mengundang diskusi antara sesama penonton setelah menyaksikannya. Dan bagi saya ini merupakan sebuah keberhasilan!

April 23, 2007

'NO REGRET': Tiada Kata Menyesal untuk Mencinta


Produksi:  CJ Entertainment (2006)
Sutradara: Lee Song-hee-ill
Cast: Lee Yeong-hoon, Lee Han, Hwang Choon-ha

Genre: Drama
Durasi: 114"
Release Date: 16 November 2006 (Korea)
My Grade: 4 out 5

Noregrets_posterSebagai sebuah negara yang dianggap konservatif, maka masyarakat Korea Selatan dikenal sebagai masyarakat yang cenderung homophobia. Uniknya, tahun 2005 lalu, 'The King and Clown' yang kental dengan aura homoseksualitasnya menjadi film paling laris tahun itu. Sukses dalam mendulang penonton, maka asumsi tersebut patut dipertanyakan. Walaupun pada kenyataanya diskriminasi masih kerap terjadi di kalangan ini, namun tidak membatasi Lee Song-hee-ill, seorang sutradara berbakat yang mengaku sebagai gay, untuk berkarya dan hasilnya adalah 'No Regret' atau 'Hoohoihaji Hanha' ini sebagai karya layar lebar perdananya yang mendapat sambutan antusias dari pemirsa Pussan International Film Festival 2006 kemarin.

'No Regret' bercerita tentang seorang yatim piatu bernama Su Min (Lee Yeong-hoon), yang harus meninggalkan panti asuhan dan kemudian melakukan urbanisasi ke Seoul. Setelah pekerjaanya di sebuah pabrik tidak berjalan dengan mulus, Su Min terpaksa bekerja di sebuah bar khusus kaum gay sebagai seorang host. Pada mulanya Su Min hanya menjalankan pekerjaanya ini untuk mencari uang guna meneruskan pendidikan di universitas, namun ketika seorang pria bernama Jae Min (Lee Han) masuk kedalam kehidupannya, maka segala hal yang diyakininya pun bergeser. Jae Min sendiri datang dari keluarga kaya yang konservatif dan akan segera menikah dengan seorang perempuan. Pada mulanya Su Min menolak cinta Jae Min, namun pada akhirnya Su Min menyerah pada keuletan Jae Min dan menerima ketulusan cintanya. Setelah menjalani kehidupan bahagia bersama, tanpa mereka sadari tagedi mulai mengancam hubungan mereka dan menguji cinta mereka.

Walau 'No Regret' mengambil struktur melodrama dalam narasinya, tapi ia juga mencakup komedi segar dan kritik sosial yang mengena, khususnya terhadap sub-kultur masyarakat Korea Selatan itu sendiri. Yang paling penting Lee Song berhasil membuat cerita dengan tingkat subtilitas yang menghanyutkan dan membangun hubungan komunikasi dengan artikulasi yang dapat dengan mudah dipahami oleh penontonnya. Kita sebagai pengamat karakter-karakter ini akan merasa penasaran dan ingin mengetahui kelanjutan kisah mereka.

Penggambaran homoseksualitas dalam film ini pun jauh dari gambaran streotype kaum gay yang biasa dideskripsikan oleh film-film atau sitkom Hollywood. Karakter Su Min dan Jae Min adalah laki-laki sebenarnya dengan aura maskulin yang kental (kecuali orientasi seksualnya tentu!). Mereka bukan tipe Drag Queen, Drama Queen atau tipologi queen lainnya. Sementara itu, pendekatan ala Eropa dalam film ini menyebabkan penggambaran adegan-adegan sensual yang cukup eksplisit. Cukup mengejutkan untuk film Asia seperti ini.

Jika kita mengenal kebiasan dan norma di masyarakat Korea Selatan, mungkin 'No Regret' akan mempunyai makna lebih bagi kita untuk mengapresiasinya. Namun pada intinya, 'No Regret' mengandung tema universal yan dapat dipahami secara umum. Pendekatan melodrama justru mampu menguraikan intisari yan jenial terhadap atmosfir film. Denan dukungan aktor-aktor muda yang relatif tidak terkenal justru menambah kekuatan film ini. Terlepas dari unsur homoseksualitasnya, 'No Regret' harus ditonton pagi penggila drama bermutu.

