Archive for December, 2007

‘ONCE’: All You Need Is Music

Wednesday, December 26th, 2007

Produksi: Fox Searchlight (2007)
Sutradara: John Carney
Cast: Glen Hansard, Marketa Irglova

Genre: Drama/Musikal
Durasi: 85"
Release Date: 23 Maret 2007 (IRLANDIA)
My Grade: 4.5 out 5

Once
Terkecuali Bollywood, pada saat ini musikal bukanlah genre yang umum untuk dipilih oleh kebanyakan sineas di dunia. Walaupun pada era 50-an hingga 60-an musikal begitu berjaya, namun disaat realisme menjadi bagian yang tak terelakkan dalam sebuah film, maka gaya narasi musikal yang terkadang dianggap tidak membumi menjadi kurang populer. ‘Once’ adalah upaya John Carney, seorang sutradara sekaligus penulis dari Irlandia, untuk membawa narasi musikal dalam ranah film realis, tanpa harus kehilangan inti dari sebuah film musikal itu sendiri.

Ceritanya sederhana saja, seorang pria (Glen Hansard) adalah seorang musisi jalanan. Suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis muda penjual bunga keliling(Marketa Irglova) yang mengagumi lagu yang dinyanyikan oleh sang pria. Sang pria hanya tinggal berdua saja dengan ayahnya yang memiliki sebuah toko reparasi. Sang perempuan berasal dari Czechnya dan tinggal bersama dengan ibunya dan putrinya. Lantas keduanya melakukan jamming disebuah toko musik dan pada akhirnya sang perempuan membantu sang pria untuk membuat sebuah album demo.

Begitulah, sebagai sebuah drama, ‘Once’ sama sekali tidak mempunyai cerita yang sangat dramatis atau mengharu-biru. Bahkan cerita yang memang sudah sederhana berjalan dengan sangat linear. Namun, ‘Once’ didukung dengan lagu-lagu yang diintegrasikan dengan sangat padu dengan jalan cerita. Lagu-lagu tersebut terasa sangat emosional dan menyentuh, sehingga bisa dikatakan film secara umum bercerita melalui lagu-lagu ini. Lagu-lagu inilah yang membuat ‘Once’ terasa sangat powerful dan memberi kesan yang mendalam.

Disinilah hadir upaya Carney untuk membuat sebuah film musikal gaya baru, yang mana lagu-lagu dihadirkan bukan dengan gaya antah-berantah atau tiba-tiba adegan menjadi musikal. Film tetap berjalan sebagaimana layaknya film "normal", dan juga dipenuhi dengan dialog, namun lebih kurang 60 % dari durasi adalah lagu-lagu. Dengan latar belakang musikalitas kedua karakter utamanya, film mengizinkan lagu-lagu tersebut menjadi bagian dari narasi, tanpa harus kelihatan tidak realistis, karena lagu-lagu tersebut ditembangkan dengan cara yang paling umum dilakukan dalam keseharian kita.

Penggarapan Carney dalam filmnya adalah realisme, sehingga secara teknis film memakai pendekatan ala dokumenter, sehingga membuat film terasa lebih nyata. Hal ini mungkin memang disengaja oleh Carney, karena kedua aktor utamanya, Glen Hansard dan Marketa Irglova sama sekali bukan aktor-aktris profesional, melainkan musisi sejati. Bahkan pada awalnya Hansard sebenarnya dideskripsikan sebagai pengkomposisi lagu-lagu dalam film. Saat Carney mengkastingnya menjadi pemain utama, maka selanjutnya Marketa Irglova yang baru berusia 17 tahun, rekan Hansard dalam membuat lagu-lagu dalam film diajak serta sebagai aktris utama.

Dengan teknik pengambilan gambar film yang bergerilya, maka Hansard dan Irglova dapat berakting dengan lebih alami tanpa harus terkesan dibuat-buat atau amatiran. Untunglah porsi utama dari film adalah musikalitas, sehingga disegmen ini keduanya dapat lebih total dan memberikan penampilan yang sangat impresif, terutama untuk adegan lagu duet "Falling Slowly" atau penampilan solo Irglova dalam "The Hill" yang sangat emosionil.

Segmen musikal dalam film ini menunjukkan bahwa Hansard dan Irglova adalah musisi-musisi yang brilian, karena berhasil mengkomposisi lagu-lagu bergaya campuran folk dan rock yang captivating. Rasanya lagu-lagu dalam film sedap didengar dan memorable, terutama "Falling Slowly", "If You Want Me", "When Your Mind’s Made Up" dan "Fallen From The Sky".

Lagu-lagu yang terasa romantis tersebut meresonansikan hubungan antara sang pria dan sang perempuan. Walaupun hubungan diantara mereka terasa jujur dan tulus bahkan cenderung platonis, namun chemistry diantara keduanya begitu kental dan aura romansa memenuhi udara dengan penuhnya. Bahkan film mempunyai beberapa elemen romantisme yang jenial, sehingga cocok pula bagi yang menyenangi film-film percintaan.

Dari segi teknis, dengan pendekatan ala dokumenter tadi, sebenarnya ‘Once’ terasa medioker atau biasa-biasa saja. Dengan penggunaan hand-held, kadang gambarnya terasa kurang fokus atau teknik pencahayaan yang kurang maksimal. Meski begitu, rasanya hal tersebut hanyalah bersifat minor dan tidak mengganggu narasi film secara keseluruhan.

Inti utama dari ‘Once’ adalah musikalitasnya itu tadi. Dalam durasi yang padat, film berhasil mewujudkan sebuah musikalitas dalam gayanya yang baru. Walaupun film musikal seperti ‘Haispray’ (2007) akan tetap menunjukan eksistensinya, tapi Carney, dengan sangat gemilang Carney membuktikan jika film musikal pun bisa menemukan gayanya yang paling mutakhir.


