Archive for June, 2008

This Blog is Moving Out

Thursday, June 26th, 2008

Fiksi’s review is the 200th thread for this blog and sadly I must say that was the last post for this blog because I want to concentrate posting in my Multiply. Well, this decision is not made in just one night, but after several contemplation :)). I must say that posted threads in two site is tiring. So, with keep posting in just one blog I think will more focus on my subject and hopefully wrote it more insightful. My Multiply has many advantages rather this Friendster Blog, because I also share my personal thougts, video, images and music, especially musics from my favorite soundtrack.  Enough talking. I just wanna say GOODBYE..and thank you for  all your attention for this blog and deep from  my heart I asked for your apology, if i said  wrong, intentionally or not.  So, the Multiply  site  is:

chaosisgreen.multiply.com

Findingmyneverland

‘FIKSI’: This Fiction Turn Into Sinister Reality

Friday, June 20th, 2008

Produksi: Cinesurya (2008)
Sutradara: Mouly Surya
Cast: Ladya Cheryl, Donny Alamsyah, Kinaryosih, Inong, Rina Hasyim, Egy Fadly, Soultan Saladin, Jose Rizal Manua

Genre: Drama/Thriller
Durasi: (+) 100"
Release Date: 19 Juni 2008
My Grade: 3.5 out 5

Fiksi_poster
Banyak yang skeptis jika orisinilitas menjadi bagian yang eksklusif dari
film-film di Indonesia. Tidak bisa disalahkan saat fakta memang menunjukkan hal
tersebut. Saya setuju plagiat merupakan sebuah big-no-no, namun jika
orisinalitas diharapkan didapat dari film-film lain sebagai referensi, maka
rasanya itu juga terlalu berlebihan. Lagipula, dengan sejarah panjang dunia
perfilman saat ini, rasanya jarang sekali untuk mendapatkan film-film yang
benar-benar inventif. Bahkan Quentin Tarantino "menjiplak" habis-habisan gaya
film aksi Asia dalam ‘Kill Bill’. Hanya saja kemudian dapat tepermisifkan jika
bahan-bahan tersebut diolah menjadi sesuatu yang jenial.

Joko Anwar
selalu dituduh "kebarat-baratan" dalam setiap film atau skenarionya. Rasanya ini
juga terlalu berlebihan. Menyaksikan skenario terbarunya yang berjudul ‘Fiksi’
dan menjadi film debutan bagi sutradara perempuan bernama Mouly Surya, adalah
seperti menyaksikan plot yang bisa jadi umum di Barat sana, namun dikemas dengan
sentuhan lokal yang cukup kuat, sehingga menghasilkan sebuah narasi yang memikat
untuk disimak dari awal sampai akhir dan menambah khasanah film lokal yang
benar-benar layak untuk disimak.

Mengambil premis Alice in
Wonderland
, akan tetapi dibalik, film bercerita tentang Alisha (Ladya
Cheryl), seorang gadis kaya dengan kehidupan yang suram. Sampai ia kenal dengan
Bari (Donny Alamsyah), seorang pemuda sederhana yang tinggal berdua saja dengan
kekasihnya yang mahasiswa psikologi bernama Renta (Kinaryosih) di sebuah rumah
susun (namun menolak dikatakan sebagai pasangan ‘kumpul kebo’!). Alisha, yang
menyamar dengan memakai nama Mia, memutuskan untuk tinggal di rumah susun
tersebut.

Bari ternyata seorang penulis yang masih bingung untuk
memberikan akhir pada cerita-cerita yang ditulisnya mengenai beberapa karakter
yang kebetulan menetap di rumah susun tersebut. Alisha yang kini terobsesi
dengan Bari memutuskan untuk "memberi jalan" bagi klimaks di cerita-cerita Bari
dengan memberikan klimaks di dunia nyata bagi karakter-karakter tersebut. Namun,
yang namanya obsesi, jika kita terlalu konsumtif padanya maka pada akhirnya akan
berujung pada petaka. Maka, pada akhirnya giliran cerita mereka yang kini Alisha
perlu beri akhir.

