Archive for February, 2008

‘CLAUDIA/JASMINE’: Romantisme Perempuan dalam Mencari Cinta

Wednesday, February 27th, 2008

Produksi: Nation Pictures (2008)
Sutradara: Awi Suryadi
Cast: Kinaryosih, Kirana Larasati, Nino Fernandez, Andhika Pratama, Mieke Amalia, Tio Pakusadewo, Ira Maya Sopha, Mario Lawalatta

Genre: Drama/Komedi/Roman
Durasi: + 100"
Release Date:  21 Februari 2008
My Grade: 3 out 5

Claudia_jasmine
Sebelum saya kenal Ebert, Travers dan Berardinelli, semasa saya masih menjadi
penonton berseragam sekolah, nama Yan Widjaya sebagai seorang komentator film
adalah andalan saya sebelum memutuskan untuk menyaksikan film. Sayangnya, kini
Pak Yan seakan menghilang dan otak saya juga sudah terkontaminasi oleh nama-nama
asing tadi, sehingga tidak pernah lagi menyaksikan film berdasarkan komentarnya
yang saya anggap bernas dan informatif itu.

Pada saat saya melihat
poster film Awi Suryadi yang berjudul ‘Claudia/Jasmine’ ini mencantumkan
komentar Pak Yan, maka niat saya untuk menyaksikan film ini menjadi besar.
Padahal sebelumnya film ini tidak masuk kedalam daftar film yang harus saya
tonton di bioskop. Untuk lebih jelasnya, biarlah saya cantumkan kutipan komentar
Pak Yan Widjaya berikut ini:

"Kinar dan Kirana hot, romantis dan kocak
abiies dalam skenario dan film jempolan
". Hm..Ok!

Tentu saja saya
menyadari jika ini adalah salah satu trik dagang dari produsennya, sehingga saya
kemudian menontonnya dengan ekspektasi yang serendah-rendahnya. Adegan dibuka
secara simultan yang menggambarkan awal hari dua orang perempuan, Claudia
(Kirana Lasarasti, Perempuan Punya Cerita) yang masih duduk dibangku SMU
dan Jasmine (Kinaryosih, Mendadak Dangdut) yang berusia diakhir dua
puluhan. Adegan terasa dinamis dan mengundang perhatian. Apalagi ada
gimmick komedi yang cukup segar didalamnya. Mulai dari sini ekspektasi
saya menambah sedikit.

Selanjutnya diperkenalkan karakter kedua
perempuan secara bertahap, hingga kemudian konflik masuk saat Claudia bertemu
dengan cinta pertamanya, Tody (Andhika Pratama, The Butterfly) dan
Jasmine bertemu dengan Jerry (Nino Fernandez, Cokelat Strberi), yang
diharapkan sebagai cinta terakhirnya.

Ringan. Itulah kesan pertama saya
setelah menyaksikan filmnya secara utuh. Menghibur. Itulah kesan kedua saya.
Tapi tetap berisi. Itulah yang menjadi kesan terakhir saya. Cerita yang
ditawarkan oleh Awi Suryadi sebagai penulis dan pengarah film sebenarnya sangat
tipis dan sederhana dan bisa saja berakhir sebagai FTV atau sinetron kebanyakan,
jika saja AWi tidak mempunyai treatment yang sinematis dan kreatif, jika
tidak mau dikatakan inventif, untuk filmnya ini.

Awi berhasil membangun
suspensi dalam cerita dengan baik, sehingga mengundang rasa penasaran untuk
penontonnya. Walaupun rasanya twist dan ending dalam filmnya sudah
bisa terbaca menjelang paruh film, namun Awi mampu untuk menjaga konsistensi
dinamika dalam ceritanya. Walaupun mungkin pada awalnya ada sedikit bertele,
namun menjelang paruh akhir, Awi membayarnya dengan cerita yang padat dan
solid.

Ia pun mampu membangun atmosfir romantik dan komedi secara
seimbang, sehingga terasa dalam takaran yang cukup pas. Mungkin ada beberapa
sub-plot yang tidak begitu signifikan dan pada beberapa bagian terasa
over-melodramatis, namun unsur tersebut rasanya memang bumbu penyedap yang tak
dapat dihilangkan dalam genre sejenis ini. Satu lagi yang penting, Awi terlihat
lihai dalam merangkai kata-kata dalam dialog yang trendy namun sense
kontemplatifnya tetap terasa.

Tentu saja film didukung dengan intensitas
akting dari duo Kinar dan Kirana. Rasanya label Best Supporting Actress
yang pernah disematkan untuk Kinar memang tidak percuma. Sedangkan Kirana, ia
dengan sukses melepaskan akting ala sinetronnya dan menjadi karakter yang
loveable.

Nah, setelah sebelumnya sempat meragukan komentar Pak
Yan Widjaya, pada akhirnya saya mengakui kalau (potongan) komentarnya untuk
‘Claudia/Jasmine’ itu ada benarnya juga. Mulai dari sekarang saya mencoba untuk
tidak meragukan kredebilitasnya lagi. Hahaha……!