April 02, 2007

'ETERNAL SUMMER': Deeply Moving and Provocative


Produksi:  Three Dots Entertainment Compan (2006)
Sutradara: Leste Chen
Cast: Bryan Chang, Joseph Chang Hsiao-chuan, Kate Yeung

Genre: Drama
Durasi: 95"
Release Date: 13 October 2006 (Taiwan)
My Grade: 3.5 out 5

SummerSebagai kelompok yang termarginalisasikan, kaum homoseksual jarang sekali mendapatkan porsi yang signifikan dalam narasi sebuah film. Tapi itu mungkin beberapa tahun yang lalu, karena akhir-akhir ini semakin banyak saja sineas dari berbagai pelosok Bumi yang menjadikan kelompok minoritas tersebut sebagai subjek pencerita dalam film-film mereka, termasuk untuk seorang sutradara muda asal Taiwan, Leste Chen yang baru berusia 25 tahun saat mengarahkan 'Eternal Summer' (Sheng xia guang nian) yang meraih pemasukan box-office yang besar saat dirilis di Taiwan dan memperoleh 4 nominasi dalam Festifal Film Golden Horse di Taiwan di tahun 2006 lalu.

Diangkat dari novel karya Wang Chi-yao, 'Eternal Summer' bercerita tentang dua orang laki-laki yang telah bersahabat semenjak SD, Jonathan Kang Chen-sing (Bryan Chang) dan Shane Yu Shou-heng (Joseph Chang Hsiao-chuan). Shane adalah badut sekolah yang nyaris selalu mendapat hukuman dari guru karena sikap jailnya sedangkan Jonathan adalah seorang juara kelas. Pada mulanya mereka hanya teman sebangku biasa, sampai ibu guru meminta Jonathan untuk menjadi 'malaikat pelindung' bagi Shane dan membantu Shane dalam bersosialisasi dan studi. Tidak terasa mereka sudah akan mengakhiri bangku SMU dan akan memasuki masa kuliah. Datang siswi pindahan dari Hong Kong, Carrie (Kate Yeung, The Eye 10) yang penyendiri. Entah kenapa, Carrie menunjukkan perasaan suka terhadap Jonathan, sampai Carrie menyadari kalau sebenarnya Jonathan menyukai Shane lebih dari teman. Walau begitu, Carrie tidak kecewa dan malah semakin akrab dengan Jonathan. Sampai kemudian Shane menunjukkan rasa suka terhadap Carrie. Pada saat mereka telah memasuki masa kuliah, pada akhirnya Shane dan Carrie pun akhirnya pacaran, walau mereka memutuskan untuk tidak memberitahu Jonathan karena Shane menganggap akan menyakiti perasaan Jonathan, karena Shane menganggap Carrie sebagai mantan kekasih sahabatnya itu. Sementara itu, Jonathan semakin tersiksa karena memendam perasaan cintanya yang mendalam terhadap Shane. Pada saat ia mengetahui hubungan Shane dan Carrie, apakah kemudian ia merelakan mereka? Bagaimana dengan perasaan Shane sendiri untuknya?

Pada intinya, 'Eternal Summer' memakai struktur melodrama yang kental dan pola narasi yang cukup linear sehingga gampang diikuti. Namun film ini lebih dari sebuah cinta segitiga remaja biasa, karena sejatinya lebih bercerita tentang proses coming-of-age bagi kedua laki-laki yang bersahabat tersebut, dan menjadi lebih terelaborasi saat salah seorang dari mereka ternyata seorang homoseksual yang mencintai sahabatnya sendiri. Jika kemudian muncul karakter ketiga yang diwakili oleh seorang perempuan bernama Carrie, maka keberadaanya lebih hanya sebagai penambah dalam kompleksitas cerita. Jika saja karakter ini dihilangkan dan  film lebih fokus pada pengembangan karakter kedua karakter utamanya, mungkin film akan menjadi lebih solid.

'Eternal Summer' juga mencoba mengeksplorasi kesendirian dari sudut pandang karakter utamanya; Jonathan, Shane dan juga Carrie adalah orang-orang yang tidak mampu untuk mempunyai hubungan akrab dengan orang lain karena berbagai alasan masing-masing. Akan tetapi begitu terkoneksi satu sama lain, sehingga menjalin manage-a-tróis yang mendalam.