Rasanya saya tidak perlu sebutkan pada film-film apa
saja ‘Fiksi’ mengingatkan saya. Yang penting saat ini adalah bagaimana saya
tersedot pada cerita yang ditawarkan oleh Mouli Surya ini. Bertahan pada
pace yang lambat memang mempunyai tendensi untuk ditinggal oleh atensi
penontonnya. Namun untunglah dinamika dalam ceritanya dialur dengan menarik,
yang kalau saya ibaratkan seperti layang-layang yang ditarik ulur. Saat kita
mulai merasa bosan, maka tiba-tiba cerita menawarkan "sesuatu" lagi yang membuat
kita untuk bertahan.

Ini mungkin yang menjadi minor bagi ‘Fiksi’ secara
umum, selain juga dimana rasanya ‘Fiksi’ terlalu banyak mengambil struktur drama
dibandingkan thriller. Terlepas dari hal-hal tersebut, Joko Anwar sekali lagi
menunjukkan betapa ia memang mempunyai refensi film dengan cakupan yang luas. Ia
memang tahu sekali filmya akan diarahkan kemana, sehingga saya berani
menyebutkan jika film bertutur dalam dramaturgi yang jelas dan lancar bercerita.

Tabik juga untuk Mouly Surya yang mampu mengemas cerita Joko dengan
estetika yang dipilihnya. Jika ia tidak memahami dengan baik kandungan cerita
film ini, saya yakin film akan berjalan pada arah yang salah dan pada akhirnya
meloncat ke jurang monotonisme. Oh ya, tentu saja ia tahu kemana arah film akan
berjalan. Bukannya ide cerita film ini berasal darinya?

Ladya Cheryl
sendiri katanya memang sudah dibayangan Mouly saat mulai menulis cerita film
ini. Tidak heran jika karakter Alisha diperankannya dengan tone yang
setipe saat menjadi Alya di film ‘Ada Apa Dengan Cinta’ yang lalu. Hanya saja
kini dengan atmosfir yang lebih kelam. Ms. Ladya, I think you should take
another role in another films to variate your acting resume
. Pada intinya
untuk menambah jam terbang saja.

Donny Alamsyah sendiri beruntung jika
pada banyak film lain ia hanya sebagai pemain pendukung, sehingga bisa mengasah
aktingnya secara lebih tajam. Ia mampu menjadi Bari yang memang dibutukan oleh
skenario. Tapi saya curiga, jangan-jangan karakter Bari juga terinspirasi dari
keseharian Donny. Kinaryosih, dalam peran pendukung, tidak istimewa dan
cenderung dapat dilupakan, namun cukup memberi kontribusi yang signifikan
terhadap progresi cerita.

‘Fiksi’ adalah film yang berbeda. Bukan film
yang umum mungkin. Selama selera penonton kita belum berubah dari pola yang
terjadi saat ini, film seperti ini tidak akan dengan mudah diterima oleh awam.
Akan tetapi film ini menjadi penting karena ia dibutuhkan sebagai sosialisi (dan
juga edukasi) bagi kalangan penonton kita, bahwa film yang baik dan benar itu
lebih menambah khasanah wawasan berfikir dan pada akhirnya kita akan mempunyai
penonton dengan daya nalar yang lebih kritis. Okay, enough being preachy and
just watch the film while it still last, which I think won’t be long at the
cinema
.


‘KUNG FU PANDA’: This Panda Can Do Some Kung Fu Styles

Thursday, June 19th, 2008

Produksi: Dreamworks Pictures (2008)
Sutradara: John Stevenson & Mark Osborne
Voice Cast: Jack Black, Dustin Hoffman, Angelina Jolie, Ian McShane, Seth Rogen, Lucy Liu, David Cross, Randall Duk Kim, James Hong, Dan Fogler, Michael Clarke Duncan, Jackie Chan

Genre: Animasi/Aksi/Komedi
Durasi: 91"
Release Date: 05 Juni 2008 (USA)
My Grade: 3.5 out 5

Kung_fu_panda_1
Akhirnya penantian saya akan ‘Kung Fu Panda’ terbayarkan
sudah. Menyaksikan sebuah film "kung-fu" dengan perspektif animasi-komedi, maka
film terasa sangat mengibur. Namun, apakah saya merasa puas dengan film ini
secara umum? Rasanya belum!