‘NO COUTRY FOR OLD MEN’: A Mesmerizing Tale of Bloody Rampage

Wednesday, February 27th, 2008

Produksi: Miramax/Paramount Vintage (2007)
Sutradara: Ethan & Joel Coen
Cast: Tommy Lee Jones, Javier Bardem, Josh Brolin, Kelly Macdonald, Woody Harrelson

Genre: Drama/Thriller
Durasi: 122"
Release Date:  21 November 2007  (USA)
My Grade: 4.5 out 5

No_country_for_old_men_1
Setelah menyelesaikan membaca novel "No Country For Old
Men" karya Cormac McCarthy, terus terang saya merasakan kebingungan yang luar
biasa tentang apa sebenarnya yang terkandung dalam cerita dari novel yang
dibuatnya tersebut. Rasanya inilah novel terlama yang pernah saya selesaikan
membaca akibat harus mengulang sampai dua kali (terkadang tiga kali) membaca
setiap halamannya.
Novelnya sendiri berseting tahun 1980 dan bercerita
tentang seorang sheriff tua bernama Ed Tom Bell dalam menghadapi kasus
serangkaian pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pria psikopatis bernama Anton
Chigurh yang sedang mengejar seorang pria bernama Lyewllin Moss, karena Moss
melarikan sejumlah besar uang panas. Sepanjang isi novel rasanya hanya bercerita
tentang Chigurg dan Moss, sedangkan porsi sheriff tua rasanya sedikit
sekali.

Beruntung kemudian saya berkesempatan untuk menyaksikan film
adaptasinya yang diarahkan oleh Coen bersaudara. Ed Tom dimainkan oleh Tommy
Lee-Jones, Chigurh oleh Javier Bardem dan Moss oleh Josh Brolin dengan Kelly
Macdonald sebagai Carla Jean istri Moss dan Woody Harrelson sebagai Carson
Wells.

Secara esensi, Coen bersaudara terasa sangat setia sekali dengan
jalan cerita serta pengadeganan yang digambarkan oleh McCarthy dalam novelnya.
Tentu saja proses penyesuaian harus tetap dilakukan dengan dilakukan
perombakan-perombakan kecil demi kepentingan durasi.

Pada dasarnya novel
McCarthy berjalan dengan pola yang cukup linear dan tidak berbelit-belit,
sehingga Coen bersaudara dapat mengambil mayoritas isi novel ke dalam filmnya.
Coen bersaudara sendiri mengeksekusi filmnya dalam tempo yang lumayan lambat
akan tetapi merambat. Ini rasanya memang sangat efektif untuk Coen bersaudara
dalam membangun ketegangan dalam nuansa suram, seperti yang diinginkan oleh
novelnya. Mengenai masalah ini, bahwa novelnya menjual ketegangan dan kesuraman,
terus terang baru saya sadari setelah menonton filmnya.

Plot yang
seperti bertele-tele dalam novelnya ternyata berfungsi untuk menjaga intensitas
dalam cerita tadi. Dengan iringan musik yang seminim mungkin, film terasa
mencekam, menegangkan sekaligus tetap dramatis, karena pada dasarnya film memang
ingin bercerita tentang dari sisi psikologis karakter-karakter manusiawi dalam
filmnya, bahkan untuk pria sejenis Anton Chigurh, yang saat ini seperti sebuah
penyakit sosial yang banyak melanda masyarakat kita.

Tentu saja dengan
bintang-bintang seperti Jones dan Brolin, Ethan dan Joel Coen tidak harus pusing
memikirkan dari segi karakterisasi. Mereka memainkan peran mereka dengan
kekuatan yang memang sudah dipastikan didapat dari mereka. Namun, harus diakui,
kekuatan utama dari film ini adalah akting dari Javier Bardem.

Bintang
papan atas dari Spanyol ini memainkan karakter Anton Chigurh dengan sempurna.
Rasanya tidak ada aktor lain yang mampu mewujudkannya. Oleh Bardem, Anton
Chigurh dihindarkan dari kesan satu dimensi yang bisa saja terjadi jika
diperankan oleh aktor yang kurang tepat atau tidak memahami karakter Anton
Chigurh sebenarnya. Terus terang, satu-satunya film Bardem yang saya tonton cuma
‘Second Skin’ atau ‘Segunda Piel’, saat ia memainkan karakter pria yang
melakukan perselingkuhan dengan seorang pria beristri! Walaupun berjenis
melodrama, namun Bardem menyematkan kelas tertentu dalam film tersebut, sehingga
saya yakin pada dasarnya ia memanglah seorang aktor yang berkarakter.