Sehabis menyaksikan 'Eternal Summer', mau tidak mau saya menjadi teringat dengan film Jepang yang berjudul 'Like Grains of Sands' atau 'Nagisa no Shindobaddo' (1995) karya Ryosuke Hashiguchi, karena memakai pola cerita yang sama dan bahkan 'Eternal Summer' memakai pendekatan yang sama dalam berbagai adegan. Pengaruh yang cukup besar ini mungkin saja disebabkan karena Leste Chen terprovokasi oleh film tersebut, sehingga walau diangkat dari novel asli Taiwan, namun memiliki banyak kemiripan. Namun, jelas Leste Chen mempunyai gaya yang berbeda dari Ryosuke Hashiguchi dalam menggarap filmnya sendiri. Ryosuke memutuskan untuk mengeksekusi filmnya dengan tempo yang pelan dan gaya art-house yang realistis. Sedangkan Leste Chen lebih memilih pendekatan yang lebih popular dan kontemporer. Walau begitu, hasil akhirnya adalah masing-masing film tersebut tampil dengan subtilitas yang mengena dan pada akhirnya membuat kontemplasi yang mendalam bagi penontonnya.

'Eternal Summer' juga didukung oleh akting yang prima dari bintang-bintang mudanya. Bryan Chang cukup berhasil dalam menggambarkan ambiguitas karakter yang diperankannya begitu juga dengan Shane Yu dan Kate Yeung yang mengakomodir keinginan skenario dengan gemilang. Mereka tampil dengan dedikasi yang cukup menyeluruh dalam pendalaman karakter mereka.

Terlepas dari isu homoseksualitasnya yang mungkin tidak sesuai dengan kebanyakan orang, namun pada dasarnya 'Eternal Summer' adalah sebuah film yang menawan tentang persabatan, cinta dan nilai kejujuran serta pembelajaran menjadi dewasa. Mungkin film ini terlihat melodramatis dan cengeng, namun percayalah, film ini jauh dari bayang-bayang buruk, karena bagi saya, sebuah film yang berhasil memprovokasi orang lain adalah film yang berhasil. 

'GHOST TRAIN': Jenis Tipikal J-Horror Kontemporer. Tapi Setidaknya Sangat Menghibur


Produksi: Shochiku (2006)
Sutradara: Takeshi Furusawa
Cast: Erika Sawajiri, Chinatsu Wakatsuki, Shun Oguri, Aya Sugimoto, Itsuji Itao, Miyoko Asada

Genre: Horror/Thriller
Durasi: 93"
Release Date: 30 September 2006 (Jepang)
My Grade: 2.5 out 5

Ghost_train Rasanya, selain  di Indonesia, tema horror memang tidak ada padamnya bagi masyarakat Asia, terutama Jepang. Perfilman Jepang termasuk yang paling rajin dalam memproduksi film dalam genre ini. Tentu belum hilang dari ingatan kita film-film seperti The Ring, Dark Water, Ju On, Pulse dan One Missed Call yang kesemuanya telah di-remake oleh Hollywood. Bahkan era horror Asia ini memang dimulai dari keberhasilan perfilman Jepang dalam menciptakan kreasi horror yang inventif sekaligus menakutkan. Namun, bagaimana dengan akhir-akhir ini? Rasanya kemonotonan tema juga mulai merasuki sineas-sineas disana, sehingga akhir-akhir ini jarang sekali hadir film horror yang fenomenal.

'Ghost Train' atau 'Otoshimono' diklaim sebagai film horror yang meraih penghasilan tertinggi kedua di Jepang pada tahun lalu. Lantas, apa yang membuat istimewa dari film ini sehingga menyedot banyak perhatian penonton disana?

Film berkisah tentang seorang siswi SMU bernama Nana (Erika Sawajiri, One Litter of Tears) yang kehilangan adiknya, setelah sang adik menemukan sebuah tiket di peron stasiun kereta api yang biasa mereka gunakan. Nana memutuskan untuk menyelidiki hilangnya sang adik sendiri, setelah pihak-pihak yang terkait kurang mempunyai solusi yang memuaskan bagi situasi yang dihadapinya. Ditempat lain, teman sekelasnya, Kanae (Chinatsu Wakatsuki) tengah diganggu oleh sosok perempuan misterius setelah menerima gelang yang ditemukan pacarnya di gerbong kereta api. Uniknya, dengan cara bagaimanapun ia tidak mampu untuk melepaskan gelang tersebut. Sementara itu, seorang masinis Kereta Api(Shun Ogiri, Azumi), dinonaktifkan oleh pimpinannya karena mengaku melihat hantu perempuan diatas rel dalam sebuah terowongan. Pada akhirnya, ketiga karakter ini bertemu dan mencoba untuk memecahkan misteri yang terjadi.

