'MEREKA BILANG, SAYA MONYET': Hati Manusia Itu Kacau dan Absurd, Akan Tetapi Menyenangkan Untuk Disimak
Produksi: Intimasi Productions (2007)
Sutradara: Djenar Maesa Ayu
Cast: Titi Sjuman, Henidar Amroe, Ray Sahetapy, Bucek, Mario Lawalatta, Fairuz Faisal, Ayu Dewi, Jajang C. Noer, August Melaz, Nadya Rompies, Banyu Bening
Genre: Drama
Durasi: 90"
Release Date: 28 Desember 2007 (limited)
Release Date: 28 Desember 2007 (limited)
My Grade: 3.5 out 5
Mengikuti jejak Richard Oh dengan 'Koper'-nya, maka Djenar
Maesa Ayu adalah penulis berikutnya yang menjajal bidang pengarahan film.
Sebenarnya dunia film tentu saja bukan hal yang baru bagi Djenar, secara ayahnya
adalah sang legenda perfilman Indonesia, Sumanjaya dan ia sempat pula berakting
di film 'Koper' dan 'Anak-Anak Borobudur'. Keraguan sempat hinggap
dihati, apakah Djenar bisa menafsirkan dua cerpennya, 'Lintah' dan 'Melukis
Jendela' yang terdapat dalam antologi 'Mereka Bilang, Saya Monyet', menjadi
sebuah narasi seperti film. Untunglah Djenar, yang mengaku tidak bisa bercerita
dengan linear, dibantu oleh Indra Herlambang sebagai penulis skenario, hingga ia
kemudian bisa mengkhususkan pada bidang pengarahan saja.
Ternyata Djenar memang berbakat. 'Mereka Bilang, Saya Monyet'adalah pembuktiannya. Film berjalan dengan pace yang lancar, gampang dicerna dan tetap terlihat surealis, seperti yang memang menjadi ciri khas Djenar dalam penulisannya. Hanya saja memang media film berbeda dengan novel. Walaupun sama-sama bermodalkan narasi, Djenar sadar jika ia hanya akan membingungkan penontonnya jika tetap nekad berkeinginan menggambarkan simbolisasi dalam penulisannya dalam bentuk film, karena mungin ia sadar akan keterbatasannya sebagai sutradara debutan sehingga akan cukup sulit untuk menggambarkan surealisme yang dapat dipahami.
Oleh karena itu film tetap berjalan dengan plot yang cukup linear, walaupun bermodalkan alur maju-mundur, yang bisa saja memusingkan. Namun, dengan cekatan ia mengeksekusi adegan-adegan yang dapat terjalin dengan baik, walau kadang-kadang terasa kurang rapi, karena emosi ledakan dari pengarahan Djenar yang bersemangat, sehingga terasa overrated di beberapa bagian (sekuens teleponnya sudah sampai pada taraf annoying, no pun intended).
Djenar juga cukup cekatan dalam menyikapi bujet yang minimal, karena hasil akhirnya, dalam skala independen, film tetap terasa feel sinematisnya, berbeda dengan pendekatan yang sama oleh Rudi Sudjarwo terhadap film-filmnya akhir-akhir ini, yang diproduksi oleh perusahaan film besar namun malah terasa lebih condong untk konsumsi televisi dibandingkan untuk sebuah layar lebar.
Beruntungnya lagi film ini didukung oleh pendatang baru berkualitas seperti Titi Sjuman, yang notabene adalah saudari iparnya sendiri. Kadang kala kemiripiannya dengan Djenar dan problematikanya dalam film ini mengingatkan akan Djenar itu sendiri, terlepas disengaja atau tidak. Titi memberikan kemampuannya dalam menerjemahkan karakter Adjeng, sehingga kita benar-benar dapat merelasikan dengan karakternya. Plus, ada Henidar Amroe dan Ray Sahetapy. Rasanya kekuatan akting mereka tidak perlu untuk diragukan lagi.
'Mereka Bilang, Saya Monyet' mungkin bukan film yang besar, dan hanya batu kecil dalam industri perfilman Indonesia akhir-akhir ini. Tapi ia adalah batu kecil yang bernilai cukup tinggi, hingga rasanya cukup pantas direkomendasikan untuk dipilih sebagai salah satu karya anak bangsa yang cukup membanggakan. Dan untuk Djenar sendiri, ditunggu film-film berikutnya.
