‘GHOST TRAIN’: Jenis Tipikal J-Horror Kontemporer. Tapi Setidaknya Sangat Menghibur
Sutradara: Takeshi Furusawa
Durasi: 93"
Release Date: 30 September 2006 (Jepang)
Rasanya, selain di Indonesia, tema horror memang tidak ada padamnya bagi masyarakat Asia, terutama Jepang. Perfilman Jepang termasuk yang paling rajin dalam memproduksi film dalam genre ini. Tentu belum hilang dari ingatan kita film-film seperti The Ring, Dark Water, Ju On, Pulse dan One Missed Call yang kesemuanya telah di-remake oleh Hollywood. Bahkan era horror Asia ini memang dimulai dari keberhasilan perfilman Jepang dalam menciptakan kreasi horror yang inventif sekaligus menakutkan. Namun, bagaimana dengan akhir-akhir ini? Rasanya kemonotonan tema juga mulai merasuki sineas-sineas disana, sehingga akhir-akhir ini jarang sekali hadir film horror yang fenomenal.
‘Ghost Train’ atau ‘Otoshimono’ diklaim sebagai film horror yang meraih penghasilan tertinggi kedua di Jepang pada tahun lalu. Lantas, apa yang membuat istimewa dari film ini sehingga menyedot banyak perhatian penonton disana?
Film berkisah tentang seorang siswi SMU bernama Nana (Erika Sawajiri, One Litter of Tears) yang kehilangan adiknya, setelah sang adik menemukan sebuah tiket di peron stasiun kereta api yang biasa mereka gunakan. Nana memutuskan untuk menyelidiki hilangnya sang adik sendiri, setelah pihak-pihak yang terkait kurang mempunyai solusi yang memuaskan bagi situasi yang dihadapinya. Ditempat lain, teman sekelasnya, Kanae (Chinatsu Wakatsuki) tengah diganggu oleh sosok perempuan misterius setelah menerima gelang yang ditemukan pacarnya di gerbong kereta api. Uniknya, dengan cara bagaimanapun ia tidak mampu untuk melepaskan gelang tersebut. Sementara itu, seorang masinis Kereta Api(Shun Ogiri, Azumi), dinonaktifkan oleh pimpinannya karena mengaku melihat hantu perempuan diatas rel dalam sebuah terowongan. Pada akhirnya, ketiga karakter ini bertemu dan mencoba untuk memecahkan misteri yang terjadi.
Setelah video, rumah, air, internet dan ponsel, kini giliran kereta api yang menjadi sarana dalam membangun ketegangan dalam sebuah film horror Jepang. Walau begitu, perfilman Korea sendiri telah mencuri start dengan memakai tema yang serupa melalui ‘Red Eye’ di tahun 2005 yang lalu.
Jujur saja, setelah menyaksikan filmnya saya memang merasa terhibur. ‘Ghost Train’ mempunyai beberapa adegan yang cukup mengagetkan, walau harus diakui rasanya film-film horror Jepang akhir-akhir ini semakin kurang saja dari intensitas kengerian dan keseramannya. Hal ini mungkin saja disebabkan karena semakin umumnya formula yang dipakai para sineas dalam membentuk pola cerita dalam filmnya. Belum lagi penggunaan teknik-teknik jenerik yang akhirnya menjadi klise dalam film jenis ini. Selama para sineas ini belum menemukan gaya yang lebih inovatif, maka kita akan tetap mengkonsumsi film-film yang bergaya sama.
Takeshi Kurusawa, sang sutradara, adalah mantan teman sekelas Takashi Simizu (Ju On, The Grudge) di Sekolah Film Tokyo dan juga assisten sutradara Kiyoshi Kurosawa (Kairo: Pulse) dalam beberapa filmnya, sehingga tidak mengherankan jika ia kemudian banyak terpengaruh oleh kolega-koleganya tersebut.
Walau ‘Ghost Train’ terlihat seperti film yang sangat tipikal, namun ia cukup berhasil dalam membangun kengerian melalui cerita yang runut dan segi teknis yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga wajar jika kemudian memperoleh penghasilan yang besar di jajaran Box Office, tidak seperti beberapa film lokal yang sukses di pasaran tapi jeblok dari segi teknis.
May 30th, 2008 at 1:58 am
Waaaaaaaaaaaaaaaaa…..
nyesel gw ntn film ini, semua yang gw pgn dr film horor ga gw dapt disini…..
dan sm ky fil horor jepang lainnya…
“Berpacu dengan waktu sebelum semuanya terlambat”
Basi,Basi dan Basi…..
aktingnya jg ga dapt…
huh !
Chaw….