June 26, 2008

This Blog is Moving Out

Fiksi's review is the 200th thread for this blog and sadly I must say that was the last post for this blog because I want to concentrate posting in my Multiply. Well, this decision is not made in just one night, but after several contemplation :)). I must say that posted threads in two site is tiring. So, with keep posting in just one blog I think will more focus on my subject and hopefully wrote it more insightful. My Multiply has many advantages rather this Friendster Blog, because I also share my personal thougts, video, images and music, especially musics from my favorite soundtrack.  Enough talking. I just wanna say GOODBYE..and thank you for  all your attention for this blog and deep from  my heart I asked for your apology, if i said  wrong, intentionally or not.  So, the Multiply  site  is:

chaosisgreen.multiply.com

Findingmyneverland

                            

June 20, 2008

'FIKSI': This Fiction Turn Into Sinister Reality


Produksi: Cinesurya (2008)
Sutradara: Mouly Surya
Cast: Ladya Cheryl, Donny Alamsyah, Kinaryosih, Inong, Rina Hasyim, Egy Fadly, Soultan Saladin, Jose Rizal Manua

Genre: Drama/Thriller
Durasi: (+) 100"
Release Date: 19 Juni 2008
My Grade: 3.5 out 5

Fiksi_poster Banyak yang skeptis jika orisinilitas menjadi bagian yang eksklusif dari film-film di Indonesia. Tidak bisa disalahkan saat fakta memang menunjukkan hal tersebut. Saya setuju plagiat merupakan sebuah big-no-no, namun jika orisinalitas diharapkan didapat dari film-film lain sebagai referensi, maka rasanya itu juga terlalu berlebihan. Lagipula, dengan sejarah panjang dunia perfilman saat ini, rasanya jarang sekali untuk mendapatkan film-film yang benar-benar inventif. Bahkan Quentin Tarantino "menjiplak" habis-habisan gaya film aksi Asia dalam 'Kill Bill'. Hanya saja kemudian dapat tepermisifkan jika bahan-bahan tersebut diolah menjadi sesuatu yang jenial.

Joko Anwar selalu dituduh "kebarat-baratan" dalam setiap film atau skenarionya. Rasanya ini juga terlalu berlebihan. Menyaksikan skenario terbarunya yang berjudul 'Fiksi' dan menjadi film debutan bagi sutradara perempuan bernama Mouly Surya, adalah seperti menyaksikan plot yang bisa jadi umum di Barat sana, namun dikemas dengan sentuhan lokal yang cukup kuat, sehingga menghasilkan sebuah narasi yang memikat untuk disimak dari awal sampai akhir dan menambah khasanah film lokal yang benar-benar layak untuk disimak.

Mengambil premis Alice in Wonderland, akan tetapi dibalik, film bercerita tentang Alisha (Ladya Cheryl), seorang gadis kaya dengan kehidupan yang suram. Sampai ia kenal dengan Bari (Donny Alamsyah), seorang pemuda sederhana yang tinggal berdua saja dengan kekasihnya yang mahasiswa psikologi bernama Renta (Kinaryosih) di sebuah rumah susun (namun menolak dikatakan sebagai pasangan 'kumpul kebo'!). Alisha, yang menyamar dengan memakai nama Mia, memutuskan untuk tinggal di rumah susun tersebut.

Bari ternyata seorang penulis yang masih bingung untuk memberikan akhir pada cerita-cerita yang ditulisnya mengenai beberapa karakter yang kebetulan menetap di rumah susun tersebut. Alisha yang kini terobsesi dengan Bari memutuskan untuk "memberi jalan" bagi klimaks di cerita-cerita Bari dengan memberikan klimaks di dunia nyata bagi karakter-karakter tersebut. Namun, yang namanya obsesi, jika kita terlalu konsumtif padanya maka pada akhirnya akan berujung pada petaka. Maka, pada akhirnya giliran cerita mereka yang kini Alisha perlu beri akhir.

Rasanya saya tidak perlu sebutkan pada film-film apa saja 'Fiksi' mengingatkan saya. Yang penting saat ini adalah bagaimana saya tersedot pada cerita yang ditawarkan oleh Mouli Surya ini. Bertahan pada pace yang lambat memang mempunyai tendensi untuk ditinggal oleh atensi penontonnya. Namun untunglah dinamika dalam ceritanya dialur dengan menarik, yang kalau saya ibaratkan seperti layang-layang yang ditarik ulur. Saat kita mulai merasa bosan, maka tiba-tiba cerita menawarkan "sesuatu" lagi yang membuat kita untuk bertahan.

Ini mungkin yang menjadi minor bagi 'Fiksi' secara umum, selain juga dimana rasanya 'Fiksi' terlalu banyak mengambil struktur drama dibandingkan thriller. Terlepas dari hal-hal tersebut, Joko Anwar sekali lagi menunjukkan betapa ia memang mempunyai refensi film dengan cakupan yang luas. Ia memang tahu sekali filmya akan diarahkan kemana, sehingga saya berani menyebutkan jika film bertutur dalam dramaturgi yang jelas dan lancar bercerita.

Tabik juga untuk Mouly Surya yang mampu mengemas cerita Joko dengan estetika yang dipilihnya. Jika ia tidak memahami dengan baik kandungan cerita film ini, saya yakin film akan berjalan pada arah yang salah dan pada akhirnya meloncat ke jurang monotonisme. Oh ya, tentu saja ia tahu kemana arah film akan berjalan. Bukannya ide cerita film ini berasal darinya?

Ladya Cheryl sendiri katanya memang sudah dibayangan Mouly saat mulai menulis cerita film ini. Tidak heran jika karakter Alisha diperankannya dengan tone yang setipe saat menjadi Alya di film 'Ada Apa Dengan Cinta' yang lalu. Hanya saja kini dengan atmosfir yang lebih kelam. Ms. Ladya, I think you should take another role in another films to variate your acting resume. Pada intinya untuk menambah jam terbang saja.

Donny Alamsyah sendiri beruntung jika pada banyak film lain ia hanya sebagai pemain pendukung, sehingga bisa mengasah aktingnya secara lebih tajam. Ia mampu menjadi Bari yang memang dibutukan oleh skenario. Tapi saya curiga, jangan-jangan karakter Bari juga terinspirasi dari keseharian Donny. Kinaryosih, dalam peran pendukung, tidak istimewa dan cenderung dapat dilupakan, namun cukup memberi kontribusi yang signifikan terhadap progresi cerita.

'Fiksi' adalah film yang berbeda. Bukan film yang umum mungkin. Selama selera penonton kita belum berubah dari pola yang terjadi saat ini, film seperti ini tidak akan dengan mudah diterima oleh awam. Akan tetapi film ini menjadi penting karena ia dibutuhkan sebagai sosialisi (dan juga edukasi) bagi kalangan penonton kita, bahwa film yang baik dan benar itu lebih menambah khasanah wawasan berfikir dan pada akhirnya kita akan mempunyai penonton dengan daya nalar yang lebih kritis. Okay, enough being preachy and just watch the film while it still last, which I think won't be long at the cinema.

June 19, 2008

'KUNG FU PANDA': This Panda Can Do Some Kung Fu Styles


Produksi: Dreamworks Pictures (2008)
Sutradara: John Stevenson & Mark Osborne
Voice Cast: Jack Black, Dustin Hoffman, Angelina Jolie, Ian McShane, Seth Rogen, Lucy Liu, David Cross, Randall Duk Kim, James Hong, Dan Fogler, Michael Clarke Duncan, Jackie Chan

Genre: Animasi/Aksi/Komedi
Durasi: 91"
Release Date: 05 Juni 2008 (USA)
My Grade: 3.5 out 5

Kung_fu_panda_1 Akhirnya penantian saya akan 'Kung Fu Panda' terbayarkan sudah. Menyaksikan sebuah film "kung-fu" dengan perspektif animasi-komedi, maka film terasa sangat mengibur. Namun, apakah saya merasa puas dengan film ini secara umum? Rasanya belum!

Po (Jack Black) adalah seekor (atau seorang?) Panda yang bekerja di restoran mie yang terkenal dengan resep rahasia milik ayahnya, seekor unggas(!) bernama Mr Ping (James Hong). Ia sangat bercita-cita ingin menjadi seorang pendekar kung fu yang handal. Namun karena masalah makan dan obesitas, ia hanya sanggup untuk bermimpi.

Sementara itu di Jade Palace a.k.a. Istana Kumala, Master Oogway (Randall Duk Kim) meramalkan kepada Master Sifu (Dustin Hoffman) akan keberadaan Dragon Warrior atau Pendekar Naga untuk menghadapi kebengisan mantan asuhan Master Sifu yang bernama Tai Lung (Ian McShane). Meski Tai Lung telah dipenjara di sebuah penjara dengan sistem keamaan maksimum pimpinan Komandan Vachir (Michael Clarke Duncan), namun Oogway yakin ia akan bebas.

Sifu yang sangat mempercayai ramalan Oogway kemudian menghimpun kelima murid mumpuninya, Tigress (Angelina Jolie), Monkey (Jackie Chan), Viper (Luci Liu), Mantis (Seth Rogen) dan Crane (David Cross), untuk dipilih oleh Oogway menjadi Pendekar Naga. Sebuah "kebetulan" membuat Oogway menunjuk Po sebagai sang Pendekar Naga. Sifu tentu saja merasa keberatan, namun ia menghormati keputusan Oogway, sehingga dengan setengah hati memutuskan untuk melatih Po.

Sementara itu Tai Lung telah benar-benar bebas dan tujuannya adalah kembali ke Istana Kumala untuk merebut Sacred Scroll atau Gulungan Suci yang dulu gagal direbutnya. Lantas, bisakah Po mengehentikan Tai Lung dan mencapai cita-citanya sebagai seorang Kung Fu Master?

'Kung Fu Panda' adalah aksi-animasi dengan penampilan adegan-adegan laganya yang terlihat menakjubkan, maka ini menandakan jika referensi duo John Stevenson & Mark Osborne sebagai pengarah film cukup luas akan genre "kung fu" ini. Nah, masalahnya film kemudian berjalan seperti kumpulan serangkaian adegan aksi minus cerita yang problematis.

Apalagi, dengan kedalaman kapasitas akting yang diberikan oleh Jack Black dan Dustin Hoffman dalam mengisi suara karakternya, memang membuat 'Kungfu Panda' menjadi terasa ciamik oleh "duel" akting untuk mereka, namun justru membuat karakter-karakter dan voice talents lainnya menjadi underused, terutama Jackie Chan yang hanya mendapat beberapa dialog saja!

Filmnya sendiri memang terlalu sederhana, menampilkan pola from hero to zero yang sudah awam dan tertebak jalan ceritanya. Rasanya inilah yang memang membedakan film-film animasi Dreamworks dengan Disney-Pixar yang mempunyai kedalaman dalam kadar ceritanya, tanpa harus banyak memakai bintang-bintang tenar sebagai pengisi suara, seperti yang biasa dilakukan oleh Dreamworks.

Terlepas dari itu, 'Kung Fu Panda' menerapkan plot film-film Kung Fu klasik dengan proporsi yang tepat dalam format animasinya ini. Harimau, Monyet, Ular, Belalang dan Bangau adalah lima personifikasi umum dalam jurus-jurus kungfu dan saat ajang pelatihan Po oleh Sifu sangat mengingatkan akan film-film Kungfu tersebut. Bisa dikatakan 'Kungfu Panda' adalah homage dalam bentuk animasi terhadap film-film tersebut.