‘EXTE - HAIR EXTENSIONS’: The Creepy Hair That Will Scare You….and Laugh-A-Lot!

Tuesday, December 25th, 2007

Produksi: Toei Picture (2007)
Sutradara: Sion Sono
Cast: Chiaki Kuriyama, Ren Osugi, Megumi Sato, Tsugumi

Genre: Drama/Thriller/Horor/Komedi
Durasi: 108"
Release Date: 17 Februari 2007 (JEPANG)
My Grade: 4 out 5

Exte_dvd
Saat ‘Ringu’ (1998) karya Hideo Nakata memulai trend J-Horror yang memperkenalkan hantu perempuan berambut panjang sebagai villain-nya, maka pakem jenis hantu seperti itu yang kemudian menginfeksi gaya film-film horor Asia sampai saat ini.

Kini, dalam ‘Exte - Hair Extensions’ atau ‘Ekusuke’, Sion Sono (Suicide Club), seorang cult-director di Jepang berupaya mengambil ide dari rambut panjang berhantu tersebut dan menjadikanya sebuah horor alternatif yang kadang pretensius dalam gaya mainstream-nya, namun jenial dalam tataran eksentrik sehingga menjadi sebuah film horor yang sama sekali berbeda.

Yuko Mizushima (Chiaki Kuriyama, Battle Royale, Kill Bill Vol. 1) adalah seorang stylist muda yang tengah magang di salon yang bernama Gilles de Rais. Yuko adalah seorang gadis yang penuh semangat dalam menggapai cita-citanya. Walau kakaknya yang kejam, Kiyomi (Tsugumi), "menitipkan" anak perempuannya, Mami (Megumi Sato), kepada Yuko, namun dia tetap bersemangat. Karena kasihan, maka Yuko berniat merawat dan mengasuh keponakannya tersebut.

Sementara itu, seorang petugas kamar mayat misterius, Gunji Yamazaki (Ren Osugi), mencuri mayat seorang perempuan yang sepertinya korban dari perdagangan organ tubuh illegal. Gunji adalah seorang hair fetish yang menyebabkan ia terobsesi dengan rambut. Ia sering kali menggunting rambut-rambut perempuan dalam kamar mayat dan menjualnya sebagai hair extension ke salon-salon. Rambut perempuan misterius itu sendiri uniknya tetap tumbuh panjang. Bukan itu saja, seluruh organ tubuhnya yang hilang kini diganti dengan rambut-rambut yang kian memanjang. Gunji memotongnya dan menjadikanya sebagai hair extension. Yang ia tidak ketahui, rambut tersebut jika dipakai oleh seseorang ternyata akan meneror orang tersebut dan pada akhirnya akan mencabut nyawanya!

Dikesempatan lain, Gunji bertemu dengan Yuko dan menjadi terobsesi dengan rambut Yuko. Lantas, ia pun menjual hair extension rakitannya ke salon Gilles de Rais. Karena kualitasnya yang baik, maka Yuko memakaikannya kepada Mami. Lantas, saat kepolisian menyelidiki kematian salah seorang kolega Yuko di salon, Yuko pun menyadari akan bahaya rambut ekstensi tersebut dan berupaya menyelamatkan diri Mami.

Sama halnya dengan Sinya Tsukamoto dengan ‘Nightmare Detective’-nya dan Takashi Miike dengan ‘One Missed Call’-nya, maka ‘Exte - Hair Extensions’ adalah upaya Sion Sono dalam menggarap film dalam ranah populer. Dengan plot yang dijalin seperti tersebut diatas, maka jika digarap dengan formula konvensional, maka pastilah ‘Exte - Hair Extensions’ akan menjadi film horor yang tipikal, yang umum didapat di J-Horror.

Ada saat-saat dimana ‘Exte - Hair Extensions’ memang berjalan dengan tipikal, yang mana hal ini sepertinya disengaja oleh Sono, namun dibanyak sisi, ‘Exte - Hair Extensions’ terdiri dari beberapa lapisan yang saling menindih namun menjadi satu kesatuan yang utuh. Perjuangan Yuko menjadi seorang stylist serta konfliknya dengan sang kakak serta rasa sayangnya terhadap sang keponakan mengingatkan akan film drama yang subtil. Sementara itu karakter Gunji digambarkan dengan semangat eksentrisme yang kadang terasa komedik. selanjutnya ada bagian dimana film seperti sebuah thriller medikal.

Akibatnya, sepintas film seperti terlihat acak-acakan dan tidak teratur. Namun, jika dicermati dengan secara lebih mendalam, terlihat dengan jelas semangat bermain-main Sono dengan genre yang dipilihnya. Berbagai adegan menunjukkan itikat untuk sebuah homage namun dibagian lain terlihat seperti hendak mengolok-olok genre itu sendiri. Jika paham dengan konsep Sono, maka film memang terlihat menggelikan, dalam arti sarkastik yang positif.

Walau begitu, Sono bukannya tidak serius dalam menggarap adegan-adegan seramnya. Dengan penggunakan efek khusus yang cukup maksimal, Sono berhasil menggambarkan kengerian dari teror rambut berhantu ini. Unsur blood-and-gore berhasil diminimalisir dan digantikan dengan adegan-adegan menggiriskan akibat ulah rambut-rambut ini. Uniknya, meski mengandalkan tema balas-dendam-hantu-perempuan-berambut-panjang, namun tidak ada adegan hantu perempuan yang muncul tiba-tiba atau merangkak-rangkak menyebar kengerian. ‘Exte - Hair Extensions’ murni hanya mengandalkan sang rambut sebagai aset utamanya.