Po (Jack Black) adalah seekor (atau seorang?)
Panda yang bekerja di restoran mie yang terkenal dengan resep rahasia milik
ayahnya, seekor unggas(!) bernama Mr Ping (James Hong). Ia sangat bercita-cita
ingin menjadi seorang pendekar kung fu yang handal. Namun karena masalah makan
dan obesitas, ia hanya sanggup untuk bermimpi.

Sementara itu di Jade
Palace
a.k.a. Istana Kumala, Master Oogway (Randall Duk Kim) meramalkan
kepada Master Sifu (Dustin Hoffman) akan keberadaan Dragon Warrior atau
Pendekar Naga untuk menghadapi kebengisan mantan asuhan Master Sifu yang bernama
Tai Lung (Ian McShane). Meski Tai Lung telah dipenjara di sebuah penjara dengan
sistem keamaan maksimum pimpinan Komandan Vachir (Michael Clarke Duncan), namun
Oogway yakin ia akan bebas.

Sifu yang sangat mempercayai ramalan Oogway
kemudian menghimpun kelima murid mumpuninya, Tigress (Angelina Jolie), Monkey
(Jackie Chan), Viper (Luci Liu), Mantis (Seth Rogen) dan Crane (David Cross),
untuk dipilih oleh Oogway menjadi Pendekar Naga. Sebuah "kebetulan" membuat
Oogway menunjuk Po sebagai sang Pendekar Naga. Sifu tentu saja merasa keberatan,
namun ia menghormati keputusan Oogway, sehingga dengan setengah hati memutuskan
untuk melatih Po.

Sementara itu Tai Lung telah benar-benar bebas dan
tujuannya adalah kembali ke Istana Kumala untuk merebut Sacred Scroll
atau Gulungan Suci yang dulu gagal direbutnya. Lantas, bisakah Po mengehentikan
Tai Lung dan mencapai cita-citanya sebagai seorang Kung Fu
Master
?

‘Kung Fu Panda’ adalah aksi-animasi dengan penampilan
adegan-adegan laganya yang terlihat menakjubkan, maka ini menandakan jika
referensi duo John Stevenson & Mark Osborne sebagai pengarah film cukup luas
akan genre "kung fu" ini. Nah, masalahnya film kemudian berjalan seperti
kumpulan serangkaian adegan aksi minus cerita yang problematis.

Apalagi,
dengan kedalaman kapasitas akting yang diberikan oleh Jack Black dan Dustin
Hoffman dalam mengisi suara karakternya, memang membuat ‘Kungfu Panda’ menjadi
terasa ciamik oleh "duel" akting untuk mereka, namun justru membuat
karakter-karakter dan voice talents lainnya menjadi underused,
terutama Jackie Chan yang hanya mendapat beberapa dialog saja!

Filmnya
sendiri memang terlalu sederhana, menampilkan pola from hero to zero yang
sudah awam dan tertebak jalan ceritanya. Rasanya inilah yang memang membedakan
film-film animasi Dreamworks dengan Disney-Pixar yang mempunyai kedalaman dalam
kadar ceritanya, tanpa harus banyak memakai bintang-bintang tenar sebagai
pengisi suara, seperti yang biasa dilakukan oleh Dreamworks.

Terlepas
dari itu, ‘Kung Fu Panda’ menerapkan plot film-film Kung Fu klasik dengan
proporsi yang tepat dalam format animasinya ini. Harimau, Monyet, Ular, Belalang
dan Bangau adalah lima personifikasi umum dalam jurus-jurus kungfu dan saat
ajang pelatihan Po oleh Sifu sangat mengingatkan akan film-film Kungfu tersebut.
Bisa dikatakan ‘Kungfu Panda’ adalah homage dalam bentuk animasi terhadap
film-film tersebut.