'Kungfu Panda' jelas bukan film animasi terbaik keluaran Dreamworks. Namun ia sangat menghibur dan bisa memuaskan banyak kalangan yang mengharapkan agar dapat terhibur saat menonton sebuah film. Pastinya film ini tidak akan menjadi klasik layaknya 'Shrek' yang rasanya satu-satunya animasi Dreamworks yang dapat dianggap klasik. Memang sudah momentumnya bagi Dreamworks untuk juga memikirkan kedalaman cerita dan pengembangan karakter untuk film-film animasinya, kalau ia mau tidak tertinggal oleh pesaingnya yang mempunyai lebih banyak film animasi kontemporer yang kini sudah dianggap klasik.

'SUMPAH POCONG DI SEKOLAH': A Horror Comedy That Entertains But Fails To Undertand The Genre


Produksi: Maxima Pictures/27Ant (2008)
Sutradara: Awi Suryadi
Cast: Alex Komang, Marcell Darwin, Fandi Christian, Hardi Fadhillah, Herichan, Joshua Pandelaki, Henidar Amroe

Genre: Horor/Komedi
Durasi: (+) 100"
Release Date: 12 Juni 2008
My Grade: 2.5 out 5

Sumpah_pocong_di_sekolah Saat sang hantu perempuan merangkak keluar dari televisi dan mulai mencekik Alex Komang, saya langsung tahu kalau komedi sejatinya memang ranah utama bagi Awi Suryadi (Claudia/Jasmine). Saya juga langsung tahu kalau dia itu sama sekali tidak punya ide yang inventif untuk bagaimana menciptakan atmosfir seram, sehingga harus mengkloning adegan-adegan seram dari film-film horor lainnya yang jelas-jelas lebih superior!

'Sumpah Pocong di Sekolah' mempunyai judul yang sensasional dengan jalan cerita yang kini sudah jenerik. Menampilkan hantu dengan penampilan yang jenerik pula, sehingga pada akhirnya film ini adalah film jenerik yang berusaha menarik perhatian dengan aksi-aksi yang "heboh".

Tidak ada yang baru disini. Menceritakan tiga orang siswa dari sekolah elit khusus laki-laki yang tidak mempunyai karakter jelas kecuali kalau mereka itu badung (yang rasanya juga kurang meyakinkan!). Saat mereka diminta pertanggungjawaban akan kelakukan badung mereka, justru mereka semakin badung dengan melakukan Sumpah Pocong.

Seperti sudah dapat ditebak, sumpah ghaib tersebut mengundang makhluk ghaib lainnya dan mulai mengganggu ketentraman hari-hari mereka. Uniknya, yang mencoba membongkar tabir sang mahluk ghaib aka "hantu perempuan berambut panjang", bukan ketiga siswa laki-laki yang rasa tanggung jawabnya diletakkan didengkul mereka tersebut, melainkan seorang guru perempuan nan seksi yang motivasinya juga kurang kuat dan berakhir dengan klimaks yang membuat karakter ketiga siswa laki-laki yang masa depannya kurang jelas itu (dan juga guru seksi) menjadi tidak penting lagi.

Memang kedengarannya konyol, tapi (dengan segala keterbatasannya) saya juga langsung tahu kalau Awi ternyata memang mampu untuk meramu adegan demi adegan dengan gaya bertutur yang lancar. 'Sumpah Pocong di Sekolah' tidak hanya dipenuhi adegan (yang dicoba) seram, namun juga dipenuhi oleh banyak adegan dagelan yang konyol dan tidak juga kehilangan dramatisasi yang menarik.

Ini menjadikan film menjadi menghibur dan tidak membosankan. Film ini jelas diatas dari banyak film horor Indonesia yang tidak jelas kualitasnya. Tidak dinafikan lagi kalau Awi Suryadi itu berbakat dan ia masih sangat muda dan memerlukan jam terbang yang lebih tinggi lagi. Hanya saja mungkin horor bukan pilihan yang tepat baginya dan he really should stick to the comedy instead.

Anyway, Awi is lucky to have Alex Komang and Hennidar Amroe because they are great as ussual. The threee so-called lead actors should learn more from them.

June 08, 2008

'MAY': Melodrama Gets Intense and Profound


Produksi: Flix Pictures (2008)
Sutradara: Viva Westi
Cast: Jenny Chang, Yama Carlos, Lukman Sardi, Ria Irawan, Tutie Kirana, Tio Pakusadewo, Niniek L. Karim, Jajang C. Noer

Genre: Drama/Roman
Durasi: 105"
Release Date: 05 Juni 2008
My Grade: 3.5 out 5

May_2 Saya sebenarnya merasa sedikit bersalah, karena kemarin tidak sempat menyaksikan 'Suster N', karya perdana Viva Westi, setelah membantu Garin Nugroho di 'Serambi'. Walau mengambil genre horor, entah mengapa saya yakin kalau horor ditangan Viva akan berbeda hasilnya. Walau kemudian saya membaca banyak komentar yang sedikit negatif akan film tersebut, namun tidak menyurutkan keyakinan saya jika Viva Westi merupakan salah satu sutradara muda yang dapat diperhitungkan.

Keyakinan saya terbayarkan sesudah menyaksikan film 'May' ini. Sebuah film drama dengan penanganan yang lumayan menarik dan subtil, sehingga meski bertema melodrama dalam esensinya, namun 'May' tetap mempunyai kelas tersendiri yang dapat membedakan dengan kebanyakan film Indonesia akhir-akhir ini.

Dengan mengambil latar belakang kerusuhan di bulai Mei sepuluh tahun lalu, 'May' bercerita tentang May (newcomer, Jenny Chang), seorang gadis keturunan Tiong Hoa yang terpaksa menghadapi tragedi dalam hidupnya, karena sang kekasih, Antares (Yama Carlos, Angker Batu, Merah Itu Cinta, In the Name of Love), seorang sutradara dokumenter pemula, terlambat menjemputnya dari sebuah audisi.

Tepat pada tanggal 13 Mei itu, May harus mengalami penderitaan tak terperikan karena diperkosa oleh orang asing. Cik Bing (Tuti Kirana), ibu May sangat kebingungan akan nasib May, namun karena situasi yang tidak memungkinkan, maka ia terpaksa mengungsi ke Malaysia dengan mengorbankan sertifikat rumah satu-satunya kepada Gandang (Lukman Sardi), seorang petugas laundry hotel tempat Cik Bing mengungsi. Gandang sendiri terpaksa melakukan hal tersebut karena istrinya (Ria Irawan) tengah hamil tua dan membutuhkan banyak biaya. May sendiri diselamatkan oleh seorang jurnalis asing dan dibawa ke Malaysia. Ternyata May hamil, namun ia tidak sudi untuk memelihara anak tersebut.

sepuluh tahun kemudian, May, Antares, Cik Bing dan Gandang menjadi sosok-sosok yang bebeda. Namun takdir mempertemukan mereka kembali dan memberikan mereka kesempatan untuk menebus segala perbuatan mereka di masa lalu.

Jika ditarik garis lurus dari intisari cerita diatas, maka pada dasarnya 'May' adalah melodrama. Rasanya itu memang tidak terbantahkan lagi. Namun Viva Westi tidak ingin filmnya bercerita secara linear, karena film tentu saja akan membosankan. Maka dengan memakai alur maju-mundur, ia dapat menjaga suspensi dalam cerita dan menarik ulur emosi dan ketertarikan penonton untuk tetap mencerna isi cerita.

Viva juga berhasil mengeksekusi salah satu sejarah kelam bangsa ini sebagai sebuah latar belakang yang kuat dan mampu menjadi pilar yang kokoh untuk struktur ceritanya. Dengan piawai, oleh Viva Westi adegan kerusuhan tidak digambarkan dengan secara berlebihan apalagi vulgar, namun tetap dapat menangkap atmosfir kelam dan mengerikan dari peristiwa tersebut.

Juga, dengan memasukkan sub-plot karakter Gandang didalamnya, maka film pun dapat menjadi kontemplatif tanpa harus menggurui kemudian. Dengan dialog-dialog yang cukup bernas, semakin menambah nilai positif untuk film.

Yang menjadi masalah justru kedua aktor utamanya. Yama Carlos telah bermain dibeberapa film dan sinetron dan ini adalah film keduanya sebagai leading. Sementara Jenny Chang memang benar-benar baru di ranah tersebut. Keduanya telah berupaya memberikan penampilan terbaik mereka, namun sayangnya tidak benar-benar kuat untuk kemudian menjadi believeable menjadi May dan Antares. Bukan berarti keduanya bermain buruk, namun dengan dukungan bintang-bintang papan atas seperti Lukman Sardi, Ria Irawan, Tio Pakusadewo dan Tuti Kirana, menyebabkan akting mereka terlihat sangat rata-rata.

Sisi kurang menyenangkan lainnya adalah pada beberapa bagian, perpindahan adegannya kurang terasa halus. Juga sub-plot karakter Gandang yang rasanya terlalu panjang sehingga mencuri perhatian dari kisah utamanya. Mungkin porsinya harus lebih kecil? Entahlah.

Apakah kemudian film akan berakhir dengan happy ending yang telah menjadi tipikal bagi film sejenis? Sekedar wanti-wanti yang kurang penting; jangan tertipu dengan adegan akhirnya. Pada hakikatnya apa yang terlihat tidak sama dengan apa yang tersurat!

Pada akhirnya, 'May' adalah sebuah drama komersil dengan unsur kontemplatif yang cukup dalam. Viva Westi cukup berhasil membangun jalinan cerita melodramatis yang intens namun tidak lantas menjadi cengeng. Untuk tahun ini, 'May' jelas adalah salah satu film Indonesia yang menarik untuk disimak. Direkomendasikan.

'APARTMENT 1303': Another Ghost in da House!


Produksi: MonteCristo International (2007)
Sutradara: Ataru Oikawa
Cast: Noriko Nakagoshi, Eriko Hatsune, Yuka Itaya, Naoko Otani, Arata Furuta

Genre: Horor/Thriller
Durasi: 94"
Release Date: 27 Oktober 2007 (JEPANG)
My Grade: 1.5 out 5

Apartment1303 Ada apa dengan film-film horor Jepang akhir-akhir ini? Setelah menjadi pionir dengan sejumlah film yang monumental seperti 'Audition', 'Battle Royale', 'Ringu', 'Ju On: The Grudge', 'Dark Water', 'Pulse' dan 'One Missed Call', maka film-film yang keluar saat ini adalah film-film yang sudah terlalu repetitif dan kehilangan unsur inventifnya dalam segala segi. Kalau mau jujur, kok rasanya film-film horor Indonesia malah terasa jauh lebih baik? Yes, there's pun intended!

'Apartment 1303' bukan pengecualian. Segala hal yang biasa kita lihat dalam film-film terdahulu diatas bisa disaksikan disini. Hantu perempuan berambut panjang? Penuh dengan dendam? Korban penganiayaan? Anak kecil misterius? Hm??? Apa yang baru ya?

