'MAY': Melodrama Gets Intense and Profound
Produksi: Flix Pictures (2008)
Sutradara: Viva Westi
Cast: Jenny Chang, Yama Carlos, Lukman Sardi, Ria Irawan, Tutie Kirana, Tio Pakusadewo, Niniek L. Karim, Jajang C. Noer
Genre: Drama/Roman
Durasi: 105"
Release Date: 05 Juni 2008
Release Date: 05 Juni 2008
My Grade: 3.5 out 5
Saya sebenarnya merasa sedikit bersalah, karena kemarin tidak sempat menyaksikan
'Suster N', karya perdana Viva Westi, setelah membantu Garin Nugroho di
'Serambi'. Walau mengambil genre horor, entah mengapa saya yakin kalau horor
ditangan Viva akan berbeda hasilnya. Walau kemudian saya membaca banyak komentar
yang sedikit negatif akan film tersebut, namun tidak menyurutkan keyakinan saya
jika Viva Westi merupakan salah satu sutradara muda yang dapat
diperhitungkan.Keyakinan saya terbayarkan sesudah menyaksikan film 'May'
ini. Sebuah film drama dengan penanganan yang lumayan menarik dan subtil,
sehingga meski bertema melodrama dalam esensinya, namun 'May' tetap mempunyai
kelas tersendiri yang dapat membedakan dengan kebanyakan film Indonesia
akhir-akhir ini.
Dengan mengambil latar belakang kerusuhan di bulai Mei sepuluh tahun lalu, 'May' bercerita tentang May (newcomer, Jenny Chang), seorang gadis keturunan Tiong Hoa yang terpaksa menghadapi tragedi dalam hidupnya, karena sang kekasih, Antares (Yama Carlos, Angker Batu, Merah Itu Cinta, In the Name of Love), seorang sutradara dokumenter pemula, terlambat menjemputnya dari sebuah audisi.
Tepat pada tanggal 13 Mei itu, May harus mengalami penderitaan tak terperikan karena diperkosa oleh orang asing. Cik Bing (Tuti Kirana), ibu May sangat kebingungan akan nasib May, namun karena situasi yang tidak memungkinkan, maka ia terpaksa mengungsi ke Malaysia dengan mengorbankan sertifikat rumah satu-satunya kepada Gandang (Lukman Sardi), seorang petugas laundry hotel tempat Cik Bing mengungsi. Gandang sendiri terpaksa melakukan hal tersebut karena istrinya (Ria Irawan) tengah hamil tua dan membutuhkan banyak biaya. May sendiri diselamatkan oleh seorang jurnalis asing dan dibawa ke Malaysia. Ternyata May hamil, namun ia tidak sudi untuk memelihara anak tersebut.
sepuluh tahun kemudian, May, Antares, Cik Bing dan Gandang menjadi sosok-sosok yang bebeda. Namun takdir mempertemukan mereka kembali dan memberikan mereka kesempatan untuk menebus segala perbuatan mereka di masa lalu.
Jika ditarik garis lurus dari intisari cerita diatas, maka pada dasarnya 'May' adalah melodrama. Rasanya itu memang tidak terbantahkan lagi. Namun Viva Westi tidak ingin filmnya bercerita secara linear, karena film tentu saja akan membosankan. Maka dengan memakai alur maju-mundur, ia dapat menjaga suspensi dalam cerita dan menarik ulur emosi dan ketertarikan penonton untuk tetap mencerna isi cerita.
Viva juga berhasil mengeksekusi salah satu sejarah kelam bangsa ini sebagai sebuah latar belakang yang kuat dan mampu menjadi pilar yang kokoh untuk struktur ceritanya. Dengan piawai, oleh Viva Westi adegan kerusuhan tidak digambarkan dengan secara berlebihan apalagi vulgar, namun tetap dapat menangkap atmosfir kelam dan mengerikan dari peristiwa tersebut.
Juga, dengan memasukkan sub-plot karakter Gandang didalamnya, maka film pun dapat menjadi kontemplatif tanpa harus menggurui kemudian. Dengan dialog-dialog yang cukup bernas, semakin menambah nilai positif untuk film.