‘Kungfu Panda’ jelas bukan film animasi terbaik
keluaran Dreamworks. Namun ia sangat menghibur dan bisa memuaskan banyak
kalangan yang mengharapkan agar dapat terhibur saat menonton sebuah film.
Pastinya film ini tidak akan menjadi klasik layaknya ‘Shrek’ yang rasanya
satu-satunya animasi Dreamworks yang dapat dianggap klasik. Memang sudah
momentumnya bagi Dreamworks untuk juga memikirkan kedalaman cerita dan
pengembangan karakter untuk film-film animasinya, kalau ia mau tidak tertinggal
oleh pesaingnya yang mempunyai lebih banyak film animasi kontemporer yang kini
sudah dianggap klasik.


‘SUMPAH POCONG DI SEKOLAH’: A Horror Comedy That Entertains But Fails To Undertand The Genre

Thursday, June 19th, 2008

Produksi: Maxima Pictures/27Ant (2008)
Sutradara: Awi Suryadi
Cast: Alex Komang, Marcell Darwin, Fandi Christian, Hardi Fadhillah, Herichan, Joshua Pandelaki, Henidar Amroe

Genre: Horor/Komedi
Durasi: (+) 100"
Release Date: 12 Juni 2008
My Grade: 2.5 out 5

Sumpah_pocong_di_sekolah
Saat sang hantu perempuan merangkak keluar dari televisi
dan mulai mencekik Alex Komang, saya langsung tahu kalau komedi sejatinya memang
ranah utama bagi Awi Suryadi (Claudia/Jasmine). Saya juga langsung tahu kalau
dia itu sama sekali tidak punya ide yang inventif untuk bagaimana menciptakan
atmosfir seram, sehingga harus mengkloning adegan-adegan seram dari film-film
horor lainnya yang jelas-jelas lebih superior!

‘Sumpah Pocong di Sekolah’
mempunyai judul yang sensasional dengan jalan cerita yang kini sudah jenerik.
Menampilkan hantu dengan penampilan yang jenerik pula, sehingga pada akhirnya
film ini adalah film jenerik yang berusaha menarik perhatian dengan aksi-aksi
yang "heboh".

Tidak ada yang baru disini. Menceritakan tiga orang siswa
dari sekolah elit khusus laki-laki yang tidak mempunyai karakter jelas kecuali
kalau mereka itu badung (yang rasanya juga kurang meyakinkan!). Saat mereka
diminta pertanggungjawaban akan kelakukan badung mereka, justru mereka semakin
badung dengan melakukan Sumpah Pocong.

Seperti sudah dapat ditebak,
sumpah ghaib tersebut mengundang makhluk ghaib lainnya dan mulai mengganggu
ketentraman hari-hari mereka. Uniknya, yang mencoba membongkar tabir sang mahluk
ghaib aka "hantu perempuan berambut panjang", bukan ketiga siswa
laki-laki yang rasa tanggung jawabnya diletakkan didengkul mereka tersebut,
melainkan seorang guru perempuan nan seksi yang motivasinya juga kurang kuat dan
berakhir dengan klimaks yang membuat karakter ketiga siswa laki-laki yang masa
depannya kurang jelas itu (dan juga guru seksi) menjadi tidak penting
lagi.

Memang kedengarannya konyol, tapi (dengan segala keterbatasannya)
saya juga langsung tahu kalau Awi ternyata memang mampu untuk meramu adegan demi
adegan dengan gaya bertutur yang lancar. ‘Sumpah Pocong di Sekolah’ tidak hanya
dipenuhi adegan (yang dicoba) seram, namun juga dipenuhi oleh banyak adegan
dagelan yang konyol dan tidak juga kehilangan dramatisasi yang menarik.

Ini menjadikan film menjadi menghibur dan tidak membosankan. Film ini
jelas diatas dari banyak film horor Indonesia yang tidak jelas kualitasnya.
Tidak dinafikan lagi kalau Awi Suryadi itu berbakat dan ia masih sangat muda dan
memerlukan jam terbang yang lebih tinggi lagi. Hanya saja mungkin horor bukan
pilihan yang tepat baginya dan he really should stick to the comedy
instead
.

Anyway, Awi is lucky to have Alex Komang and Hennidar
Amroe because they are great as ussual. The threee so-called lead actors should
learn more from them
.