Mariko menyelidiki kematian adiknya yang melompat dari balkon apartemen bernomor 1303 yang baru ditempatinya. Ia curiga ini bukan kasus bunuh diri biasa dan entah mengapa ia curiga akan adanya unsur ghaib didalamnya. Ternyata memag benar. Apartemen (yang tidak angker) itu telah memakan banyak korban gadis muda yang juga melakukan bunuh diri dari atas balkon apartemen tersebut.

'Apartment 1303' diangkat dari novel karya Kei Oishi yang dimana novelnya yang lain telah diangkat menjadi 'Ju On: The Grudge'. Tidak heran jika trademark dari film tersebut banyak menempel di film ini.

Sayangnya Ataru Oikawa terlalu jenerik dalam menggarap film ini dengan memakai formula yang telah menjadi basi, sehingga film menjadi kurang menyeramkan dan menarik. Pada akhirnya dengan banyaknya pengulangan adegan, film pun mempunyai tendensi untuk membosankan. Belum lagi secara teknis film terasa sangat marjinal dan rasanya hanya cocok untuk menjadi konsumsi di televisi.

Sebenarnya film ini tidak buruk-buruk amat dan berpotensi untuk dapat menjadi menyeramkan, jika saja daftar film-film yang lebih superior diatas tidak dibuat. Ujung-ujungnya 'Apartement 1303' bukanlah film yang begitu penting untuk disimak, kecuali kalau memang ingin melihat variasi dari tema yang sejenis atau memang sudah tidak ada film lain yang bisa ditonton.

'ACROSS THE UNIVERSE': All You Need is The Love Songs of The Great Beatles


Produksi: Columbia Pictures (2007)
Sutradara: Julie Treymor
Cast: Jim Sturgess, Evan Rachel Wood, Joe Anderson, Dana Fuchs

Genre: Drama/Musikal
Durasi: 133"
Release Date: 12 Oktober 2007 (USA)
My Grade: 3 out 5

Across_the_universeSiapa yang tidak kenal dengan The Beatles. Band asal Inggris tersebut bisa dikatakan merupakan salah satu band yang paling berpengaruh dalam industri musik kontemporer saat ini. Dengan lagu-lagu melodius nan kontemplatif, telah menjadikan band ini sebagai sebuah legenda besar.

Saat Julie Taymor berniat membuat film musikal dengan menjadikan lagu-lagu dari The Beatles sebagai bagian dari musikalitas dalam dramaturginya, tentu saja ekspektasi melambung tinggi, berharap agar musik-musik yang jenial tersebut mampu meniupkan ruh yang diperlukan oleh filmnya.

Ceritanya sederhana saja. Berseting paruh 60-an, seorang pemuda Inggris, Jude (Jim Sturges) bertolak ke Amerika karena ingin bertemu dengan sang Ayah yang tidak pernah ditemui seumur hidupnya. Nasib mempertemukan ia dengan kakak beradik Lucy (Evan Rachel Wood) dan Max (Joe Anderson). Sudah bisa diduga Jude jatuh cinta dengan Lucy. Yah, kemudian Lucy pun jatuh cinta kepada Jude. Hanya saja, gaya hidup Jude yang happy-go-lucky ternyata tidak berkesinambungan dengan Lucy yang tenggelam dalam idealismenya dalam menentang perang Vietnam yang berkecamuk. Cerita juga diselingi pula dengan karakter-karakter satelit yang mengingatkan akan streotipe yang umum berlaku pada masa itu (hippies, rock n’roll, kebebasan dan sebagainya).

'Across The Universe' adalah pretensius. Rasanya hal tersebut susah untuk dinafikan. Tentu saja, walau bercerita tentang issue yang tengah hangat pada masa itu, namun rasanya tetap faktual dalam konsep kekinian. Namun, rasanya memang Taymor terlalu bersemangat dalam membuat sebuah drama musikal yang kontemplatif, sehingga kemudian meninggalkan esensi dari musikalitas itu sendiri.

Dalam sebuah film musikal, seyogyanya unusr lagu adalah satu bagian dari narasi. Dalam arti, kadang ia adalah sebuah dialog yang berbicara. Nah, disini Taymor terlalu memaksakan agar plot film berjalan dengan lagu-lagu yang menjadi pilihannya, sehingga film malah terasa kosong dan sedikit kehilangan arah, seperti kumpulan video musik dalam konteks yang kurang jelas. Ini membuat film hanya sebagai “penanda” dari kemegahan lagu-lagu dari The Beatles tersebut.

Harus diakui, secara visual, Taymor mampu membangkitkan kenangan yang lekat akan lagu-lagu tersebut, sehingga adegan terasa menggugah. Bahkan, ia dengan imajinasinya yang kuat mampu membuat penggambaran yang kadang surealistis namun tetap terasa indah.

'Across The Universe' adalah pengalaman visual yang menarik, juga bukanlah film musikal yang buruk. Hanya saja, menjadi pretensius terkadang menjadikan film kehilangan esensi dalam urgensinya. Dan itulah 'Across The Universe'. 

May 28, 2008

'THE EYE': This Eye See Horrible Thing


Produksi: Lions Gate (2008)
Sutradara: David Moreau, Xavier Palud
Cast: Jessica Alba, Alessandro Nivola, Parker Posey, Rachel Ticotin 

Genre: Horror/Drama
Durasi: 95"
Release Date: 01 Februari 2008 (USA)
My Grade: 2.5 out 5

The_eye Sudah lelah dengan remake horor Asia? Sayangnya para produser di Hollywood ternyata merasa kebalikannya. 'The Eye' adalah film Asia sukses kesekian yang dibeli hak ciptanya oleh H'wood dan dimanifestasikan dalam bentuk umumnyanya yang paling banal, setidaknya dalam genre Horor.

Ceritanya nyaris tidak ada perubahan. Sidney (Jessica Alba) adalah seorang perempuan buta yang menerima transpalntasi kornea mata. Namun, setelah mampu melihat lagi, ia malah menerima penglihatan-penglihatan yang menyeramkan. Oleh karena itu, dibantu oleh psikolognya (Alessandro Nivola), ia berusaha membuka tirai kelam yang dimiliki oleh pemilik kornea matanya yang terdahulu.

Duet David Moreau dan Xavier Palud bukanlah duet Danny dan Oxide Pang, dalam membuat versi 'The Eye' mereka. Walau memberikan intensitas yang lumayan menegangkan pada adegan-adegan seramnya, namun atmosfir kelam yang ingin dicapai belumlah mencapai tingkat yang dicapai oleh versi yang asli garapan Pang bersaudara tersebut.

Jessica Alba, sebagai atraksi utamanya sendiri tidak buruk dan terlihat berupaya tampil meyakinkan, walau kadang dibeberapa adegan yang mengharuskan ia berdialog, malah tampil kurang meyakinkan. Miss Alba sudah seharusnya meningkatkan talentanya dan jangan hanya mampu dikenang menjadi poster-girl belaka.

Terus terang, sejak 'The Ring' versi Gore Verbinski, maka belum ada remake horor Asia yang benar-benar koheren untuk dibuat ulang, karena menunjukkan signifikansi yang kurang jelas akan apa yang sebenarnya hendak dicapai oleh film aslinya. 'The Eye' bukan pengecualian.

Film ini jelas-jelas terlalu 'terHollywoodkan' dan mengorbankan esensi utama mengapa film aslinya bisa begitu sukses dalam menakuti penontonnya. Dalam pandangan kritisi Amerika, film-film horor remake ini (yang biasanya PG-13) dipandang buruk, tidak seram dan kurang memuaskan dalam segi dramatikalnya. Berbeda dengan versi aslinya, Asia dalam hal ini, yang terbukti mampu menjalin drama yang baik dengan keseraman yang dibangun dengan merambat.

Berbeda dengan remake 'The Grudge' yang memang jelas-jelas hanya menjual kengerian dibandingkan dengan cerita yang unik atau 'Dark Water' yang terlalu moody, maka 'The Eye', sama halnya dengan remake 'Pulse' dan 'One Missed Call' terlalu mengfokuskan pada unsur horor akan tetapi melupakan sinergitas dengan unsur drama, yang mana merupakan esensi utama dari jalinan kesatuan dalam plot film-film horor Asia ini. Meski menurut pendapat saya presentasi film ini jauh lebih baik dibandingkan film-film tersebut.

'The Eye' versi aslinya menurut saya memang salah satu film yang mampu menampilkan keseraman yang diperlukan sekaligus plot yang dramatiknya terjaga, sehingga unsur ironi yang ingin disampaikan bisa tercapai. 'The Eye' versi Amerika ini terlalu menginginkan sebuah jalan cerita yang lebih membumi dan menghibur sehingga orang tidak haris repot-repot mengesensikan apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Disinilah masalahnya, 'The Eye' terasa kering dan tidak bermakna apa-apa selain hiburan semata-semata. Ending yang lebih kompromistis buktinya. Terasa dibuat-buat dan sedikit menghina intelenjensia penontonnya.

'The Eye' mungkin sebuah film yang menghibur, namun dapatkan ia menandingi versi aslinya? Mungkin jawabannya akan sedikit subjektif, akan tetapi kata "tidak" adalah yang paling tepat. Bukan remake yang terbaik, apalagi horor yang luar biasa.

'CHOCOLATE': Let's Kick Some Ass, Girl!


Produksi: Baa-Ram-Ewe(2008)
Sutradara: Prachya Pinkaew
Cast: Yanin Vismistananda, Hiroshi Abe, Ammara Siripong 

Genre: Aksi/Drama
Durasi: 110"
Release Date: 06 Februari 2008 (Thailand)
My Grade: 2.5 out 5

Chocolate Bukan. Ini sama sekali bukan film Lasse Hallstrom yang dibintangi oleh Julliette Binoche dan Johnny Depp itu. Ini adalah sebuah film aksi dari sutradara yang pernah menghadirkan aksi laga mendebarkan nan seru, 'Ong Bak' dan 'Tom Yum Goong', Prachya Pinkaew. Oleh karena itu jangan harapkan adanya suatu kedalaman cerita ala film 'Chocolate'-nya Mr.Lasse tersebut.

Zen (Yanin Vismistananda) adalah seorang gadis autis yang tinggal bersama ibunya yang sakit kanker, Zin (Ammara Siripong) dan seorang saudara angkatnya yang sedikit oportunis. Walaupun mempunyai kekurangan, ternyata Zen dirahmati Tuhan dengan kemampuan istimewa, menyerap dengan luarbiasa kemampuan tarung yang didapatnya dari film-film aksi Tony Jaa (sic), Playstation dan tentu saja sasana Thai Boxing dekat tempat ia tinggal selama ia masih kanak-kanak. Berbekal kemampuannya ini ia kemudian menagih hutang kepada orang-orang yang pernah berhutang kepada ibunya.

Ternyata sang ibu ini mantan anggota gangster, namun karena terlibat percintaan dengan Masashi (Hiroshi Abe), seorang Yakuza Jepang, maka ia harus hidup mengasingkan diri dan merawat Zen, anak hasil hubungannya dengan Masashi. Masalahnya, mantan boss Zin mendengar sepak terjang Zen dan kemudian merasa terusik. Maka, dengan kemampuan istimewanya, Zen harus menyelematkan hidup dirinya serta sang ibu yang dicintainya.

