Despite Brainless, The Rise of The Oriental Mummy is Quite Fun
Apakah saya harus kecewa dengan film ini? Seharusnya tidak, karena rasanya saya sudah mengantisipasi akan menyaksikan sebuah film aksi-petualangan yang begitu brainless-nya, sehingga kita tidak perlu repot-repot berkonsentrasi tinggi untuk menyaksikannya.
Terus terang saja, menyaksikan Brendan Fraser mengulangi perannya sebagai petualang happy-go-lucky bernama Rick O’Connell untuk yang ketiga kali memang terlihat kurang menarik. Pada saat karakter istrinya, Evelyn O’Connell, yang kali ini diperankan oleh Maria Bello (A History of Violence) menggantikan Rachel Weisz, kebingungaan saat hendak menulis cerita bagi novel petualangan The Mummy ketiganya, rasanya duo penulis skrip film ini, Alfred Gough dan Miles Millar juga kebingungan hendak membawa cerita kemana, sehingga akhirnya memutuskan untuk mendaur ulang plot ‘The Mummy’ sebelumnya dan memindahkan lokasi ke dataran China dan mendapuk Jet Li sebagai Kaisar yang dikutuk oleh penyihir Zi Juan (Michelle Yeoh) menjadi patung terakota, beserta seluruh tentaranya.
Selanjutnya, plot berjalan dalam pakem yang sama. Kejutan-kejutan sudah dapat diduga. Yang tersisa bagi kita hanyalah kumpulan adegan aksi yang mendebarkan. Yah, memang tidak luar biasa. Tapi Rob Cohen yang kini menggantikan kedudukan Stephen Sommers sebagai sutradara tahu bagaimana merangkai adegan laga yang (lumayan) seru.
Adegan-adegan yang mengandalkan animasi CGInya memang lemah. Chemistry Brendan Fraser dan Maria Bello nyaris nol. Komedinya terkadang kering. Jet Li and Michelle Yeoh are underused, even Mr. Li is so good as the villain if only the script gave more depth and more screen times for his character. Namun, film ini memang tidak menjanjikan akan menjadi film kontemplatif seperti ‘The Dark Knight’ misalnya, tapi murni hiburan ringan.
Ada seorang teman yang menganjurkan untuk "meninggalkan otak" dirumah saat akan menyaksikan film ini. Ayuhlah, film ini tidak separah itu untuk mendapatkan komentar sarkatis seperti itu (belum pernah menonton film Uwe Boll, ya?), walau memang tidak perlu otak yang cerdas untuk dapat menikmati film ini.