Yang menjadi masalah justru kedua aktor utamanya. Yama Carlos telah bermain dibeberapa film dan sinetron dan ini adalah film keduanya sebagai leading. Sementara Jenny Chang memang benar-benar baru di ranah tersebut. Keduanya telah berupaya memberikan penampilan terbaik mereka, namun sayangnya tidak benar-benar kuat untuk kemudian menjadi believeable menjadi May dan Antares. Bukan berarti keduanya bermain buruk, namun dengan dukungan bintang-bintang papan atas seperti Lukman Sardi, Ria Irawan, Tio Pakusadewo dan Tuti Kirana, menyebabkan akting mereka terlihat sangat rata-rata.
Sisi kurang menyenangkan lainnya adalah pada beberapa bagian, perpindahan adegannya kurang terasa halus. Juga sub-plot karakter Gandang yang rasanya terlalu panjang sehingga mencuri perhatian dari kisah utamanya. Mungkin porsinya harus lebih kecil? Entahlah.
Apakah kemudian film akan berakhir dengan happy ending yang telah menjadi tipikal bagi film sejenis? Sekedar wanti-wanti yang kurang penting; jangan tertipu dengan adegan akhirnya. Pada hakikatnya apa yang terlihat tidak sama dengan apa yang tersurat!
Pada akhirnya, 'May' adalah sebuah drama komersil dengan unsur kontemplatif yang cukup dalam. Viva Westi cukup berhasil membangun jalinan cerita melodramatis yang intens namun tidak lantas menjadi cengeng. Untuk tahun ini, 'May' jelas adalah salah satu film Indonesia yang menarik untuk disimak. Direkomendasikan.
Dengan mengambil latar belakang kerusuhan di bulai Mei sepuluh tahun lalu, 'May' bercerita tentang May (newcomer, Jenny Chang), seorang gadis keturunan Tiong Hoa yang terpaksa menghadapi tragedi dalam hidupnya, karena sang kekasih, Antares (Yama Carlos, Angker Batu, Merah Itu Cinta, In the Name of Love), seorang sutradara dokumenter pemula, terlambat menjemputnya dari sebuah audisi.
Tepat pada tanggal 13 Mei itu, May harus mengalami penderitaan tak terperikan karena diperkosa oleh orang asing. Cik Bing (Tuti Kirana), ibu May sangat kebingungan akan nasib May, namun karena situasi yang tidak memungkinkan, maka ia terpaksa mengungsi ke Malaysia dengan mengorbankan sertifikat rumah satu-satunya kepada Gandang (Lukman Sardi), seorang petugas laundry hotel tempat Cik Bing mengungsi. Gandang sendiri terpaksa melakukan hal tersebut karena istrinya (Ria Irawan) tengah hamil tua dan membutuhkan banyak biaya. May sendiri diselamatkan oleh seorang jurnalis asing dan dibawa ke Malaysia. Ternyata May hamil, namun ia tidak sudi untuk memelihara anak tersebut.
sepuluh tahun kemudian, May, Antares, Cik Bing dan Gandang menjadi sosok-sosok yang bebeda. Namun takdir mempertemukan mereka kembali dan memberikan mereka kesempatan untuk menebus segala perbuatan mereka di masa lalu.
Jika ditarik garis lurus dari intisari cerita diatas, maka pada dasarnya 'May' adalah melodrama. Rasanya itu memang tidak terbantahkan lagi. Namun Viva Westi tidak ingin filmnya bercerita secara linear, karena film tentu saja akan membosankan. Maka dengan memakai alur maju-mundur, ia dapat menjaga suspensi dalam cerita dan menarik ulur emosi dan ketertarikan penonton untuk tetap mencerna isi cerita.
Viva juga berhasil mengeksekusi salah satu sejarah kelam bangsa ini sebagai sebuah latar belakang yang kuat dan mampu menjadi pilar yang kokoh untuk struktur ceritanya. Dengan piawai, oleh Viva Westi adegan kerusuhan tidak digambarkan dengan secara berlebihan apalagi vulgar, namun tetap dapat menangkap atmosfir kelam dan mengerikan dari peristiwa tersebut.