Terus terang dengan cerita yang sangat tipis ini, kita memang tidak bisa berharap banyak, walau sebenarnya jika Pinkaew mau sedikit memfokuskan diri pada kedalaman dalam pengembangan cerita, maka film akan dapat lebih menyentuh. Yah, sedikit-sedikit melodrama tidak berbahayalah. Akan tetapi drama sepertinya memang bukan konsentrasi utama Pinkaew dalam membuat film. Baku hantam yang seru dan memukau itulah tujuan utamanya.

Untuk itu, lagi-lagi ia berhasil. 'Chocolate' adalah duel-vaganza yang intens. Bahkan kali ini ia dengan berani tidak memakai Tony Jaa sebagai jualan utamanya, melainkan pada seorang perempuan pendatang baru bernama Yanin Vismistananda. Akan tetapi soal kelihaian, jangan diragukan! Ketangkasan, kecepatan dan akrobatisme Vismistananda tidak kalah dengan Jaa. Sungguh memukau.

Dulu, seingat saya di pertengahan 80-an hingga awal 90-an, nama-nama seperti Michelle Yeoh, Chintya Khan, Moon Lee dan (tentu saja) Chintya Rotchrock, adalah jaminan akan keseruan dari film-film aksi. Namun, saat ini memang belum ada lagi tokoh aktris laga perempuan yang menonjol setelah Michelle Yeoh yang masih tetap bertahan, sehingga tidak heran peluang ini dimanfaatkan oleh Pinkaew dengan menawarkan Vismistananda sebagai chick kick ass barunya. Apalagi Yeoh juga sudah mulai veteran, sehingga kehadiran Vismistananda sungguh tepat. Saya yakin, dengan film ini deretan fans setia baru pasti sudah berharap banyak akan film-film selanjutnya. Saya salah satunya, hahahaha.

Vismistananda memang sangat berbakat. Namun tidak hanya untuk adegan laga, karena ia ternyata mampu pula menunjukkan ekspresi dan gestur yang dibutuhkan oleh karakternya dengan proporsi yang lumayan pas. Sayangnya, Pinkaew terlalu menekankan pada laga dan kurang mengelaborasi kemampuan akting Vismistananda. Padahal jika ia melakukannya, niscaya film tidak hanya menjadi sebuah aksi kosong tanpa bermakna apa-apa.

By the way, Hiroshi Abe underused in this film. Padahal penampilan singkatnya sudah memberi sedikit kedalam cerita. Imho, loh?

More Posters

Chocolate_poster2 Chocolate_poster3


'SHELTER': Home Is Where The Heart Is


Produksi: Regent Releasing (2008)
Sutradara: Jonah Markowitz
Cast: Trevor Wright, Brad Rowe, Tina Holmes, Jackson Wurth, Ross Thomas, Katie Walder

Genre: Drama
Durasi: 97"
Release Date: 21 Maret 2008 (USA)
My Grade: 3 out 5

Shelter 'Shelter' adalah sebuah film kecil karya Jonah Markowitz yang namun memiliki kelegaan yang luas dalam temanya. Film terasa jujur dan menyentuh walau sebenarnya secara umum biasa-biasa saja. Mengapa biasa-biasa saja? Terus terang, pendekatan yang dipakai oleh Markowitz memang tipikal dalam drama yang menyangkut Gay-Lesbian-Bisexual-Transgender seperti ini. Gaya yang terlalu indie jika tidak mau dikatakan made-for-tv, walau tidak sevulgar film-film sejenis yang umum keluar akhir-akhir ini.

Inti utamanya itu ada di drama dan cerita. Zach (Trevor Wright) adalah seorang pemuda berbakat dalam seni lukis, namun ia terpaksa menyimpan cita-citanya, karena ia tinggal bersama dengan kakaknya Jeanne (Tina Holmes, dari film cult Edge of Seventeen) yang mempunyai satu anak laki-laki berama Cody (Jackson Urth) yang sudah menganggap Zach sebagai ayahnya. Jeanne begitu manipulatif terhadap Zach, sehingga ia kemudian merasa terikat dengan Jeanne dan Cody dan melupakan cita-citanya bahkan hubungannya dengan kekasihnya Tori (Katie Walder) menjadi hambar. Sahabatnya sendiri, Gabe (Ross Thomas) terlalu sibuk dengan kuliahnya sehingga praktis Zach hanya sendiri.

Sampai tiba kembali kakak laki-laki Gabe yang sudah dikenalinya sedari kecil, Shaun (Brad Rowe). Karena sama-sama menggemari surfing, maka kemudian mereka menjadi akrab. Bahkan, pada akhirnya pertemanan mereka berkembang menjadi romansa. Dari Shaun, Zach belajar untuk menghargai dirinya sendiri dan mempunyai pilihan sendiri untuk hidupnya. Namun, disaat lain ia merasa bimbang apakah ia bisa meninggalkan Jeanne dan Cody dari dunianya?

'Shelter' jika diartikan secara harafiah dalam Bahasa Indonesia berarti "penampungan". Kalau berbicara dalam konteks inibisa disebutkan bahwa karakter-karakter dalam film ini sebenarnya sedang mencari tempat bagi penampungan jiwa mereka, karena mereka begitu terbiasa untuk dibutuhkan-membutuhkan, sehingga terlupa akan tempat dimana ia sebenarnya seharusnya menempatkan diri dan jiwanya.

Walau berbicara dalam esensi yang puitis, namun 'Shelter' tidak berbicara dalam kerangka itu. Melodrama memang, akan tetapi tidak terlalu menekankan pada konteks mellow. Konflik dianalisa dengan intensitas yang tidak terlalu meledak-ledak. Iringan musik-musik folk-rock dan ballada membuat feel film yang terasa membumi dengan issue yang biasa dihadapi oleh sehari-harinya.

Pada intinya 'Shelter' berbicara tentang coming-out-age serta menyikapi bagaimana menjadi diri sendiri tanpa harus kehilangan ikatan dengan orang-orang disekitar kita. Untuk itu Trevor Wright mampu memberikan kewajaran dalam kesubtilitasan karakternya sedangkan Brad Rowe seperti seorang sparring partner yang setimpal dan saling melengkapi. sebagai karakter yang lebih tua, Shaun seperti seorang mentor yang memberikan enlightment sekaligus teman yang bisa diandalkan bagi Zach. Ia adalah shelter bagi Zach!

May 25, 2008

'LOST IN LOVE': In Paris, They In Love Again


Produksi: Itrema (2008)
Sutradara: Rachmania Arunita
Cast: Pevita Pearce, Richard Kevin, Arifin Putra, Barry Prima, George Rudy, Chrisye Subono

Genre: Drama/Komedi/Roman
Durasi: + 90"
Release Date: 22 Mei 2008
My Grade: 2.5 out 5

Lost_in_love Rachmania Arunita sungguh beruntung. Mungkin banyak orang di Indonesia yang sedari kecil sudah berbakat, akan tetapi kesempatan jarang bisa diraih. Berbeda dengan Nia yang menulis 'Eiffel I'm In Love' saat duduk di kelas menengah dan mengedarkan secara bergerilya, namun sukses sehingga kemudian di cetak secara massa dan sukses lagi. Tidak heran perusahaan film mengincar novel tersebut untuk diangkat menjadi produk layar lebar, yang kemudian menuai sukses besar pula.
Dengan kesuksesan 'Eiffel I'm In Love' ternyata membuat Nia berkeinginan untuk membuat kelanjutan cerita cinta Adit dan Tita. Kali ini tidak main-main, ia menulis novel sekaligus mengarahkan versi filmnya! Sungguh kesempatan yang sangat langka.

Cerita dari film ini merupakan kelanjutan langsung dari akhir 'Eiffel I'm In Love' (2003). Di Paris, Perancis, Tita (Pevita Pearce, Denias) berusaha meyakinkan cinta Adit (Richard Kevin, Get Married) kepadanya. Namun sikap Adit yang kaku dan canggung membuat sebal Tita, sehingga pada suatu kesempatan ia memutuskan untuk rendevouz sendiri, yang malah menyebabkan ia nyasar di tengah kehidupan Paris. Beruntung ia bertemu dengan Alex (Arifin Putra), pria ganteng yang mengaku dari Thailand. Setelah merasa sebal dengan Tita, Alex bersedia menolong Tita untuk kembali ke keluarganya dan juga menyelusuri hati Adit yang membingungkan Tita. Sikap Alex yang chraming sendiri kemudian menarik hati Tita!

Terus terang tidak ada yang istimewa dari cerita film ini. Semuanya berjalan dengan linear dan tidak ada perkembangan plot yang berarti. Di beberapa bagian film malah terasa datar nyaris tanpa emosi. Kadang malah terasa menjengkelkan karena terasa kekanak-kanakan seperti karakter utamanya, Tita. Namun, harus diakui Rachmania Arunita memang berbakat dan ia tampaknya belajar keras dalam megarahkan film. Dalam usia yang relatif masih sangat muda ia mampu mengemas filmnya dengan fisik yang cantik. Terima kasih untuk eksotisme Paris yang sangat mendukung, sehingga film terselamatkan dari rasa bosan.

Sebenarnya Nia bisa saja mengeksplorasi keindahan Paris dengan lebih elaboratif, sehingga bisa saja 'Lost in Love' menjadi road movie yang menggugah dan informatif, namun Nia terlalu menekankan pada konflik percintaan Adit-Tita-Alex, sehingga film terasa datar.

Dari segi teknis, film memang terlihat menarik dan kompeten. Dari segi akting, Pevita dan Richard mengingatkan akan Shandy Aulia dan Samuel Rizal. Tidak ada yang istimewa. Entah mengapa Nia tidak memakai saja sekalian Shandy dan Samuel. Yang paling mencuri perhatian itu Arifin Putra. Kalau tidak salah ini film layar lebar pertamanya, dan ia menampilkan kualitas akting yang sesuai untuk konteks ini. Dengan aksen Perancisnya yang kental ia tampil dengan menarik. Way to go, Arifin Putra!

'Lost in Love' mungkin adalah proyek coba-coba dari Nia. Namun setidaknya film ini membuktikan jika ia hanya butuh jam terbang yang lebih tinggi untuk menghasilkan karya yang mungkin dapat memperkaya khazanah industri film Indonesia. Dan terus terang, sebagai debutan sutradara bagi seorang penulis, 'Lost In Love' lumayan menarik.

'MEREKA BILANG, SAYA MONYET': Hati Manusia Itu Kacau dan Absurd, Akan Tetapi Menyenangkan Untuk Disimak


Produksi: Intimasi Productions (2007)
Sutradara: Djenar Maesa Ayu
Cast: Titi Sjuman, Henidar Amroe, Ray Sahetapy, Bucek, Mario Lawalatta, Fairuz Faisal, Ayu Dewi, Jajang C. Noer, August Melaz, Nadya Rompies, Banyu Bening

Genre: Drama
Durasi: 90"
Release Date: 28 Desember 2007 (limited)
My Grade: 3.5 out 5

Mereka_bilang_saya_monyet Mengikuti jejak Richard Oh dengan 'Koper'-nya, maka Djenar Maesa Ayu adalah penulis berikutnya yang menjajal bidang pengarahan film. Sebenarnya dunia film tentu saja bukan hal yang baru bagi Djenar, secara ayahnya adalah sang legenda perfilman Indonesia, Sumanjaya dan ia sempat pula berakting di film 'Koper' dan 'Anak-Anak Borobudur'.
Keraguan sempat hinggap dihati, apakah Djenar bisa menafsirkan dua cerpennya, 'Lintah' dan 'Melukis Jendela' yang terdapat dalam antologi 'Mereka Bilang, Saya Monyet', menjadi sebuah narasi seperti film. Untunglah Djenar, yang mengaku tidak bisa bercerita dengan linear, dibantu oleh Indra Herlambang sebagai penulis skenario, hingga ia kemudian bisa mengkhususkan pada bidang pengarahan saja.