Ternyata Djenar memang berbakat. 'Mereka Bilang, Saya Monyet'adalah pembuktiannya. Film berjalan dengan pace yang lancar, gampang dicerna dan tetap terlihat surealis, seperti yang memang menjadi ciri khas Djenar dalam penulisannya. Hanya saja memang media film berbeda dengan novel. Walaupun sama-sama bermodalkan narasi, Djenar sadar jika ia hanya akan membingungkan penontonnya jika tetap nekad berkeinginan menggambarkan simbolisasi dalam penulisannya dalam bentuk film, karena mungin ia sadar akan keterbatasannya sebagai sutradara debutan sehingga akan cukup sulit untuk menggambarkan surealisme yang dapat dipahami.
Oleh karena itu film tetap berjalan dengan plot yang cukup linear, walaupun bermodalkan alur maju-mundur, yang bisa saja memusingkan. Namun, dengan cekatan ia mengeksekusi adegan-adegan yang dapat terjalin dengan baik, walau kadang-kadang terasa kurang rapi, karena emosi ledakan dari pengarahan Djenar yang bersemangat, sehingga terasa overrated di beberapa bagian (sekuens teleponnya sudah sampai pada taraf annoying, no pun intended).
Djenar juga cukup cekatan dalam menyikapi bujet yang minimal, karena hasil akhirnya, dalam skala independen, film tetap terasa feel sinematisnya, berbeda dengan pendekatan yang sama oleh Rudi Sudjarwo terhadap film-filmnya akhir-akhir ini, yang diproduksi oleh perusahaan film besar namun malah terasa lebih condong untk konsumsi televisi dibandingkan untuk sebuah layar lebar.
Beruntungnya lagi film ini didukung oleh pendatang baru berkualitas seperti Titi Sjuman, yang notabene adalah saudari iparnya sendiri. Kadang kala kemiripiannya dengan Djenar dan problematikanya dalam film ini mengingatkan akan Djenar itu sendiri, terlepas disengaja atau tidak. Titi memberikan kemampuannya dalam menerjemahkan karakter Adjeng, sehingga kita benar-benar dapat merelasikan dengan karakternya. Plus, ada Henidar Amroe dan Ray Sahetapy. Rasanya kekuatan akting mereka tidak perlu untuk diragukan lagi.
'Mereka Bilang, Saya Monyet' mungkin bukan film yang besar, dan hanya batu kecil dalam industri perfilman Indonesia akhir-akhir ini. Tapi ia adalah batu kecil yang bernilai cukup tinggi, hingga rasanya cukup pantas direkomendasikan untuk dipilih sebagai salah satu karya anak bangsa yang cukup membanggakan. Dan untuk Djenar sendiri, ditunggu film-film berikutnya.





huahaha.... ahirnya janjinya ditepati juga...
suka juga ma ni film... akting2 nya nendang banget (khususnya henidar amroe n titi sjuman!great!great perfomance!
favourite quote:
" percuma ngomong sama lo, lo tuh tau nya cuma NGEWEK doank... NGEWEK nya juga gak enak..."
haha...kayaknya dah lama banget gak denger orang ngemeng kata "ngewek"...udah gitu titi fasih banget ngemeng "ngewek" nya... waw.... :D
btw, ngapain bang joko di pelem ini?
shot...dah ditungguin dari awal ternyata cuma muncul 10 second duank... namanya muncul di opening lagi... padahal cuman akting benerin sreting duang...(sayang scene ML nya ma titi gak di shoot... takut ketauan kali ya si abang yang satu ini...HAHAHAHA...
overall 3,5 juga dari gw... (untuk standar film independen)
padahal kalo cinematography nya di benahin biar lebih "layar lebar" mgkn gw akan ngilangin tulisan si dlm tanda kurung itu)
peace
Posted by: APATIS VIAN | May 27, 2008 03:11 AM
"padahal kalo cinematography nya di benahin biar lebih "layar lebar" mgkn gw akan ngilangin tulisan si dlm tanda kurung itu)"
tapi sebenarnya menurut aku udah lumayan okay. Mendingan daripada film2nya Rudi Sudjarwo yang memeningkan kepala!!!!!
Posted by: hARIs | May 27, 2008 05:27 AM
bang Joko senyum2 berpapasan ama Ray Sahetapy di depan lift :)
gw juga 3,5 of 5! Cerita rada standar -tapi sutradaranya tau gimana ngarahin scene supaya jadi gak standar.Good simbolization,good metaphore.
Satu lagi sutradra perempuan berbakat! Go Djenar!
Posted by: DN | May 28, 2008 08:35 AM
"cerita rada standar -tapi sutradaranya tau gimana ngarahin scene supaya jadi gak standar.Good simbolization,good metaphore. Satu lagi sutradra perempuan berbakat! Go Djenar!"
YUP!!!! Setuju
Posted by: hARIs | May 28, 2008 06:37 PM