‘No Country For Old Men’ adalah jenis film yang memerlukan konsentrasi
khusus dalam menyimaknya. Ia bukanlah jenis drama yang menyenangkan atau gampang
disimak, walaupun pada dasarnya jalan ceritanya sederhana saja. Film yang
berjalan dalam feel nan gloomy, seakan-akan ingin menegaskan
kompleksitas serta kerasnya kehidupan yang harus dijalani oleh
karakter-karakternya. Ini terasa berjalan dengan efektif di filmnya. Dan untuk
ini tabik bagi Coen bersaudara yang berhasil membangun dunia yang keras
sekaligus realistis tadi.

Dan tentang novelnya, saya harus akui kalau
yang saya baca itu dalah versi terjemahan Bahasa Indonesianya. Setelah
menyaksikan filmnya, rasanya saya bernafas lega karena mengira saya begitu
bodohnya untuk mengurai maksud dan esensi cerita dalam novelnya. Ternyata semua
berjalan dengan takarannya yang pas. Tidak ada yang mendapatkan porsi lebih atau
kurang. Oleh karena itu, jelas yang saya bisa salahkan untuk kekurang pahaman
saya terhadap novel tersebut adalah penerjemahnya yang ternyata tidak cukup
pintar untuk menyadur novel cerdas tersebut dalam bahasa yang mudah dipahami.
Atau jangan-jangan dia yang tidak cukup pintar untuk menangkap maksud novelnya?
Siapa tahu?


The Cleveland International Film Festival returns March 6th through the 16th

Wednesday, February 27th, 2008

21408cifflogo
Source:
kfccinema.com

The wonderful Cleveland International Film Festival
is back celebrating its 32nd year. By popular demand, the fine folks who put the
fest together have decided to bring back last year’s successful "Pacific Pearls"
which is set to bring 15 films from all over Asia to Cleveland. This year’s tour
through Asia brings films from Japan, Hong Kong, China, Taiwan, Indonesia, and
the Philippines. While the festival brings some film festival giants such as the
latest from Takeshi Kitano and Hitoshi Matsumoto’s directorial
debut, CIFF also introduces some lesser known films to a much wider
audience.

Here is a breakdown of what the festival has to
offer:

3 Days to Forever - Indonesia
Bing Ai -
China
Dai Nipponjin - Japan
Dead Time -
Indonesia

Flash Point - Hong Kong
Foster Child -
Philippines
Glory to the Filmmaker! - Japan
Island Etude -
Taiwan
Little Moth - China
Slingshot -
Philippines
Summer Heat - Philippines
The Teacher -
Philippines
The Teeth of Love - China

Also included in this
year’s festivities is Taiwanese director Hou Hsiao-hsien’s Flight of
the Red Balloon
and a Canadian funded documentary entitled Up the
Yangtze
by Chinese filmmaker Yung Chang.

For more information on what other exciting
films are playing at the festival, head on over to the
Cleveland
International Film Festival
website.

‘LOVE’: Love Is The Air You Breathe

Wednesday, February 20th, 2008

Produksi: 13 Entertainment (2008)
Sutradara: Kabir Bhatia
Cast: Sophan Sophian, Widyawati, Acha Septriasa, Fauzi Baadilla, Irwansyah, Laudya Chintya Bella, Luna Maya, Darius Sinathrya, Wulan Guritno, Surya Saputra

Genre: Drama
Durasi: + 120"
Release Date:  14 Februari 2008
My Grade: 3.5 out 5

Love_poster_3
‘Love’ adalah sebuah film antologi tentang kisah cinta beberapa anak manusia
dalam bungkusan romantisme dan (tentu saja) melodrama. Bercerita tentang
pasangan usia senja Pak Guru (Sophan Sophian) dan Lestari (Widyawati), pasangan
sederhana Rama (Fauzi Baadilla) dan Iin (Acha Septriasa), pasangan penulis novel
metropop dan calon penulis Tere (Luna Maya) dan Awin (Darius Sinathrya),
pasangan remaja Restu (Irwansyah) dan Dinda (Laudya Chintya Bella), serta
pasutri bermasalah Gilang (Surya Saputra) dan Miranda (Wulan Guritno). Semuanya
berseting di Jakarta dan kesemuanya nyaris tak bersinggungan. Yang menjadi
kesatuan adalah lika-liku cinta dan problematika yang harus mereka
hadapi.

Kabarnya ‘Love’ adalah remake dari film Malaysia berjudul
‘Cinta’. Namun, dari kabar yang saya dengar justru film ‘Love’ hanya mengambil
inti cerita dari film tersebut sebagai bagian segmentasi ceritanya, sedangkan
empat cerita lainnya adalah asli rekaan penulis Titien Wattimena (Mengejar
Matahari, Cinta Pertama). Yang dimaksud disini adalah cerita tentang pasangan di
usia senja yang dalam film ini diperankan oleh Sophan Sophian dan
Widyawati.