Setelah video, rumah, air, internet dan ponsel, kini giliran kereta api yang menjadi sarana dalam membangun ketegangan dalam sebuah film horror Jepang. Walau begitu, perfilman Korea sendiri telah mencuri start dengan memakai tema yang serupa melalui 'Red Eye' di tahun 2005 yang lalu.

Jujur saja, setelah menyaksikan filmnya saya memang merasa terhibur. 'Ghost Train' mempunyai beberapa adegan yang cukup mengagetkan, walau harus diakui rasanya film-film horror Jepang akhir-akhir ini semakin kurang saja dari intensitas kengerian dan keseramannya. Hal ini mungkin saja disebabkan karena semakin umumnya formula yang dipakai para sineas dalam membentuk pola cerita dalam filmnya. Belum lagi penggunaan teknik-teknik jenerik yang akhirnya menjadi klise dalam film jenis ini. Selama para sineas ini belum menemukan gaya yang lebih inovatif, maka kita akan tetap mengkonsumsi film-film yang bergaya sama.

Takeshi Kurusawa, sang sutradara, adalah mantan teman sekelas Takashi Simizu (Ju On, The Grudge) di Sekolah Film Tokyo dan juga assisten sutradara Kiyoshi Kurosawa (Kairo: Pulse) dalam beberapa filmnya, sehingga tidak mengherankan jika ia kemudian banyak terpengaruh oleh kolega-koleganya tersebut.

Walau 'Ghost Train' terlihat seperti film yang sangat tipikal, namun ia cukup berhasil dalam membangun kengerian melalui cerita yang runut dan  segi teknis yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga wajar jika kemudian memperoleh penghasilan yang besar di jajaran Box Office, tidak seperti beberapa film lokal yang sukses di pasaran tapi jeblok dari segi teknis.

March 25, 2007

'KEKEXILI:MOUNTAIN PATROL': Idealisme dalam Tantangan


Produksi: Columbia Pictures  (2004)
Sutradara: Lu Chuan
Cast: Duo Bujie, Lei Zhang, Liang Qi, Zhao Xueying

Genre: Drama
Durasi:  85"
Release Date: 01 Oktober 2004 (China)
My Grade: 4 out 5

Mountain_patrol Berdasarkan kisah nyata, ‘Kekexili: Mountain Patrol’ mengisahkan tentang sekumpulan pria yang tergabung dalam sebuah kelompok patroli “tidak-resmi” yang walaupun hidup dalam kehidupan pekerjaan yang kurang kondusif, namun mereka tetap dengan giat berupaya dalam menghalau keberadaan para pemburu spesis Antelop Tibet yang nyaris musnah didataran tinggi Kekexili, Tibet.

Seorang wartawan dari Beijing, Ga Yu (Lei Zhang) ditugaskan untuk meliput kegiatan para petugas patroli yang dipimpin oleh Ri Tai (Duo Bujie). Maka kemudian, Ga Yu mengikuti Ri Tai yang kharismatis ini menyusuri Kekexili dalam upaya menangkap gerombolan pemburu liar. Maka dimulailah petualangan yang mendebarkan sekaligus membuka mata Ga Yu akan nasib menggiriskan para petugas patroli ini.

Sutradara Lu Chuan dengan luar biasa mampu menangkap lanskap Kekexili yang mengagumkan sebagai “panggung” bagi para karakter yang ada dalam film yang berjalan dengan balutan semi-dokumenter ini. Kekexili digambarkan sebagai tempat yang indah namun sekaligus menyimpan potensi bahaya laten yang besar. Sebagai sebuah film China yang berseting di Tibet, dengan mudah kita akan menafsirkan film ini sebagai sebuah propaganda ideologi politik yang ekstrim. Namun, skenario yang juga ditangani oleh Lu Chuan tampaknya tidak mempunyai pretensi untuk itu, dan rasanya metafora yang tersimpan dalam kisah film ini mengandung ambiguitas yang cukup kental.

Yang paling menarik justru adalah bagaimana film ini menggambarkan para petugas patroli ini begitu “rela” mengerjakan pekerjaan mereka dengan unsur idealisme yang kadang bertabrakan. Walau begitu, tekad mereka untuk melindungi anteleop-antelop Tibet ini begitu kuat, hingga mengorbankan kehidupan pribadi mereka. 