Ternyata Djenar memang berbakat. 'Mereka Bilang, Saya Monyet'adalah pembuktiannya. Film berjalan dengan pace yang lancar, gampang dicerna dan tetap terlihat surealis, seperti yang memang menjadi ciri khas Djenar dalam penulisannya. Hanya saja memang media film berbeda dengan novel. Walaupun sama-sama bermodalkan narasi, Djenar sadar jika ia hanya akan membingungkan penontonnya jika tetap nekad berkeinginan menggambarkan simbolisasi dalam penulisannya dalam bentuk film, karena mungin ia sadar akan keterbatasannya sebagai sutradara debutan sehingga akan cukup sulit untuk menggambarkan surealisme yang dapat dipahami.

Oleh karena itu film tetap berjalan dengan plot yang cukup linear, walaupun bermodalkan alur maju-mundur, yang bisa saja memusingkan. Namun, dengan cekatan ia mengeksekusi adegan-adegan yang dapat terjalin dengan baik, walau kadang-kadang terasa kurang rapi, karena emosi ledakan dari pengarahan Djenar yang bersemangat, sehingga terasa overrated di beberapa bagian (sekuens teleponnya sudah sampai pada taraf annoying, no pun intended).

Djenar juga cukup cekatan dalam menyikapi bujet yang minimal, karena hasil akhirnya, dalam skala independen, film tetap terasa feel sinematisnya, berbeda dengan pendekatan yang sama oleh Rudi Sudjarwo terhadap film-filmnya akhir-akhir ini, yang diproduksi oleh perusahaan film besar namun malah terasa lebih condong untk konsumsi televisi dibandingkan untuk sebuah layar lebar.

Beruntungnya lagi film ini didukung oleh pendatang baru berkualitas seperti Titi Sjuman, yang notabene adalah saudari iparnya sendiri. Kadang kala kemiripiannya dengan Djenar dan problematikanya dalam film ini mengingatkan akan Djenar itu sendiri, terlepas disengaja atau tidak. Titi memberikan kemampuannya dalam menerjemahkan karakter Adjeng, sehingga kita benar-benar dapat merelasikan dengan karakternya. Plus, ada Henidar Amroe dan Ray Sahetapy. Rasanya kekuatan akting mereka tidak perlu untuk diragukan lagi.

'Mereka Bilang, Saya Monyet' mungkin bukan film yang besar, dan hanya batu kecil dalam industri perfilman Indonesia akhir-akhir ini. Tapi ia adalah batu kecil yang bernilai cukup tinggi, hingga rasanya cukup pantas direkomendasikan untuk dipilih sebagai salah satu karya anak bangsa yang cukup membanggakan. Dan untuk Djenar sendiri, ditunggu film-film berikutnya.

May 01, 2008

The Duel of Ghostly Trains

Ada apa sih dengan trek Kereta Api Manggarai? Dua Rumah Produksi dengan dua sutradara yang berbeda berbarengan menganggat fenomena kereta hantu di stasiun tersebut. Mana yang lebih baik? Mungkin pertanyaan yang paling tepat aalah mana yang lebih buruk secara kedua sutradaranya memang sama sekali tidak berbakat dalam menggarap genre horror sama sekali (entah komedi); Nayato Fio Nuola (Hantu Ambulance) untuk "Kereta Hantu Manggarai" dan Nanang Istiabudi (Terowongan Casablanca) untuk "Kereta Setan Manggarai".

Berikut sinopsis masing-masing film:

Kereta_hantu_manggarai KERETA HANTU MANGGARAI
GENRE : Drama Horor Misteri
PEMAIN : Sheila Marcia Joseph, Melvin Iim, Stefanie Hariadi, Nadila Ernesta, Rina Hasim, Gianina Emanuela, Fendi Trihartanto
SUTRADARA : Nayato Fio Nuala
PENULIS NASKAH : Ery Sofid
PRODUSER : Gope T. Samtani, Subagio Samtono
RUMAH PRODUKSI : RAPI FILMS
DURASI : 89 menit
TANGGAL RILIS : 30 April 2008

SINOPSIS :

Kakak beradik Rossa (Sheila Marcia) dan Emily terjebak dalam sebuah pertengkaran, sikap egois dan keras kepala yang dimiliki Emily ternyata membuat Rossa lepas kontrol, ia pun mengusir adik kandungnya tersebut dari rumahnya. Emily pun pergi ke Bogor untuk menemui tantenya.

Ternyata Rossa tidak pernah bertemu dengan Emily sejak malam pertengkaran itu. Dalam kebingungan, Rossa menceritakan semua kejadian kepada sahabatnya, Tari yang kemudian menaruh curiga, bahwa Emily dibawa pergi oleh kereta hantu. Meski tidak pernah percaya, Rossa mengikuti ajakan Tari untuk menemui Bobby, orang yang menjalankan situs ‘Dunia Gaib’ dan sangat terobsesi dengan kereta hantu. Konon, kekasih Bobby meninggal secara tragis akibat naik kereta hantu.

Bobby mengajak Dody dan Peggy untuk menaiki kereta hantu dibantu oleh Ki Anom, seorang paranormal. Di stasiun Manggarai mereka melakukan ritual. Setelah muncul, mereka akhirnya menaiki kereta hantu tersebut. Berbagai peristiwa mengerikan terjadi selama mereka di atas kereta hantu. Akhirnya, mereka selamat berkat pertolongan Ki Anom.

Apa yang terjadi di dalam kereta hantu rupanya terus meneror dan mengikuti mereka satu persatu, terutama sosok hantu yang paling mengerikan. Satu persatu mereka tewas dan Rossa juga kerap mengalami penampakan. Rossa akhirnya terpaksa meminta Tari untuk bertemu kembali dengan Bobby. Bobby kembali membantu Rossa mencari Emily yang hilang diatas Kereta Hantu dengan bantuan Ki Anom. Dapatkah mereka menemukan Emily?

Kereta_setan_manggarai KERETA SETAN MANGGARAI
GENRE : Drama Horor
PEMAIN : Vera Lasut, Ocke Mulyawan, Ferry Agustian, Nelly Yustikarini, Renaldo Thompson
SUTRADARA : Nanang Istiabudi
PENULIS NASKAH : Kumar Pareek, Dhiyute
PRODUSER : Sagar Mahtani
RUMAH PRODUKSI : MM CREATIONS
DURASI : 100 Menit
TANGGAL RILIS : tba 2008

SINOPSIS :

Key, Fifi, Dado, Rey dan Fajar merencanakan sebuah liburan yang mengasyikkan di Bandung, namun perjalanan mereka sedikit terhambat, karena Dado harus mencari kabar dua orang sepupunya yang tak kunjung pulang selepas berlibur ke Bogor. Raut khawatir yang ditunjukkan oleh Om Dado saat mengatakan, bahwa kedua sepupunya telah pulang sejak semingu lalu membawa mereka ke dalam sebuah pencarian yang awalnya terlihat mudah.

Perjalanan membawa mereka ke sebuah jalan buntu yang menyesatkan, hingga kemudian kejadian aneh mulai bermunculan satu demi satu, rumah tua ditengah hutan, kakek dan cucunya yang misterius hingga kecelakaan yang menyebabkan mobil mereka tertabrak kereta. Berusaha mencari pertolongan, mereka pun berlari menyusuri rel menuju stasiun terdekat. Lelah dan panik menyebabkan mereka melupakan semua pesan dan cerita dari Om-nya Dado untuk tidak naik kereta pada malam jum’at. Merekapun naik kereta yang kebetulan sedang berhenti distasiun tersebut, kereta terakhir menuju Jakarta.

Rasa aman yang sempat melingkupi mereka berubah drastis saat satu demi satu mulai merasakan gelagat aneh yang ditunjukkan oleh para penumpang kereta, hingga ketika mereka sadar, bahwa kereta ini tak jua berhenti di beberapa stasiun. Berjuang untuk bisa bertahan, kebersamaan mereka pun dipertaruhkan karena untuk bisa keluar salah satu dari mereka harus menjadi tumbal.

April 12, 2008

'Hanya Untukmu' Bermetamorfosa Menjadi 'Ada Kamu, Aku Ada'


Hanya_untukmu_aka_ada_kamu_aku_ada_1

Masih ingat dengan poster film terbaru Rizal Mantovani yang ternyata mirip dengan film Korea? Nah, ternyata tim produksi film tersebut buru-buru merubah konsep poster sekaligus judulnya. Wah, biar engga jadi hype ya?

Kalau dilihat-lihat kok agak mirip film2 80-an ya? Warna2 kinclong gitu, berbeda dengan 'Hanya Untukmu' yang terkesan subtil. Judulnya pun semakin norak.

April 10, 2008

KARMA - TEASER POSTER

Teasernya keren..mudah2han filmnya juga keren

Karma


Judul : KARMA
Genre : Horor
Bahasa : Bahasa Indonesia
Produksi : Credo Pictures
Tahun Produksi : 2007
Sutradara : Allan Lunardi
Ide Cerita : Elvin Kustaman
Penulis Naskah : Salman Aristo
Eksekutif Produser : Insurjati, Liem Tjoen Kwan, Elvin Kustaman
Produser : Yeyet Sugriyati

Para Pemeran
:

Dominique Diyose sebagai Sandra
Joe Taslim sebagai Armand

H.I.M. Damsyik sebagai Guan (Tua)
Jonathan Mulia sebagai Guan (Muda)
Henky Solaiman sebagai Philip
Jenny Chang sebagai Ling Ling
Leny Jaya Dewi sebagai Giok Lan
Adi Kurdi sebagai Hariman                                              
Lucy Roswita sebagai Nani
Maria Glenon sebagai Mbok Ijah
Verdi Solaiman sebagai Martin

Penampilan Khusus:
Jaya Suprana sebagai Holianto

SINOPSIS

Keluarga Guan seharusnya keluarga yang bahagia. Tetapi, semua perempuan di keluarga itu meninggal secara misterius. Anak lelaki pertama dari Phillip, Martin, mendapat tekanan dari kakeknya, Thiong Guan, hingga membuatnya seperti sinting dan selalu mengurung diri. Ibu Martin meninggal setelah melahirkan Martin. Philip menikah lagi namun istri keduanya juga meninggal setelah melahirkan anak pertamanya, Armand. Armand yang tidak percaya dengan tahayul memilih untuk sekolah di Australia daripada mendapat tekanan dari kakeknya, Thiong Guan.

Kini Armand tiba-tiba pulang dengan membawa seorang wanita bernama Sandra, yang tengah hamil 6 bulan dan akan segera dinikahinya. Sandra yang telah diusir dari keluarganya karena hamil diluar nikah menaruh seluruh harapannya pada Armand.