‘MAY’: Melodrama Gets Intense and Profound

Sunday, June 8th, 2008

Produksi: Flix Pictures (2008)
Sutradara: Viva Westi
Cast: Jenny Chang, Yama Carlos, Lukman Sardi, Ria Irawan, Tutie Kirana, Tio Pakusadewo, Niniek L. Karim, Jajang C. Noer

Genre: Drama/Roman
Durasi: 105"
Release Date: 05 Juni 2008
My Grade: 3.5 out 5

May_2 Saya sebenarnya merasa sedikit bersalah, karena kemarin tidak sempat menyaksikan
‘Suster N’, karya perdana Viva Westi, setelah membantu Garin Nugroho di
‘Serambi’. Walau mengambil genre horor, entah mengapa saya yakin kalau horor
ditangan Viva akan berbeda hasilnya. Walau kemudian saya membaca banyak komentar
yang sedikit negatif akan film tersebut, namun tidak menyurutkan keyakinan saya
jika Viva Westi merupakan salah satu sutradara muda yang dapat
diperhitungkan.

Keyakinan saya terbayarkan sesudah menyaksikan film ‘May’
ini. Sebuah film drama dengan penanganan yang lumayan menarik dan subtil,
sehingga meski bertema melodrama dalam esensinya, namun ‘May’ tetap mempunyai
kelas tersendiri yang dapat membedakan dengan kebanyakan film Indonesia
akhir-akhir ini.

Dengan mengambil latar belakang kerusuhan di bulai Mei
sepuluh tahun lalu, ‘May’ bercerita tentang May (newcomer, Jenny Chang),
seorang gadis keturunan Tiong Hoa yang terpaksa menghadapi tragedi dalam
hidupnya, karena sang kekasih, Antares (Yama Carlos, Angker Batu, Merah Itu
Cinta, In the Name of Love
), seorang sutradara dokumenter pemula, terlambat
menjemputnya dari sebuah audisi.

Tepat pada tanggal 13 Mei itu, May
harus mengalami penderitaan tak terperikan karena diperkosa oleh orang asing.
Cik Bing (Tuti Kirana), ibu May sangat kebingungan akan nasib May, namun karena
situasi yang tidak memungkinkan, maka ia terpaksa mengungsi ke Malaysia dengan
mengorbankan sertifikat rumah satu-satunya kepada Gandang (Lukman Sardi),
seorang petugas laundry hotel tempat Cik Bing mengungsi. Gandang sendiri
terpaksa melakukan hal tersebut karena istrinya (Ria Irawan) tengah hamil tua
dan membutuhkan banyak biaya. May sendiri diselamatkan oleh seorang jurnalis
asing dan dibawa ke Malaysia. Ternyata May hamil, namun ia tidak sudi untuk
memelihara anak tersebut.

sepuluh tahun kemudian, May, Antares, Cik Bing
dan Gandang menjadi sosok-sosok yang bebeda. Namun takdir mempertemukan mereka
kembali dan memberikan mereka kesempatan untuk menebus segala perbuatan mereka
di masa lalu.

Jika ditarik garis lurus dari intisari cerita diatas, maka
pada dasarnya ‘May’ adalah melodrama. Rasanya itu memang tidak terbantahkan
lagi. Namun Viva Westi tidak ingin filmnya bercerita secara linear, karena film
tentu saja akan membosankan. Maka dengan memakai alur maju-mundur, ia dapat
menjaga suspensi dalam cerita dan menarik ulur emosi dan ketertarikan penonton
untuk tetap mencerna isi cerita.

Viva juga berhasil mengeksekusi salah
satu sejarah kelam bangsa ini sebagai sebuah latar belakang yang kuat dan mampu
menjadi pilar yang kokoh untuk struktur ceritanya. Dengan piawai, oleh Viva
Westi adegan kerusuhan tidak digambarkan dengan secara berlebihan apalagi
vulgar, namun tetap dapat menangkap atmosfir kelam dan mengerikan dari peristiwa
tersebut.

Juga, dengan memasukkan sub-plot karakter Gandang didalamnya,
maka film pun dapat menjadi kontemplatif tanpa harus menggurui kemudian. Dengan
dialog-dialog yang cukup bernas, semakin menambah nilai positif untuk
film.