‘Kekexili: Mountain Patrol’ bisa dikatakan sebagai film yang membangun “social awareness” dan membuka mata kita akan eksistensi pemburu gelap dibalik keindahan jaket bulu yang menjadi asset kapitalisme dalam perdagangan kemewahan dan gaya hidup.

March 16, 2007

'METROSEXUAL' : Komedi dalam Praduga dan Stigma


Produksi: GMM HUB (2006)
Sutradara: Yongyooth Thongkongtoon
Cast: Thianchai Chaisawatdee, Meesuk Jaengmeesuk, Patcharasri Benjamas, Ornpreeya Hunsat, Pimolwan Suphayang, Kulnadda Pajchimsawat, Michael Shaowanasai

Genre: Drama/Komedi
Durasi: 117"
Release Date: 13 July 2006 (Thailand)
My Grade: 3 out 5

Metrosexual_2 Metroseksual adalah istilah untuk menggambarkan pria dengan tanpa membedakan orientasi seksualnya yang mengabiskan banyak waktu dan uang demi penampilan dan gayahidupnya. Ia dengan fasihnya mengerti dan mengaplikasikan selera zaman dalam kehidupannya. Saat ini fenomena pria-pria metroseksual bukanlah hal yang tak lazim lagi. Disekitar kita, terutama di perkotaan besar, banyak terdapat disekitar kita. Tapi, terlepas dari masalah orientasi seksual tadi, banyak orang yang menstigmakan jika pria-pria metroseksual ini adalah bagian dari laki-laki homoseksual. Hal ini tentu saja tidak bisa disalahkan, karena hanya kalangan laki-laki ini yang bisa menandingi kaum perempuan dalam hal trend gaya hidup mutakhir.

Fenomena inilah yang kemudian diangkat oleh sutradara Yongyooth Thongkongtoon,yang sebelumnya telah menyutradarai film hit 'The Iron Ladies' (2000). 'Metrosexual' atau 'Gang chanee gap ee-aep' merupakan sebuah investigasi terhadap karakteristik dan orientasi seorang pria metroseksual. Dalam balutan komedi romantis yang menggemaskan, 'Metrosexual' mencoba mengungkap tabir ini melalui lika-liku penyelidikan empat orang perempuan; Pom (Patcharasri Benjamas), seorang reporter untuk sebuah majalah perempuan, Nim (Ornpreeya Hunsat), seorang operator/konselor telepon-hotline disfungsi seksual, Fyne (Pimolwan Suphayang), pemilik salon yang cerewet dan Pat (Kulnadda Pajchimsawat) yang bertunangan dengan seorang Jepang, terhadap Kong (Thianchai Chaisawatdee), kekasih teman mereka Pang (Meesuk Jaengmeesuk). Wajar saja mereka curiga, karena Kong yang parlente ini terlihat sangat sempurna-baik hati, pengertian, lemah lembut, pintar masak, fasih mode dan sangat mengetahui banyak hal yang justru mereka sebagai perempuan tidak tahu. Mereka maklum akan prilaku metrokseksual yang tengah merebak dikalangan pria kontemporer. Akan tetapi bagaimana jika ternyata Kong tidak hanya sekedar seorang pria metroseksual, melainkan juga seorang pria gay? Maka masa depan Pang, teman mereka yang sangat mereka sayangi, menjadi taruhannya.

Sebagai sebuah komedi, 'Metrosexual' cukup berhasil dengan adegan-adegan dan dialog yang menggelitik. Terkadang terkesan komikal namun disisi lain malah terlihat humanis. Tentu saja, sebagai sebuah komedi romantis, melodrama merupakan unsur yang tak terlepaskan, terutama menjelang akhir cerita. Inilah yang menyebabkan 'Metrosexual' terjebak dalam ending yang cukup klise. Namun, terlepas dari hal tersebut, Yongyooth Thongkongtoon lumayan berhasil dalam memainkan emosi cerita. Apalagi, film ini juga mempunyai subplot-subplot tentang sahabat-sahabat Pang dalam menghadapi masalah asmara masing-masing dan yang menyenangkannya adalah subplot tersebut tampil dengan tidak mengganggu jalannya cerita secara keseluruhan.

