Archive for March, 2008
‘KUNTILANAK 3′: Akhir Dari Kengerian sebuah Legenda
Tuesday, March 25th, 2008Release Date: 13 Maret 2008

Terlepas dari banyaknya dialog ekposisi yang
mengindikasikan jika penulis skenarionya, Ve Handojo, menganggap penonton film
ini begitu tolol, sehingga harus menghadirkan banyak penjelasan aksi karakter
melalui elaborasi dialog, ‘Kuntilanak 3′ berhasil meningkatkan eskalasi
ketegangan dibandingkan dua seri sebelumnya.
sebuah trilogi, Rizal Mantovani, sebagai sutradara tampaknya belajar banyak dari
kekurangan dua film sebelumnya, dan kini tampak memperhatikan dengan cukup
teliti akan pembangunan atmosfir kengerian yang memang diperlukan oleh film
ini.
Ceritanya ringan sekali, bahkan nyaris tipis. Sekelompok anak muda
pecinta alam berupaya mencari teman mereka yang hilang di kelamnya hutan sebuah
pegunungan. Tidak sengaja mereka bertemu dengan Samantha (Julie Estelle), yang
kini mempunyai misi tersendiri untuk mengakhiri konfrontasinya dengan mimpi
buruk bernama Kuntilanak yang telah membuat suram hari-harinya. Selanjutnya para
anak muda tersebut mati satu persatu ditangan Kuntilanak gunung, sedangkan Sam,
asyik sendiri dengan misinya.
Yah, bisa dikatakan karakter Samantha
dengan empat anak muda tersebut sama sekali tidak integratif dimana mereka
sebenarnya bisa berdiri sendiri tanpa harus memerlukan eksistensi dari karakter
lainnya. Karakter Samantha bisa menjalankan misinya tanpa harus kehadiran
karakter pendukung tersebut, sedangkan karakter pendukung tersebut bisa
dijadikan cerita sendiri tanpa harus melibatkan Samantha.
Karakter
satelit lebih berguna untuk unsur suspensi cerita agar lebih menarik, karena
tidak melulu hanya terfokus pada cerita utama, misi samantha, yang sebenarnya
bisa saja selesai dalam waktu setengah jam.
Jadi, alih-alih sebagai
penutup sebuah trilogi, ‘Kuntilanak 3′ lebih kepada cerita horor sekelompok anak
muda di tengah kabut gelap dan mistis sebuah hutan, yang mau tidak mau
mengingatkan akan ‘Hantu’ (2007) karya Adrianto Sinaga yang lalu.
Banyak
sekali adegan-adegan yang mengingatkan akan film tersebut. Beruntung (atau
sialnya bagi kru film ‘Hantu’?), kini Rizal bisa menjadikan film tersebut
sebagai template untuk membangun suspensi, sehingga unsur ketegangan bisa
cukup terjaga, berbeda dengan dua film sebelumnya yang mengendor menjelang
akhir.
Meski banyak kelemahan yang melekat di cerita film ini,
‘Kuntilanak 3′ jelas karya horor terbaik Rizal Mantovani saat ini. Hanya saja,
dengan hasil akhir film ini, rasanya ia gagal untuk menjadikan seri ‘Kuntilanak’
sebagai trilogi yang solid.
‘THE MIST’: Ada Sesuatu di Balik Kabut
Tuesday, March 25th, 2008Release Date: 21 Nopember 2007 (USA)

Terlepas dari nama besar Frank Darabont yang telah sukses
mengarahkan film-film berdasarkan karya Stephen King lainnya menjadi karya yang
berkelas (The Green Mile, Shawsank Redemption), tetap saja keraguan hinggap
dipikiran, apakah film ‘The Mist’ ini akan sebaik karya-karya Darabont
sebelumnya itu.
orang sebuah kota kecil terperangkap di sebuah swalayan saat bergulung-gulung
kabut tebal tiba-tiba menyelubungi seisi kota. Masalahnya bukan hanya jarak
pandang yang terganggu, namun ada sesuatu yang mengerikan dibalik kabut dan itu
mengincar nyawa manusia.
Maka dimulailah pembantaian satu-demi-satu
orang-orang yang ada di Swalayan tersebut, sedangkan sisanya berkemelut, apakah
pergi menerobos kabut untuk menyelematkan diri atau tetap tinggal menunggu ada
yang menyelamatkan?
Tentu saja, apa sih yang bisa diharapkan lebih dari
cerita semacam ini. Sangat tipikal dan telah berulang-ulang menjadi pakem dalam
film bergenre sejenis. Masalahnya kita membicarakan Frank Darabont sebagai orang
dibelakang layar disini. Ternyata ia memang piawai sekali dalam merangkau adegan
menjadi sebuah narasi yang mencekam, mendebarkan, sekalugis dramatik dalam
proposi yang seimbang.
Darabont lebih memfokuskan pada konflik yang
terjadi diantara orang-orang tersebut dan ia dengan sangat berhasil membangun
simpati penonton pada sebagian karakternya dan antipati pada karakter lainnya.