Yang menjadi masalah justru kedua aktor utamanya. Yama Carlos telah
bermain dibeberapa film dan sinetron dan ini adalah film keduanya sebagai
leading. Sementara Jenny Chang memang benar-benar baru di ranah tersebut.
Keduanya telah berupaya memberikan penampilan terbaik mereka, namun sayangnya
tidak benar-benar kuat untuk kemudian menjadi believeable menjadi May dan
Antares. Bukan berarti keduanya bermain buruk, namun dengan dukungan
bintang-bintang papan atas seperti Lukman Sardi, Ria Irawan, Tio Pakusadewo dan
Tuti Kirana, menyebabkan akting mereka terlihat sangat rata-rata.

Sisi
kurang menyenangkan lainnya adalah pada beberapa bagian, perpindahan adegannya
kurang terasa halus. Juga sub-plot karakter Gandang yang rasanya terlalu panjang
sehingga mencuri perhatian dari kisah utamanya. Mungkin porsinya harus lebih
kecil? Entahlah.

Apakah kemudian film akan berakhir dengan happy
ending
yang telah menjadi tipikal bagi film sejenis? Sekedar wanti-wanti
yang kurang penting; jangan tertipu dengan adegan akhirnya. Pada hakikatnya apa
yang terlihat tidak sama dengan apa yang tersurat!

Pada akhirnya, ‘May’
adalah sebuah drama komersil dengan unsur kontemplatif yang cukup dalam. Viva
Westi cukup berhasil membangun jalinan cerita melodramatis yang intens namun
tidak lantas menjadi cengeng. Untuk tahun ini, ‘May’ jelas adalah salah satu
film Indonesia yang menarik untuk disimak. Direkomendasikan.


‘APARTMENT 1303′: Another Ghost in da House!

Sunday, June 8th, 2008

Produksi: MonteCristo International (2007)
Sutradara: Ataru Oikawa
Cast: Noriko Nakagoshi, Eriko Hatsune, Yuka Itaya, Naoko Otani, Arata Furuta

Genre: Horor/Thriller
Durasi: 94"
Release Date: 27 Oktober 2007 (JEPANG)
My Grade: 1.5 out 5

Apartment1303
Ada apa dengan film-film horor Jepang akhir-akhir ini? Setelah menjadi pionir
dengan sejumlah film yang monumental seperti ‘Audition’, ‘Battle Royale’,
‘Ringu’, ‘Ju On: The Grudge’, ‘Dark Water’, ‘Pulse’ dan ‘One Missed Call’, maka
film-film yang keluar saat ini adalah film-film yang sudah terlalu repetitif dan
kehilangan unsur inventifnya dalam segala segi. Kalau mau jujur, kok rasanya
film-film horor Indonesia malah terasa jauh lebih baik? Yes, there’s pun
intended
!

‘Apartment 1303′ bukan pengecualian. Segala hal yang biasa
kita lihat dalam film-film terdahulu diatas bisa disaksikan disini. Hantu
perempuan berambut panjang? Penuh dengan dendam? Korban penganiayaan? Anak kecil
misterius? Hm??? Apa yang baru ya?

Mariko menyelidiki kematian adiknya
yang melompat dari balkon apartemen bernomor 1303 yang baru ditempatinya. Ia
curiga ini bukan kasus bunuh diri biasa dan entah mengapa ia curiga akan adanya
unsur ghaib didalamnya. Ternyata memag benar. Apartemen (yang tidak angker) itu
telah memakan banyak korban gadis muda yang juga melakukan bunuh diri dari atas
balkon apartemen tersebut.

‘Apartment 1303′ diangkat dari novel karya Kei
Oishi yang dimana novelnya yang lain telah diangkat menjadi ‘Ju On: The Grudge’.
Tidak heran jika trademark dari film tersebut banyak menempel di film
ini.

Sayangnya Ataru Oikawa terlalu jenerik dalam menggarap film ini
dengan memakai formula yang telah menjadi basi, sehingga film menjadi kurang
menyeramkan dan menarik. Pada akhirnya dengan banyaknya pengulangan adegan, film
pun mempunyai tendensi untuk membosankan. Belum lagi secara teknis film terasa
sangat marjinal dan rasanya hanya cocok untuk menjadi konsumsi di televisi.