Chiaki Kuriyama sendiri tampil dengan sangat gemilang dan berhasil membangun rasa ingin-tahu dan empati penonton terhadap karakter yang dimainkannya. Setelah menyaksikannya sebagai gadis beringas dalam ‘Battle Royale’ dan ‘Kill Bill Vol. 1′, sungguh istimewa bisa menyaksikannya bertransformasi menjadi gadis yang cantik-baik hati-dan-tidak sombong (sic) seperti ini.

Ren Osugi sendiri kelihatannya tampil dengan sedikit over-the-top dan penggambaran karakternya pun mungkin sedikit mengganggu, namun secara keseluruhan, sepertinya Karakter Gunji Yamazaki yang diperankannya fit the screen effectively.

‘Exte - Hair Extensions’ adalah pengalaman menonton horor yang menghibur sekaligus memorable. Bisa dikatakan ia diatas rata-rata beberapa film horor Jepang clueless yang akhir-akhir ini banyak keluar. Bukan tidak mungkin status cult akan disematkan kembali bagi film Sion Sono ini.


‘THE BUBBLE’: Love On The Edge Of Tragedy

Tuesday, December 25th, 2007

Produksi: Metro Communications (2006)
Sutradara: Eytan Fox
Cast: Ohad Knoller, Yousef "Joe" Sweid, Daniela Wircer, Alon Friedmann, Ruba Blal, Shredy Jabarin

Genre: Drama
Durasi: 118"
Release Date: 29 Juni 2006  (ISRAEL)
My Grade: 4 out 5

The_bubble Melihat art-cover dari film Israel yang berjudul asli ‘Ha buah’ ini mau tidak mau mengingatkan akan seri ‘Queer As Folk’ atau film-film indie dalam subkultur GLBT (gay-lesbian-bisexual-transgender) di Amerika. ‘The Bubble’ seakan menyiratkan sebagai sebuah komedi romantis happy-go-lucky yang ceria dan mungkin juga dipenuhi dengan berbagai karakter yang stereotipikal yang kemudian beresensi kosong karena hanya mengumbar seks dan ketelanjangan. Well, a cover could be very deceiveful, right?

Berseting di Tel Aviv kontemporer, Noam (Ohad Knoller) baru saja kembali dari bertugas di sebuah pos pemeriksaan. Hari-harinya ia isi kembali dengan bekerja disebuah toko kaset dan menghabiskan waktu dengan teman serumah sekaligus sahabatnya, Lulu (Daniela Wircer), yang bekerja di sebuah toko parfum dan Yali (Alon Friedmann), yang mengelola sebuah kafé.

Hanya saja kali ini ada yang berbeda dikesehariannya. Ia bertemu dengan Ashraf (Yousef "Joe" Sweid), pemuda Palestina yang mencoba mencari pekerjaan di Tel Aviv. Dalam seketika mereka menjadi sepasang kekasih dan Ashraf kemudian menetap bersama dengan Noam. Bahkan Yali memberikan pekerjaanya di kafénya tersebut. Lantas, hari-hari mereka isi dengan penuh keceriaan.

Namun, meski sedemikian keras upaya mereka untuk menghindari topik politik dari agenda percakapan dalam keseharian mereka, walau bagaimanapun mereka tidak bisa menafikan situasi disekitar mereka. Dan secara perlahan dan pasti, saat situasi tersebut akan datang dan menguji kekuatan hubungan mereka.

Dengan pendekatan ala indie, ‘The Bubble’ seakan tampil sebagai sebuah realisme akan kehidupan di jazirah Israel-Palestina. Eytan Fox, pada awalnya sudah memberikan petunjuk jika filmnya ini tidak akan semanis pada paruh awal cerita, yang memang kadang terlihat seperti sebuah komedi romantis.

Menjelang paruh akhir, barulah film menunjukkan sisi sebenarya, dan Fox dengan cukup cekatan menggambarkan pergulatan batin yang harus dihadapi oleh Noam dan Ashraf.Bukan itu saja, sebagai seorang gay di komunitas Arab yang mayoritas muslim, tantangan bagi Ashraf tentu dua kali lebih berat dibandingkan dengan Noam.

Disini, Fox dengan gemilang memasukkan isu-isu sosial atas konflik Israel dan Palestina dalam cerita cintanya, tanpa harus terlihat dipaksakan melainkan integratif secara murni dalam pergeseran ceritanya.

Ya, pada intinya ‘The Bubble’ mengingatkan akan sebuah film romans ala Romeo-dan-Juliette. Hanya saja, dengan dua karakter utamanya yang terlibat romansa adalah berjenis kelamin laki-laki serta isu terorisme dan pertentangan politik yang kental.

Untuk segi homoseksualitasnya itu sendiri, rasanya Fox mengambil cukup kebebasan untuk bereksplorasi, sehingga ada beberapa bagian yang cukup grafis dan mungkin kurang nyaman untuk disaksikan secara umum. Walau begitu, Ohad Knoller dan Yousef "Joe" Sweid berbagi chemistry yang kental dan keduanya memainkan peran mereka dengan subtil. Sementara pemeran pendukung lainnya rasanya cukup komplementatif tanpa harus terlihat berlebihan.

Eytan Fox sendiri tampaknya harus berhadapan dengan bujet yang rendah, namun dengan semangat indie-realis tadi, ia berhasil menekankan filmya pada narasi bukan melulu visual, sehingga walau bagaimanapun, film tetap tampil dengan meyakinkan, from start to finish!


‘MIRACLE’: It’s A Miracle That This Movie Has Been Made!