Juga, dengan memasukkan sub-plot karakter Gandang didalamnya, maka film pun dapat menjadi kontemplatif tanpa harus menggurui kemudian. Dengan dialog-dialog yang cukup bernas, semakin menambah nilai positif untuk film.
Yang menjadi masalah justru kedua aktor utamanya. Yama Carlos telah bermain dibeberapa film dan sinetron dan ini adalah film keduanya sebagai leading. Sementara Jenny Chang memang benar-benar baru di ranah tersebut. Keduanya telah berupaya memberikan penampilan terbaik mereka, namun sayangnya tidak benar-benar kuat untuk kemudian menjadi believeable menjadi May dan Antares. Bukan berarti keduanya bermain buruk, namun dengan dukungan bintang-bintang papan atas seperti Lukman Sardi, Ria Irawan, Tio Pakusadewo dan Tuti Kirana, menyebabkan akting mereka terlihat sangat rata-rata.
Sisi kurang menyenangkan lainnya adalah pada beberapa bagian, perpindahan adegannya kurang terasa halus. Juga sub-plot karakter Gandang yang rasanya terlalu panjang sehingga mencuri perhatian dari kisah utamanya. Mungkin porsinya harus lebih kecil? Entahlah.
Apakah kemudian film akan berakhir dengan happy ending yang telah menjadi tipikal bagi film sejenis? Sekedar wanti-wanti yang kurang penting; jangan tertipu dengan adegan akhirnya. Pada hakikatnya apa yang terlihat tidak sama dengan apa yang tersurat!
Pada akhirnya, 'May' adalah sebuah drama komersil dengan unsur kontemplatif yang cukup dalam. Viva Westi cukup berhasil membangun jalinan cerita melodramatis yang intens namun tidak lantas menjadi cengeng. Untuk tahun ini, 'May' jelas adalah salah satu film Indonesia yang menarik untuk disimak. Direkomendasikan.





Hmmm..May keren lho!Jadi mas Harris udah nonton juga?
Tutie Kirana,Lukman Sardi ama Ria Irawan itu aktingnya bagus2...
Tapi Yama Carlos?tadinya gw berharap banyak...tapi....no comment...
Ceritanya udah lengkap tuh.Kalo gw bilang ini lebih dari sekedar melodrama,ada selipan drama kemanusiaannya.Tapi yg satu ini kurang dieksplorasi ama penulis skenarionya.
Tapi secara keseluruhan kudos! Sinematografi ama art direction T.O.P!
p.s.
Lagi2 sutradaranya perempuan,negeri kita ini sutradara perempuannya banyak banget,apalagi pada berbakat2 semua(inget dong Nia Dinata,Upi,Nan Achnas,Sekar Ayu Asmara,Lasja Fauzia,Djenar Maesa Ayu,sekarang ada Viva Westi ama Rachmania Arunita ??? waow...)
Posted by: DN | June 9, 2008 10:19 AM
yah....senang kamu setuju sama saya??? iklim indutri perfilman Indonesia yang baru ini memang memberikan angin segar bagi sutradara perempuan untuk berkembang
Posted by: hARIs | June 10, 2008 07:14 PM
"Saya sebenarnya merasa sedikit bersalah, karena kemarin tidak sempat menyaksikan 'Suster N', karya perdana Viva Westi"
saya da ntn Suster N....
bagus n beda dari film horor yang lain, imho....
secara cerita Suster N menjanjikan dan bagus malah....
tapi sayang ceritanya kurang di-explor lagi jadunya terkesan ...
'gtu aja'
tp overall, suster N berbeda dan memberikan sesuatu yang baru lah, dan 1 lagi Suster N seribu x lbh bagus dari 'Suster Ngesot' nya MD-Pictures
my grade bwt Suster N : 3
tambahan :
The Orphanage ttp dtunggu...
hehe.....
Posted by: ADaM Al | June 11, 2008 07:56 PM
ok2..ditonton deh Suster N-nya nanti..hehehee
Posted by: hARIs | June 13, 2008 05:11 AM