Kedatangan Sandra disambut oleh lemparan gelas oleh kakek mertuanya. Teror demi terror juga dialami Sandra sejak malam pertama tinggal di rumah Guan. Sadar akan keadaannya sebagai perempuan terancam, Sandra pun bersikeras untuk mencari cara untuk menghentikan Karma yang terjadi pada setiap perempuan di keluarga Guan.

March 26, 2008

WAVE Vol. 1



ayooo di download...!!!gratis kok!! klik aja gambar di bawah!!!

Ayoo download wavezine!!! klik ajaa!!

March 25, 2008

'KUNTILANAK 3': Akhir Dari Kengerian sebuah Legenda


Produksi: MVP Pictures (2008)
Sutradara: Rizal Mantovani
Cast: Julie Estelle, Imelda Therine, Laura Antoinetta, Mandala Shoji, M. Reza Pahlevi, Ida Iasha, Laudya Chintya Bella

Genre: Horor/Thriller
Durasi: 125"
Release Date: 13 Maret 2008
My Grade: 3 out 5

K3poster Terlepas dari banyaknya dialog ekposisi yang mengindikasikan jika penulis skenarionya, Ve Handojo, menganggap penonton film ini begitu tolol, sehingga harus menghadirkan banyak penjelasan aksi karakter melalui elaborasi dialog, 'Kuntilanak 3' berhasil meningkatkan eskalasi ketegangan dibandingkan dua seri sebelumnya.
Diniatkan sebagai akhir dari sebuah trilogi, Rizal Mantovani, sebagai sutradara tampaknya belajar banyak dari kekurangan dua film sebelumnya, dan kini tampak memperhatikan dengan cukup teliti akan pembangunan atmosfir kengerian yang memang diperlukan oleh film ini.

Ceritanya ringan sekali, bahkan nyaris tipis. Sekelompok anak muda pecinta alam berupaya mencari teman mereka yang hilang di kelamnya hutan sebuah pegunungan. Tidak sengaja mereka bertemu dengan Samantha (Julie Estelle), yang kini mempunyai misi tersendiri untuk mengakhiri konfrontasinya dengan mimpi buruk bernama Kuntilanak yang telah membuat suram hari-harinya. Selanjutnya para anak muda tersebut mati satu persatu ditangan Kuntilanak gunung, sedangkan Sam, asyik sendiri dengan misinya.

Yah, bisa dikatakan karakter Samantha dengan empat anak muda tersebut sama sekali tidak integratif dimana mereka sebenarnya bisa berdiri sendiri tanpa harus memerlukan eksistensi dari karakter lainnya. Karakter Samantha bisa menjalankan misinya tanpa harus kehadiran karakter pendukung tersebut, sedangkan karakter pendukung tersebut bisa dijadikan cerita sendiri tanpa harus melibatkan Samantha.

Karakter satelit lebih berguna untuk unsur suspensi cerita agar lebih menarik, karena tidak melulu hanya terfokus pada cerita utama, misi samantha, yang sebenarnya bisa saja selesai dalam waktu setengah jam.

Jadi, alih-alih sebagai penutup sebuah trilogi, 'Kuntilanak 3' lebih kepada cerita horor sekelompok anak muda di tengah kabut gelap dan mistis sebuah hutan, yang mau tidak mau mengingatkan akan 'Hantu' (2007) karya Adrianto Sinaga yang lalu.

Banyak sekali adegan-adegan yang mengingatkan akan film tersebut. Beruntung (atau sialnya bagi kru film 'Hantu'?), kini Rizal bisa menjadikan film tersebut sebagai template untuk membangun suspensi, sehingga unsur ketegangan bisa cukup terjaga, berbeda dengan dua film sebelumnya yang mengendor menjelang akhir.

Meski banyak kelemahan yang melekat di cerita film ini, 'Kuntilanak 3' jelas karya horor terbaik Rizal Mantovani saat ini. Hanya saja, dengan hasil akhir film ini, rasanya ia gagal untuk menjadikan seri 'Kuntilanak' sebagai trilogi yang solid.

'THE MIST': Ada Sesuatu di Balik Kabut


Produksi: Dimension Films (2007)
Sutradara: Frank Darabont
Cast: Thomas Jane, Marcia Gay Harden, Toby Jones, Laurie Holden, William Sadler

Genre: Horor/Thriller/Drama
Durasi: 125"
Release Date: 21 Nopember 2007 (USA)
My Grade: 3.5 out 5

Mist_xlg_1 Terlepas dari nama besar Frank Darabont yang telah sukses mengarahkan film-film berdasarkan karya Stephen King lainnya menjadi karya yang berkelas (The Green Mile, Shawsank Redemption), tetap saja keraguan hinggap dipikiran, apakah film 'The Mist' ini akan sebaik karya-karya Darabont sebelumnya itu.
Premisnya sangat khas film horor-thriller, sekelompok orang sebuah kota kecil terperangkap di sebuah swalayan saat bergulung-gulung kabut tebal tiba-tiba menyelubungi seisi kota. Masalahnya bukan hanya jarak pandang yang terganggu, namun ada sesuatu yang mengerikan dibalik kabut dan itu mengincar nyawa manusia.

Maka dimulailah pembantaian satu-demi-satu orang-orang yang ada di Swalayan tersebut, sedangkan sisanya berkemelut, apakah pergi menerobos kabut untuk menyelematkan diri atau tetap tinggal menunggu ada yang menyelamatkan?

Tentu saja, apa sih yang bisa diharapkan lebih dari cerita semacam ini. Sangat tipikal dan telah berulang-ulang menjadi pakem dalam film bergenre sejenis. Masalahnya kita membicarakan Frank Darabont sebagai orang dibelakang layar disini. Ternyata ia memang piawai sekali dalam merangkau adegan menjadi sebuah narasi yang mencekam, mendebarkan, sekalugis dramatik dalam proposi yang seimbang.

Darabont lebih memfokuskan pada konflik yang terjadi diantara orang-orang tersebut dan ia dengan sangat berhasil membangun simpati penonton pada sebagian karakternya dan antipati pada karakter lainnya. Padahal jelas-jelas ia menggambarkan karakter-karakter tersebut di ranah abu-abu, bukan hitam atau putih yang sebagaimana menjadi tipikal dalam film sejenis. Unsur kengerian tetap dimasukkan secara berkala, namun prioritas tetap pada dramatisasi dan progresi konflik kepentingan karakter-karakter tadi.

Unsur streotype dan formulaic direduksi seperlunya dan saat diperlukan penjelasan, maka penjelasan tersebut lebih kepada "hutang" yang harus diberikan kepada penonton tentang apa yang sebenarnya terjadi, daripada benar-benar diperlukan.

Film lebih bercerita tentang dilema serta krisis moralitas disaat orang-orang menghadapi masalah yang mengancam jiwanya dimana keselamatan sepertinya telah menjadi barang yang teramat mahal. Dan adegan klimaks yang menggetarkan sepertinya mewakili dengan tepat!

'The Mist' adalah jenis horor yang selama ini saya rindukan. Sangat jarang sekali ada film yang benar-benar "horor' seperti film ini. Gelap, moody, intens dan atmosferik. Direkomendasikan.

March 20, 2008

Poster "Hanya Untukmu" adalah Hasil Plagiat!!!!

Compare these images...

Hanya_untukmu_small_poster_2  Ditto_3

Apa perbedaan signifikannya??? Tidak ada bahkan sangat mirip. Film barunya Rizal Mantovani ini sangat mirip sekali dengan poster film Korea tahun 2000 yang berjudul "Ditto".

Miskin kreatifitas?

March 11, 2008

'40 HARI BANGKITNYA POCONG': Setelah Kematian, Mereka Akan Datang


Produksi: Rapi Films (2008)
Sutradara: Rudi Sudjarwo
Cast: Irwansyah, Raffi Ahmad, Sabai Morchek, Faridha Pasha, Monique Henry, Herichan, Ulli Artha

Genre: Horor/Thriller
Durasi: 90"
Release Date: 06 Maret 2008
My Grade: 3 out 5

40hari_bangkitnya_pocong_1 Rudi Sudjarwo kembali menggarap horor. Hal yang memang saya tunggu, secara dengan 'Pocong 2' kemarin ia berhasil memberikan pengalaman horor jernial, yang memang sudah lama saya tunggu dari film lokal. Namun, dengan memakai judul yang rada-rada "mengkuatirkan" seperti '40 Hari Bangkitnya Pocong' ini, terus terang menimbulkan rasa ragu di hati. Pocong lagi? Apa tidak ada jenis hantu yang lain untuk dieksplorasi? Tapi, ya sudahlah.
Dengan judul yang mengingatkan akan film-film era 80-an tersebut, seakan-akan Rudi memang ingin mengenang kembali era keemasan horor Indonesia, dimana kengerian sudah menjadi jaminan. Ini sudah ditandai dengan adegan awal yang sebenarnya sederhana saja, akan tetapi terasa menggelisahkan.

OK. Ini awal yang menarik. Kemudian adegan beralih pada sebuah kecelakaan mobil, yang jelas-jelas adalah hasil teknik CGI, walaupun hasilnya lumayan mulus. Selanjutnya film mengenalkan karakter Jessi (Sabai Morchek, Sang Dewi), yang terganggu dengan mantan pacarnya yang obsesif, Nino (Raffi Ahmad, Bukan Bintang Biasa). Lantas, untuk menghindari gangguan sang mantan, Jessi yang bekerja di sebuah servis komputer memilih untuk menerima panggilan perbaikan komputer di sebuah rumah. Ternyata kliennya adalah seorang pemuda simpatik bernama Kevin (Irwansyah, Love), yang tinggal bersama dengan tantenya yang galak dan neurotis (Faridha Pasha, Misteri Gunung Merapi).

Masalahnya kemudian adalah, setelah itu Jessi mendapat gangguan dari berbagai makhluk halus, yang secara konstan meneror kesehatan jiwanya. Ternyata Nino pun mendapat masalah yang sama. Lantas, mengapa makhluk-makhluk halus ini meneror mereka?

Rudi Sudjarwo sepertinya memang belum rela untuk melepaskan trade-mark penggunaan kamera secara genggamnya. Sama halnya dengan 'Pocong 2', Rudi lebih menekankan pada situasi dan suasana serta ekspresi karakternya untuk membangun atmosfir. Dan rasanya ini memang masih bekerja dengan baik. Tterlepas dari akting standar Irwansyah dan Raffi Ahmad, Sabai Morchek memang juaranya untuk film ini. Dia berhasil membangun rasa percaya penonton akan teror yang dialaminya sehingga menular juga pada para penontonnya.

sayangnya pola ini seakan pengulangan dari film 'Pocong 2' tersebut, sehingga justru menghilangkan unsur utama dari suspensi yang akan dibangun. Ketegangan dan teror tetap ada, namun unsur mencekamnya sudah jauh berkurang.

Terus terang, makin lama teknik penggarapan ala Rudi Sudjarwo ini semakain mengganggu saja. Rasanya, film menjadi kehilangan unsur bercerita secara sinematisnya dan treatment film layaknya untuk konsumsi televisi saja. Bukannya, Rudi tidak mampu bercerita, hanya saja rasanya ada yang kurang saja. Belum lagi banyaknya pengabaian logika yang membuat kening berkerut.