Tuesday, December 18th, 2007

Produksi: Starvisionplus (2007)
Sutradara: Helfi Kardit
Cast: Keira Sabhira, Lian Firman, Nadilla Ernesta, Intan Ayu Purnama, Robertino, Spec. App.: Inong, Ivy Batuta

Genre: Thriller
Durasi: 90"
Release Date: 13 Desember 2007
My Grade: 1.5 out 5

Miracle_cover_1Kabarnya ‘Miracle’, karya ke empat Helfi Kardit setelah ‘Seventeen’ (2005), ‘Bangku Kosong’ (2006) dan ‘Lantai 13′ (2007), mengambil inspirasi dari film Hollywood yang berjudul ‘Final Destination’ (1999). Berkisah tentang seseorang yang tiba-tiba bisa melihat ke masa depan dan keluar dari kematian yang akan menjeput. Sayangnya, kematian itu sendiri pada akhirnya akan tiba juga, hanya saja dengan dua kali lebih kejam.

Rasanya dengan premis seperti itu mau tidak mau Kardit harus mengakui jika ia mengambil ide dari film besutan James Wong tersebut, jika tidak mau disebut plagiat atau copy cat. Sayangnya, ia tidak menyebutkan jika filmnya ini pun menyadur ide dari film Thailand yang berjudul ‘Letters of Death’ (2006)!

Ya, selain berjalan cerita mirip sekali dengan ‘Final Destination’ ia menambahkan twist dengan adanya pola yang memakai inisial nama korban yang kemudian membentuk suatu kata, yang bisa juga menjadi petunjuk. Belum lagi dengan adanya sosok psycho diujung cerita. Ini menujukkan betapa keringnya ide Kardit dalam membuat film dengan idenya sendiri.

Skrip yang ditanganinya bersama Anggoro bermaksud untuk menjadi trailer yang menegangkan, dimana pada awalnya film memang terasa cukup menegangkan dan rasanya progresi cerita akan menarik untuk diikuti. Namun, menjelang pertengahan unsur tegang tadi hilang entah kemana dan cerita menjadi terasa absurd dan mengada-ngada serta sangat menghina intelejensia para penontonnya dengan banyaknya lubang di dalam cerita, dan hingga diakhiri dengan klimaks yang anti-klimaks jika tidak mau dikatakan konyol.

Berbicara konyol, entah apa yang ada di benak Kardit saat ia melakukan kasting untuk pemain-pemain utamanya. Semuanya bermain dengan sangat mentah dan annoying, sehingga kita berharap jika mereka mati saja semuanya. Karakter-karakternya pun sama sekali tidak menarik apalagi membuat penonton dapat merelasikan dengan ketakutan mereka.

Namun kelemahan terbesar, selain skrip dan kasting, adalah eksekusi dari Kardit itu sendiri. Dengan menggunakan teknik kamera hand held dia berusaha untuk menangkap ketegangan dengan secara lebih realistis. Namun, rasanya ia masih belum bisa membangun ketegangan yang diperlukan untuk teknik seperti itu dan malah membuat film terasa amatiran. Dan penggunaan hand held bukan alasan utama dari lemahnya eksekusi Kardit, melainkan penggarapan secara jeneral, film memang terasa kurang matang.

Ok, mungkin ia bisa memakai alasan bujet yang rendah untuk menafikan kelemahan-kelemahan dalam film ini. Akan tetapi, jika ia memang berbakat, dengan bujet seperti bagaimanapun ia seharusnya bisa membuat film yang jenial!

Hasil akhirnya, menonton ‘Miracle’ seperti menyaksikan salah satu episode dari sinetron-sinetron atau FTV di televisi. Rasanya film ini memang lebih pantas dirilis televisi atau setidaknya direct-to-video, karena terus terang saja, terasa mubazir saat menyaksikanya di layar bioskop.

By the way, kredit lebih harus ditujukan untuk Michael Tju yang mendisain posternya, karena terus terang alasan utama saya untuk menyaksikan film ini adalah posternya yang rasanya cukup komunikatif dan "menjual". But, like peoples said, don’t judge book by its cover. Hm, I should listen. :((


‘HALLOWEEN’: The Night He Been Re-made

Tuesday, December 18th, 2007

Produksi: Dimension Films (2007)
Sutradara: Rob Zombie
Cast: Malcolm McDowell, Sheri Moon Zombie, William Forsythe, Scout Taylor-Compton, Danielle Harris, Brad Dourif, Tyler Mane

Genre: Thriller/Horror
Durasi: 121" (Unrated)
Release Date: 31 Agustus 2007 (2007)
My Grade: 3.5 out 5

Halloween_ver_deutch ‘Halloween’ (1978), pada masanya merupakan horor fenomenal, karena diproduksi dan dipasarkan secara independen, namun mampu meraih pemasukan yang besar sekaligus disukai kritikus dan, tentu saja, menarik perhatian banyak fans, yang menjadikan karya horror-meister John Carpenter ini menjadi cult-film. Sampai tahun 2001, Halloween sudah mempunyai tujuh sekuel, hingga pada tahun 2007 ini keluarlah versi terbaru dari versi asli serial tersebut yang ditangani oleh rocker-turn-director, Rob Zombie.

Garis besar ceritanya sama saja; Michael Myers diusia 10 tahun membantai keluarganya dan kemudian memasuki sebuah institusi kejiwaan. 17 tahun kemudian ia kabur dari tempat tersebut dan kembali ke kampung halamanya di Haddonfield, Illinois, untuk kembali menebar teror kepada sekelompok babysitter. Namun, seorang babysitter, Laurie Strode ternyata mempunyai hubungan yang khusus dengan Myers. Sementara itu, sang psikolog, Dr. Loomis berusaha mengentikan teror yang dilakukan oleh Myers.