Ini tentu saja merupakan ide remake yang cukup menyegarkan
untuk tidak terjebak pada pakem aslinya. Apalagi film ini kembali diarahkan oleh
Kabir Bhatia, sutradara film ‘Cinta’ tersebut. Hanya saja kemudian tercetus
pemikiran, bagaimana jika film ini adalah hasil contekan dari film multi-narasi
lainnya ‘Love Actually’? Setelah menyaksikan filmnya, saya berani memastkan film
ini, selain tema cinta dan multi-narasi, sama sekali tidak mempunyai kemiripan
dengan film yang dimaksud.

Titien Wattimena, sebagai penulis skrip,
berhasil membangun cerita yang naratif dan menyentuh. Dramatisasi dari kehidupan
cinta sekelompok orang yang berbeda ini berhasil dibangunnya dengan nyaris tanpa
cacat-cela. semua dalam takaran yang pas. Berbeda dengan ‘Cinta Pertama’ (2006)
kemarin yang terasa dipanjang-panjangkan dan berlebihan dalam dramatisasi. Walau
begitu, dalam segi urgensi cerita, ia tampaknya kurang pas dalam membagi
takarannya, sehingga ada cerita yang terasa esensial, namun ada juga yang terasa
terlalu ringan dan kurang penting.

Walau begitu, secara keseluruhan
skrip Titien berhasil diterjemahkan dengan baik oleh Kabir Bhatia. ‘Love’ hadir
dengan kekuatannya sendiri. Akting yang sophisticated, tempo yang
konsisten, musik latar yang integratif (sudah semestinya Erwin Gutawa lebih
sering dipakai oleh sineas kita sebagai penata musik), hingga pergerakan narasi
yang dinamis. Harus diakui, Kabir Bhatia dengan baik mampu untuk menjaga tempo
untuk tidak terasa kendor. Apalagi keseluruhan cerita dan karakter terasa
efektif tanpa ada terkesan mubazir. Hal ini didukung pula dengan perpindahan
plot dieksekusi dengan baik sehingga aliran ceritanya terasa mulus tanpa harus
membuat kerut di kening penontonnya. Ia juga berhasil membangun suasana yang
diperlukan oleh karakter-karakternya, sehingga pesan film pun dengan mudah
tersampaikan.

Berbicara masalah akting, rasanya keseluruhan ensemble
cast
-nya bermain gemilang, bahkan untuk kelas pemain pendukung sekalipun
(Sapto and Joko Anwar included , hahaha). Tentu saja tidak ada
yang meragukan kualitas akting aktor-aktris sekaliber Sophan Sophian-widyawati,
yang seakan-akan mengenang kembali masa jaya mereka di tahun 70-an. Kabir Bhatia
pun mampu mengekstraksi kemampuan dari bintang-bintang masa kini Indonenesia,
walaupun harus diakui Acha Septriasa is such a scene-stealer. Progresi
aktingnya sedemikian berkembang dan melepas akting ala film remaja yang telah
menjadi tipikalnya.

‘Love’ mungkin bukan film yang penting atau
setidaknya menyuarakan sesuatu yang luar biasa. Ia hadir dengan sesadar-sadarnya
sebagai film komersial yang menjual cinta. Yang menjadi pembeda adalah ia
merupakan sajian sinema yang renyah, ringan namun sekaligus lezat serta
mengenyangkan dalam paket yang ‘indah’ bungkusannya tanpa harus menyakitkan
perut sesudah memakannya. sesudahnya, I easily put this film as my first
favorite Indonesian films for this year
.


‘CJ7′: Stephen Chow’s Attempt on Sci-fi? Nah!!!

Wednesday, February 20th, 2008

Produksi: Columbia Pictures (2008)
Sutradara: Stephen Chow
Cast: Stephen Chow, Xu Jiao, Kitty Zhang

Genre: Drama/Fantasi/Komedi
Durasi: + 90"
Release Date:  31 Januar1 2008 (HONG KONG)
My Grade: 3.5 out 5

Cj7poster2_3
Bertahun lalu, tepatnya di era 90-an, siapa yang
menyangsikan kesaktian Stephen Chow sebagai komedian. Kini, di abad 21, dengan
trek dua film yang terakhirnya yang impresif, ‘Shaolin Soccer’ dan ‘Kungfu
Hustle’, siapa pula yang meragukan kemampuannya sebagai sutradara dengan
kemampuan bercerita yang jenial.
Maka, saat kabar tentang ‘CJ7′
berhembus, ekspektasi langsung membumbung tinggi. Sehingga, saat mendengar pula
ia akan berpaling dari sub-genre Kungfu dan memilih fiksi-ilmiah, rasa penasaran
pun bertambah besar. Yang menjadi permasalahan, bagaimana fiksi-ilmiah ya jika
berada di tangan Mr. Chow?

Ceritanya sederhana saja. Dicky (Xu Jiao)
adalah siswa sebuah Sekolah Dasar untuk kalangan atas. Masalahnya Dicky hanya
anak seorang buruh bangunan bernama Ti (Stephen Chow). Ti tidak menginginkan
Dicky menjadi sepertinya, sehingga berkeras agar Dicky memperoleh pendidikan
yang lebih baik. Hanya saja menjadi orang yang satu-satunya miskin disekelompok
anak-anak kalangan borjuis adalah sebuah siksaan bagi Dicky, sehingga ia nyaris
tidak mempunyai teman. Namun, ia sangat menghormati ayahnya, sehingga selalu
menuruti keinginan sang ayah.