Working Title dari film ini adalah '40 Hari Setelah kematin', sesuatu yang rasanya lebih pas untuk isi cerita dari pada judul yang terasa menjual sensasionalitas seperti '40 Hari Bangkitnya Pocong'. Film yang saya yakin shootingnya tidak memakan waktu sampai 40 hari ini memang lebih baik dari banyak horor rata-rata saat ini, namun rasanya Rudi sudah harus memulai menemukan formula barunya.

'AYAT-AYAT CINTA': Romantisme dalam Religiusitas


Produksi: MD Pictures (2008)
Sutradara: Hanung Bramantyo
Cast: Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Putri, Zaskia Adya Mecca, Melanie Putria, Surya Saputra, Marini Burhan, Oka Antara, Dennis Adhiswara

Genre: Drama/Roman
Durasi: 95"
Release Date: 27 Februari 2008
My Grade: 3 out 5

Ayatayatcinta_1 'Ayat-Ayat Cinta' yang diangkat dari sebuah novel laris bercerita tentang Fachri (Fedi Nuril) adalah seorang mahasiswa muslim asal Indonesia yang tengah menimba ilmu di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Ia bertetangga dan berteman baik dengan gadis Mesir yang beragama Kristen Koptik, Maria (carissa Putri). Pribadi Fachri yang bersahaja namun kharismatik begitu menyirap Maria dan juga Nurul (Melani Putria), teman kuliahnya sesama Indonesia. Namun, justru Aisha (Rianti Cartwright), perempuan bercadar namun berpendidikan serta kaya raya asal Jerman yang justru menjadi istri pilihan Fachri. Ini tentu saja menghancurkan hati Maria dan Nurul. Namun, masalah justru datang dari Noura (Zaskia Adya Mecca), perempuan yang dulu pernah ditolongnya, dan kini menuduh Fachri telah memperkosanya sehingga hamil. Disinilah ketegaran iman Fachri diuji.

Terus terang, saya tidak menemukan sesuatu yang istimewa setelah membaca novel karangan Habiburrahman El-Shirazi yang lebih dikenal dengan Kang Abik tersebut. Ceritanya standar saja. bahkan cenderung mengingatkan akan melodrama di era 70-an. Namun, yang saya kagumi dari novel tersebut adalah saat kang Abik mampu memasukkan nilai-nilai dakwah Islami tanpa kesan mendikte, sehingga kita dapat menerima tanpa terasa digurui.

Perasaan yang sama saya dapati setelah menyaksikan film yang diarahkan oleh sutradara kelas Citra, Hanung Bramantyo. Filmnya menghibur, kuat dengan unsur religi tanpa ada kesan ditempelkan. Esensi dalam dialog-dialognya cukup bernas. Dan secara umum film juga cukup berkelas.

Duet penulis skrip Ginatri S. Noer dan Salman Aristo cukup handal dalam merangkum novel beratus halaman tersebut dalam durasi cerita dua jam-an. Film terasa berjalan dengan cepat dan ringkas. Merangkum adegan-adegan yang dirasa penting untuk disampaikan. Namun, adegan yang berjalan dengan cepatnya,kadang rasanya bagi penonton yang kurang awas atau awam dengan novelnya akan merasa tertinggal.

Hanung sudah berusaha untuk menangkap aura yang ada dalam novelnya. Sayangnya, berbagai kendala lapangan memang membatasi daya imajinasinya, sehingga banyak adegan yang terasa kurang gaungnya apalagi jika memang harus membandingkan dengan novelnya tadi. Terlepas dari itu, upayanya sudah cukup maksimal untuk menjadikan film ini sebagai film yang terasa megah.

Masalahnya, menyaksikan 'Ayat-Ayat Cinta', mengingatkan saya pada saat dahulu menonton sandiwara televisi di era saat stasiun TV hanya ada satu di negeri ini. Terutama yang mempunyai tema-tema islami dan berseting di jazirah Arab. Dengan pemakaian bahasa yang terasa baku dan kaku, sehingga penyamaran karakter orang Arab dengan orang Indonesia dan tentu saja mereka semua berbahasa Indonesia. Bukannya tidak menghibur, namun rasanya cerita seakan sebuah dongeng yang rasanya jauh dari kesan membumi.

Begitulah kesan saya akan film ini. Akting Fedi dan Rianti kadang terasa karikatural dan kurang realitis. Terima kasih atas pemakaian dialog yang setia dengan novelnya, sehingga terkadang menyaksikan mereka seperti menyaksikan film India yang disulih suarakan dalam Bahasa Indonesia. Beruntung Carissa Putri memainkan peranannya dengan cukup gemilang. Ia berhasil menjadi Maria yang adorable namun juga cerdas tapi memendam perasaan yang mendalam terhadap Fachri. Andai Carissa Putri menerjemahkan secara salah karakter Maria, niscaya film akan membosankan. Zaskia Adya Mecca dibatasi oleh adegan yang minimal, namun ia berhasil meniupkan kesan membumi untuk karakternya, terlepas dari kesan kurang masuk akal sosok Melayunya sebagai orang Mesir.

'Ayat-Ayat Cinta' adalah sebuah film roman. Rasanya itu tidak terbantahkan. Yang menjadi nilai tambah disini adalah saat unsur Islami menjadi bagian yang integratif tanpa kemudian menjadikan filmnya sebagai film dakwah. Dan dia menghibur. Namun, 'Ayat-Ayat Cinta' sebagai sebuah film yang istimewa? Rasanya itu terlalu berlebihan.

February 27, 2008

'CLAUDIA/JASMINE': Romantisme Perempuan dalam Mencari Cinta


Produksi: Nation Pictures (2008)
Sutradara: Awi Suryadi
Cast: Kinaryosih, Kirana Larasati, Nino Fernandez, Andhika Pratama, Mieke Amalia, Tio Pakusadewo, Ira Maya Sopha, Mario Lawalatta

Genre: Drama/Komedi/Roman
Durasi: + 100"
Release Date:  21 Februari 2008
My Grade: 3 out 5

Claudia_jasmine Sebelum saya kenal Ebert, Travers dan Berardinelli, semasa saya masih menjadi penonton berseragam sekolah, nama Yan Widjaya sebagai seorang komentator film adalah andalan saya sebelum memutuskan untuk menyaksikan film. Sayangnya, kini Pak Yan seakan menghilang dan otak saya juga sudah terkontaminasi oleh nama-nama asing tadi, sehingga tidak pernah lagi menyaksikan film berdasarkan komentarnya yang saya anggap bernas dan informatif itu.

Pada saat saya melihat poster film Awi Suryadi yang berjudul 'Claudia/Jasmine' ini mencantumkan komentar Pak Yan, maka niat saya untuk menyaksikan film ini menjadi besar. Padahal sebelumnya film ini tidak masuk kedalam daftar film yang harus saya tonton di bioskop. Untuk lebih jelasnya, biarlah saya cantumkan kutipan komentar Pak Yan Widjaya berikut ini:

"Kinar dan Kirana hot, romantis dan kocak abiies dalam skenario dan film jempolan". Hm..Ok!

Tentu saja saya menyadari jika ini adalah salah satu trik dagang dari produsennya, sehingga saya kemudian menontonnya dengan ekspektasi yang serendah-rendahnya. Adegan dibuka secara simultan yang menggambarkan awal hari dua orang perempuan, Claudia (Kirana Lasarasti, Perempuan Punya Cerita) yang masih duduk dibangku SMU dan Jasmine (Kinaryosih, Mendadak Dangdut) yang berusia diakhir dua puluhan. Adegan terasa dinamis dan mengundang perhatian. Apalagi ada gimmick komedi yang cukup segar didalamnya. Mulai dari sini ekspektasi saya menambah sedikit.

Selanjutnya diperkenalkan karakter kedua perempuan secara bertahap, hingga kemudian konflik masuk saat Claudia bertemu dengan cinta pertamanya, Tody (Andhika Pratama, The Butterfly) dan Jasmine bertemu dengan Jerry (Nino Fernandez, Cokelat Strberi), yang diharapkan sebagai cinta terakhirnya.

Ringan. Itulah kesan pertama saya setelah menyaksikan filmnya secara utuh. Menghibur. Itulah kesan kedua saya. Tapi tetap berisi. Itulah yang menjadi kesan terakhir saya. Cerita yang ditawarkan oleh Awi Suryadi sebagai penulis dan pengarah film sebenarnya sangat tipis dan sederhana dan bisa saja berakhir sebagai FTV atau sinetron kebanyakan, jika saja AWi tidak mempunyai treatment yang sinematis dan kreatif, jika tidak mau dikatakan inventif, untuk filmnya ini.

Awi berhasil membangun suspensi dalam cerita dengan baik, sehingga mengundang rasa penasaran untuk penontonnya. Walaupun rasanya twist dan ending dalam filmnya sudah bisa terbaca menjelang paruh film, namun Awi mampu untuk menjaga konsistensi dinamika dalam ceritanya. Walaupun mungkin pada awalnya ada sedikit bertele, namun menjelang paruh akhir, Awi membayarnya dengan cerita yang padat dan solid.

Ia pun mampu membangun atmosfir romantik dan komedi secara seimbang, sehingga terasa dalam takaran yang cukup pas. Mungkin ada beberapa sub-plot yang tidak begitu signifikan dan pada beberapa bagian terasa over-melodramatis, namun unsur tersebut rasanya memang bumbu penyedap yang tak dapat dihilangkan dalam genre sejenis ini. Satu lagi yang penting, Awi terlihat lihai dalam merangkai kata-kata dalam dialog yang trendy namun sense kontemplatifnya tetap terasa.

Tentu saja film didukung dengan intensitas akting dari duo Kinar dan Kirana. Rasanya label Best Supporting Actress yang pernah disematkan untuk Kinar memang tidak percuma. Sedangkan Kirana, ia dengan sukses melepaskan akting ala sinetronnya dan menjadi karakter yang loveable.

Nah, setelah sebelumnya sempat meragukan komentar Pak Yan Widjaya, pada akhirnya saya mengakui kalau (potongan) komentarnya untuk 'Claudia/Jasmine' itu ada benarnya juga. Mulai dari sekarang saya mencoba untuk tidak meragukan kredebilitasnya lagi. Hahaha......!

'NO COUTRY FOR OLD MEN': A Mesmerizing Tale of Bloody Rampage


Produksi: Miramax/Paramount Vintage (2007)
Sutradara: Ethan & Joel Coen
Cast: Tommy Lee Jones, Javier Bardem, Josh Brolin, Kelly Macdonald, Woody Harrelson

Genre: Drama/Thriller
Durasi: 122"
Release Date:  21 November 2007  (USA)
My Grade: 4.5 out 5

No_country_for_old_men_1 Setelah menyelesaikan membaca novel "No Country For Old Men" karya Cormac McCarthy, terus terang saya merasakan kebingungan yang luar biasa tentang apa sebenarnya yang terkandung dalam cerita dari novel yang dibuatnya tersebut. Rasanya inilah novel terlama yang pernah saya selesaikan membaca akibat harus mengulang sampai dua kali (terkadang tiga kali) membaca setiap halamannya.
Novelnya sendiri berseting tahun 1980 dan bercerita tentang seorang sheriff tua bernama Ed Tom Bell dalam menghadapi kasus serangkaian pembunuhan yang dilakukan oleh seorang pria psikopatis bernama Anton Chigurh yang sedang mengejar seorang pria bernama Lyewllin Moss, karena Moss melarikan sejumlah besar uang panas. Sepanjang isi novel rasanya hanya bercerita tentang Chigurg dan Moss, sedangkan porsi sheriff tua rasanya sedikit sekali.