Hanya saja, sebagai sebuah karakter studi, 'Metrosekual' tampil datar saja, tanpa penggalian yang lebih mendalam. Konteks metroseksual hanya menjadi alat bantu untuk dramatisasi dari konflik dalam romansa yang coba diceritakan dalam film ini. Jika ingin mengharapkan sebuah elaborasi yang lebih signifikan mengenai prilaku gaya hidup ini, maka itu bukan inti utama dari film ini. Walau begitu, identifikasi terhadap pria yang homoseksual yang dilakukan oleh karakter gay yang bernama Bee (Michael Shaowanasai) di dalam film ini cukup informatif, walau rasa-rasanya kebenarannya perlu untuk diverifikasi ulang. 

'NEAL N' NIKKI': So Corny That is Sweet!


Produksi: YashRaj Films Films (2005)
Sutradara: Arjun Sablok
Cast: Uday Chopra, Tanisha Mukherjee

Genre: Drama/Komedi
Durasi: 122"
Release Date: 09 Desember 2005 (India)
My Grade: 3 out 5

Neal_nnikki_2 Neal (Uday Chopra) adalah seorang pemuda India-Canada yang berniat selama perjalanan 21 hari-nya di Vancouver hanya akan bersenang-senang dengan bertemu banyak perempuan. Tekad dalam hatinya adalah "making-out" dengan sebanyak perempuan yang bisa ia temui, karena selepas 21 hari ia hendak dijodohkan dengan seorang perempuan pilihan orangtuanya. Sayangnya, setiap ia hendak melepas "hajatnya' seorang gadis yang semi-alkoholik bernama Niki (Tanisha Mukherjee) selalu menginterupsi. Walau kesal, namun akhirnya Neal malah menyetujui ajakan Nikki untuk menyusul mantan pacar Nikki yang seorang model. Maksud hati ingin memanas-manasi sang mantan pacar, Neal dan Nikki malah menunjukkan rasa saling suka. Namun, arogansi masing-masing mengalahkan perasaan, bahkan ketika sampai mereka malah telah tidur bersama! Tidak terasa, waktu 21 hari Neal hampir habis dan ia pun harus menjalani "kewajiban"-nya. Namun, akankah arogansi mengalahkan cinta? Rasanya jawaban untuk film sejenis ini sudah bisa ketebak dengan mudahnya.

Klise dan gampang ditebak rasanya merupakan gambaran umum dari komedi romantis karya Arjun Sablok ini (Na Tum Jaano Na Hum-2002). Namun, berbeda dengan karya sebelumnya, Sablok kini menyajikan film dengan tempo yang sangat dinamis dan meninggalkan formula tipikal Bollywood biasanya. Film tampil dengan semangat ultra-moderen dan dengan penggambaran karakter yang liberal dan trendy pula. Tampaknya, film-film Bollywood masa kini lebih menyenangi tema-tema yang lebih universal dengan penggambaran situasi dan karakter yang lebih kontemporer. Lagu dan tari tetap mewarnai jalannya cerita, namun dengan durasi yang 'hanya' dua jam (tidak umum untuk film Bollywood), rasanya film menjadi lebih ringkas dan tidak bertele.

'Neal N' Nikki' sebenarnya adalah film yang dangkal dengan karakter yang dangkal pula. Tapi anehnya, film ini hadir dengan sangat memikat dan berhasil membuat kita ingin tetap duduk manis dan menantikan ending yang predictable tadi. Penampilan Uday Chopra dan Tanisha Mukherjee yang medioker itu sendiri ternyata berhasil padu dengan jalannya film. Rasanya, 'Neal N' Nikki' memang hadir untuk menghibur tanpa pretensi menjadi sebuah propaganda moralitas dan filosofi. Ia hadir murni hanya untuk menghibur dan ia berhasil mencapai tujuannya. 

January 08, 2007

'THE HOST': Witty, Poignant, Thrilling


Produksi: Showbox (2006)
Sutradara: Bong Joon-ho
Cast: Song Kang-ho, Park Hae-ill, Bae Do-na, Byeon hee-bong, Ko A-sung

Genre: Drama/Thriller/Sci-fi
Durasi: 119"
Release Date: 27Juli 2006 (Korea)
My Grade: 4 out 5

The_hostJika mendengar genre sci-fi (science fiction), maka yang terlintas dalam benak kita adalah film-film semisal 'Alien', 'Jurassic Park', 'The X-Files' dan sejenisnya yang nota-bene merupakan produk-produk dari Hollywood, Amerika. Memang, dalam ranah ini tampaknya yang paling menguasai adalah dataran perfilman Amerika Utara, karena sejarah film sci-fi mereka juga cukup panjang dan didukung pula oleh perkembangan teknologi visual mere