Sebagai seorang outsider tentu saja
merupakan kondisi yang tidak menyenangkan, apalagi dengan kondisi ekonominya
membatasi Dicky untuk mengakses permainan baru selayaknya anak-anak yang lain.
Nasibnya mujur saat sang ayah membawa pulang sebentuk bola dari tempat sampah
yang ternyata adalah sosok alien yang lucu berkarakteristik mirip anjing. Dicky
menamainya CJ7. Pada mulanya Dicky mengira CJ7 mempunyai kekuatan super yang
akan menolongnya dari segala kesulitan. Namun, ternyata keadaan tidaklah
segampang itu. Ambisi Dicky dengan CJ7 justru mengancam keharmonisan hubungan
dirinya dengan sang Ayah.

Trade-mark Chow masih melekat kuat di
film terbarunya ini. Adegan komedik yang non-sense dan komikal masih tetap
dipakai. Hanya saja, kali ini Chow lebih menekankan pada unsur drama dan sedikit
fantasi. Pada mulanya saya mengira Chow akan mengarahkan filmnya menjadi
mirip-mirip ‘ET’ misalnya. Namun, ternyata Chow memilih pendekatan yang berbeda.
Beberapa adegan homage yang menjadi ciri khasnya tetap ada, namun secara
keseluruhan filmnya lebih menekankan pada struktur drama tadi.

Jadi bagi
yang mengharapkan adegan-adegan konyol atau fantastis ala Chow akan merasa
kecewa, karena film tidak memberi banyak kelegaan untuk itu. Namun, dari segi
bercerita, Chow mengalami peningkatan yang pesat, karena ia bisa menggambarkan
adegan yang mengundangn airmata dan tawa penonton dalam satu frame yang
bersamaan. Hanya seorang yang benar-benar berbakat saja mampu untuk melakukan
hal seperti itu.

Hanya saja kemudian, adegan komedinya malah terasa
sekunder dari keseluruhan bagian cerita kalau tidak mau dibilang tempelan,
sehingga terkadang terkesan tidak penting, karena memang Chow sangat memfokuskan
unsur drama tadi, terutama dalam dinamika hubungan antara Ti dan Dicky sebagai
ayah dan anak. chow benar-benar menguras perhatiannya untuk membangun suasana
yang mendukung, sehingga mengundang empati yang besar dari penontonnya. Dan ia
berhasil untuk itu.

Xu Jiao sendiri berhasil mencuri perhatian dengan
aktingnya yang mumpuni. Baik dalam adegan drama atai komediknya, ia dengan
gemilang mengimbangi Chow. sementara untuk pemanis, kali ini Chow memasang si
cantik Kitty zhang sebagai love interest karakter yang dimainkan oleh
chow. Sayangnya ini tidak dikembangkan lagi oleh Chow, sehingga penampilan Kitty
terkadang terasa mubazir.

Walau film ini memang tidak segemilang dua film
sebelumnya, ‘CJ7′ jelas adalah upaya seorang Stephen Chow untuk menghadirkan
sebuah film yang bisa dinikmati oleh semua anggota keluarga. Sebuah drama dengan
bumbu-bumbu fantasi dan komedi. Stephen Chow jelas-jelas adalah seorang
entertainer yang mengerti dengan apa yang ingin dilakukannya.

Ngomong-ngomong fiksi-ilmiah, rasanya label tersebut kurang cocok
dilekatkan pada film ini. Kecuali kalau ada anjing luar angkasa yang cerdas
disebut dengan sebuah fiksi yang ilmiah, yang mungkin saja bisa begitu.


‘MICHAEL CLAYTON’: The Good, The Bad, and The Ugly of The Truth

Wednesday, February 20th, 2008

Produksi: Samuel Media (2007)
Sutradara: Tony Gilroy
Cast: George Clooney, Tilda Swinton, Tom Wilkinson, Sidney Pollack

Genre: Drama/Thriller
Durasi: + 120"
Release Date:  05 Oktober 2007 (USA)
My Grade: 4 out 5

Michael_clayton_2

‘Michael Clayton’ adalah sebuah thriller, tapi bukanlah jenis thriller yang
mengandalkan ketegangan non-stop atau kengerian. Ia lebih menekankan suspensi
cerita serta karakterisasi dan dinamika plot yang cerdas. Itulah ‘Michael
Clayton’.