Untuk versinya ini, Rob Zombie ternyata tidak ingin melakukan remake yang biasa-biasa saja. Ia benar-benar melakukan revisi terhadap jalan cerita dan melakukan pendalaman secara sisi psikologis, terutama terhadap perkembangan karakter Michael Myers tersebut. Jika John Carpenter lebih menekankan sosok Myers sebagai monster tanpa jiwa, bahkan semenjak ia kecil pula, maka dalam visi Zombie, sosok Myers adalah dari seorang anak yang terlihat normal hingga progresinya menjadi sosok monster yang beku dalam kesunyian namun sangat berbahaya. Sesuatu yang tidak dikembangkan di versi asli.

Inilah pembeda utama dari kedua film. Zombie mencoba membuat filmnya lebih kepada thriller-psikologis, sedangkan Carpenter murni mewujudkan Halloween sebagai teror-horor. Sayangnya, Zombie kemudian tidak konsisten dalam pakemnya, karena menjelang paruh film hingga menjelang klimaks, pada akhirnya filmnya tidak jauh-jauh dari sebuah thriller-slasher biasa, yang menampilkan pola umum yang sudah dipatenkan oleh ‘Halloween’ yang orisinil. Bahkan Zombie banyak mengambil adegan-adegan yang mau tidak mau mengingatkan akan film tersebut.

Secara teknis, film pun terbelah menjadi dua, dimana pada paruh awal film bergerak dalam struktur thriller dan paruh akhir yang murni horor. Inilah yang membuat film terasa kurang solid dan utuh, karena seperti menyaksikan dua narasi dalam satu film. Ini juga berpengaruh pada perkembangan karakter-karakternya. Sangat terasa sekali jika Zombie ingin membentuk karakter-karakternya sendiri, walau berdasarkan karakter-karakter yang sudah terlebih dahulu eksis. Mulanya ini cukup berhasil, seperti karakter Dr. Samuel Loomis yang diperankan oleh Malcolm McDowell. Pada awalnya karakternya terasa menyegarkan, unik dan eksentrik, namun pada akhirnya kembali menjadi karakter yang gloomy seperti yang dahulu dengan sukses diperankan oleh Donald Pleasence.

Karakter Laurie Strode, yang dahulu menggemilangkan nama Jamie Lee-Curtis sebagai debutan, kali ini bukan menjadi perhatian utama, karena Zombie memang sepertinya ingin menekankan pada karakter Myers itu sendiri. Pada akhirnya Scout Taylor-Compton, pemeran Laurie masa kini, terlihat tersia-sia dalam perkembangan karakternya dan pada akhirnya menjadi tipikal final girl dalam film sejenis. Sayangnya, Zombie sendiri rasanya pun kurang berhasil mengembangkan karakter Myers yang uni itu sendiri, karena ujung-ujungnya ia hanya monster pembunuh satu dimensi yang biasa kita temui dalam genre slasher.

However, walau mungkin bukan film horor terseram atau terbaik, namun ‘Halloween’ masih menyimpan sesuatu yang menarik untuk disimak, karena ‘Halloween’ versi Rob Zombie ini adalah film yang cukup kredibel dan Zombie pun cukup lancar dalam bercerita. Uniknya, ia banyak memakai aktor-aktor veteran dalam genre horor sebagai pendukung film, seperti Brad Dourif dan Dee-Walace Stone, juga Danielle Harris yang dulu menjadi herroine dalam seri Halloween ke 4 dan 5. Pada akhirnya, ‘Halloween’ rasanya lumayan sukses dalam visinya mereimajinasi visi John Carpenter dan Debra Hill, sebagai penggagas awal cerita, dan mewujudkannya dalam versi yang lebih kontemporer.


‘HOSTEL PART II’: The Illicit Dangerous Liaison Continues

Tuesday, December 18th, 2007

Produksi: Lionsgate (2007)
Sutradara: Eli Roth
Cast: Lauren German, Bijou Philips, Heather Matarazzo, Richard Burgi, Rogert Bart, Jordan Ladd, Jay Hernandez

Genre: Thriller/Horror
Durasi: 93"
Release Date: 08 Juni 2007 (USA)
My Grade: 2 out 5

Hostel_part_iiDengan kesuksesan ‘Hostel’ maka memuluskan jalan Eli Roth untuk membuat sekuelnya yang hanya setahun setelahnya. Namun, entah mengapa, setelah menyaksikan ‘Hostel Part II’ ini, rasanya film ini tidak menawarkan sesuatu yang baru selain gender karakter utamanya.

Kali ini giliran tiga mahasiswi asal Amerika (German, Phillips, Matarazzo) yang berlibur ke Hostel maut tersebut dan pada akhirnya menjadi mangsa kelompok ekskulisif pembantai manusia tersebut.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dalam sekuel ini, selain pengulangan pola, sehingga kemudian kita sudah bisa membaca jalan ceritanya. Oleh karena itu, Roth kemudian menaikan eskalasi kesadisan dalam film ini, sehingga bagi yang berjantung lemah atau perempuan hamil diharapkan untuk tidak menonton film ini.

Setelah menyaksikan film ini kemudian kita seakan mempertanyakan kewarasan Roth saat membuat skrip untuk film ini. Film kemudian menjadi pointless dan tidak berarti lagi, saat Roth terlalu mengandalkan formula umum dan blood-and-gore.

Namun, untunglah Roth bukanlah sutradara yang buruk-buruk amat. Secara teknis, film tampil dengan lumayan menarik. Setidaknya bagi penggemar film horor, apalagi yang penuh dengan darah dan kesadisan, film ini akan menjadi penawar dahaga yang kering. Halah!!!!

Anyway, apa sih yang memutuskan dua laki-laki dari serial ‘Desperate Housewives’ (Richard Burgi dan Rogert Bart) untuk bermain di film ini?