Sebenarnya film ini tidak buruk-buruk amat dan berpotensi untuk dapat
menjadi menyeramkan, jika saja daftar film-film yang lebih superior diatas tidak
dibuat. Ujung-ujungnya ‘Apartement 1303′ bukanlah film yang begitu penting untuk
disimak, kecuali kalau memang ingin melihat variasi dari tema yang sejenis atau
memang sudah tidak ada film lain yang bisa ditonton.


‘ACROSS THE UNIVERSE’: All You Need is The Love Songs of The Great Beatles

Sunday, June 8th, 2008

Produksi: Columbia Pictures (2007)
Sutradara: Julie Treymor
Cast: Jim Sturgess, Evan Rachel Wood, Joe Anderson, Dana Fuchs

Genre: Drama/Musikal
Durasi: 133"
Release Date: 12 Oktober 2007 (USA)
My Grade: 3 out 5

Across_the_universeSiapa yang tidak kenal dengan The Beatles. Band asal
Inggris tersebut bisa dikatakan merupakan salah satu band yang paling
berpengaruh dalam industri musik kontemporer saat ini. Dengan lagu-lagu melodius
nan kontemplatif, telah menjadikan band ini sebagai sebuah legenda
besar.

Saat Julie Taymor berniat membuat film musikal dengan menjadikan
lagu-lagu dari The Beatles sebagai bagian dari musikalitas dalam dramaturginya,
tentu saja ekspektasi melambung tinggi, berharap agar musik-musik yang jenial
tersebut mampu meniupkan ruh yang diperlukan oleh filmnya.

Ceritanya
sederhana saja. Berseting paruh 60-an, seorang pemuda Inggris, Jude (Jim
Sturges) bertolak ke Amerika karena ingin bertemu dengan sang Ayah yang tidak
pernah ditemui seumur hidupnya. Nasib mempertemukan ia dengan kakak beradik Lucy
(Evan Rachel Wood) dan Max (Joe Anderson). Sudah bisa diduga Jude jatuh cinta
dengan Lucy. Yah, kemudian Lucy pun jatuh cinta kepada Jude. Hanya saja, gaya
hidup Jude yang happy-go-lucky ternyata tidak berkesinambungan dengan
Lucy yang tenggelam dalam idealismenya dalam menentang perang Vietnam yang
berkecamuk. Cerita juga diselingi pula dengan karakter-karakter satelit yang
mengingatkan akan streotipe yang umum berlaku pada masa itu (hippies, rock
n’roll, kebebasan dan sebagainya).

‘Across The Universe’ adalah
pretensius. Rasanya hal tersebut susah untuk dinafikan. Tentu saja, walau
bercerita tentang issue yang tengah hangat pada masa itu, namun rasanya tetap
faktual dalam konsep kekinian. Namun, rasanya memang Taymor terlalu bersemangat
dalam membuat sebuah drama musikal yang kontemplatif, sehingga kemudian
meninggalkan esensi dari musikalitas itu sendiri.

Dalam sebuah film
musikal, seyogyanya unusr lagu adalah satu bagian dari narasi. Dalam arti,
kadang ia adalah sebuah dialog yang berbicara. Nah, disini Taymor terlalu
memaksakan agar plot film berjalan dengan lagu-lagu yang menjadi pilihannya,
sehingga film malah terasa kosong dan sedikit kehilangan arah, seperti kumpulan
video musik dalam konteks yang kurang jelas. Ini membuat film hanya sebagai
“penanda” dari kemegahan lagu-lagu dari The Beatles tersebut.

Harus
diakui, secara visual, Taymor mampu membangkitkan kenangan yang lekat akan
lagu-lagu tersebut, sehingga adegan terasa menggugah. Bahkan, ia dengan
imajinasinya yang kuat mampu membuat penggambaran yang kadang surealistis namun
tetap terasa indah.

‘Across The Universe’ adalah pengalaman visual yang
menarik, juga bukanlah film musikal yang buruk. Hanya saja, menjadi pretensius
terkadang menjadikan film kehilangan esensi dalam urgensinya. Dan itulah ‘Across
The Universe’.