Padahal jelas-jelas ia menggambarkan karakter-karakter tersebut di ranah
abu-abu, bukan hitam atau putih yang sebagaimana menjadi tipikal dalam film
sejenis. Unsur kengerian tetap dimasukkan secara berkala, namun prioritas tetap
pada dramatisasi dan progresi konflik kepentingan karakter-karakter tadi.
Unsur streotype dan formulaic direduksi seperlunya dan
saat diperlukan penjelasan, maka penjelasan tersebut lebih kepada "hutang" yang
harus diberikan kepada penonton tentang apa yang sebenarnya terjadi, daripada
benar-benar diperlukan.
Film lebih bercerita tentang dilema serta krisis
moralitas disaat orang-orang menghadapi masalah yang mengancam jiwanya dimana
keselamatan sepertinya telah menjadi barang yang teramat mahal. Dan adegan
klimaks yang menggetarkan sepertinya mewakili dengan tepat!
‘The Mist’
adalah jenis horor yang selama ini saya rindukan. Sangat jarang sekali ada film
yang benar-benar "horor’ seperti film ini. Gelap, moody, intens dan
atmosferik. Direkomendasikan.
Poster “Hanya Untukmu” adalah Hasil Plagiat!!!!
Thursday, March 20th, 2008‘40 HARI BANGKITNYA POCONG’: Setelah Kematian, Mereka Akan Datang
Tuesday, March 11th, 2008Release Date: 06 Maret 2008

Rudi Sudjarwo kembali menggarap horor. Hal yang memang
saya tunggu, secara dengan ‘Pocong 2′ kemarin ia berhasil memberikan pengalaman
horor jernial, yang memang sudah lama saya tunggu dari film lokal. Namun, dengan
memakai judul yang rada-rada "mengkuatirkan" seperti ‘40 Hari Bangkitnya
Pocong’ ini, terus terang menimbulkan rasa ragu di hati. Pocong lagi? Apa tidak
ada jenis hantu yang lain untuk dieksplorasi? Tapi, ya sudahlah.
judul yang mengingatkan akan film-film era 80-an tersebut, seakan-akan Rudi
memang ingin mengenang kembali era keemasan horor Indonesia, dimana kengerian
sudah menjadi jaminan. Ini sudah ditandai dengan adegan awal yang sebenarnya
sederhana saja, akan tetapi terasa menggelisahkan.
OK. Ini awal yang
menarik. Kemudian adegan beralih pada sebuah kecelakaan mobil, yang jelas-jelas
adalah hasil teknik CGI, walaupun hasilnya lumayan mulus. Selanjutnya film
mengenalkan karakter Jessi (Sabai Morchek, Sang Dewi), yang terganggu
dengan mantan pacarnya yang obsesif, Nino (Raffi Ahmad, Bukan Bintang
Biasa). Lantas, untuk menghindari gangguan sang mantan, Jessi yang bekerja
di sebuah servis komputer memilih untuk menerima panggilan perbaikan komputer di
sebuah rumah. Ternyata kliennya adalah seorang pemuda simpatik bernama Kevin
(Irwansyah, Love), yang tinggal bersama dengan tantenya yang galak dan
neurotis (Faridha Pasha, Misteri Gunung Merapi).
Masalahnya
kemudian adalah, setelah itu Jessi mendapat gangguan dari berbagai makhluk
halus, yang secara konstan meneror kesehatan jiwanya. Ternyata Nino pun mendapat
masalah yang sama. Lantas, mengapa makhluk-makhluk halus ini meneror
mereka?
Rudi Sudjarwo sepertinya memang belum rela untuk melepaskan
trade-mark penggunaan kamera secara genggamnya. Sama halnya dengan
‘Pocong 2′, Rudi lebih menekankan pada situasi dan suasana serta ekspresi
karakternya untuk membangun atmosfir. Dan rasanya ini memang masih bekerja
dengan baik. Tterlepas dari akting standar Irwansyah dan Raffi Ahmad, Sabai
Morchek memang juaranya untuk film ini. Dia berhasil membangun rasa percaya
penonton akan teror yang dialaminya sehingga menular juga pada para
penontonnya.
sayangnya pola ini seakan pengulangan dari film ‘Pocong 2′
tersebut, sehingga justru menghilangkan unsur utama dari suspensi yang akan
dibangun. Ketegangan dan teror tetap ada, namun unsur mencekamnya sudah jauh
berkurang.
Terus terang, makin lama teknik penggarapan ala Rudi Sudjarwo
ini semakain mengganggu saja. Rasanya, film menjadi kehilangan unsur bercerita
secara sinematisnya dan treatment film layaknya untuk konsumsi televisi
saja. Bukannya, Rudi tidak mampu bercerita, hanya saja rasanya ada yang kurang
saja. Belum lagi banyaknya pengabaian logika yang membuat kening
berkerut.
Working Title dari film ini adalah ‘40 Hari Setelah
kematin’, sesuatu yang rasanya lebih pas untuk isi cerita dari pada judul yang
terasa menjual sensasionalitas seperti ‘40 Hari Bangkitnya Pocong’. Film yang
saya yakin shootingnya tidak memakan waktu sampai 40 hari ini memang lebih baik
dari banyak horor rata-rata saat ini, namun rasanya Rudi sudah harus memulai
menemukan formula barunya.