Michael Clayton (George Clooney) adalah seorang mantan penuntut
hukum yang kini bekerja sebagai seorang fixer di sebuah firma hukum yang
bernama Kenner, Bach & Ledeen. Tugasnya disini adalah untuk membereskan
masalah melalui jalan belakang agar nantinya secara hukum urusan bisa jadi
"lebih lancar". Walau berpenghasilan besar, namun kehidupannya tidaklah seindah
yang dibayangkan. Ia telah bercerai dengan istrinya dan mempunyai hutang
sejumlah besar uang. Ia sendiri tampaknya tidak bangga dengan pekerjaan yang
dilakoninya.

Masalah timbul saat rekannya di firma, Arthur (Tom
Wilkinson) justru memilih untuk membongkar kebusukan perusahaan yang seharusnya
dibelanya. U/North, nama perusahaan tersebut, lantas mengutus Karen Chowder
(Tilda Swinton), seorang pengacara yang telah lama bekerja untuk U/North untuk
membereskan masalah ini. Maka boss Kenner, Bach & Ledeen, Marty (sidney
Pollack) mengutus Michael untuk bertemu dengan Karen dan mengatur jalan keluar
yang baik. Apalagi Arthur, yang kini keseimbangan mentaknya tengah terganggu,
adalah teman karib Michael.

Pada saat Arthur ditemukan meninggal, maka
Michael pun tiba diambang batas kebimbanganya, apakah memilih untuk melanjutkan
penyelesaian kasus secara damai dengan Karen Chowder dari pihak U/North atau
meneruskan "perjuangan" Arthur dalam membongkar kebusukannya. Masalahnya, secara
finansial, Michael juga tengah dirundung masalah. Lantas, langkah apa yang harus
ditempuhnya?

‘Michael Clayton’ pada awalnya mungkin mengingatkan akan
film-film bertema hukum yang diangkat dari novel John Girsham yang dulu sempat
menjadi populer. Akan tetapi, Tony Gilroy memutuskan untuk menjadikan filmnya
menjadi sebuah politik kesadaran dalam bungkusan thriller suspens yang tidak
meledak-ledak. Dalam pilihan "baik" atau "jahat" yang hitam-putih, ‘Michael
Clayton’ seakan menunjukkan ada area abu-abu ditengah-tengahnya, walaupun pada
akhirnya secara kontemplatif menyebutkan jika kebenaran mutlak untuk
ditegakkan.

Kadang film bercerita dengan non-linear, namun menjelang
paruh-akhir film kemudian konstan pada linearitas. Hal ini tidak dapat dinafikan
sebagai upaya Gilroy untuk memberi aksentuasi pada cerita yang sebenarnya tidak
terlalu luar biasa. Sederhana bahkan. Namun, Gilroy berhasil membangun rasa
penasaran penontonnya dengan cara itu, karena informasi cerita tidak dapat
diperoleh penonton dengan mudah. Untuk itu Gilroy membentuk tempo film yang
medium untuk menahan emosi penonton agar tidak terlalu meledak-ledak dan akan
tetap sabar untuk merelasikan diri dengan perkembangan plot dan karakternya.

Gilroy pun membangun karakternya dengan teliti, sehingga walau ada aura
protagonis-antagonis disini, namun tidak dalam ranah hitam-putih tadi, melainkan
mengindikasikan jika mereka adalah manusia biasa yang terjebak dalam kepentingan
yang berada diluar diri mereka namun menyeret mereka untuk berpusar didalamnya.
Elaborasi latar belakang karakter-karakter utamanya terasa pas dan informatif,
tanpa terkesan melodramatis apalagi berlebihan.

‘Michael Clayton’
didukung pula dengan akting yang mumpuni oleh Clooney yang mampu melepaskan imej
flamboyan-nya. Ia adalah Michael Clayton. Itu tidak terbantahkan lagi.
Seakan-akan Michael Clayton itu adalah karakter yang riil bukan fiski. Rasanya
akan aneh jika ada orang lain yang mencoba menjadi Michael Clayton.

Tilda
swinton sendiri pada dasarnya memang adalah aktris watak yang berkarakter.
Melalui film ini ia seakan menegaskan sudah seharusnya jika ia diganjar
penghargaan atas kemampuan aktingnya. Begitu juga dengan Tom Wilkinson dengan
segala pesona personanya. Sementara itu, agak janggal juga mengetahui jika
sutradara kenamaan Sidney Pollack ternyata mampu berakting juga.

‘Michael
Clayton’ adalah jenis film thriller yang mencoba tampil dengan lebih membumi
dalam suspensi maupun logika ceritanya ketimbang mengandalkan sensasi yang
menjadi formula dalam film sejenis. Walau begitu, ia tetap mampu tampil dengan
menarik dengan karakterisasi yang menawan pula. Pada akhirnya, ‘Michael Clayton’
adalah sebuah thriller cerdas yang mengajak penontonnya untuk berfikir,
ketimbang hanya duduk menonton.