‘IN THE LAND OF WOMEN’: In The Land of The Warmy Heartfelt

Sunday, December 9th, 2007

Produksi: Warner Bros (2007)
Sutradara: Jonathan Kasdan
Cast: Adam Brody, Kristen Stewart, Meg Ryan, Makenzie Vega, Olympia Dukakis, JoBeth Williams, Elena Anaya

Genre: Drama
Durasi: 97"
Release Date: 20 April 2007 (USA)
My Grade: 3.5 out 5

In_the_land_of_women_1

Jonathan Kasdan adalah anak dari Lawrence Kasdan (The
Bodyguard), yang menunjukkan jika pepatah bahwa apel jatuh tidak jauh dari
pohonnya adalah benar. ‘In The Land of Women’ adalah film yang ditulis dan
diarahkan sendiri oleh Kasdan, yang menujukkan jika ia memang mencintai film
sehingga berniat untuk membuatnya sendiri. Hasilnya, ‘In The Land of Women’
adalah sebuah drama dengan gaya penuturan yang santai dan tidak meledak-ledak
namun efektif dalam penyampainnya.

Carter Webb (Adam Brody, The
OC
), 26 tahun, baru saja diputuskan oleh kekasihnya yang artis, Sofia (Elena
Anaya). Carter yang juga seorang penulis skenario untuk film-film bergenre
soft-core, kemudian memutuskan untuk merawat neneknya yang tengah sakit,
Phyllis (Olympia Dukakis), di Michigan dan berharap tidak bertemu dengan
perempuan yang lain lagi. Namun ia salah, karena Phyllis bertetangga dengan
Sarah (Meg Ryan, When Harry Met Sally), seorang perempuan dewasa dengan
dua anak perempuan, Lucy (Kristen Stwerat, The Messengers) yang remaja dan
Paige (Makenzie Vega) yang baru berumur 11 tahun.

Carter mulai berteman
dengan Sarah dan keduanya saling menujukkan rasa empati yang besar. Sarah
sepertinya memiliki keluarga yang sempurna, namun kondisi dirinya serta hubungan
dengan kedua anaknya serta sang suami pelan-pelan membawa Carter dalam kehidupan
Sarah.

Setelah menyaksikan film secara keseluruhan, terus terang, cerita
dalam film ‘In The Land of Women’ ini terasa biasa-biasa saja dan tidak
meresonansikan sesuatu yang filosofis. Bahkan, nyaris tidak terjadi apa-apa
sepanjang film!

Karakter-karakter, baik yang utama maupun satelit, sama
sekali tidak mempunyai pengaruh yang berarti satu dengan yang lainnya, bahkan
mungkin tidak mempunyai perkembangan yang mendalam.

Namun uniknya, film
terasa sangat menghibur dan gampang dicerna. Jelas sekali ini adalah sebuah film
yang character driven. Kita hanya perlu terhanyut dengan
karakter-karakter ini dan selanjutnya kita terasa menjadi bagian dari ceritanya.
Lebih jauh lagi, karakter-karakter ini terasa membumi yang membuat kita bisa
merelasikan diri dengan mereka. Pada akhirnya, film terasa menyentuh tanpa harus
terkesan menjadi melodrama yang berlebihan, walau tendensi untuk itu besar
sekali.

Adam Brody dan Kristen Stewart dengan gemilang memainkan peran
mereka. Terutama Stewart, yang semakin terlihat matang saja dalam berakting.
Bukan suatu yang mengherankan jika nanti ia bisa sebesar Jodi Foster yang telah
berperan menjadi ibunya dalam ‘Panic Room’ karya David Fincher yang lalu.
Sementara Meg Ryan, walau bermain baik, namun entah mengapa kesan bintang komedi
romantisnya masih susah untuk dihilangkan.

‘In The land of Women’
mungkin film kecil yang akan banyak dilewatkan oleh para moviegoers.
Namun, film ini adalah sesuatu yang jarang ada di ranah Hollywood. Dengan
menawarkan kehangatan hubungan antar manusia yang murni, ‘In The land of Women’
adalah film yang menghibur dan dapat membuat kita sebagai penonton merasakan
’sesuatu’ setelah menyaksikannya.


‘SAAWARIYA’: Beloved in Such Picturesque Beauty

Sunday, December 9th, 2007

Produksi: Columbia Pictures (2007)
Sutradara: Sanjay Leela Bhansali
Cast: Rani Mukherjee, Ranbir Kapoor, Sonam Kapoor, Zohra Sehgal & Salman Khan

Genre: Drama/Roman/Musikal
Durasi: 150"
Release Date: 09 November 2007 (INDIA)
My Grade: 3.5 out 5

SaawariyaSanjay Leela Bhansali is a one of talented Bolywood’s film director nowdays
and has
a distinctive style in film making that differs him from the others.
Setelah ‘Khamoshi’, ‘Hum Dil De Chuke Sanam’, ‘Devdas’ dan ‘Black’, maka
‘Saawariya’ adalah bukti terbarunya. Diangkat dari cerita pendek karya
Dostoevsky berjudul The White Nights, berkisah tentang kisah cinta empat
malam antara Raj (Ranbir Kapoor) dan Sakina (Sonam Kapoor), yang dinarasikan
oleh "gadis profesional" bernama Gulab-ji (Rani Mukherjee).

Raj hidup
sebatang kara dan bekerja sebagai seorang penyanyi di sebuah klub malam. Ia
tinggal disebuah guess house milik Lilian (Zohra Sehgal). Tanpa sengaja,
pada suatu malam ia bertemu dengan Sakina, seorang gadis cantik disebuah
jembatan. He’s in love with her instantly. Tapi Sakina bukannya tanpa
alasan berdiri dijembatan pada malam hari seperti itu. Ternyata ia menunggu
kekasihnya yang bernama Iman (Salman Khan), yang berjanji akan menemuinya
dijembatan tersebut, tepat pada hari lebaran Ied.