Beruntung kemudian saya berkesempatan untuk menyaksikan film adaptasinya yang diarahkan oleh Coen bersaudara. Ed Tom dimainkan oleh Tommy Lee-Jones, Chigurh oleh Javier Bardem dan Moss oleh Josh Brolin dengan Kelly Macdonald sebagai Carla Jean istri Moss dan Woody Harrelson sebagai Carson Wells.

Secara esensi, Coen bersaudara terasa sangat setia sekali dengan jalan cerita serta pengadeganan yang digambarkan oleh McCarthy dalam novelnya. Tentu saja proses penyesuaian harus tetap dilakukan dengan dilakukan perombakan-perombakan kecil demi kepentingan durasi.

Pada dasarnya novel McCarthy berjalan dengan pola yang cukup linear dan tidak berbelit-belit, sehingga Coen bersaudara dapat mengambil mayoritas isi novel ke dalam filmnya. Coen bersaudara sendiri mengeksekusi filmnya dalam tempo yang lumayan lambat akan tetapi merambat. Ini rasanya memang sangat efektif untuk Coen bersaudara dalam membangun ketegangan dalam nuansa suram, seperti yang diinginkan oleh novelnya. Mengenai masalah ini, bahwa novelnya menjual ketegangan dan kesuraman, terus terang baru saya sadari setelah menonton filmnya.

Plot yang seperti bertele-tele dalam novelnya ternyata berfungsi untuk menjaga intensitas dalam cerita tadi. Dengan iringan musik yang seminim mungkin, film terasa mencekam, menegangkan sekaligus tetap dramatis, karena pada dasarnya film memang ingin bercerita tentang dari sisi psikologis karakter-karakter manusiawi dalam filmnya, bahkan untuk pria sejenis Anton Chigurh, yang saat ini seperti sebuah penyakit sosial yang banyak melanda masyarakat kita.

Tentu saja dengan bintang-bintang seperti Jones dan Brolin, Ethan dan Joel Coen tidak harus pusing memikirkan dari segi karakterisasi. Mereka memainkan peran mereka dengan kekuatan yang memang sudah dipastikan didapat dari mereka. Namun, harus diakui, kekuatan utama dari film ini adalah akting dari Javier Bardem.

Bintang papan atas dari Spanyol ini memainkan karakter Anton Chigurh dengan sempurna. Rasanya tidak ada aktor lain yang mampu mewujudkannya. Oleh Bardem, Anton Chigurh dihindarkan dari kesan satu dimensi yang bisa saja terjadi jika diperankan oleh aktor yang kurang tepat atau tidak memahami karakter Anton Chigurh sebenarnya. Terus terang, satu-satunya film Bardem yang saya tonton cuma 'Second Skin' atau 'Segunda Piel', saat ia memainkan karakter pria yang melakukan perselingkuhan dengan seorang pria beristri! Walaupun berjenis melodrama, namun Bardem menyematkan kelas tertentu dalam film tersebut, sehingga saya yakin pada dasarnya ia memanglah seorang aktor yang berkarakter.

'No Country For Old Men' adalah jenis film yang memerlukan konsentrasi khusus dalam menyimaknya. Ia bukanlah jenis drama yang menyenangkan atau gampang disimak, walaupun pada dasarnya jalan ceritanya sederhana saja. Film yang berjalan dalam feel nan gloomy, seakan-akan ingin menegaskan kompleksitas serta kerasnya kehidupan yang harus dijalani oleh karakter-karakternya. Ini terasa berjalan dengan efektif di filmnya. Dan untuk ini tabik bagi Coen bersaudara yang berhasil membangun dunia yang keras sekaligus realistis tadi.

Dan tentang novelnya, saya harus akui kalau yang saya baca itu dalah versi terjemahan Bahasa Indonesianya. Setelah menyaksikan filmnya, rasanya saya bernafas lega karena mengira saya begitu bodohnya untuk mengurai maksud dan esensi cerita dalam novelnya. Ternyata semua berjalan dengan takarannya yang pas. Tidak ada yang mendapatkan porsi lebih atau kurang. Oleh karena itu, jelas yang saya bisa salahkan untuk kekurang pahaman saya terhadap novel tersebut adalah penerjemahnya yang ternyata tidak cukup pintar untuk menyadur novel cerdas tersebut dalam bahasa yang mudah dipahami. Atau jangan-jangan dia yang tidak cukup pintar untuk menangkap maksud novelnya? Siapa tahu?

The Cleveland International Film Festival returns March 6th through the 16th

21408cifflogo Source: kfccinema.com

The wonderful Cleveland International Film Festival is back celebrating its 32nd year. By popular demand, the fine folks who put the fest together have decided to bring back last year's successful "Pacific Pearls" which is set to bring 15 films from all over Asia to Cleveland. This year's tour through Asia brings films from Japan, Hong Kong, China, Taiwan, Indonesia, and the Philippines. While the festival brings some film festival giants such as the latest from Takeshi Kitano and Hitoshi Matsumoto's directorial debut, CIFF also introduces some lesser known films to a much wider audience.

Here is a breakdown of what the festival has to offer:

3 Days to Forever - Indonesia
Bing Ai - China
Dai Nipponjin - Japan
Dead Time - Indonesia
Flash Point - Hong Kong
Foster Child - Philippines
Glory to the Filmmaker! - Japan
Island Etude - Taiwan
Little Moth - China
Slingshot - Philippines
Summer Heat - Philippines
The Teacher - Philippines
The Teeth of Love - China

Also included in this year's festivities is Taiwanese director Hou Hsiao-hsien's Flight of the Red Balloon and a Canadian funded documentary entitled Up the Yangtze by Chinese filmmaker Yung Chang.

For more information on what other exciting films are playing at the festival, head on over to the Cleveland International Film Festival website.

February 20, 2008

'LOVE': Love Is The Air You Breathe


Produksi: 13 Entertainment (2008)
Sutradara: Kabir Bhatia
Cast: Sophan Sophian, Widyawati, Acha Septriasa, Fauzi Baadilla, Irwansyah, Laudya Chintya Bella, Luna Maya, Darius Sinathrya, Wulan Guritno, Surya Saputra

Genre: Drama
Durasi: + 120"
Release Date:  14 Februari 2008
My Grade: 3.5 out 5

Love_poster_3 'Love' adalah sebuah film antologi tentang kisah cinta beberapa anak manusia dalam bungkusan romantisme dan (tentu saja) melodrama. Bercerita tentang pasangan usia senja Pak Guru (Sophan Sophian) dan Lestari (Widyawati), pasangan sederhana Rama (Fauzi Baadilla) dan Iin (Acha Septriasa), pasangan penulis novel metropop dan calon penulis Tere (Luna Maya) dan Awin (Darius Sinathrya), pasangan remaja Restu (Irwansyah) dan Dinda (Laudya Chintya Bella), serta pasutri bermasalah Gilang (Surya Saputra) dan Miranda (Wulan Guritno). Semuanya berseting di Jakarta dan kesemuanya nyaris tak bersinggungan. Yang menjadi kesatuan adalah lika-liku cinta dan problematika yang harus mereka hadapi.

Kabarnya 'Love' adalah remake dari film Malaysia berjudul 'Cinta'. Namun, dari kabar yang saya dengar justru film 'Love' hanya mengambil inti cerita dari film tersebut sebagai bagian segmentasi ceritanya, sedangkan empat cerita lainnya adalah asli rekaan penulis Titien Wattimena (Mengejar Matahari, Cinta Pertama). Yang dimaksud disini adalah cerita tentang pasangan di usia senja yang dalam film ini diperankan oleh Sophan Sophian dan Widyawati.

Ini tentu saja merupakan ide remake yang cukup menyegarkan untuk tidak terjebak pada pakem aslinya. Apalagi film ini kembali diarahkan oleh Kabir Bhatia, sutradara film 'Cinta' tersebut. Hanya saja kemudian tercetus pemikiran, bagaimana jika film ini adalah hasil contekan dari film multi-narasi lainnya 'Love Actually'? Setelah menyaksikan filmnya, saya berani memastkan film ini, selain tema cinta dan multi-narasi, sama sekali tidak mempunyai kemiripan dengan film yang dimaksud.

Titien Wattimena, sebagai penulis skrip, berhasil membangun cerita yang naratif dan menyentuh. Dramatisasi dari kehidupan cinta sekelompok orang yang berbeda ini berhasil dibangunnya dengan nyaris tanpa cacat-cela. semua dalam takaran yang pas. Berbeda dengan 'Cinta Pertama' (2006) kemarin yang terasa dipanjang-panjangkan dan berlebihan dalam dramatisasi. Walau begitu, dalam segi urgensi cerita, ia tampaknya kurang pas dalam membagi takarannya, sehingga ada cerita yang terasa esensial, namun ada juga yang terasa terlalu ringan dan kurang penting.

Walau begitu, secara keseluruhan skrip Titien berhasil diterjemahkan dengan baik oleh Kabir Bhatia. 'Love' hadir dengan kekuatannya sendiri. Akting yang sophisticated, tempo yang konsisten, musik latar yang integratif (sudah semestinya Erwin Gutawa lebih sering dipakai oleh sineas kita sebagai penata musik), hingga pergerakan narasi yang dinamis. Harus diakui, Kabir Bhatia dengan baik mampu untuk menjaga tempo untuk tidak terasa kendor. Apalagi keseluruhan cerita dan karakter terasa efektif tanpa ada terkesan mubazir. Hal ini didukung pula dengan perpindahan plot dieksekusi dengan baik sehingga aliran ceritanya terasa mulus tanpa harus membuat kerut di kening penontonnya. Ia juga berhasil membangun suasana yang diperlukan oleh karakter-karakternya, sehingga pesan film pun dengan mudah tersampaikan.

Berbicara masalah akting, rasanya keseluruhan ensemble cast-nya bermain gemilang, bahkan untuk kelas pemain pendukung sekalipun (Sapto and Joko Anwar included , hahaha). Tentu saja tidak ada yang meragukan kualitas akting aktor-aktris sekaliber Sophan Sophian-widyawati, yang seakan-akan mengenang kembali masa jaya mereka di tahun 70-an. Kabir Bhatia pun mampu mengekstraksi kemampuan dari bintang-bintang masa kini Indonenesia, walaupun harus diakui Acha Septriasa is such a scene-stealer. Progresi aktingnya sedemikian berkembang dan melepas akting ala film remaja yang telah menjadi tipikalnya.

'Love' mungkin bukan film yang penting atau setidaknya menyuarakan sesuatu yang luar biasa. Ia hadir dengan sesadar-sadarnya sebagai film komersial yang menjual cinta. Yang menjadi pembeda adalah ia merupakan sajian sinema yang renyah, ringan namun sekaligus lezat serta mengenyangkan dalam paket yang 'indah' bungkusannya tanpa harus menyakitkan perut sesudah memakannya. sesudahnya, I easily put this film as my first favorite Indonesian films for this year.

July 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
    1 2 3 4 5
6 7 8 9