‘AYAT-AYAT CINTA’: Romantisme dalam Religiusitas
Tuesday, March 11th, 2008Release Date: 27 Februari 2008
‘Ayat-Ayat Cinta’ yang diangkat dari sebuah novel laris bercerita tentang Fachri(Fedi Nuril) adalah seorang mahasiswa muslim asal Indonesia yang tengah menimba
ilmu di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Ia bertetangga dan berteman baik
dengan gadis Mesir yang beragama Kristen Koptik, Maria (carissa Putri). Pribadi
Fachri yang bersahaja namun kharismatik begitu menyirap Maria dan juga Nurul
(Melani Putria), teman kuliahnya sesama Indonesia. Namun, justru Aisha (Rianti
Cartwright), perempuan bercadar namun berpendidikan serta kaya raya asal Jerman
yang justru menjadi istri pilihan Fachri. Ini tentu saja menghancurkan hati
Maria dan Nurul. Namun, masalah justru datang dari Noura (Zaskia Adya Mecca),
perempuan yang dulu pernah ditolongnya, dan kini menuduh Fachri telah
memperkosanya sehingga hamil. Disinilah ketegaran iman Fachri diuji.
Terus terang, saya tidak menemukan sesuatu yang istimewa setelah membaca
novel karangan Habiburrahman El-Shirazi yang lebih dikenal dengan Kang Abik
tersebut. Ceritanya standar saja. bahkan cenderung mengingatkan akan melodrama
di era 70-an. Namun, yang saya kagumi dari novel tersebut adalah saat kang Abik
mampu memasukkan nilai-nilai dakwah Islami tanpa kesan mendikte, sehingga kita
dapat menerima tanpa terasa digurui.
Perasaan yang sama saya dapati
setelah menyaksikan film yang diarahkan oleh sutradara kelas Citra, Hanung
Bramantyo. Filmnya menghibur, kuat dengan unsur religi tanpa ada kesan
ditempelkan. Esensi dalam dialog-dialognya cukup bernas. Dan secara umum film
juga cukup berkelas.
Duet penulis skrip Ginatri S. Noer dan Salman Aristo
cukup handal dalam merangkum novel beratus halaman tersebut dalam durasi cerita
dua jam-an. Film terasa berjalan dengan cepat dan ringkas. Merangkum
adegan-adegan yang dirasa penting untuk disampaikan. Namun, adegan yang berjalan
dengan cepatnya,kadang rasanya bagi penonton yang kurang awas atau awam dengan
novelnya akan merasa tertinggal.
Hanung sudah berusaha untuk menangkap
aura yang ada dalam novelnya. Sayangnya, berbagai kendala lapangan memang
membatasi daya imajinasinya, sehingga banyak adegan yang terasa kurang gaungnya
apalagi jika memang harus membandingkan dengan novelnya tadi. Terlepas dari itu,
upayanya sudah cukup maksimal untuk menjadikan film ini sebagai film yang terasa
megah.
Masalahnya, menyaksikan ‘Ayat-Ayat Cinta’, mengingatkan saya pada
saat dahulu menonton sandiwara televisi di era saat stasiun TV hanya ada satu di
negeri ini. Terutama yang mempunyai tema-tema islami dan berseting di jazirah
Arab. Dengan pemakaian bahasa yang terasa baku dan kaku, sehingga penyamaran
karakter orang Arab dengan orang Indonesia dan tentu saja mereka semua berbahasa
Indonesia. Bukannya tidak menghibur, namun rasanya cerita seakan sebuah dongeng
yang rasanya jauh dari kesan membumi.
Begitulah kesan saya akan film ini.
Akting Fedi dan Rianti kadang terasa karikatural dan kurang realitis. Terima
kasih atas pemakaian dialog yang setia dengan novelnya, sehingga terkadang
menyaksikan mereka seperti menyaksikan film India yang disulih suarakan dalam
Bahasa Indonesia. Beruntung Carissa Putri memainkan peranannya dengan cukup
gemilang. Ia berhasil menjadi Maria yang adorable namun juga cerdas tapi
memendam perasaan yang mendalam terhadap Fachri. Andai Carissa Putri
menerjemahkan secara salah karakter Maria, niscaya film akan membosankan. Zaskia
Adya Mecca dibatasi oleh adegan yang minimal, namun ia berhasil meniupkan kesan
membumi untuk karakternya, terlepas dari kesan kurang masuk akal sosok Melayunya
sebagai orang Mesir.
‘Ayat-Ayat Cinta’ adalah sebuah film roman. Rasanya
itu tidak terbantahkan. Yang menjadi nilai tambah disini adalah saat unsur
Islami menjadi bagian yang integratif tanpa kemudian menjadikan filmnya sebagai
film dakwah. Dan dia menghibur. Namun, ‘Ayat-Ayat Cinta’ sebagai sebuah film
yang istimewa? Rasanya itu terlalu berlebihan.