‘RADIT DAN JANI’: A Tale of Dysfunctional Couple

Thursday, February 7th, 2008

Produksi: IFI (2008)
Sutradara: Upi
Cast: Vino G. Bastian, Fahrani, Mario Merdhitia, Joshua  Pandeleaki, Nungki Kusumaastuti

Genre: Drama
Durasi: + 120"
Release Date:  24 Januari 2008
My Grade: 2.5 out 5

Radit_and_janiRupanya Upi tidak jadi menggarap ‘Ahmad, Antara Mars dan Venus’, yang kabarnya merupakan proyek film ketiganya. Entah mengapa, justru yang beredar kini adalah ‘Radit dan Jani’, sebuah film yang katanya bergaya brutal-romantic.

Radit (Vino G. Bastian) dan Jani (Fahrani) bukanlah tipikal pasutri biasa. Mereka percaya dengan kekuatan cinta mereka akan mengalahkan segalanya, sehingga kemudian mereka memilih gaya hidup dalam prespektif idealisme mereka (ya..kalau dikatakan hidup tidak teratur, slengean dan drug addicted disebut dengan idealisme). Masalahnya ternyata memang benar jika cinta saja tidaklah cukup. Hidup rasanya memang terlalu kompleks untuk dihadapi hanya dengan bermodalkan cinta. Pada akhirnya gaya hidup mereka menimbulkan friksi yang kemudian menguji kekuatan cinta mereka (sic).

Dalam film terbarunya ini Upi mencoba menyoroti realitas kehidupan sebagian anak muda yang ada di Indonesia. Oleh karena itu ia memilih pendekatan yang diusahakan juga realisme, terutama dengan penggunaan teknik kamera handheld. Sesuatu yang baru tampaknya bagi Upi. Namun, rasanya Upi lebih gemilang daripada Rudi Sudjarwo misalnya, dalam penggunaan teknik ini, karena UPi tetap bisa bercerita melalui bahasa gambar yang cukup sinematis.

Secara umum, filmnya Upi ini memang menarik. Upi juga mengalami peningkatan pesat dalam mengarahkan filmnya. Film lebih lancar bertutur walau rasanya penyakit lama perfilman Indonesia tetap menghinggapi film ini. Pace yang dinamis diawal-awal film, menjelang paruh hingga akhir menjadi melambat, kalau tidak mau dibilang draggy, yang membuat film terasa bertele.

Inilah masalah utamanya. Pada awalnya memang Upi cukup berhasil menggambarkan film sesuai mood yang memang ingin dicapainya; sebuah roman yang kasar dan up-tempo. Namun, seperti disebutkan tadi, menjelang akhir perkembangan cerita film malah terkesan berlarat-larat dan banjir air mata. Tapi kalau memang yang dimaksudkan Upi dengan brutal-romantic itu adalah sebuah roman yang dipenuhi dengan orang yang marah-marah dan menangis bombay kemudian, mungkin ia berhasil!

Mungkin. Yah, mungkin ekspektasi saya saja yang terlalu berlebihan. Saya mengira brutal-romantic itu seperti ‘Natural Born Killer’ atau ‘A Life Less Ordinary’. Ternyata brutal-nya Upi ya tidak jauh-jauh dari tipikal melodrama biasa yang dibuat dalam versi yang lebih kasar namun fungsi utamanya tetap saja tear-jerking (adegan: Radit dikeroyok sekelompok orang, obat dan nasi goreng untuk Jani, sang istri yang tengah hamil berhamburan di tanah. Selanjutnya adegan memperlihatkan botol obat dipijak oleh kaki salah seorang pengeroyok dimana Radit tergeletak penuh luka dan tak berdaya! Hm, rasanya pernah liat dimana ya?).

Masalah lain adalag Upi terlalu memaksakan diri untuk tetap memakai aktor kesayangannya, Vino G. Bastian, sebagai pemegang leading role. Vino memainkan perannya dengan cukup berdedikasi, namun menginterprestasikannya secara salah, setidaknya menurut pandangan saya. Vino masih terlalu segar untuk menjadi Radit. Itu yang pertama. Selanjutnya, dalam adegan yang menuntut kekuatan emosionil, Vino malah terkesan komikal, karena masalah salah interprestasi tadi. Dalam artian kesedihan yang diumbar Vino malah terkesan cengeng dan melodramatis. Bertentangan dengan pembangunan karakter sebelumnya yang menunjukkan Radit sebagai sosok yang tegar dan kuat. Disinilah unsur subtilitas memang berperan penting. Intinya, Vino kurang berhasil membangun atmosfir subtil yang diinginkan oleh cerita.

Berbeda dengan Fahrani yang bermain dengan cukup gemilang dan meningkat jauh dari debut film layar lebarnya di ‘Kala’ kemarin. Fahrani berhasil menghadirkan atmosfir ceria dan suram sekaligus, yang rasanya memang ironi yang ingin ditampilkan oleh karakter Jani itu. Gerak tubuh, mimik dan aksentuasi. Semuanya itu Jani bukan Fahrani. Tabik untuk dia.