Raj berhasil membina
hubungan pertemanan dengan Sakina namun untuk menjadi levih jauh lagi, tampaknya
Raj harus melawan rival yang sepertinya hanya ada dalam benak Sakina. Atau
benarkah Iman itu memang ada dan akan menepati janjinya pada
Sakina?

‘Saawariya’ digambarkan Bhansali bagai melukis cat minyak di
kanvas. Penggunaan warna biru dan hijau yang mendominasi layar membuat film
terlihat sedap dipandang. Dengan menggunakan seting di studio, film terlihat
seperti homage terhadap film-film lawas ala Raj Kapoor, yang kebetulan
adalah kakek dari aktor debutan Ranbir Kapoor. Oleh karenanya, dibandingkan
dengan ‘Devdas’ sekalipun, ‘Saawariya’ bahkan terlihat lebih theatrikal, walau
tidak dengan skala yang lebih grande dari ‘Devdas’.

‘Saawariya’
mungkin tidak terlihat nyata, bahkan mungkin surreal, karena tidak menggambarkan
realitas secara konkrit, namun Bhansali bertujuan untuk membuat sebuah film
art tanpa melupakan unsur komersial ala Bolywood-nya. Film ini seakan
sebuah sarana untuk meluapkan visinya tentang sebuah film roman yang indah namun
tetap tanpa melupakan unsur sinematografinya.

Untuk yang terbiasa dengan
tipikal Bollywood masala, mungkin akan sedikit kecewa dengan film ini, karena
Bhansali tidak melakukan kompromi untuk itu. Inilah yang mungkin yang sedikit
mengganjal dari film ini. ‘Saawariya’ rasanya tampil dengan ultra-serius,
padahal topik yang ditanganinya tidaklah sesulit itu. Mungkin, jika Bhansali
meramunya dengan seikit ringan, film akan menjadi berbeda.

Dari jajaran
pemainnya, ‘Saawariya’ beruntung didukung oleh aktor-aktris yang kompeten,
karena walaupun Ranbir Kapoor dan Sonam Kapoor adalah debutan, akan tetapi
Bhansali berhasil mengekstrak kekuatan akting mereka, sehingga film tidak tampak
dibintangi oleh bintang-bintang rookie. Namun, tidak bisa dinafikan jika
Rani Mukherjee adaah star dari film ini. Seakan menegaskan bahwa para
debutan ini harus bekerja lebih keras jika hendak sampai pada level yang diraih
salah satu diva akting Hindi ini. Salman Khan sendiri, walau tampil singkat,
namun berhasil menanamkan kesan yang kuat dan impresif dan menegaskan eksistensi
karakternya.


‘QUICKIE EXPRESS’: Sex is Good!

Monday, December 3rd, 2007

Produksi: Kalyana Shira Films (2007)
Sutradara: Dimas Djayadiningrat
Cast: Tora Sudiro, Amink, Lukman Sardi, Tino Saroengallo, Sandra Dewi, Ira Maya Sopha, Rudy Wowor, Tio Pakusadewo

Genre: Drama/Komedi
Durasi: 117"
Release Date: 22 November 2007
My Grade: 3.5 out 5

Quickie_express Komedi seks. Begitu menggoda, seduktif dan entertaining, jika digarap dengan serius. Jika tidak, film dengan genre ini akan jatuh menjadi sebuah film yang eksploitatif dalam mengumbar selera murah yang vulgar. ‘Quikie Express’ adalah upaya Kalyana Shira Film untuk menghindari anomali seperti itu dan mencoba membuat sebuah komedi seks yang renyah sekaligus mempunyai kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan tanpa melupakan esensi dari genre tersebut.

Dengan skrip yang ditangani oleh Joko Anwar (Arisan!, Jakarta Undercover), tidak mengherankan jika ‘Quickie Express’ mempunyai jalinan cerita yang jenial dan serta sadar-dengan-sesadarnya apa yang ingin diceritakannya.

Film bertutur tentang Jojo (Tora Sudiro, Nagabonar Jadi 2), seorang pemuda yang mempunyai peruntungan yang kurang memuaskan dalam pekerjaaannya. Sampai ia bertemu dengan seorang ‘pemburu’ (Tino Saroengallo) yang mengajaknya bergabung disebuah escort enterprise dengan kedok sebuah restoran pizza bernama Quickie Express. Di tempat itu ia bertemu dengan sesama plonco lainnya, Marley (Amink, Get Married) dan Piktor (Lukman Sardi, Jakarta Undercover).

Walaupun mempunyai tampang yang kurang menarik, namun ternyata ketiganya berhasil meningkatkan status mereka dalam tingkat esklusif sehingga kemudian dapat memperbaiki taraf kehidupan mereka secara lebih baik. Masalah kemudian timbul saat Jojo berkenalan dengan seorang dokter cantik (the up and coming,Sandra Dewi). Mulai dari inilah konflik mulai menimpa Jojo, baik secara fisik maupun psikis!

Sungguh tidak terduga, jeda sekian lama setelah ‘Tusuk Jelangkung’ (2003) membuat Dimas Djayadiningrat mampu meningkatkan kemampuan mengarahkan filmnya secara lebih mumpuni. Ia mampu mengeksekusi adegan-adegan yang menarik dan mengelaborasi unsur komedinya dengan berbagai gag yang berhasil dalam misinya mengocok perut para penontonnya.

Dengan pemilihan warna-warna natural beraroma pastel, film seakan-akan mengajak penontonnya kembali ke-era 70-an. Didukung pula dengan beberapa elemen yang mendukung untuk itu, seperti pemilihan musik skore, lagu-lagu pengiring, hingga pemilihan seting dan kostum, walaupun film sebenarnya berseting di masa kini.