Dengan ‘Radit dan Jani’, Upi membuktikan jika ia memang seorang sutradara perempuan yang berbakat di Indonesia, setelah Nia DiNata. Film mampu bercerita dengan cukup lancar dan gampang dicerna. Pada intinya ‘Radit dan Jani’ memang fim yang menghibur sekaligus membawa pesan. Hanya saja, rasanya Upi perlu banyak belajar pada NiaDinata pada masalah kesempurnaan detil. Hanya itu. Selain itu, saya yakin Upi akan mampu membuat film-film yang lebih dahsyat lagi. Amin!


‘ATONEMENT’: Sebuah Drama Akan Misinterprestasi Yang Jenial

Thursday, February 7th, 2008

Produksi: Universal Pictures (2007)
Sutradara: Joe Wright
Cast: Keira Knightley, James McAvoy, Saoirse Ronan, Romola Garai, Vanessa Redgrave

Genre: Drama
Durasi: 123"
Release Date:  07 Desember 2007 (USA)
My Grade: 4.5 out 5

Atonement_1 Lagi-lagi Joe Wright mengadaptasi novel menjadi filmnya, setelah ‘Pride and Prejudice’ yang diangkat dari karya klasik Jane Austen. Kali ini giliran novel (yang kabarnya) kompleks milik Ian McEwan, Atonement.

Berseting di tahun 1935, tepatnya disebuah rumah besar dipedalaman Inggris. Sorang gadis kecil, Briony (Saoirse Ronan) melihat kakak perempuanya, Cecilia (Kiera Knightley) dalam dekapan Robbie (James McAVoy), anak pengurus rumah mereka. Kekurang fahamannya akan peristiwa tersebut menuntunnya akan sebuah misinterprestasi akan perbuatan yang dilakukan oleh kakaknya dan anak penurus rumah tangga mereka. Sebuah peristiwa lain, yang terjadi sebelumnya, menguatkan asumsinya dan pada akhirnya menjadikan Robbie korban dari kekeliruan Briony dan menyebabkan perpisahan antara Ceci dan Robbie.

Sekian tahun berlalu, Briony (Romola Garai), bekerja sebagai seorang perawat. Ia kini telah memahami persitiwa yang terjadi sebelumnya. Namun, duka yang mendalam telah tercipta. Maka kini Briony berupaya mengembalikan orang-orang yang dikasihinya itu dalam kebahagiaan, yang mana juga akan menuntun pada kebahagiaanya sendiri.

‘Atonement’ adalah segalanya yang bisa diharapkan dari sebuah film berjenis period drama seperti ini. Seting, tata artistik, musik dan yang paling penting cerita. Hanya saja, kini Joe Wright melangkah kesisi yang lebih gelap dengan ‘Atonement’ setelah sebelumnya menampilan keceriaan dalam warna-warna cerah di ‘Pride and Prejudice’.

Saya belum pernah membaca novel karya Ian McEwan tersebut, namun setelah menyaksikan filmnya, saya kemudian tersadar jika filmnya terasa seperti sebuah ringkasan dari isi utama dalam novel tersebut. Namun, saya yakin Christopher Hampton, sebagai penulis skenario, berupaya semampu mungkin mengambil cerita dalam novel tanpa meninggalkan esensi utamanya. Hanya saja, unsur ringkas tadi tetap terasa dan mengimplikasikan akan kerumitan dari materi aslinya.

Walau terasa sebagai "ringkasan", bukan berarti ‘Atonement’ sebagai film yang seadanya-secukupnya. Dengan dukungan kasting yang brilian, Knightley, McAvoy dan terutama Ronan, film terasa sangat ciamik. Apalagi pada paru pertama Joe Wright mengarahkan perguliran cerita dalamn tempo yang dinamis dengan bahasa gambar yang dinamis pula. Menjelang paruh akhir, temo kemudian melambat begitu juga dengan bahasa gambarnya, namun terasa tepat untuk melukiskan cerita yang tengah berlangsung.

Joe Wright sendiri pada dasarnya memang membagi filmnya menjadi dua bagian, dengan sedikit epilog dan prolog kemudian. Dengan sedikit mengambil pola dari ‘Rashomon’ karya Akira Kurosawa, membuat film menjadi lebih jenial. Alih-alih membingungkan, gaya tersebut malah terasa efektif dalam membantu penonton untuk memahami cerita.

Walau aktor-aktris utama adalah Knightley dan McAvoy, namun jelasnya film ini sendiri diambil dari sudut pandang Briony yang dimainkan dengan gemilang oleh Saoirse Ronan. Briony sendiri dimainkan oleh tiga aktris yang bebeda dengan veteran Venessa Redgrave sebagai Briony yang sudah berumur dan kontemplatif dalam epilognya.

Disinilah, ‘Atonement’ adalah sebuah film yang menceritakan kisah tragis tanpa perlu terkesan melodramatis apalagi cengeng. Dengan mengambil struktur cerita yang terdapat dalam novel sebagai materi aslinya, ‘Atonement’ adalah sebuah karya kontemporer yang pantas untuk dianggap klasik.