Ini mungkin memang dimaksudkan sebagai sebuah homage terhadap film-film sejenis yang dulu memang banyak beredar di Indonesia. Bahkan beberapa gag mengingatkan pada komedi slapstick ala Warung Kopi DKI. Bukan suatu masalah, selama bersinergi dengan positif terhadap esensi sebenarnya dari film tersebut, yang mana dalam konteks ini adalah memberikan komedi yang dewasa tanpa bermaksud menghina intelejensia penontonnya.

Terus terang aja, walau diarahkan oleh Dimas Djay, akan tetapi tetap saja terasa kental pengaruh Joko Anwar dalam film ini dan pada akhirnya membuat kita bertanya-tanya, bagaimana hasil akhir film ini jika seandainya Joko sendiri yang turun tangan. Is it just the same or perhaps better?

Skrip Joko sendiri bukannya tanpa ada cacat didalamnya. Setelah pada babak pertama dan kedua film dengan mumpuni menghibur, menjelang akhir film terasa terbata-bata dalam memberi konklusi. Surprise yang gampang tertebak dan <>twist yang rasanya mengada-ada membuat film terasa absurd.

Walau begitu, secara umum, Quickie Express adalah sebuah film komedi yang berhasil. Didukung dengan akting prima oleh jajaran cast-nya, ‘Quickie Express’ jelas diatas rata-rata beberapa film lokal dan menjadikannya sebuah film yang unik dengan visinya yang ekletik dan jelas merupakan salah satu film terbaik secara kualitas untuk tahun ini. Once again Kalyana Shira and Joko Anwar rocks. Bravo!


Why The Hell KALA Isn’t Nominated for The BEST MOVIE????

Monday, December 3rd, 2007

Citra The Indonesian Film Festival will be held in this December and the nomenees are been announced. But, the thing that makes me sick is Kala, that IMHO is the best Indonesian movie for this year, isn’t nominated for the Best Film!!! Oh my God!!!! Are the jury are clueless or what??

BEST ACTORS

Fachry Albar (Kala)
Deddy Mizwar (Naga Bonar Jadi 2)
Dwi Sasono (Mengejar Mas-Mas)
Ringgo Agus Rahman (Get Married)
Tora Sudiro (Naga Bonar Jadi 2)

BEST ACTRESS

Dinna Olivia (Mengejar Mas-Mas)
Marsha Timothy (Merah Itu Cinta)
Nirina Zubir (Kamulah Satu-Satunya)
Poppy Sovia (Mengejar Mas-Mas)

BEST SUPPORTING ACTORS

Adi Kurdi (Anak-Anak Borobudur)
Gary Iskak (D`Bijis)
Jaja Mihardja (Get Married)
Lukman Sardi (Naga Bonar Jadi 2)
Winky Wiryawan (Badai Pasti Berlalu)

BEST SUPPORTING ACTREES

Henidar Amroe (Love Is Cinta)
Ira Wibowo (Mengejar Mas-Mas)
Meriam Bellina (Get Married)
Shanty (Kala)
Shanty (Maaf, Saya Menghamili Istri Anda)

BEST FILMS

Get Married (PT Kharisma StarVision)
Kamulah Satu-Satunya
(PT. O Nalareima Kreative Produksi)
Mengejar Mas-Mas
(PT. Depic Media Citra)
Merah Itu Cinta
(PT. Rapi Films)
Naga Bonar Jadi 2
(PT. Demi Gisela Citra Sinema & PT. Bumi, Prasidi BI-EPSI)

BEST SCRIPTS

Arswendo Atmowiloto (Anak-Anak Borobudur)
Monty Tiwa (Mengejar Mas-Mas)
Musfar Yasin (Naga Bonar Jadi 2)
Musfar Yasin (Get Married)
Raditya Key Mangunsong (Kamulah Satu-Satunya)

BEST DIRECTORS

Deddy Mizwar (Naga Bonar Jadi 2)]
Hanung Bramantyo (Get Married)
Hanung Bramantyo (Kamulah Satu-Satunya)
Rako Prijanto (Merah Itu Cinta)
Rudy Soedjarwo (Mengejar Mas-Mas)

BEST CINEMATOGRAPHIES

Fauzan Rizal (Get Married)
Ipung Rachmat Syaiful (Kala)
Regina Anindita (Sang Dewi)
Sidi Saleh (Merah Itu Cinta)
Yudi Datau (Naga Bonar Jadi 2)

BEST ARTS

Allan Sebastian (Get Married, PT Kharisma StarVision)
Allan Sebastian (Kamulah Satu-Satunya, PT. O Nalareima Kreative Produksi),
Rico Marpaung (Merah Itu Cinta, PT. Rapi Films)
Samuel Wattimena (Naga Bonar Jadi 2, PT. Demi Gisela Citra Sinema & PT. Bumi, Prasidi BI-EPSI)
Wencislaus (Kala, MD Picutres).

BEST EDITORS

Cesa David Luckmansyah (Get Married)
Monty Tiwa/Cindy R.A. Biere (Mengejar Mas-Mas)
Sasha Sunu (Merah Itu Cinta)
Tito Kumianto (Naga Bonar Jadi 2)
Wawan I. Wibowo (Kala)

BEST SOUNDS

Adityawan Susanto/Adimolana Machmud (Get Married)
Adityawan Susanto/Adimolana Machmud (Naga Bonar Jadi 2)
Arman A.R. Raniri/Monty Tiwa (Mengejar Mas-Mas)
Khikmawan Santosa (Kala)
Satrio Budiona/Yusuf A. Patawari (Merah Itu Cinta)

BEST MUSIC DIRECTORS

Addie M.S (Cinta Pertama)
Andi Rianto (Mengejar Mas-Mas)
Bobby Surjadi (Badai Pasti Berlalu)
Bongki BIP (Kamulah Satu-Satunya)
Dian HP (Love Is Cinta)